PERNIKAHAN BERUJUNG LUKA.

PERNIKAHAN BERUJUNG LUKA.
Asas praduga tak bersalah.


__ADS_3

"Kita sarapan dulu" titah ibu mengajak kedua anak dan menantunya sarapan. Mereka sarapan nasi goreng dengan lahap. Selesai sarapan mereka masih membalas siapa penjahat itu tidak habis pikir siapa yang berniat menodai Melati.


"Mel, memang kamu punya musuh?" tanya Mawar. Ia berpikir jika sampai ada yang mau berbuat jahat berarti Melati pernah menyakiti orang lain.


"Kakak ini, ada-ada saja... aku ini perempuan, masa punya musuh?" Melati menatap kakaknya geleng-geleng.


"Bukan begitu Nduk, maksud kakakmu... mungkin kamu pernah berkata kasar dengan orang lain." sambung ibu.


"Iya, terus orang itu dendam misalnya," bapak menambahkan.


Melati diam berpikir mengingat-ingat. "Nggak pernah, kecuali..." Melati tidak melanjutkan ucapanya.


"Kecuali siapa Mel?" tanya Adit ia ingin menyelidiki siapa yang sudah berani mengusik keluarganya.


"Kecuali kak Abim" jawab Melati.


"Ngawur kamu Mel, masa iya, Abim ingin berbuat jahat, dia itu sering bilang sama kakak, ingin mengajakmu menikah, dan memperbaiki semuanya." bantah Mawar dengan cepat.


"Benar kakakmu Nduk, bapak tidak yakin kalau Abim bisa berbuat begitu." jawab bapak.


"Sudah... saya akan menyuruh orang menyelidiki." pungkas Adit.


"Ibu juga percaya dengan Abim, bukan dia pelakunya." Ibu berpendapat. Tetapi Ibu masih merenung berpikir, orang jahat tidak serta merta dia orang jahat. Kadang keadaan bisa merubah orang baik menjadi jahat. Tidak usah jauh-jauh kadang kejahatan datang dari orang terdekat, bisa tetangga, kerabat, kekasih, bahkan kadang keluarga sendiri.


"Mas, nanti sore kita ajak anak-anak ke mal ya" Mawar membuyarkan lamunan Ibu. Ibu lantas kembali ke dapur.


"Boleh... mau beli apa?" tanya Adit tidak mungkin membeli keperluan dapur sebab di Rose shop semua sudah tersedia.


"Baju Syifa sudah pada kecil Mas" Mawar berniat mencari baju untuk kedua anaknya.


"Aku ikut ya kak" kata Melati.


"Sebaiknya... kamu istirahat Nduk, bapak itu, masih trauma dengan kejadian tadi malam," cegah pak Sutisna.


"Iya, Pak"


Hari minggu ini Mawar dan Adit ingin liburan dirumah bu Riska mereka pun akan menjemput Syifa kemari. Dan nanti sore akan mengajaknya jalan ke mal.


******


"Kamu keterlaluan Fret!" Diah marah-marah ketika Alfred pagi-pagi datang. Sedangkan kemarin tega membiarkan Diah hampir mati kelaparan.


"Kamu ini, aku pulang kamu marahi, nggak pulang apa lagi!" Alfred balik marah.


"Istri mana yang tidak akan marah Fred?! kamu biarkan aku menunggu terkatung-katung dipinggir jalan, KALAU NGGAK BISA JEMPUT! BILANG!!" Diah sudah dikuasai emosi.


"Siapa bilang aku nggak kasih babar? aku mengabari kamu kok, TAPI HP KAMU SENGAJA KAMU MATIKAN, KAN?! IYA KAN!!"


Pertengkaran hebat pagi itu pun hingga terdengar oleh pemilik kontrakan. Beliau mendatangi kontrakan Diah.


"Mbak... Mas... saya bukanya mau ikut campur urusan rumah tangga kalian, tetapi... saya sebagai tetangga merasa tidak nyaman mendengar keributan kalian," tutur pemilik kontrakan memang benar sudah terlalu sering mendengar keributan seperti ini.


"Jika ada masalah selesaikan dengan baik, saya kira tidak hanya saya yang merasa terganggu, tetangga yang lain pun sering mengeluh," dengan sabar pemilik kontrakan menasehati.


"Permisi" Pemilik kontrakan pun kembali pulang.


Alfred maupun Diah hanya diam menunduk, entah mendengarkan nasehat pemilik kontrakan atau tidak.

__ADS_1


Diah meninggalkan Alfred masuk kedalam kamar, ia menutup pintu kemudian menangis sesegukan menenggelamkan wajahnya diatas bantal.


Ceklak.


Alfred menyusul kemudian duduk di samping tempat tidur kecil yang hanya pas untuk tidur berdua.


"Shory" ucap Alfred kali ini pelan.


Diah tidak menjawab terus menangis.


"Lihat nih, kalau kamu nggak percaya, kemarin aku beberapa kali chat kamu, tapi nggak kamu aktifkan kan?" Alfred menarik kedua pundak Diah agar bangun. Lalu menunjukkan chat, yang Fred ketik berkali-kali.


"Bukan aku sengaja, darimana aku punya duit buat beli pulsa, hiks hiks"


"Boro-boro buat beli pulsa, pulsa listrik saja, nggak diisi, terus aku tidur gelap-lalapan, sekarang juga mandi nggak ada air." Diah menceritakan semuanya sambil menangis.


Diah kesal, sudah sejak empat hari yang lalu Alfred tahu kalau dia nggak punya uang, hanya punya uang 10 ribu saja Alfred ambil. Malah sekarang menyalahkan dirinya.


"Sudah... kan sudah minta maaf," Alfred memegangi pundak Diah.


"Memang kamu kemana saja, sampai tiga hari nggak pulang? hiks hiks," Diah masih belum berhenti menangis.


"Kan sudah aku bilang Diah... aku punya bisnis" kilah Alfred.


"Nanti kita beli apapun yang kamu mau, nanti sore... kita ke mal ya," Alfred membujuk Diah agar tidak marah lagi.


"Beneran?" Diah langsung mengusap air matanya, menatap suaminya seksama mencari kejujuran disana.


"Beneran dong..." Alfred menarik tengkuk Diah lalu menyosor dengan rakus.


"Nanti aku yang beli" ucap Alfred wajahnya sudah di penuhi gairah. Alfred kemudian mendorong tubuh Diah hingga kembali jatuh kekasur.


Dua pasutri itu pun melepas hasrat, keduanya kembali masuk kedalam surga dunia.


******


Sore hari didalam mal. "Ini mobilan aku" anak laki-laki tampan menyembunyikan mobilan dibelakang badan.


"Bukan punya kamu... tapi punya aku... sini kembalikan," anak blasteran Asing dan Idonesia itu ingin merebut mobil tersebut.


"Nggak boleh" pria tampan berjalan mundur.


"Kembalikan! mobilan aku!" bentak anak Asing.


"Nggak mau" keduanya kekeh dengan pendapat masing-masing.


"Sini!" anak asing ingin merebut.


"Nggak!" pria tampan tepat menyembunyikan mobil tersebut. Namun anak blasteran bisa merebut. Tarik menarik pun terjadi hingga mobil yang belum di bayar itu copot bagian ban.


"Bundaaa... huaaa..."


"Mommy.... huaaaa..."


Kedua anak itu pun menangis menjerit-jerit. Entah kemana para karyawan toko yang bagian penjaga mainan sampai tidak ada orang satu pun.


"Astagfirlullah..."

__ADS_1


Kedua ibu muda itupun saling mendekat.


"Sayang... nggak boleh begitu..." Mawar langsung memegangi tangan anaknya. Mawar yang baru memilih baju untuk Syifa bersama baby sitter tidak tahu jika Bhanu pergi hingga keduanya bingung mencari Bhanu. Namun setelah menemukan Bhanu, ia sedang bertengkar.


"Freddy...ini kan mobil bukan milik kamu, tapi masih milik toko" Gita berjongkok didepan Freddy yang sedang menangis.


Ya kedua anak itu, ternyata anak Mawar dan anak Gita.


"Ya ampuun..." gita geleng-geleng kepala.


"Mbak, maaf ya, anak saya nakal," Mawar menghampiri Gita sambil menuntun Bhanu yang masih menangis.


"Saya juga minta maaf Mbak, tadi saya lagi memilih sayuran tetapi dia kabur." terang Gita.


"Ayo sekarang maaf-maaf fan" titah Mawar kepada Bhanu.


"Tapi... Bhanu mau mobol ini" Bhanu masih menangis.


"Sekarang... yang ini buat... siapa namanya?"


Mawar berjongkok menyejajarkan tubuhnya kepada Freddy.


"Freddy." Fredy menjawab.


Mawar kemudian memasang bagian ban yang copot, lalu memberikan kepada Gita.


"Ini mau dibeli Mbak?"


"Boleh... tapi..." Gita menatap Bhanu yang masih misek-misek merasa kasihan.


"Tenang saja Mbak, untuk anak saya... nanti saya tanyakan penjaga toko, mungkin masih ada stok" Mawar tahu yang dipikirkan Gita.


Mereka pun berkenalan, anak-anak mereka juga diajarkan untuk minta maaf. Hingga akhirnya tatapan Gita tertuju kepada bayi yang di gendong baby sitter.


Kepala Syifa sudah tegak, dan memakai bando, anak itu sedang ngoceh sambil memainkan krincingan.


Mata Gita menatap Syifa tidak berkedip, wajah anak ini mirip sekali dengan suaminya. Gita ingin bertanya kepada wanita yang baru dijumpai ini.


Anak foto kopian suaminya ini, benar darah daging Mawar atau bukan. Tetapi tentu tidak sopan.


Mawar pun menatap Gita, tetapi menganggapnya biasa saja. Pasalnya siapapun yang bertemu Syifa akan menatapnya seperti itu.


******


Tidak jauh dari tempat itu Diah di temani Alfred sedang memilih barang yang dibutuhkan. Alfred memutar bola matanya menangkap sosok Gita yang sedang berbincang-bincang dengan seorang wanita.


Alfred kebingungan.


*****


"Nah, nah, kemarin pada menuduh Alfred yang menculik Melati. Padahal Alfred tadi baik-baik saja. Sedangkan pria kemarin dalam keadaan terluka, masih menuduh ??? 🤣🤣🤣.


"Asas praduga tak bersalah. ❤❤❤ 🏃‍♀️🏃‍♀️🏃‍♀️.


.


.

__ADS_1


__ADS_2