PERNIKAHAN BERUJUNG LUKA.

PERNIKAHAN BERUJUNG LUKA.
Drama Masuk Kuliah Pertama.


__ADS_3

Bodyguard menyerahkan amplop coklat kepada pria setengah baya. Pria itu kembali mengenakan kaca mata, membuka lembar demi lembar kertas, foto, dan yang terakhir netranya fokus membaca hasil tes DNA.


"Ya Allah... jadi wanita ini benar-benar darah dagingku Arlan?" pria itu menatap foto Diah yang sudah mengenakan hijab, berkaca-kaca.


"Betul Tuan," jawab Arlan sang bodyguard.


"Baru seminggu ini, Dia bercerai dengan suami keduanya, Tuan?" Arlan menceritakan hasil penyelidikan terakhir.


"Suami kedua?" pria itu terperangah. "Berarti putriku sudah pernah menikah sebelumnya?"


"Betul Tuan, dan suami pertamanya adalah putra sulungya Pak Wahid pengusaha tekstil, mungkin Tuan mengenalnya,"


"Wahid? Wahid Subandono maksudnya?" pria itu membelalakkan mata.


"Betul Tuan"


Pria berkumis tipis itu hanya menggelengkan kepala. Kenapa putrinya sampai bercerai? lalu ada masalah apa dengan pernikahanya, jika sampai bercerai itu artinya ada masalah besar. Beliau menyesal tidak ada ditengah-tengah anaknya ketika dirundung masalah.


Arlan menceritakan semua yang ia ketahui selama penyelidikan. Tetapi Arlan tidak mengetahui penyebab perceraian Diah dengan Abim. Namun ia tahu penyebab perceraian Diah dengan Alfred.


"Lalu bagaimana kamu bisa melakukan tes DNA?" pria itu menatap Arlan seksama.


"Saya ambil sehelai rambut, yang menempel di bahu putri, Tuan, saat menangis dan menunduk." terang Arlan.


"Bagus Arlan, kamu sudah bekerja dengan baik, awasi terus Dia," titah Tuan Efendi.


"Baik Tuan, saya permisi" Arlan meninggalkan tuan Efendi.


Tuan Efendi kembali menelisik foto Diah menitikkan air mata. Ia merasa bersalah mengapa tidak mencari anaknya sejak dulu. Ternyata putrinya selama ini sangat menderita karena keegoisan orang tuanya.


Efendi lega saat wanita yang dicintainya 25 tahun yang lalu menikah dengan pria baik. Yakni Renggono. Selama belasan tahun Efendi mencari kehidupan yang layak dan membiarkan putrinya hidup dalam asuhan Renggono.


Efendi pikir putrinya tidak mengalami kisah yang rumit, tetapi ternyata diluar dugaan. Tuan Efendi tidak tahu bahwa Diah dulu mewarisi sifat ibunya.


******


Di salah satu kampus ternama di Swiss. Pasutri hari ini mulai menempuh pendidikan S2.


"Selamat belajar ya sayang..." Abim menarik tengkuk istrinya dan mencecap bibir ranum itu. Setelah mengajaknya menjauh dari keramaian.


"Kakak... di lihat orang, ihh" wajah Melati merah malu, setelah Abim menyelesaikan aksinya. Melati hanya alesan padahal mereka sudah sembunyi.


"Kan harus dikasih semangat pagi dulu, biar kita bisa belajar dengan serius." kilah Abim tersenyum simpul.


"Iya, iya. Kita masuk dulu" mereka melambaikan tangan berpisah di lobby kampus.


Melati melangkah pasti dimana tempat ini masih asing baginya. Namun tidak menyurutkan semangatnya untuk menuntut ilmu tidak ada kata minder.


Melati masuk ke dalam kelas ekonomi tampak beberapa pasang mata menatapnya kagum. Dengan tampilan gamis bertali di pinggang jilbab besar menutup setengah badanya tampak anggun dan menghipnotis.


Terutama pria yang duduk paling depan yang berparas tampan tampak menatap Melati tidak berkedip. Namun Melati pura-pura tidak tahu.

__ADS_1


Melati duduk di samping gadis di lihat dari wajahnya seperti gadis Indonesia. Gadis itu juga mengenakan hijab walaupun tidak serapat Melati.


"Assalamualaikum..." Melati mengucap salam.


"Waalaikumsalam..." Gadis itu menyambut ramah.


"Kenalkan aku Melati" Melati mengulurkan tangan.


"Dinda" gadis itu menyambut uluran tangan Melati.


"Eh nama kamu cantik, secantik orangnya," puji Dinda.


"Kamu bisa saja Dinda, kamu juga cantik. Eh ngomong-ngomong kamu dari mana?" tanya Melati.


"Aku asli bandung" jawab Dinda.


"Waah... pantas, kamu cantik. Orang bandung?" puji Melati.


"Kalau kamu darimana Mel?"


"Bapak aku asli Tasikmalaya, terus Ibu aku, Jawa tengah. Tapi aku tinggal di Jakarta."


Mereka berbincang akrab diselingi lelucon. Pria tampan yang duduk paling depan sebelah kiri masih enggan berpaling masih terus menatap Melati.


********


Jika di kelas ekonomi mahasiswa dan mahasiswi imbang jumlahnya antara pria dan wanita. Di kelas teknik industri wanitanya hanya tiga orang. Dan ketiga wanita itu langsung mendekati Abim.


Sapa salah satu wanita cantik berhidung mancung, alis tebal, tersenyum manis menampilkan giginya yang agak besar, bibir tebal rambut hitam bergelombang. Ia berdiri di samping Abim.


"Hi" Abim menoleh sekilas, lalu kembali fokus ke handphone.


"Introduce my name Nora." gadis itu mengulurkan tangannya.


"Abim" jawab Abim tanpa memyambut uluran tangan gadis itu. Ketiga gadis itu kemudian duduk di samping kanan Abim.


Datang seorang pria perawakan sedang, seumuran dengan Abim masuk kemudian duduk di samping kiri Abim.


Abim menoleh pria yang berkaca mata itu. Kebetulan pria hitam manis itu pun menoleh keduanya saling tatap.


"Abimanyu?"


"Faisal?"


Keduanya saling tunjuk. "Hahaha... dunia sempit Bim, kita ketemu di sini" Keduanya mengangkat tangan dan mengadu telapak. Abim dan Faisal ternyata teman kuliah S1 di Jakarta.


"Loe apa kabar Bim? gw dengar loe sudah menikah dua tahun yang lalu ya? busyet dech, loe nikah muda ya?" cecar Faisal.


"Kabar gw baik, darimana loe tahu, gw sudah menikah?" tanya Abim perasaan dulu dia menikah dengan Diah secara diam-diam.


"Tio yang cerita, bahkan loe sudah punya anak ya? selamat-selamat gw kalah sama loe," Faisal nerocos terus. Obrolan berhenti karena dosen setengah baya masuk kedalam.

__ADS_1


******


Siang hari jam kuliah selesai Melati menunggu Abim di luar kampus dimana tadi pagi mereka berjanji menunggu di situ.


"Mel gw duluan ya" kata Dinda ketika melewati Melati.


"Okay... sampai besok Din" keduanya tersenyum.


"Hai..." suara berat mengejutkan Melati saat sedang chat Abim. Memberi kabar bahwa dia sudah keluar.


"Haii..." Melati menoleh. Ternyata pria yang memperhatikan dirinya tadi.


"Kenalkan nama saya Uiby" pria itu mengulurkan tangan.


"Melati" Melati hanya menangkupkan kedua telapak tangan di depan dada.


"Oh namamu Melati? seperti nama bunga?"


Melati mengangguk. "Kok kamu bisa bahasa Indonesia?" wajah pria itu bukan seperti orang Indonesia tetapi bisa bahasa Indonesia.


"Papa saya dari Indonesia, Mommy asli sini," terang Uiby.


"Oh"


"Kamu menunggu siapa? saya antar ya" kata Uiby. Belum sampai Melati menjawab tangan Abim melingkar di pundaknya.


"Ayok" Abim memeluk pundak Melati berjalan meninggalkan Uiby. Uiby terperangah bergeming di tempat itu.


Abim naik bus bersama Melati. "Kamu disini saja" kata Abim dan hanya di iyakan oleh Melati. Isi dalam bus hampir rata-rata mahasiswa dari Indonesia. Hanya tranportasi ini yang paling murah di sini.


Melati duduk disamping kaca dan Abim di sebelahnya.


"Bim, loe naik bus juga?" tanya Faizal, ternyata ia duduk di kursi deretan Abim sebelah kanan.


"Iya, tempat tinggal loe dimana? siapa tahu kita deketan?" tanya Abim.


"Di apartemen xxx Bim,"


"Oh sama, gw juga di situ, Sal"


"Gw di lantai lima Bim? nanti gw main ketempat loe ya,"


"Ya" jawab Abim singkat.


Mata Faisal lantas tertuju kepada wanita yang duduk di sebelah Abim. Melati sedang membalas chat Dinda tidak begitu mendengarkan obrolan suaminya dan Faisal.


"Bim, ini adik loe, yang bernama Intan itu? waah... cantik banget sekarang. Ternyata loe di sini sama adik loe? kenapa nggak bilang-bilang sih..."


Melati seketika mendongak ke atas menatap Faisal yang berdiri di sebelah Abim.


.

__ADS_1


__ADS_2