PERNIKAHAN BERUJUNG LUKA.

PERNIKAHAN BERUJUNG LUKA.
Modus Diah.


__ADS_3

"Diaaah..." Mama menjerit melihat menantunya jatuh guling-guling di tangga.


"Cepat bangunkan, Pa" titah mama.


Papa berniat mengangkat tubuh Diah yang sudah terlentang dilantai.


Namun belum sampai papa membangunkan Diah. Abim yang lari menuruni tangga segera mengangkat tubuh istrinya.


"Awas! jangan sentuh aku, kamu jahat!" Diah menyikut-nyikut Abimanyu.


Abim tidak bersuara lantas menidurkan Diah di sofa.


"Kamu tidak apa-apa nak?"


Mama yang paling panik langsung menelisik tubuh Diah bagian bawah. Khawatir terjadi apa-apa dengan kandungan menantunya itu, ternyata benar adanya, darah menetes di paha.


Mama terkesiap.


"Astagfirlullah... kamu pendarahan, kita segera kerumah sakit ya," kata mama walaupun terlihat tabah, tetapi hatinya sedih dan khawatir jika terjadi apa-apa pada calon cucunya.


Diah hanya menangis tersedu-sedu. "Mas Abim jahat, Ma, nggak mau mengakui anak yang aku kandung, biar anak ini mati saja," adu Diah.


"Diah, jaga ucapan kamu! pamali calon ibu bicara begitu!" mama meperingatkan. Lalu mama menatap Abim menuntut penjelasan.


Abim tidak menyahut justeru duduk disofa. Papa menyusul anak sulunnya itu, beliau bisa mencerna apa yang terjadi. Namun tidak sedikitpun bersuara lantas tangan yang sudah mulai keriput itu memeluk pundak Abim.


"Abim! istri mu ini pendarahan, kenapa kamu malah duduk?!" bentak mama geleng-geleng menatap papa dan anak yang sepertinya kompak itu mendengus kesal.


Abim cepat berdiri mendengar Diah pendarahan terkejut. Biar bagaimana anak ini tidak berdosa jika sampai terjadi apa-apa tentu ia tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri.


"Angkat istrimu, bawa ke mobil Bim" titah papa akhirnya bersuara juga. Melihat Abim yang masih diam terpaku.


Abim membopong tubuh Diah membawanya masuk kedalam mobil.


"Ada apa, Ma?" tanya Intan yang baru selesai shalat Isya berlari menghampiri mama.


"Kakakmu pendarahan, Mama kerumah sakit dulu, ya," jawab mama yang baru dari kamar nylempang tas tampak tergesa-gesa.


"Intan ikut, Ma" Intan kembali kekamar tanpa menunggu jawaban mama ambil kerudung instan, lalu memakainya sambil berjalan tanpa berkaca.


Mereka berangkat kerumah sakit. Begitulah keluarga pak Wahid. Semarah apapun kepada orang yang sudah dzolim kepada mereka. Namun ketika berhalangan seperti ini tentu tidak akan tega membiarkan orang tersebut kesakitan.


Sampai rumah sakit xxx Abim segera membopong kembali istrinya. Diah menyembunyikan wajahnya didada Abim. Menghirup rindu yang sudah berapa bulan ia tahan, sesaat menghilangakan rasa kesalnya. Walaupun tinggal satu rumah lelaki yang masih berstatus suami ini tidak pernah menjamah tubuhnya.


Abim menurunkan Diah didepan ruangan dokter kandungan yang tadi siang ia datangi. Lalu mendudukan Diah dikursi tunggu.


Lagi-lagi mama yang sigap mengurus pendaftaran, setelah menunggu beberapa menit giliran Diah dipanggil.

__ADS_1


Abim lantas menyodorkan kursi roda kearah Diah. "Bisa duduk sendiri nggak?" tanya Abim.


Diah menggeleng. Entah mencari kesempatan atau memang tidak bisa, Diah dibantu Abim naik kursi roda, kemudian Abim mendorong diikuti mama.


Sementara papa menunggu diluar bersama Intan.


Sampai ruang dokter kandungan, bukan dokter Tio yang jaga. Dokter ini sudah berusia setengah baya.


"Bagaiamana keadaan anak saya Dok?" tanya mama setelah dokter menjalani serangkaian pemeriksaan.


"Keseluruhan bagus Bu, Alhamdulillah... pendarahannya tidak mempengaruhi janin," dokter memberi penjelasan.


"Syukurlah, Dok" mama bernafas lega lantas memeluk pundak Diah.


"Mas ini suaminya?" tanya dokter menatap Abim yang sejak tadi tidak bertanya apapun. Justeru mama yang tanya ini itu.


"Iya, Dok" Abim menjawab singkat.


"Saran saya... hingga usia kandungan lima bulan kedepan, kurangi melakukan hubungan intim dulu, yang awalnya seminggu Dua atau tiga kali, paling cepat seminggu sekali saja," titah dokter sambil menulis resep.


Diah menatap Abim sekilas lalu mlengos.


"Baik dok" Abim tersenyum kecut.


"Buat Mbak, jangan stres karena akan mempengaruhi janin,' pesan dokter. Dokter tidak tahu jika Diah baru saja jatuh.


Setelah diberikan penguat kandungan, dan vitamin Diah diizinkan pulang.


********


"Sebaiknya... kamu cepat tidur, jangan banyak pikiran ingat kata dokter" titah mama, membantu Diah masuk kedalam kamar.


Diah melirik Abim sekilas, dalam hati ingin minta ditemani. Namun, Abim bergeming justeru duduk bersandar di sofa bersama papa dan Intan.


"Kamu sebaiknya, tidur dikamar tamu saja," titah mama. Lantas menuntun menantunya khawatir Diah jatuh lagi.


Mama lantas ambil selimut yang berada dilemari kamar tamu, menyelimuti menantunya.


"Ingat ya Diah, anak yang kamu kandung tidak punya sedikitpun kesalahan. Anak itu harta yang paling berharga yang di titipan Tuhan kepada kita. Jadi... jangan coba-coba menyakitinya!" tegas mama.


"Iya ma," ucap Diah, tetapi dalam hatinya malas punya anak, toh buat apa jika Abim tidak mau mengakui.


"Mama keluar ya, sekalian saya panggilkan Abim," pungkas mama.


Diah tersenyum mertua perempuannya benar-benar perhatian. Apa lagi beliau berkata ingin mengajak Abim kesini.


Sementara mama diluar. "Temani istrimu Bim, perlu dukungan dia tuh" kata mama lalu duduk disebelah papa.

__ADS_1


"Iya Ma, nanti," sahut Abim pendek.


"Temani istri tercinta kakak, kasihan loh, punya istri hamil tuh jangan diajak ribut. Contoh tuh, cerita novel yang sering aku baca, mencari buah mangga muda tengah malam saja mau, padahal sampai memanjat pohon loh" sambar Intan meledek. Langsung diplototi Abim.


"Ah, kamu ini! korban novel," papa merangkul pundak Intan, terkekeh.


"Sebenarnya ada apa sih Bim? kamu bicara apa sama istrimu, sampai dia nekat begitu" mama menatap Abim yang masih bersandar di sofa.


Abim menarik napas panjang. Entah mau memulai darimana Abim bicara. Jujur tentang keadaan rumah tangganya saat ini jelas tidak mungkin.


"Namanya orang lagi hamil Ma, sudah pasti sensitif, jika ada orang bicara salah sedikit," papa yang menyelamatkan Abim dari kebingunganya ketika sedang mencari-cari alasan.


"Kalau hanya masalah biasa, nggak mungkin juga kan Pa, Diah sampai mau menggugurkan kandungan," mama mulai curiga.


"Wes lah Ma, jangan dibahas lagi, sebaiknya kita beristirahat." pungkas papa. Papa mulai tahu apa yang terjadi dengan keluarga anaknya. Dilihat dari sikap Abim yang suka coek kepada memanantunya itu.


"Mama tidur dulu, temani istrimu Bim, jangan ngeyel," mama menjitak pelan kepala Abim.


"Iya Ma" hanya itu jawaban Abim. Masih bingung memikirkan apa yang terjadi hari ini.


"Eh kak, kakak mantap juga ternyata," Intan mengacungkan jempol.


"Mantap" Abim mengerutkan dahi.


"Iya, kakak tokcer, nikah baru empat bulan istrinya sudah hamil tiga bulan" Diah menaik turunkan alisnya.


"Tahu apa kamu? masih anak kecil juga!" ketus Abim tapi sebenarnya senang adiknya ini selalu menghiburnya.


"Anak kecil darimana? aku ini sudah 25 tahun kak, hanya beda dua tahun sama Diah, kalau jaman Mama dulu, sudah punya anak dua," celoteh Intan.


"Awas kamu! jangan pacaran, jika ada pria yang suka sama kamu, cepat suruh melamar saja." nasehat Abim. Abim trauma dengan perkawinannya jangan sampai adiknya terjerumus dalam pergaulan bebas.


"Tenang kak, kakak nggak percaya sama aku." jawab Intan.


"Percaya, sekarang sudah malam sebaiknya kita istirahat." kata Abim mereka menuju kamar masing-masing.


Tetapi Abim masuk kekamar dimana Diah tidur. Saat ini tidak mungkin, tidur dikamar sendiri tidak ada pilihan lain pasti akan didamprat mama.


Sementara Diah dikamar, mendengar pintu berderit, saat Abim masuk kedalam, pura-pura tidur. Diah sengaja menyisakan ranjang setengahnya, agar Abim tidur bersama. Kamar ini tentu berbeda dengan kamar mereka yang ada sofa, jadi tidak mungkin Abim tidur terpisah. Begitulah yang ada dalam benak Diah.


Diah sengaja menyingkap rok mini nya keatas, hingga menampilkan paha mulusnya.


Kancing baju atasnya sengaja ia buka tiga hingga terlihat dada putihnya.🤣🤣🤣. Diah rupanya lupa pesan dokter, masih juga modus.


.


.

__ADS_1


__ADS_2