
"Kak, bagaimana keadaan Bang Rony?" tanya Intan ketika Abim baru pulang dari rumah sakit. Ternyata saat bertemu Diah di minimarket tadi, Abim menunggui Rony, karena kejadian kemarin Rony lukanya terlau parah maka harus dirawat.
"Lumayan juga lukanya," jawab Abim kemudian duduk di sofa.
"Lumayan apa? kakak ini kalau di tanya jawabnya nggak jelas," Intan sangat mengkhawatirkan Rony.
"Ya lumayan parah" jawab Abim sambil membuka kaos kaki.
"Rony mau dirawat berapa hari Bim?" tanya mama Ina yang baru keluar dari kamar diikuti papa. Beliau bergabung duduk di sofa.
"Kata dokter tiga hari Ma," Abim menjawab.
"Intan boleh menjenguk, nggak Ma?" tanya Intan sebenarnya ingin menjenguk sejak kemarin tapi tidak berani bilang.
"Nanti habis maghrib saja berangkat sama Mama, Papa" jawab mama beliau memang ingin menjenguk.
"Okay... Intan ikut..." Intan tampak lega dan senang.
"Waah... anak Papa rupanya sedang jatuh cinta ini" papa terkekeh mengusap kepala Intan.
"Iihh... Papa" Intan tampak malu-malu.
"Loe suka sama Bang Rony, Tan?" tanya Abim melirik adiknya yang tampak senyum-senyum sendiri.
"Kalau iya, kenapa gitu?" Intan balik bertanya.
"Nggak apa-apa... kalau Rony suka sama kamu, dia orangnya baik" papa yang menjawab. Papa tahu Rony di kampus terkenal sangat baik.
"Bukan begitu Tan, dokter Tio kan suka sama loe" Abim rupanya ingin Intan memilih Tio.
"Jangan suka main jodoh-jodohkan kak, kakak saja dulu dijodohkan dengan Melati juga menolak kan," Intan mencibir kesal.
Abim mendadak diam ingat perjodohan ia menjadi ingat Diah mantan istrinya yang ia jumpai tadi. Abim tidak menyangka Diah bisa berubah bertutur kata sopan, dan tampak agamis.
"Nah kan! nggak bisa jawab." Intan mengejutkan lamunan Abim.
"Menurut Mama... siapun yang kalian sukai, Mama akan dukung. Yang penting... oranganya baik, dan bertanggung jawab," mama menasehati kedua anaknya, kegagalan pernikahan putra sulungnya kemarin menjadi pukulan berat baginya, dan sebuah pembelajaran agar anaknya tidak salah memilih jodoh.
__ADS_1
"Mau seperti apa jodoh kalian, kaya maupun miskin, Mama nggak pernah melihat status.Tapi mama pesan, memilih jodoh itu... yang mencintai kalian, bukan kalian yang ngebet, syukur-syukur... saling mencintai." nasehat mama panjang.
"Iya, Papa dulu ngebet banget sama Mama kalian," papa terkekeh, mama hanya menjeb.
"Betul kata Mama kamu" papa mulai serius. "Kamu Abim, sebaiknya kamu bisa ambil sikap, Melati butuh kepastian kalau iya bilang iya, kalau nggak, bilang nggak, jangan menggantung anak orang, kasihan dia," papa pun memberikan nasehat.
"Sejak tiga bulan yang lalu, Abim selalu meyakinkan Melati Pa, tapi Melati nggak mau terima Abim." Abim sadar, sekarang statusnya hanya seorang duda. Abim menciut, sejak kejadian menolong Melati di pesta ketika itu Abim tidak ingin menemui Melati. Abim tidak ingin dianggap menolong karena pamrih.
"Masih mikirin Diah kali kakak" celetuk Intan. Papa dan mama lantas menatap Abim.
"Oh iya Pa, ngomong-ngomong Diah, tadi aku bertemu di minimarket, dia sekarang sudah berubah," terang Abim.
"Berubah bagaiman?" papa dan mama bertanya serentak. Abim lantas menceritakan.
"Ciee... cieee... CLBK... hihihi," Intan meledek kakaknya.
"Ngacok kamu" Abim melotot kesal.
Abim sama Diah tentu sudah tidak ada perasaan cinta. Namun dia bersyukur jika mantan istrinya itu bisa berubah baik. Pasalnya, Abim dulu bersusah payah namun Diah jangankan berubah justeru semakin menjadi jadi.
Yang Abim tahu suami Diah sekarang pria hebat, sehingga mampu merubah watak Diah yang sekeras batu.
Setelah maghrib Diah sampai dirumah, ia turun dari ojek melihat motor Alfred masih parkir ditempat, berarti suaminya itu masih di kontrakan.
Diah mendorong pintu rupanya dikunci, ia lantas merogoh kunci dari tas setelah membuka kedua tangannya menenteng belanjaan, lalu meletakan didapur.
Ia membuka pintu kamar, mendapati suaminya sedang mendengkur tidak berniat membangunkan.
Setelah ambil baju ganti di lemari, Diah kemudian berjalan kembali ke dapur melakukan ritual mandi. Kamar mandinya bukan dikamar seperti dirumah Mawar kakak iparnya, melainkan bersebelahan dengan dapur.
Diah mengganti bajunya dikamar mandi.
"Kamu sudah pulang?" tanya Alfred ia sudah berada di meja makan, setelah Diah keluar dari kamar mandi.
Diah tidak menyahut justeru melenggang kekamar melaksanakan shalat maghrib. Mengucap dua salam ia melanjutkan berdoa. Diah melipat mukena langsung dipeluk Alfred dari belakang.
"Lepas fred!" ketusnya ingin membuka lengan kekar suaminya yang memegang perut dengan kencang.
__ADS_1
"Aku kangen Diah... please," ucap Alfred ndusel-ndusel keketiak Diah. Alfred tidak tau atau pura-pura tidak tahu bahwa Diah sedang marah kepadanya.
"Lepas Fred!" Diah menyikut Alfred. Alfred kemudian melepas pelukanya.
"Kamu kenapa Diah... selama aku nggak ada kamu ada pria lain?" pertanyaan Alfred justeru membuat Diah semakin kesal.
"Kamu masih berani bertanya aku kenapa Fred?! kamu tahu kesalahan kamu dimana Fred?!" Diah benar-benar marah. Kali ini mereka ribut dikamar tidak khawatir orang akan mendengar mereka.
"Shory... aku sedang bisnis Diah, dan bisnis aku gool ini uangnya," Alfred merogoh uang dari saku celana dan memberikan kepada Diah. Namun Diah tidak menerimanya.
"Bisnis apa yang kamu lakukan diluar sana Fred?" Diah memunggungi Alfred sambil bersedekap. Alfred hanya diam entah apa yang ia pikirkan.
"Kamu ternyata punya anak istri kan Fred?! kamu selama ini membohongi aku kan?! iya kan?!" Diah pun mulai menangis. Alfred kembali mendekati Diah.
"Diah... aku mencintai kamu" ucapnya pelan.
"Cinta macam apa! yang sudah bertahun-tahun berbohong fred, bahkan kamu tega meninggalkan aku di mall. Padahal kamu tahu, saat itu aku nggak punya uang kan Fred?!" Diah menangis semakin kencang mengingat itu.
"Shory... saat itu aku diajak buru-buru pergi rekan bisnis Diah... jadi tidak sempat pamit kamu." Alfred berbohong.
"Jangan bohong terus Fred... kamu menemui istrimu?! dan mencintainya kan?" Diah mengusap air matanya.
"Ceraikan aku Fred, berbahagialah dengan istri dan anakmu," Diah memelankan suaranya.
"Tidak! aku tidak mau kehilangan kamu! aku mencintaimu Diah." Alfred berjongkok bertopang lutut didepan Diah.
"Baiklah... aku jujur, memang benar, aku mempunya anak istri, tapi aku hanya mau uangnya, dan uang itu untuk kamu Diah, untuk kita," kata Alfred enteng.
"Plak!!
Satu tamparan mendarat di pipi Alfred yang putih pucat hingga berubah merah.
"Diah..." ucap Alfred tidak percaya Diah berani menamparnya.
"Kamu keterlaluan Fred! mulai sekarang aku tidak butuh uang kamu! kamu sudah menyakiti aku dan istrimu," Diah menyesal, setelah melihat wanita anggun yang bersama Alfred ketika itu. Diah baru menyadari ternyata selama ini ia seorang pelakor.
Seburuk-buruknya Diah, hal paling menyakitkan adalah ketika diduakan. Dan Diah justru saat ini yang menjadi pelakunya.
__ADS_1
Diah kembali menangis sejadi-sejadi nya semua kejahatan yang ia lakukan dulu ketika mengkhianati Abim sekarang berbalik menyerang dirinya.
.