
"Bagaimana keadaan cucuku?" Ayah dan ibu Gita yang baru sampai di rumah sakit sangat khawatir. Lantas mendekati cucunya yang tertidur di ranjang pasien.
"Menurut dokter, kita harus menunggu dia sadar Yah, Bu" Gita menceritakan jika saat sadar nanti Freddy langsung merespon orang yang dikenal, berarti Freddy tidak mengalami masalah serius paska kejang. Tetapi sebaliknya, jika Freddy tidak merespon bisa mengakibatkan epilepsi, gangguan perilaku, dan bisa mengalami gangguan psikiatri.
Freddy memang sering mengalami kejang ketika umur tiga tahun. Lalu sembuh dengan sendirinya. Dan selama satu tahun terakhir, baru kali ini Freddy mengalami step kembali.
"Cepat sembuh ya cucuku" Ibu Gita mencium pipi cucunya.
"Daddy nya tidak pernah mengunjunginya Git?" Ayah Gita tidak tahu jika selama ini Gita masih tinggal satu rumah dengan Alfred.
"Yah... Gita ingin bicara" Gita keluar dari ruang rawat bersama Ayah dan Ibunya. Sementara Freddy ditunggu baby sitter.
"Yah, yang Ayah katakan ketika itu benar, Alfred ternyata punya istri lagi," Gita pun menangis. Ayah Gita mlengos kesal, sedangkan ibunya mengelus punggung anaknya, menenangkan.
"Terus kenapa kamu masih kukuh bertahan dengan laki-laki bejat itu!" Ayah Gita emosi kembali ketika ingat Alfred yang kerjanya main perempuan saat itu.
"Ayah..." Ibu memperingatkan agar suaminya tidak bicara seperti itu.
"Terus apa yang akan kamu lakukan Git?" ibu bicara lebih tenang.
"Awalnya aku ingin bercerai Bu, aku tidak mau dimadu, kemarin aku marah besar, lalu aku mengusir Alfred dari rumah. Tapi ternyata Freddy nggak terima Bu, yah... begini jadinya. Freddy menjadi demam mungkin karena stres memikirkan Daddy nya," tutur Gita panjang lebar sesekali menyusut air matanya.
"Yah... ibu mohon pertimbangkan, biarkan mereka bersatu demi cucu kita" Ibu mengusap pundak suaminya.
"Terserah saja! jika kamu kuat disakiti suami kamu yang hanya modal wajah itu," jawab ayah Gita lalu kekamar menemui cucunya.
"Daddy..." sampai di ruang rawat, Fredy sudah siuman. Yang pertama ia sebut adalah Alfred.
"Eh cucu kakek, sudah bangun?" ayah Gita mengangkat kursi lalu duduk disamping ranjang.
"Kek... Deddy kemana? Freddy mau ikut Daddy," hu aaa...
"Eh sayaang... Freddy minum dulu, ya," baby sitter membawakan air mineral.
"Nggak mau minum, aku mau Daddy!" hu aaa...
"Ya sudah... cucu kakek minum dulu, nanti kakek mencari Daddy ya," ayah Gita ambil air dari tangan baby sitter lalu memberi minum cucunya.
"Benar Kek? Kakek mau mencari Daddy?" Freddy menatap kakeknya berbinar-binar. Kakek mengangguk tersenyum.
"Sus panggil Gita, suruh kemari," titah ayah Gita.
"Baik Tuan" baby sitter bergegas memanggil Gita.
"Alhamdulillah... Freddy sudah sadar Sus," Gita segera berlari menemui anaknya.
"Alhamdulillah... anak Mommy sudah bangun" Gita berjalan cepat menghampiri anaknya.
__ADS_1
"Mommy... katanya kakek mau mencari Daddy," Freddy tersenyum senang.
Gita melirik ayahnya sekilas kemudian meraba dahi anaknya saat ini panasnya sudah turun.
"Mommy... Freddy mau pulang sekarang, mungkin Daddy sudah menunggu Freddy dirumah" rengek Freddy.
"Iya sayang, nanti kita tunggu Dokter dulu ya," Gita menempati kursi ayahnya, karena ayahnya pindah ke sofa. Tidak lama kemudian dokter memeriksa Freddy. Ia di izinkan pulang.
*******
Deerrtt deerrrt
Suara handphone bergetar dengan mata terpejam Melati meraba-raba handphone yang ia letakkan di lantai sebelum tidur tadi malam.
"Siapa sih... pagi-pagi begini telepon" saat ini masih jam 4 pagi, Melati masih nyaman dalam dekapan Abim.
Melati membuka mata menggeser tombol hijau.
"Assalamualaikum" ucapnya dengan suara serak kas bangun tidur.
"Waalaikumsalam..."
"Dasar kampret jelek, kutu betina, kawin nggak bilang-bilang! kurang asem loe!" cerocos Bombom di telepon.
Melati lantas turun dari tempat tidur keluar kamar, duduk di sofa depan televisi khawatir mengganggu tidur suaminya.
"Memang dasar loe nikah dadakan! loe bunting duluan!" kelakar Bombom percanda tanpa sungkan.
"Hus! enak saja loe ngomong! kalau dekat, gw jejelin ice cream tuh mulut loe!"
"Ahahaha... maaf, habisnya loe, nggak ninggal pesan sama gw tiba-tiba kawin, sudah gitu lansung minggat pula" Bombom terbahak-terbahak. "Baru jam sembilan sudah molor! mentang-mentang pengantin baru loe" Bombom kembali tertawa.
"Disini tuh sebentar lagi subuh Bom, bukan jam sembilan"
"Oh iya, ya"
"Bom bagaimana penjualan icream kita? lancar?" tanya Melati mulai serius.
"Alhamdulillah... Mel, lancar. Cuma gw butuh satu orang untuk menggantikan loe. Sekarang kan loe nggak ada, Alex juga sudah dipenjara,"
"Atur saja Bom, selama dua tahun ini gerai ice cream gw percayakan sama loe, masalah karyawan loe rekrut saja karyawan baru," kata Melati.
Mereka ngobrol via telepon hingga satu jam. Melati mengakhiri obrolan kemudian mandi. Selesai shalat subuh ia menyisir rambutnya menguncirnya lalu ke dapur membuat sarapan.
Melati membuat omelet. Dua butir telur ia campur dengan daging sapi cincang, wortel, buncis daun bawang ia iris-iris halus ditaburi bumbu, kemudian ia dadar.
Klotak.
__ADS_1
Sepatula yang ia pakai untuk membalik dadar terjatuh karena kaget tangan kekar tiba-tiba melingkar di perutnya.
"Kakak... ih! ngagetin tahu" ucapnya lalu mematikan kompor.
"Hehehe... habisnya kamu serius banget, masak apa memang?" Abim menatap teplon penampilan omelet membuatnya lapar.
"Omelet, lepas tangan Kakak, kita sarapan dulu"
Abim melepas pelukan lalu menuju meja makan. "Mau pakai nasi nggak kak?" Melati meletakkan omelet separuhnya, di depan Abim. Lalu yang separuhnya untuk dirinya.
"Boleh sidikit"
Mereka sarapan, Melati menambahkan saos cabe dan kecap. Sementara Abim makan pakai nasi dengan lahap habis lembur semalam tiga ronde membuatnya lapar. 🤣🤣🤣. Selesai sarapan mereka bersiap hari ini akan daftar ulang kekampus.
******
Tiga hari sudah kepergian bu Reny tidak ada kabar. Adit kebingungan, sebab nomer telepon bu Reny tidak bisa dihubungi. Walaupun bagaimana Adit khwatir jika ibu tirinya mengalami kesulitan.
Kriing... kriing...
Disaat sedang tegang, handphone nya berdering. Adit mengangkatnya setelah melihat siapa yang telepon ternyata Wagini, adik bapaknya dari kampung.
"Assalamualaikum..." suara Wagini di seberang telepon.
"Waalaikumsalam..." jawab Adit.
"Adit... bagaimana keadaan Mas Renggono?" tanya Gini pada intinya.
"Sudah sembuh kok Tante"
"Syukurlah Dit. Tapi Mas Renggono nggak pikun to?"
"Pikun??" Adit terkejut mendengar pertanyaan Gini.
"Kata Mbak Reny Mas Renggono pikun?"
"Ibu pulang ke kampung Tante?" Adit balik bertanya. Tidak menjawab pertanyaan Wagini.
Wagini lantas bla-bla, bla, meceritan semua termasuk masalah warisan kakek.
"Jadi ibu minta menjual warisan peniggalan kakek Tan?" tanya Adit yang awalnya mulai kasihan dengan ibu tirinya, kini berubah kesal kembali.
"Iya Dit, menurut Mbak Reny, kamu yang suruh,"
"Jangan turuti kemauannya Tante, saya tidak pernah menyuruh, ibu pulang itu kabur dari rumah, kami tidak di pamiti. Masalah Bapak, jangan dipikirkan Tan, saya akan merawatnya dengan baik," Adit menjelaskan panjang lebar.
"Syukurlah Dit, saya lega sekarang" Gini lantas memutus sambungan telepon. Sementara Adit menemui Mawar ke Rose shop ingin membicarakan masalah ini.
__ADS_1
.