
Malam hari dipusat pembelanjaan Swiss, dua pasutri telah memilih-milih bahan produk untuk kebutuhan sehari-hari. Setelah mendapatkan semua yang mereka cari beralih menuju toko pakaian.
"Aku mau beli ini Mel, soalnya cuma membawa sedikit" Abim menunjukkan pakaian dalam.
"Iiihhh... kakak!" Melati masih tampak malu-malu lalu mengalihkan pandangan.
"Eehh... nggak usah malu-malu kali? tadi pagi juga kamu kan... yang mencuti" Abim tersenyum. Memang benar khusus pakaian dalam, Melati mencucinya sendiri, ia beber di tempat handuk tanpa harus memakai jasa loundre.
"Iihh kakak, ya sudah, masukkan ke sini" Melati menunjuk troli.
"Kamu mau beli apa?" tanya Abim.
"Aku mau beli ikat rambut saja, kemarin kak Mawar lupa masukin" kata Melati sambil memilih-milih ikat rambut.
"Mulai sekarang... ini aku serahkan ke kamu," Abim menyerahkan kartu ATM.
"Kakak saja yang pegang, aku kan punya sendiri," jawab Melati polos.
"Kamu itu... sekarang istri aku, tanggung jawab aku, jadi yang menanggung hidup kamu juga aku, termasuk biaya kuliah." titah Abim.
"Nggak usah kak, biaya kuliah aku sendiri yang bayar, aku kan punya usaha sendiri." sahut Melati.
"Cek, pegang!" Abim mengangkat telapak tangan Melati, lantas meletakan ATM di genggaman tidak mau dibantah. "Terimakasih kak" Melati mengalah.
"Sama-sama"
Abim melanjutkan memilih pakaian yang tertunda. "Kayaknya kamu cocok pakai ini Mel," Abim mengangkat baju gamis.
"Nggak usah kak" tolak Melati. Namun Abim tidak menyahut lantas ambil beberapa stel pakaian yang berbeda model, dan kira-kira pas untuk istrinya. Abim kemudian memasukan kedalam troli tanpa persetujuan Mela. Sekarang mungkin Melati belum berpikir masalah pakaian. Namun jika sudah masuk kuliah akan kebingungan, sebab yang disiapkan Mawar hanya baju santai.
"Ya Allah... kak?! banyak sekali?" Melati terkejut saat menatap isi troli ingin menyimpan ikat rambut.
"Seeettt" desis Abim agar istrinya menurut. Melati pun lagi-lagi mengalah.
"Mau beli apa lagi?" tanya Abim kemudian.
"Cukup kak, terimakasih ya," Melati menatap Abim yang mendorong troli disebelahnya. Suaminya ini ternyata sangat perhatian.
"Kamu ini, sama suami kok, terimakasih terus," Abim mengusap kepala Melati yang tertutup hijab.
"Ucapan terimakasih itu, tidak hanya diucap untuk orang lain kak, untuk pasangan justru harus lebih sering mengucap kata itu," terang Melati. Memang benar adanya. Kadang pasangan suami istri mengabaikan ucapan itu.
"Iya sayang..." jawab Abim, membuat Melati lantas menghentikan langkahnya, mendengar kata sayang.
"Kok malah bengong, ayuk" Abim turut berhenti.
Setelah mendapatkan pakaian yang dibutuhkan, mereka mendorong dua troli, satu untuk bahan baku konsumsi, dan yang satu lagi untuk pakaian yang kebanyakan milik Abim.
Mereka pun akhirnya pulang, setelah membayar di kasir dan membeli makanan untuk makan malam disamping mall.
__ADS_1
"Huh capek" ucap Abim langsung menjatuhkan tubuhnya di kasur. Ketika sampai di apartemen.
"Kekamar mandi dulu atuh kak, masa langsung ke tempat tidur," Melati mengingatkan.
"Ya" satu kata jawaban Abim lalu berjalan ke kamar mandi, sambil tersenyum senang diperhatikan istrinya.
Jam merangkak naik, setelah makan malam, mereka bersantai di depan televisi. Cubit-cubitan, senggol-senggolan, bercanda ria. Ada saatnya serius mereka membicarakan masalah kuliah. Tidak terasa malam semakin larut, mata mengantuk menyerang. Melati lalu merebahkan tubuhnya lebih dulu disusul Abim. Abim langsung menyusup ke ketiak istrinya.
"Kak, geli tahu!" Melati menggeser tubuhnya hingga mentok ke tembok. Abim bukan menyerah justeru memanjat tubuh ramping istrinya hinga berhasil meneguk secawan madu, kemudian keduanya terlelap. 🤣🤣🤣.
******
Di kediaman Gita, semejak Alfred mabuk ketika itu, Gita tidak menyapa suaminya. Gita benar-benar sudah sampai puncak kemarahannya.
"Gita... aku kan sudah minta maaf, kenapa kamu masih mendiamkan aku terus?" tanya Alfred, mendekati Gita yang sedang memasak. Gita balik badan menatap Alfred horor.
"Gita..." suara Alfred memelas.
"Jangan pura-pura pasang wajah, seolah kamu tidak berdosa Fred!" sinis Gita. "Selama ini kamu sudah membohongi aku, kamu punya anak dari wanita lain kan, Fred?! jawab Fred?!" Gita membentak Alfred. Namun Alfred hanya menunduk.
"Mulai sekarang, kamu harus pergi dari rumah ini Fred, saya akan menggugat cerai kamu!" tegas Gita.
"Gita" Alfred mendekati Gita.
"Pergi Fred! PERGI!"
Dengan langkah berat, Alfred masuk garasi menyalakan motor bututnya, lalu pergi meninggalkan rumah Gita.
Gita pun cepat keluar langsung melambaikan tangan kepangkalan ojek yang berada di perbatasan komplek, dan perkampungan.
"Bang, tolong ikuti motor itu ya" kata Gita setelah naik keatas motor.
"Baik Non" ojek pun mengikuti Alfred hingga sampai di rumah kontrakan milik Diah.
Afred kemudian membuka kunci pintu kontrakan, lalu masuk kedalam. Alfred tidak tahu bahwa istrinya mengikuti.
"Bang, putar balik ya" titah Gita. Ia lega sudah tahu dimana Alfred tinggal.
******
Sore hari Diah baru keluar dari pabrik. Ia merogoh handphone hendak memesan ojek.
"Mbak... tidak usah memesan ojek, saya bersedia mengantarkan Anda." pria misterius bertubuh besar yang mengaku tukang ojek kemarin tiba-tiba berhenti, mengejutkan Diah yang sudah berhasil memesan ojek.
"Siapa Anda?!" ketus Diah.
"Saya tidak berniat jahat, hanya ingin mengantar Anda," jawab pria bertubuh kekar.
"Saya bisa pulang sendiri!" ketus Diah. Ojek yang Diah pesan online pun tiba.
__ADS_1
"Mbak Diah ya?"
"Iya Bang" Diah mengenakan helm yang diberikan gojek, kemudian berangkat meinggalkan orang misterius tersebut. Orang misterius itu tetap mengikuti Diah sampai di depan kontrakan.
Diah tidak perduli, tetap membuka pintu. Namun belum hilang rasa terkejutnya, lampu di kontrakan menyala, itu artinya Alfred ada di dalam.
Diah masuk kedalam mendapati Alfred yang sedang menonton televisi. Diah tidak menganggap ada orang. Ia berjalan cepat melewati Alfred berniat masuk kedalam kamar.
"Diah... tunggu" Diah tetap tidak menjawab. Masuk kamar lantas menguncinya dari dalam.
"Diah... toloong, buka pintu, jangan hukum aku seperti ini, aku mencintaimu," tidak ada jawaban.
Alfred terus mengetuk pintu, dan terus memohon. Didalam kamar Diah rasanya kesal sekali. Alfred rupanya tidak mau menyerah, padahal Diah sudah menahan ingin ke kamar mandi. Mau tak mau Diah keluar.
"Diah..." Alfred langsung memeluk istri yang dicintainya itu.
Diah melepas pelukan Alfred berjalan cepat ke kamar mandi. Tidak lama kemudian kembali keluar.
"Alfred... benar? kamu mencintai aku?" Diah berdiri di depan Alfred.
Alfred mengangguk. "Benar Diah, aku tidak mau kehilangan kamu,"
Mereka berdiri berhadapan. "Duduklah Fred... kita bicara baik-baik." Alfred pun menurut mereka duduk didepan televisi. Diah lantas memencet remote mematikan televisi.
"Fred, jika kamu memang mencintai aku, ceraikan aku malam ini juga." tegas Diah.
"Diah" lirih Alfred menatap Diah berkaca-kaca. Tatapan penuh cinta tidak bisa dipungkiri memang.
"Fred, aku bukan Diah yang dulu, aku wanita yang punya perasaan," Diah berdiri menekan meja makan, membelakangi suaminya.
"Cukup kamu mengabaikan anak kita, walaupun aku senang, anak kita sekarang hidup bahagia bersama orang yang tepat"
"Tidak kurang kasih sayang maupun materi. Walau jujur hatiku sakit menerima kenyataan ini Fred" Diah menangis.
"Kamu tahu fred... anak kita tidak mengenal aku, dan tidak mau aku dekati," tangis Diah semakin kencang.
"Cukup anak kita yang menjadi korban keegoisan orang tuanya. Jangan mengulanginya lagi Fred"
Alfred duduk diam entah apa yang ia pikirkan.
"Fred... anak istrimu membutuhkan kamu, kembalilah kepadanya, lupakan aku, dan ceraikan aku sekarang juga" mohon Diah.
"Diah" satu kata dari mulut Alfred.
Diah menyusut air matanya. "Aku mohon Fred. Ceraikan aku sekarang juga," desak Diah.
"Baik Diah, aku ceraikan kamu sekarang juga,"
.
__ADS_1