
...Terimakasih yang sudah memberi hadiah vote, yang belum budhe tunggu 🤣🤣🤣....
"Selamat Mel"
"Selamat Nak"
Uacapan bu Riska dan juga Mawar ketika Melati turun dari panggung.
"Terimakasih Bu, Kak Mawar,"
Kakak dan ibu kandung Melati pun memberi kecupan-kecupan.
Bu Riska menatap kedua anaknya menitikkan air mata. Beliau terharu, bagaimana tidak? kedua anak perempuanya mencari biaya kuliah sendiri, saat ini mereka sudah berhasil meraih cita-citanya.
Andai saja bu Riska mempunyai uang lebih sejak dulu, pasti akan mengantar anak-anak ke perguruan tinggi hingga anaknya tidak perlu kerja keras sendiri.
"Ibu kok malah sedih?" tanya Melati lalu merangkul ibunya.
"Ibu terharu nak," ucap ibu lalu menghapus air matanya.
"Ibu jangan nangis... nanti Mela ikut nangis nih," Melati menatap ibu lekat, jika dulu ibu lebih tinggi, saat ini hanya sepundak Melati. Ibu mendongak meraih wajah Melati hingga menunduk, ibu pun menciumnya bertubi-tubi. Mawar ikut merengkuh ibu dan adiknya yang berbadan ramping itu.
Ketiga wanita itu pun kembali berpelukan.
Melati merenggangkan pelukan tatkala pria jangkung berjalan mendekatinya.
"Selamat Mel, sukses selalu ya" Rony mengahampiri. "Ini untuk kamu," Rony memberi bingkisan bunga dan coklat yang dikemas menarik.
"Terimakasih, Pak" Melati tersenyum senang. "Bapak kok repot-repot sih... nanti yang lainya iri loh," jujur Melati. Rony hanya terkekeh.
Rony lantas mengalihkan pandangan kepada wanita yang di sebelah Melati.
"Apa kabar, Bu, Mawar." Rony menganggukkan kepala.
"Kabar baik nak, kenapa kamu tidak pernah berkunjung ke rumah lagi?" tanya bu Riska.
"Memang ini siapa sih?" Mawar ternyata agak lupa sebab sudah tiga tahun tidak pernah bertemu Rony.
"Loe lupa Maw, sama pria miskin yang suka minta ditraktir sama kamu" jawab Rony.
"Kak Rony? ya Allah... bagaimana kabarnya kak, sudah punya anak berapa, istrinya orang mana?" cecar Mawar.
"Loe tuh ya, tanya satu-satu dong," keduanya pun tertawa.
"Gw masih sendiri Maw, belum bertemu yang pas," jawab Rony jujur.
Rony menatap wanita didepanya memang benar lupa dengan dirinya. Ya jelas lupa untuk apa pria seperti dirinya diingat. Pikir Rony.
Berbanding terbalik dengan Rony yang masih selalu mengingat wanita yang dicintai ini, tidak jauh berubah masih seperti dulu.
"Masa kamu lupa nduk, ibu yang sudah tua saja ingat" ibu tertawa.
"Selamat ya Mel" Alex, Bombom, dan Risda menghampiri.
__ADS_1
"Kalian juga selamat," Melati menjabat tangan Alex dan Bombom, kemudian yang terakhir memeluk Risda.
"Pulang dari sini kita rayakan di Cafe, Mel, yang lain sudah setuju," kata Alex.
Alex sebenarnya hanya ingin mengajak Melati pergi berdua, dan akan menuruti saran pak Rony, mengutarakan perasaanya. Tetapi Bombom ingin ikut, Alex pun mengalah.
Melati menatap ibu dan kakaknya minta persetujuan, lalu diangguki oleh ibu dan Mawar.
"Oh iya Mel, tante Ina mengabari ibu, katanya Diah mau melahirkan. Ibu langsung kerumah sakit xxx ya nak," tutur bu Riska.
"Oh, nggak apa-apa, Bu, Kak Mawar, kalau nanti tidak kesorean aku menyusul," pungkas Melati.
Mereka pun berpisah melanjutkan tujuan masing-masing.
*******
"Ayo ngejen... sekali lagi ayo..." dokter memberi semangat.
"Sakiiit... Aaaggghhh." Diah menjerit sambil mengejan.
Abim terpaku di sisi Diah tanpa berbuat apapun selain berdoa. Seketika Abim ingat mama yang sudah berjuang banyak mengeluarkan darah, ternyata hanya melahirkan anak laki-laki pembangkang seperti dirinya.
Abim benar-benar merasa bersalah, ternyata begini perjuangan seorang ibu? Abim menarik napas panjang.
"Tahan... tahan... jika tidak kontraksi, jangan dipaksakan mengejan." titah dokter, mengejutkan lamunan Abim.
"Tuan, ayo beri semangat istrinya," titah dokter nenoleh Abim sekilas, lalu kembali fokus ke Diah.
Kebanyakan yang di lakukan para suami jika menunggui istrinya melahirkan setidaknya mengusap-usap, memberi ciuman kecil, tapi Abim sama sekali tidak menyentuh istrinya. Dokter merasa heran.
"Sakiiit... aaaggggh..." Diah menarik tengkuk Abim sambil mengejan.
Dah mendengar arahan dokter berulang-ulang setiap kontraksi mengejan. Namun hingga Diah kepayahan, tetapi si jabang bayi belum juga ingin hadir ke dunia fana.
********
Sementara diluar, mama Sahina terlihat mondar mandir didepan ruang bersalin.
"Ya Allah Pa, kenapa Diah belum juga keluar... kenapa prosesnya lama sekali?" mama meremas kerudungnya gusar.
Pasalnya sudah hampir 20 jam proses bersalin. Namun belum ada tanda-tanda bayi lahir.
Jika terlalu lama tidak hanya berisiko terhadap Diah, tentu juga berisiko untuk bayi.
Mama dan papa sejak tadi pagi dirumah sakit hanya sendiri, ibu kandung Diah pun tidak menampakkan batang hidungnya. Mama benar-benar stres memikirkan ini.
"Sabar Ma" Papa menuntun istrinya agar duduk, kasihan melihat mama terlalu banyak berpikir. Keringat dingin bercucuran hingga kuyu.
"Duduk, nanti mama malah capek sendiri, walaupun mama mondar mandir tidak akan membantu apa-apa," titah papa.
"Pa, kenapa kita nggak segera mengambil tindakan melahirkan dengan cara caesar saja," mama menatap papa sedih.
"Iya Ma, kita harus segera temui dokter yang lain," seburuk apapun hubungan antara menantu dengan mertua mama tentu tidak ingin melihat menantunya dalam kesusahan.
__ADS_1
Sebenarnya mama sejak seminggu yang lalu, ingin membantu Abim untuk biaya persalinan, tetapi Abimanyu rupanya kukuh dengan pendiriannya.
Abim tidak ingin merepotkan orang tuanya lagi. Selama dua bulan tinggal dirumah orang tuanya, sudah dibuat pusing oleh kelakuan Diah.
Papa dan mama mememui dokter yang lain, karena tidak mungkin papa masuk keruang bersalin tentu tidak akan diizinkan.
******
Sementara itu dokter yang menangani Diah hampir menyerah kondisi Diah semakin melemah.
Bersamaan dengan itu, ada salah satu dokter masuk kedalam membisikkan sesuatu, kepada dokter yang menangani Diah. Dokter menganggukan kepala.
"Tuan... tidak ada jalan lain kami harus ambil tindakan, istri Tuan, harus segera di operasi caesar," terang dokter tidak mau ambil resiko.
"Lakukan yang terbaik dok" ucap Abim mantap.
"Baiklah" dokter merasa lega. Sebab Diah sudah kepayahan, ia lemas tidak kuat lagi untuk mengejan.
Diah pun melahirkan dengan operasi caesar setelah Abim diminta tanda tangan. Sementara Abim menunggu diluar tampak sepi tidak ada siapapun. Abim duduk lemas bersandar di tembok.
"Abim... Diah belum melahirkan nak?" tanya mama berjalan cepat menghampri Abim, papa menyusul dibelakang.
"Belum Ma, harus di operasi caesar katanya," jawabnya lemas.
"Yang sabar ya nak" mama mengusap-usap kepala Abim menenangkan.
Abim tidak tahu jika tindakan operasi atas permintaan papa. Namun papa minta pihak rumah sakit untuk merahasiakan kepada anaknya. Bahkan, papa juga sudah melunasi administrasi.
Di ruang operasi, kedua dokter dan perawat saling pandang setelah mengangkat bayi dari dalam perut Diah yang masih belum sadar paska operasi.
"Sus, tolong segera mandikan bayi ini," dokter menyerahkan bayi perempuan kepada suster.
"Baik Dok" Suster segera memandikan anak Diah dengan mulut menganga, geleng-geleng kepala.
Setelah memandikan, suster segera memanggil Abim, agar meng-adzani putrinya.
"Tuan Abimanyu" suster memanggil dari ruang bersalin.
"Saya sus" Abim berjalan cepat menuju dimana suster berdiri.
"Tuan muslim?" tanya suster.
"Muslim sus" jawab Abim.
"Tolong Adzani putri, Tuan" titah suster.
"Siap sus" Abim masuk mengikuti suster.
"Ini, Tuan... putrinya, peremuan cantik" Suster menyerahkan bayi perempuan yang masih berselimut handuk kepada Abim.
Abim menatap wajah bayi dalam gendongan suster. Ia mundur dua langkah, mulutnya ternganga lebar, menutupnya dengan kedua telapak tangan.
******
__ADS_1
"Nah, nah... kira-kira kenapa mereka terkejut, setelah melihat bayi???