PERNIKAHAN BERUJUNG LUKA.

PERNIKAHAN BERUJUNG LUKA.
Terjebak di Kamar.


__ADS_3

Mawar kembali pulang kerumah, rupanya lap top nya tadi tertinggal dan tenyata, masih rergeletak di karpet.


"Non Mawar, saya ajak Syifa main ke taman komplek, boleh nggak?" tanya baby sitter, Syifa sudah ia mandikan wangi bedak kas bayi sangat wangi.


"Boleh... tapi jangan kelamaan Sus, biasanya jam lima, Papanya kesini." jawab Mawar. Mawar tidak tahu bahwa Abim sudah berada didalam.


"Sekalian panggil Bhanu Sus," Mawar menambahkan.


"Baik Non" suster lantas keluar mendorong stroller.


"Non Mawar... saya juga mau makan baso boleh nggak? dirumah sudah rapi kok," Mbok Sarintem pun ingin makan baso di kios bu Riska.


"Simbok... ya jelas boleh lah, masa pakai izin segala," jawab Mawar, keduanya pun tertawa.


Mawar keluar bersama Simbok, mereka lantas berpisah. Mawar kembali ke Rose shop. Sementara Mbok Sarintem menuju dimana bu Riska berjualan.


Mereka tidak tahu bahwa didalam kamar Mawar sedang ada keributan.


"Mau apa kalian?!" ketus bu Reny dengan cepat ambil map yang jatuh.


"Ibu ngapain masuk kekamar kakak saya?" Melati balik bertanya.


"Istirahat lah... orang aku disuruh kok sama Mawar," jawabnya lalu menyembunyikan map dibalik badan.


"Yang ibu sembunyikan itu apa? hayo... ibu mau mencuri ya, kembalikan?!" Melati mengasungkan tangan.


"Heh! kurangajar kamu! saya dibilang maling!" bu Reny wajahnya memerah.


"Coba bu... saya boleh lihat, isi map itu" kata Abim sopan. Melati dan Abim sudah masuk kamar mendekati bu Reny.


"Bukan apa-apa kok, cuma lagi beres-beres, debuuu... dimana-mana" bu Reny mengarang cerita sambil mengangkat tangan kiri, sementara tangan kanan memegangi map.


"Sini saya lihat mapnya, kalau nggak boleh... saya aduin kak Mawar, loh!" ancam Melati.


"Tuh ambil!" bu Reny melempar map keatas tempat tidur.


Melati dan Abim bergegas menuju ranjang Mawar. Mereka membuka map, ternyata isinya sertifikat rumah.


Tanpa mereka sadari, bu Reny jalan mundur pelan, ia ambil kunci kamar yang digantung di pintu oleh sang pemilik kamar. Bu Reny lalu menutup pintu perlahan lantas menguncinya dari luar.


Mendengar pintu ditutup Melata balik badan. "Hah?" Melati terperangah.


"Kurang ajar! tuh si Nenek, kita di kunciin kak," umpat Melati mengepalkan tangan.


Abim berjalan mendekati pintu, menyusul Melati.


Dok dok dok


"Buka pintunya..." Melati menggedodor-gedor pintu, ia panik. Bagaimana tidak? dia di dalam hanya berdua dengan Abim.


Sementara diluar kamar, bu Reny menyeringai licik, beliau masih berdiri didepan pintu. Membiarkan Melati menggedor-gedor pintu.

__ADS_1


"Rasain kalian! selamat bercinta didalam kamar, saya akan laporkan kamu sama Mawar, kalau kalian berbuat mesum didalam!" bu Reny melempar-lempar kunci keatas lalu menangkapnya, dalam hati bersorak kegirangan.


Bu Reny lantas keluar rumah menuju Rose shop, ia ingin mengadukan bahwa Melati dan Abim telah berbuat mesum di kamar Mawar.


Bu Reny tersenyum licik. "Kalian pasti akan diarak bugil keliling komplek, hahaha" gumamnya sambil tertawa sendiri.


Semua itu tidak lepas perhatian satpam, yang sedang berjaga.


"Kemana anakku?!" ketus nya sampai didalam Rose shop, beliau bertanya kepada Kenanga dan Kantil.


"Masih didalam Bu, sedang ada tamu" jawab Kenanga yang sedang memasukan barang belanjaan kedalam kantong plastik milik customer.


"Panggil saya, Nyonya," ucapnya angkuh.


"Nyoya... kami mohon, jangan masuk keruangan Bu Mawar dulu, sepertinya beliau sedang ada rapat penting." Kantil menahan tangan bu Reny.


Bersamaan dengan itu, salah satu distributor resmi produk sembako keluar dari ruangan Mawar. Mereka baru selesai rapat.


"Ada apa Bu?" tanya Mawar kemudian, menghampiri mertuanya.


Ibu kemudian berbisik ke telinga Mawar. Mawar membelalakkan mata.


Pada waktu yang sama, derung mobil sampai didepan pagar rumah Mawar.


Dia adalah Adit. Ia turun dari mobil lalu membuka pagar.


Gredeeeekkk...


Sreeeekkk.


Garasi terbuka mobil pun ia masukan kedalam, setelah menutupnya kembali.


Adit masuk terburu-terburu rumah tampak sepi ia ingin segera mandi, badanya rasanya sudah lengket.


Tetapi ia mengurungkan niatnya, di bengkel tadi belum sempat menjalankan rukun islam yang kedua. Adit ambil air wudhu dikamar mandi tamu, kemudian shalat di mushola mini miliknya.


*****


"Kak... bagaimana ini... cari cara kek! biar kita bisa keluar, dari kamar ini," Melati telungkup di daun pintu posisi berdiri berbantalkan tangan rasanya ingin menangis.


Jika sampai kakaknya pulang belum bisa keluar pasti akan salah paham.


Abim juga tak kalah bingung, ia duduk bersandar disofa. Jujur ia senang berduaan dengan Melati, tetapi bukan dengan cara seperti ini.


"Kak! jangan diam saja!" Melati balik badan kali ini bersandar di pintu.


"Aku juga bingung Mel, tapi menurut aku sih... biarin saja," Abim yang duduk di sofa menatap Melati tersenyum. Untuk mengusir kegelisahan mengerjai Melati tentu akan menyenangkan.


"Apa maksudnya! biarin?!" Melati melotot kesal, apa lagi melihat Abim tersenyum, dalam keadaan seperti ini masih bisa tersenyum. Pikirnya.


"Biarin... kalau kakakmu, salah sangka, kita pasti dipaksa menikah, waahh... senangnya... aku bisa menikah dengan gadis pujaan hati. Ahahaha," Abim terbahak-bahak.

__ADS_1


"Iiihhh... nyebelin amat, sih!" Melati menghampiri Abim, cubitan mendarat di lenganya, karena Abim menggulung lengan kemeja hingga siku. "Ouw" Abim meringis, sambil mengusap-usap tanganya.


"Rasain! siapa juga yang mau menikah dengan duda, sepertimu!" ketus Melati.


"Tapi... dudanya keren loh," kelakar Abim.


"Bodok! mau keren kek! nggak kek! emang aku pikirin!" Melati semakin kesal.


"Sudah... jangan marah-marah dong... nanti cantiknya hilang loh," Abim masih berseloroh.


"Dari dulu juga aku nggak cantik kok, kalau aku cantik, nggak mungkin, kak Abim memilih Diah!" ketus Melati, berdiri membelakangi Abim kali ini menatap keluar, melalui jendela.


Keduanya saling diam, tenggelam dalam pikiran masing-masing.


Sesungguhnya Melati menyesal telah berkata seperti itu, kenapa juga? harus menunjukan rasa cemburunya. Hanya membuat Abim merasa diawang-awang.


Sementa Abim, mengapa Melati harus menyebut nama Diah. Nama itu yang sudah membuatnya menyesal karena memilihnya.


Rasanya dunia terlalu menyedihkan baginya.


Berapa banyak keluhan sedih, kecewa, luka, yang sudah diciptakan, oleh nya.


Semua rasa kecewa saat bersama Diah, rasa kesal sekalipun kadang ia biarkan dalam batasnya, jangan sampai semua rasa itu terkumpul dalam satu kata marah.


Namun, Abim hanyalah manusia biasa, kesabaran akan ada batasnya.


Tok tok tok


Ketukan pintu membuyarkan lamunan mereka.


"Sayang... buka pintunya" kata Adit ia pikir yang didalam kamar adalah Mawar.


"Kakak... tolong bukain pintu..." sahut Melati dari dalam.


"Melati... kamu sama Mawar kan?" Adit merasa heran mengapa Mawar dikamar bersama Melati, harus mengunci pintu segala, karena tidak jarang Melati masuk kekamarnya. Tetapi tidak pernah mengunci pintu.


"Kak... tolong buka dulu, nanti Melati cerita." Melati mengotrek-ngotrek handle pintu.


"Baiklah..." Adit meninggalkan tempat itu ingin ambil kunci cadangan. Tampak Mawar dan bu Reny berjalan cepat menuju kearah kamar.


"Maw, kamu baru pulang, terus kenapa Melati bisa ada didalam kamar?" cecar Adit.


"Adik Iparmu itu sedang mesum didalam kamar Dit, harus dihukum dia!" bu Reny yang menjawab.


Mawar segera menarik tangan Adit menuju kamar mereka tidak sepatah kata pun berbicara.


Adit menurut masih bingung apa yang terjadi.


.


.

__ADS_1


__ADS_2