PERNIKAHAN BERUJUNG LUKA.

PERNIKAHAN BERUJUNG LUKA.
Emosi.


__ADS_3

Setelah mandi yang kedua kali Diah masuk kedalam kamar, saat ini sudah pukul 00.


Ia mencoba untuk tidur beristirahat, tidak ada nilai tawar besok harus bekerja lagi.


Tetapi sudah mencoba untuk tidur matanya tidak bisa terpejam juga, ia menatap keatas, merenungi apa yang terjadi.


Selama ini ternyata Diah belum bisa menyelami siapa Alfred sebenarnya. Yang ia tahu Alfred adalah seorang pengusaha, tetapi mengapa? selama menikah denganya Alfred selalu merongrong?


Diah memijit pelipisnya, kepalanya terasa sakit.


Belum lagi hilang rasa penasarannya, malam ini dikejutkan lagi. Alfred pulang larut malam dalam keadaan mabuk.


Bukankah waktu kuliah dulu Alfred selalu mengencani, dan banyak memberikan uang? Alfred sosok yang penyayang, apapun yang Diah mau selalu ia berikan.


Flashback on


"Haiii..." sapa Alfred ketika itu ia berada didalam mobil membuka kaca setengah. Sosok pria bule, tersenyum menatap Diah.


"Haiii..." Diah membalas senyum Alfred. Saat itu Diah sedang menunggu taksi didepan kampus tetapi tidak juga datang.


"Ayo, naik" Alfred membuka pintu mobil dari dalam agar Diah masuk.


Diah menimbang-nimbang menerima tawaran pria bule itu atau tidak? jika tidak, waktu sudah sore.


"Please... naik" Alfred membujuknya.


"Baiklah..." tanpa membuang waktu Diah segera masuk kedalam mobil. Saat itu hubunganya dengan Abim sedang putus.


Sikap Abim yang sok suci menurut Diah ditambah lagi ia mendengar cerita dari ibunya bahwa Abim akan dijodohkan dengan Melati, membuat amarah Diah membuncah.


"Nama saya Alfred, namamu siapa?" Alfred bertanya sekaligus memperkenalkan diri. Setelah Diah duduk disebelahnya.


"Diah... Diah Susanti..."


Obrolan berlanjut mereka saling tukar nomor. Hari-hari berikutnya mereka sering janjian bertemu.


Alfred pria yang hangat membuat Diah jatuh cinta kepada Alfred. Alfred pria yang tidak pelit selalu memanjakan Diah.


Tidak jarang Alfred mengajak Diah menginap di hotel. Mereka menjalani hubungan terlarang, mereka selalu melakukan hubungan suami istri tiap kali bertemu.


Dua tahun sudah Diah menjalin hubungan dengan Alfred ketika Diah minta dinikahi secara resmi Alfred selalu beralasan.


Hingga akhirnya Abim ingin merajut kembali hubunganya dengan Diah. Diah pun menerima.


Diah mengancam Alfred jika tidak segera menikahinya, maka Diah akan menikah dengan pria lain. Tentu Alfred marah, pertengkaran pun terjadi.


Diah kemudian meninggalkan Alfred, lalu memutuskan menerima lamaran Abim.


Siapa yang tidak mau menikah dengan Abim pria tampan dan kaya raya.


Namun, selama menikah dengan Abim Diah tidak mendapatkan kehangatan darinya, tidak di berikan nafkah batin.

__ADS_1


Diah lantas mencari Alfred minta maaf lalu mereka melanjutkan hubunganya kembali tanpa Abim tahu.


Namun lain dulu lain sekarang Alfred tidak lagi royal seperti dulu, sedangkan uang nafkah dari Abim hanya dijatah.


Alfred Akhirnya mencarikan pekerjaan untuk Diah dimana sekarang Diah bekerja.


Sebenarnya Diah tidak kuat bekerja sebagai buruh pabrik sungguh sangat melelahkan, tetapi apa boleh buat demi menyambung hidup.


Ironis memang selama ini Diah tidak pernah merasakan yang mamanya bekerja, begitu bekerja di pabrik pula.


Flashback off.


Diah heran kemana kemewahan yang dimiliki Alfred? dan kemana pula tiga mobil yang dulu sering dia pakai, untuk mengantar kemana dia pergi?


Kenyataanya Alfred saat ini tidak mempunyai apa-apa, hanya motor butut saat ini yang sering Alfred gunakan untuk mengantarnya bekerja.


Pikiran Diah rasanya penuh lalu Diah menyalakan musik di handphone memasang headset lalu disambungkan ketelinga,& kemudian tidur.


Dok dok dok.


"Diah... bangun..." pekik Alfred dari luar. Karena kamar Diah, dikunci dari dalam.


"Diah... cepetan!" Alfred mengulangi karena Diah tidak cepat membuka pintu.


Ceklek.


"Kenapa sih Fred... pagi-pagi sudah teriak-teriak..." suara Diah kas bangun tidur, seraya menggaruk kepalanya kesal.


"Ya ampuun... aku telat" Diah merobos Alfred yang masih berdiri di depan pintu. Niatnya ingin segera mandi.


"Heh! tunggu dulu" Alfred menarik piama Diah dari belakang.


"Kenapa lagi sih Fred? aku sudah telat ini," Diah semakin kesal.


"Bersihkan dulu tuh ada muntah kucing!" ketus Alfred sambil menunjuk muntah dia sendiri.


"Bersihkan sendiri!" Diah tidak kalah ketus.


"Berani kamu! membantah, ya!" Alfred menekan mulut Diah hingga maju kedepan.


Diah lantas menepis tangan kekar suaminya. "Jangan seenaknya Fred, itu muntah kamu sendiri," ucap Diah lalu bergegas kekamar mandi.


Alfred mengerlingkan mata, tampak jaket tergeletak didepan televisi, keadaan rumah berantakan, bahkan bekas muntah ada beberapa tempat yang sudah mengering. Alfred baru sadar jika tadi malam ia mabuk.


"Bersihkan dulu baru pergi Diah!" Alfred mengulangi setelah melihat Diah keluar dari kamar mandi menggunakan handuk.


"Fred... please... aku kesiangan." Diah tidak mau ribut.


"Terus... kamu mau meninggalkan rumah berantakan!" sergah Alfred.


"Sekarang mau kamu apa Fred, jika aku sampai terlambat terus aku dipecat kita mau makan apa? atau... kamu bisa mencukupi kebutuhan hidup kita, okay... lebih baik aku berhenti kerja." kata Diah.

__ADS_1


Mungkin selama menikah dengan Alfred Diah kerasukan jin baik makanya bisa bicara pelan.


"Shory" pungkas Alfred.


Alfred kemudian ambil handuk kemudian masuk kekamar mandi.


Sementa Diah menarik napas panjang lantas masuk kamar memakai seragam kerja. Setelah rapi ambil tas menylempang di pundak.


Diah kemudian keluar minum air putih untuk mengganjal perut, sebenarnya keroncongan minta diisi. Namun tidak ada yang bisa dimakan.


"Sudah siap?" tanya Alfred.


Diah tidak menjawab rasanya kesal sekali dengan suaminya. Jika bukan karena terburu-buru Diah ogah berboncengan dengannya pagi ini.


******


"Bu, Bapak kan sekarang dirawat, tolong ibu menjaga Bapak kalau siang ya... biar nanti malam... pulang kerja gantian saya yang menjaga," tutur Adit, sopan.


"Enak saja! nggak mau! nyusahin saja!" ketus bu Reny tanpa menatap Adit.


Membuat wajah Adit seketika berubah merah seperti bunglon, lalu berdiri dari tempat duduknya, sudah sejak kemarin Adit menahan emosi, toh akhirnya meledak juga.


"Ibu jangan mau menang sendiri dong! selama ini Bapak kerja keras, banting tulang, untuk siapa?! untuk Ibu kan?!" baru kali ini Adit membentak bu Reny.


"Kan memang sudah seharunya Dit, tugas suami itu mencari duwit untuk istri!" bu Reny tidak mau kalah.


"Braakk.


"Praaang...."


Adit menggebrak meja makan, hingga sendok dalam tempat mental kebawah.


Membuat bu Reny terperangah, spontan ikutan berdiri.


"Baik! jika ibu mau hitung-hitungan, saya juga bisa!" tegas Adit.


"Jika Ibu, selalu berbuat jahat, saya juga akan berbuat jahat!" Adit tidak perduli lagi, dengan sopan santun, ibu tirinya sudah melukai hati bapaknya.


"Muali sekarang, dan seterusnya, saya akan minta Mawar untuk menghentikan uang yang selalu Mawar berikan untuk Anda, setiap bulan, jika perlu, saya akan mengusir Anda dari rumah kami!" Adit kemudian pergi meninggalkan ibu tirinya yang masih bingung akan ucapan Adit.


"Adiiittt... anak durhaka kamu!" bu Reny berlari keluar setelah menyadari ucapan Adit.


Bu Reny lantas berteriak entah Adit mendengar atau tidak.


Ibu-ibu komplek yang awalnya ingin belanja karena mereka pikir pak Renggono jualan, menonton kejadian itu sambil berbisik.


"Pergi! kaliaaann...!! pekik bu Reny menyambit ibu-ibu dengan batu putih yang beliau raup dari pot teras rumah.


.


.

__ADS_1


__ADS_2