
Jam 9 malam di apartemen Melati sedang duduk di meja belajar. Check laporan omset penjualan ice cream, yang dikirimkan oleh Bombom.
Melati merenggangkan otot, "pletek, pletak" suara jari ia tekuk agar terasa lemas. Sejak kemarin, ia begitu sibuk belum lagi membuat tugas yang diberikan oleh dosen.
"Sudah malam... sebaiknya kamu istirahat" Tangan kekar Abim memeluk pundaknya dari belakang.
"Huh! tugasku banyak banget Bang, gara-gara minggu kemarin kita menginap, belum lagi check usaha ice aku" ucapnya seraya memegangi kedua tangan Abim tanpa menoleh.
"Duuuhhh... kasihan..." Abim memejit pundak istrinya. Ada sensasi yang luar biasa hingga membuat Melati merem melek, hingga beberapa menit, memang terasa rileks.
"Mana tugas kamu, aku bantu membuat" Abim kemudian duduk di samping nya.
"Abang serius? kalau nanti ketahuan dosen bagaimana?" Melati memanyunkan bibir.
"Itu sih, tergantung kamu, bisa nggak? memahami tugas yang aku buat, dan bisa memaparkan jika dosen bertanya" Abim berkata serius.
"Ya... mudah-mudahan aku paham, ini Bang" Melati menyerahkan kertas yang baru ia tulis judul, tentang pengembangan usaha makro.
"Aku bantu, tapi... ada syaratnya" Abim menaikan sebelah alis matanya.
"Apa syaratnya?" Melati menatap suami di sebelah, dengan dahi berkerut.
"Sebelum tidur, jatah dua ronde," kelakar Abim menampilkan gigi putihnya terukir senyum yang mengembang.
Melati mlengos kesal. "Baru juga tadi malam, Bang" keduanya lantas terkekeh.
Benar saja, Abim membantu mengerjakan tugas istrinya hingga dua jam, baru selesai.
Abim baru tersadar, Melati tidur berbantalkan kedua tangan posisi telungkup, di meja belajar.
Abim membereskan meja belajar, mengumpulkan kertas yang berserakan, kemudian meletakan di laci.
Abim mengangkat tubuh langsing istrinya memindahkan ke ranjang. Ia membuka selimut yang masih dilipat rapi, membentangkan lalu menutup tubuh Melati. Bibir nya lantas mendarat di pipi mulus istrinya yang sudah menjadi candu. Rupanya Melati sudah terlalu pulas hingga tidak menyadari.
Pria tampan itu menatap jam dinding yang menggantung di tembok ternyata sudah jam 11.
"Hoam..." ia pun rupanya sudah mengantuk lalu berbaring di sebelah irtrinya tidak berniat mengganggu kasihan istrinya sudah tampak lelah.
Abim pun terlelap.
Dengarkanlah wanita pujaanku.
Malam ini akan kusampaikan.
Hasrat suci kepada dewiku
Dengarkanlah kesungguhan ini.🎵
__ADS_1
Terdengar lirik lagu dari handphone miliknya, menggagalkan mimpi yang mulai hadir. Abim membuka mata. Siapa... malam-malam begini telepon.
Abim beranjak dari tidurnya melihat nama siapa yang telepon. Nora?
Abim lantas mematikan sambungan telepon. Namun lagi dan lagi telepon itu berbunyi Abim lalu merijek.
Ting" suara pesan masuk.
"Bim, telepon aku kok di rijek sih... aku nggak bisa tidur memikirkan kamu." dengan tidak tahu malunya Nora kirim pesan. Abim tidak berniat membalas, justeru mematikan sambungan internet.
Abim kembali merebahkan tubuhnya. Namun telepon kembali berbunyi kali ini bukan telepon lewat WA.
Dengan rasa kesal Abim membawa handphone menjauh dari Melati. Ia membuka pintu lantas duduk di sofa.
"Heh! mau kamu apa?! jangan macam-macam!" Abim mengangkat handphone sambil marah-marah. Namun memelankan suaranya khawatir mengganggu tidur Melati.
"Bim, kamu kenapa marah-marah?" jawab suara bariton di seberang telepon.
Abim menelisik nama di handphone.
"Kak Adit? Ahahaha... maaf kak, saya pikir siapa," Abim lantas terbahak-bahak, ternyata yang telepon Adit.
"Kamu itu memang adik ipar yang nggak ada tata krama!" ketus Adit.
"Lagian... kakak! telepon jam segini, di sini tuh sudah jam 12 malam Kak"
"Oh iya maaf, ahahaha... di sini masih jam lima sore sekarang, saya baru pulang dari bengkel," Adit gantian terbahak-bahak.
"Eh tunggu Kak, bagaimana kabar Syifa?"
"Dia sehat Bim, sebenarnya aku telepon tadi ada perlu sedikit, apa kamu kirim paket boneka untuk Syifa?"
"Nggak tuh Kak, memang kenapa?"
"Tadi jam 4 ada yang kirim boneka untuk Syifa, aku pikir kamu, kalau gitu... sudah dulu Bim, dilanjut istirahat nya,"
Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
Tut.
Abim melanjutkan tidur sebelumnya memblokir nomer hp Nora dan meninggalkan di atas meja ruang tamu.
********
Di waktu yang sama. Waktu Indonesia. Jam 5 sore, mobil yang di kendarai mamang sampai di mansion. Mansion halaman yang luas tambak bermacam-macam bonsai tertata rapi.
__ADS_1
Marselo turun dari mobil sambil membopong putrinya membawa masuk mansion setelah wanita berseragam yakni ART membukakan pintu.
"Calista tidur?" tanya seorang wanita bertubuh bugar, rambut di sanggul sudah tumbuh uban sebagian. Wanita hampir berusia 60 tahun itu adalah Mommy Marsel yang berasal dari negara Asing.
"Bobo Mom, aku tidurkan dulu ya" jawab Marsel. Namun ketika ingin masuk ke dalam kamar, Calista terbangun.
"Tante Diah mana?" dengan mata memerah kas bangun tidur, Calista mengedarkan pandangan, tidak ada Diah. Justeru menangkap sosok Oma yang sedang berdiri tidak jauh darinya.
"Papa... Tante mana?" Lita mengulangi, sambil cemberut. Lita kesal, ketika Diah pulang tidak dibangunkan.
"Tante sudah pulang sayang... kita kan sekarang sudah sampai di rumah," terang Marsel.
"Ya... kenapa? Papa nggak mau bangunin Lita, huu aaa..." Lita menangis lalu memukul-mukul dada Marsel. Kemudian merosot dari gendongan papanya.
"Tante siapa sih?" tanya Oma dengan bahasa Indonesia yang kurang jelas.
"Karyawan aku di pabrik Mom," sahut Marsel sambil menenangkan Calista yang menjerit-jerit.
"Eeh... cucu Oma kok menangis..." Oma mendekat, ikut menenangkan cucunya.
"Sekarang sudah sore... sebaiknya, Non Lita mandi sama Mbak" Mbak Marni yang biasa mengurus Lita berniat menggendong Lita.
"Nggak mau... Papa nggak mau bangunin Lita... huu aaa..." Lita menggerak-gerakkan kakinya, di lantai.
"Ya deh... Papa minta maaf, nanti hari senin... Lita ikut Papa ke kantor, lagi ya, terus... kita minta Tante Diah, cerita lagi" dengan sabar, Marsel membujuknya.
"Nggak mau... maunya sekarang! hu huuu..."
Marsel menarik napas panjang. Jika anaknya sudah merajuk begini tidak ada cara lain, selain menuruti. "Mbak Marni, tolong panggil Mamang kemari." titah Marsel.
"Baik Tuan" Marni ART berseragam itu pun keluar, memanggil supir yang masih membersihkan mobil.
Tidak lama kemudian kembali bersama mamang.
"Saya Tuan" kata supir menghampiri Marsel menatap Lita yang masih sesegukan.
"Jemput Diah kemari Mang" titah Marsel.
"Baik Tuan" tidak banyak bicara, supir segera berangkat menjemput Diah.
Sementara Marsel masih membujuk putrinya. "Tante Diah sudah di jemput Mamang, Lita sekarang mandi sama Mbak Mar dulu ya..." Marsel menyingkirkan rambut Lita yang menutup sebagian wajahnya, dan basah karena air mata.
Lita lantas mengangguk patuh di tutun mbak Marni.
"Diah siapa Sel, bukankah sekertaris kamu, namanya Siska, karyawan bagian divisi apa dia?" cecar Oma.
"Bagian produksi Mom," terang Marsel, melangkah membuntuti oma lantas duduk di sofa, ngobrol berhadapan.
__ADS_1
"Bagian produksi?" Oma balik bertanya.
.