
Tepat jam 4 pagi, Melati dan Abim sampai Bandara dengan selamat, walaupun sempat mengalami kram perut hingga beberapa kali. Wajar, menempuh perjalanan panjang hingga 17 jam dalam keadaan hamil. Abim memberikan perhatian lebih agar istri dan anak dalam kandungan tidak terjadi sesuatu.
Mereka menjalankan shalat subuh di Bandara baru kemudian keluar. Tampak Mawar dan Adit sudah menunggu.
"Melati... kamu..." Mawar bersama Adit menutup mulutnya sangking terkejut. Betapa tidak? adiknya pulang dalam keadaan perut besar padahal saat berangkat perutnya masih rata.
"Kakak... kakak kok Diam saja, nggak peluk aku?" Melati merentangkan tangan.
"Hiks hiks hiks... kamu sudah hamil tua Mel? kenapa tidak memberi kabar?" Mawar menangis bahagia lalu memeluk adiknya perlahan.
"Alhamdulillah... yang penting aku sehat, aku memang sengaja tidak memberi kabar Kak, ingin memberi kejutan soalnya," Melati tersenyum.
"Syukur lah Mel, aku turut bahagia" jawab Mawar keduanya saling melepas kangen.
"Apa kabar Kak Adit?" tanya Abim menatap Adit yang sejak tadi hanya diam saja, menatap Mawar, dan Melati yang sedang menangis.
"Baik Bim. Waah... selamat ya, kamu sebentar lagi akan menjadi Ayah" kata Adit.
"Terimakasih Kak Adit." mereka bersalaman.
"Ayo, kita pulang" Adit mengajak mereka masuk ke dalam mobil, yang ia parkir tidak jauh dari tempat itu.
Adit menyarankan agar Abim dan Melati duduk di jok tengah agar nyaman. Sementara Mawar menemani suaminya yang sedang menyetir.
"Bagaimana kabar Bapak sama Ibu kak? sehat kan..." tanya Melati rasanya sudah kangen bertemu bu Riska.
"Alhamdulillah Mel" kakak adik itu berbincang-bicang di dalam mobil, membicarakan keadaan mereka selama 6 bulan tidak bertemu.
"Bang perut aku sakit" Melati meringis. Mawar menoleh ke belakang.
"Kenapa, kram lagi ya?" Abim mengusap punggung istrinya.
"Nggak Bang, sekarang rasanya berbeda"
"Mungkin mau lahir Mel" kata Mawar.
"Masa sih Kak, menurut dokter masih 4 minggu lagi" Abim memang benar, menurut perkiraan dokter, masih satu bulan.
"Bisa jadi, Melati sudah mau melahirkan Bim? Melati kan naik pesawat terlalu lama," Adit berpendapat.
"Bang, sakit Bang" perut Melati semakin mulas.
"Kak Adit, langsung ke rumah sakit bersalin ya" titah Abim.
"Baik" Adit pun segera belok kiri, ambil jalan alternatif, menuju rumah sakit.
"Yang sabar sayang..." Abim memeluk pundak istrinya. Apapun ia lakukan untuk menghibur istrinya walaupun panik tidak ia tunjukan kepada Melati.
Bukan Adit jika tidak ahli mengendarai mobil, mereka sudah sampai di rumah sakit xxx.
__ADS_1
"Sudah pembukaan 5, tahan sebentar ya, InsyaAllah... tidak akan lama lagi," terang dokter setelah memeriksa bagian intim Melati.
"Tapi, kehamilan istri saya baru delapan bulan Dok" Abim tampak gusar.
"Mudah-mudahan sehat, Tuan" jawab dokter.
"Menurut kebanyakan orang yang sering saya dengar, hamil 8 bulan lebih muda dari 7 bulan, apakah benar begitu dok?" sambung Mawar.
"Semakin bertambahnya usia kehamilan, akan semakin tua Mbak, jika ada yang berbicara demikian, itu tidak benar," jawab dokter memuaskan.
Mawar manggut-manggut.
"Sebaikanya... istrinya di ajak jalan-jalan dulu, Tuan, agar mempercepat proses pembukaan" titah dokter.
"Baik Dok" Abim mengajak Melati jalan-jalan tidak jauh dari ruang bersalin, sambil menenangkan Melati yang sedang menahan mulas.
Sementara Mawar, duduk di ruang tunggu bersama Adit menghubungi bu Riska.
********
Sementara di rumah Melati, bu Riska sedang menyiapkan sarapan, memasak makanan kesukaan putri keduanya. Ia senang sekali rasa kangenya yang sudah 6 bulan beliau tahan akan segera terobati.
Bu Riska yang pendiam, pagi ini menjadi heboh sendiri, tidak hanya tanganya yang bekerja, beliau juga banyak bicara tanya ini itu.
"Bi, kamar Melati sudah bersih kan?" tanya beliau salah satunya, kepada bibi.
"Sudah Bu" sahut bibi.
"Mungkin macet kali Pak" jawab bu Riska menutupi rasa gelisahnya.
Derrtt... deerrrt.
"Bu, telepon tuh" hp bu Riska, bergetar tepat di hadapan pak Sutisna.
"Tolong angkat, Pak" kata bu Riska tampak sedang menuang opor ayam yang sudah matang ke dalam wadah.
Melati belum begitu mahir memasak opor, pasti setiap pulang akan senang ibunya memasak ayam bersantan kesukaannya itu.
Pak Sutisna menyambar hp, kemudian menggeser tombol hijau,
ternyata Mawar yang telepon.
"Assalamualaikum..." terdengar suara salam Mawar dari seberang telepon.
"Waalaikumsalam..."
"Ada apa Nak? kalian sampai dimana? kenapa belum sampai..." cecar pak Sutisna. Mawar kemudian menceritakan tentang keadaan Melati.
"Bu, Melati masuk rumah sakit" Pak Sutisna mengejutkan bu Riska.
__ADS_1
"Prang" piring yang bu Riska pegang, lepas dari tangan. Piring pun hancur berkeping-keping.
"Kenapa Melati Pak? kenapa anak kita" tandas bu Riska mengguncang lengan suaminya.
"Tenang Bu, anak kita mau melahirkan, sekarang kita kerumah sakit" pak Sutisna segera beranjak.
"Melahirkan? Melati hamil?" cecar bu Riska.
"Sebaiknya kita berangkat, nanti kita pastikan, disana" Pak Sutisna menyambar kunci motor di atas meja, kemudian mengeluarkan motor dari garasi.
Bu Riska berjalan cepat menyusul suaminya ke halaman, setelah mengganti daster dengan baju yang bersih.
"Naik Bu" titah pak Sutisna, beliau sudah di atas motor yang menyala siap jalan.
Pak Sutisna menyalip kendaraan yang lain, agar cepat sampai tujuan. Begitu sampai beliau menemui Mawar, di ruang tunggu tampak berbincang-bicang dengan Adit.
"Mawar... adikmu mana?" Bu Riska tampak ngos-ngosan pikiranya campur aduk.
"Ibu..." Melati yang sedang berjalan mondar-mondar di temani Abim, bergegas menemui ibu yang ia rindukan sambil memengangi perut besarnya.
Bu Riska tertegun menatap Melati keduanya diam beberapa saat. Bu Riska menitikan air mata. Ternyata benar anaknya telah hamil besar.
"Melati... hiks hiks. Kamu katanya sudah mau melahirkan Nak?" ibu berusia 53 tahun itu segera memeluk, dan mencium anaknya berulang-ulang. Begitu juga pak Sutisnya mengusap kepala putrinya.
Pikiran bu Riska campur aduk, antara senang, was-was, bingung, dan juga tidak habis pikir anaknya sudah berbadan dua, bahkan sudah mau melahirkan.
Tetapi anaknya tidak memberi tahu dirinya, hingga tidak mengetahui proses kehamilan putrinya.
"Bapak, dan Ibu sehat kan?" Melati molonggarkan pelukanya membuyarkan lamunan bu Riska. Begitu juga dengan Abim menyalami kedua mertuanya seraya menanyakan kabar.
"Sehat Nak, terimakasih ya, kamu sudah merawat istrimu dengan baik" Pak Sutisna menepuk pundak Abim.
"Bapak berlebihan, ya jelas akan saya perhatikan, Melati kan istri saya" jawab Abim.
Pak Sutisna dan bu Riska menanyakan seputar kehamilan Melati selama di Swiss kepada Abim.
"Bang... sakit sekali..." Melati menghentikan obrolan. Rupanya ia sudah tidak tahan lagi.
Abim segera membawa Melati ke ruang bersalin atas petunjuk dokter. Sementara yang lain, menunggu di luar.
Rebahan ya" titah dokter wanita, kemudian memeriksa Melati. Melati sudah tampak mengganti baju yang disediakan oleh rumah sakit.
"Siap ya, sudah pembukaan penuh" dokter memberi aba-aba agar Melati mengejan.
Abim meniup ubun-ubun istrinya seraya berdoa, semoga istrinya, melahirkan dengan mudah, lancar, dan sehat keduanya.
Abim pucat pasi, bayangan Diah saat melahirkan Syifa dua tahun yang lalu masih segar dalam ingatan. Selama sehari semalam Diah berada di ruang bersalin. Namun Syifa tak kunjung keluar.
Abim semakin gencar berdoa semoga Melati tidak mengalami nasip seperti Diah.
__ADS_1
.