
"Diah... kenapa loe, lemas banget sih?" tanya Ririn teman Diah, mereka masih menunggu jam masuk kerja.
"Gue... gue..." Diah tidak melanjutkan ucapanya.
"Loe kenapa?" Ririn mengulangi pertanyaannya dengan dahi berkerut, menatap Diah yang tampak malu untuk melanjutkan ucapanya.
"Gue... lapar, Rin," akhirnya kata itu keluar juga dari mukut Diah. "Dari kemarin sore, gue nggak makan, kalau boleh gue mau pinjem duit 20 ribu saja, nanti habis gajian gue bayar," Diah pun berkata lancar.
"Lapar? hahaha..." Ririn tertawa sambil memegangi perutnya sampai terasa sakit.
"Rin, gue serius... kok loe malah tertawa sih," Diah tahu pasti temanya meledek karena kelaparan.
"Loe lucu Diah, loe katanya punya laki bule, tapi sampai kelaparan, yang benar saja loe!" Ririn geleng geleng kepala.
"Kalau nggak mau pinjemin ya sudah sih Rin, nggak usah meledek," Diah tertunduk malu, sebenarnya kalau dipinjami uang, ia ingin membeli nasi uduk diluar.
"Ada... tenang saja, gue pinjemin, 100 ribu" Ririn menyerahkan uang seratus ribu, kasihan menatap Diah yang tampak tidak bersemangat.
"Terimakasih ya Rin" Diah tersenyum senang. Itulah Diah saat ini, uang 10 ribu terasa lebar apa lagi sampai seratus ribu.
Diah menyesal kenapa dulu tidak menabung ketika masih banyak uang. Uang yang diberikan Adit kakaknya seberapa pun ia habiskan untuk foya-foya traktir teman-teman geng OBLO.
Tetapi mana sekarang? giliran Diah tadi malam telepon minta tolong mereka, ingin pinjam duit tidak ada satupun yang mau membantunya.
Diah membuang napas kasar.
"Ini, gue punya roti sebaiknya loe sarapan dulu," Ririn memberikan roti harga dua ribuan yang ia beli di warung ketika berangkat tadi.
"Terimakasih Rin" tampak binar dimata Diah. Langsung menyantap roti dengan cepat, merogoh air dari dalam tas jinjing yang isinya hanya air yang ia bawa dari rumah tadi langsung meneguk dari dalam botol.
Ririn menatap Diah tidak berkedip melihat cara makanya seperti orang nggak makan tiga hari.
Selesai makan roti, tidak lama kemudian datang jam masuk kerja. Diah, Ririn dan juga yang lainya mulai bekerja.
Selama bekerja, tidak ada yang boleh bicara, tangan-tangan trampil mereka dengan cepat memasukan makanan ringan dalam kemasan.
Sebelum petugas lain menyerahkan kepada yang bagian press kemasan.
Hingga jam 11 pagi Diah kepergok pengawas yang sedang mondar mandir.
Diah mengantuk walaupun wajahnya tertutup masker, ia beberapa kali melenggut mengantuk hingga jidatnya membentur-bentur meja.
__ADS_1
"Heh kamu! kerja yang benar!" bentak pengawah membuat Diah lansung rersadar.
"Maaf-maaf" Diah tampak gugup, panik takut, campur aduk.
"Sekali lagi saya peringatkan! disini tempat kerja! bukan tempat tidur!" sarkas penjaga.
"Baik, Pak, saya berjanji, tidak akan mengulangi," jawab Diah, ia benar-benar takut dipecat, hidupnya bergantung dalam pekerjaanya sekarang ini.
Inilah Diah saat ini sedang dalam titik terendah, entah sampai kapan dia akan kuat melewati ini.
Hingga jam empat sore waktunya pulang, ia menunggu Alfred didepan pabrik. Namun hingga menjelang magrib Alfred tidak menunjukkan batang hidungnya.
Sayang uang boleh pinjam jika untuk naik ojek, pikir Diah.
Walaupun pada akhirnya, Diah memutuskan untuk naik kendaraan tersebut.
Ia ingin cepat pulang, pasalnya, pekerjaan rumah sudah melambai dan berteriak memanggilnya.
******
Ditempat yang berbeda tampak bu Reny sedang mondar mandir didalam rumah.
Beliau berpikir keras, mencari cara agar Adit membatalkan niatnya untuk menyetop uang bulanan.
Padahal dia harus membayar beberapa arisan yang ia ikuti. Dan parahnya, beliau sudah menarik uang arisan tersebut.
"Ah temui Mawar saja" gumamnya beliau kemudian keluar dari rumah. Menuju rumah Mawar setelah mengunci pintu.
"Mawar... kamu sepertinya kerepotan? boleh, ibu bantu?" bu Reny melancarkan aksinya. Dengan cepat mengangkat Syifa yang sedang tengkurap, padahal selama ini belum pernah beliau menyentuh cucunya itu.
Melihat Mawar yang sedang duduk di karpet tampak kerepotan, bekerja sambil menjaga Syifa, waktu seperti inilah yang akan dimanfaatkan bu Reny.
"Ibu... Astagfirlullah..." Mawar yang sedang bekerja dirumah sambil memangku lap top mengelus dadanya, karena terkejut.
Pasalnya, mertuanya masuk tanpa mengucap salam, atau mengetuk pintu, terlebih dahulu.
"Hehehe... kaget ya?" bu Reny terkekeh.
"Ada apa Bu?" tanya Mawar to dhe point, sudah bisa membaca jika mertuanya membaik-baik ki pasti ada maksud.
"Mawar... tolong jangan dengarkan Aditya ya," katanya kemudian duduk di karpet tanpa disuruh.
__ADS_1
"Maksud Ibu apa?" Mawar segera menutup lap top menghentikan pekerjaannya menghormati mertuanya.
"Begini Mawar, ibu mohon... jangan stop uang bulanan ibu, kamu nggak ingin kan, suamimu durhaka sama orang tua?" Jika sudah kepentok, bu Reny baru ingat yang namanya dosa.
"Kamu pernah mendengar kan Maw, surga itu ada di telapak kaki ibu, masa kamu mau ikutan berdosa." Bu Reny kemudian mengeluarkan jurus kedua.
"Maaf Bu, masalah itu, saya bagaimana Mas Adit saja, karena sebagai istri saya menurut saja, apa yang menjadi keputusanya." jawab Mawar tegas.
"Mawar... tolong dong! kalau gitu... pakai uang kamu saja ya, nggak usah pakai uang Adit," jurus ketiga meluncur. "Uang kamu kan banyak Maw," ibu kemudian menurunkan Syifa kembali ke karpet karena Syifa sepertinya enggan disentuh oleh neneknya.
"Bagi kami nggak ada uang saya, maupun uang Mas Adit, Bu," jawab Mawar lembut.
Bu Reny kehabisan cara, beliau merengut kesal, sudah beberapa jurus ia gunakan rupanya menantunya sudah sekongkol dengan Adit. Bu Reny lalu tiduran di karpet, sambil berpikir mencari cara lain.
"Bu, maaf... saya tinggal sebentar ya, saya mau ke Rose shop ada panggilan masuk ini," memang benar Mawar ada panggilan diminta ke Rose shop.
"Iya, ibu tiduran disini dulu ya Maw, di rumah sepi" kilahnya.
"Silahkan bu, mau kekamar tamu juga boleh," pungkas Mawar.
Mawar kemudian memanggil baby sitter yang sedang menggosok baju Syifa, agar menidurkannya.
Rumah Mawar tampak sepi, Mbok Sarintem pun sedang berkutat dibelakang dengan pekerjaannya.
Bu Reny ambil jurus terakhir, yakni masuk ke kamar Mawar, ia membuka lemari yang tidak dikunci.
Bu Reny menggeledah isi kamar, membuka laci, mencari sesuatu. Akhirnya, beliau menemukan Map merah, membuka sambil senyum-senyum.
Bu Reny tidak tahu jika diluar satu pasang mata sedang mengintai karena pintu kamar tidak ditutup rapat sehingga ada celah.
"Mel, ngapain kamu?" tanya Abim yang baru pulang kerja, ingin menemui Syifa. Ketika ingin kekamar mandi memergoki Melati, yang sedang mengintip menggelengkan kepala, lalu menghampiri.
"Mel, kamu ngintipin kak Mawar sama Kak Adit ya?" tuduh Abim setengah berbisik.
"Seeettt... kalau nggak tau diam saja," jawab Melati mlengos kesal.
Abim pun penasaran ikut melihat ke dalam dan baru tahu siapa orangnya.
Abim dan Melati saling pandang seolah berkata apa yang akan kita lakukan?
Bu Reny lantas bergegas keluar begitu membuka pintu dua orang berdiri menghalangi jalanya. Map yang ia pegang jatuh karena terkejut.
__ADS_1
.
.