
Jam 11 malam Diah bersembunyi di balik halte menghitung uang receh, boleh dia mengemis pecahan lima ratusan hingga 10 ribuan terhitung menjadi 100 ribu.
"Buseeettt... hanya satu jam mendapat 100 ribu? gumanya. Masa bodoh yang penting ia bisa pulang kerumah malam ini. Pikirnya. Dan sedikit melupakan kekesalanya kepada Alfred.
Diah lantas memesan ojek, berniat pulang ke kontrakan, barang-barang produk yang ia sudah letakkan di keranjang anggap saja mimpi. Ia pulang setelah ojek datang.
Sampai lah ojek didepan kontrakan Diah turun lalu membayarnya. "Ambil saja kembalianya," gayanya sok seperti orang kaya, padahal hanya kembali seribu rupiah.
"Alhamdulillah..." tukang ojek tetap bersyukur walau hanya uang seribu. Ia tidak tahu bahwa uang seribu itupun bolehnya Diah mengemis.
Dengan langkah berapi-api Diah berjalan ke kontrakan. Ia pikir Alfred berada di rumah, sudah berniat dalam hati ingin memaki-maki suaminya itu. Namun sampai didepan rumah keadaan masih gelap padahal tadi pagi, ia sudah mengisi pusa listrik. Diah pun berpikir, ternyata suaminya belum pulang.
Entah beruntung atau sial bagi Diah, jika suaminya ada dan ribut tengah malam alamat di usir oleh pemilik kontrakan. Padahal baru tadi pagi diperingatkan.
Diah pun membuka kunci pintu masuk kedalam lalu menyalakan lampu.
*******
Hari senin pagi, rumah Melati sudah kembali ramai, siap dengan tugas masing-masing. Sementara ibunya pun sudah mulai berjualan kembali.
"Mel, loe tega ya! malam minggu kemarin. Loe pulang sama Abim kan?" cecar Alex. Alex pikir Melati pulang bersama Abim. Sebab, saat Melati pamit ke toilet, Alex sempat melihat Melati keluar dari gedung Grocery Store.
"Nggak lah, gue kan sudah bilang sama loe Alex, gue mau ketoilet," terang Melati. Namun tidak menceritakan bahwa dia diculik penjahat pasti akan panjang ceritanya.
"Tapi, saat gw mau pulang, cari-cari loe sampai muter-muter nggak ketemu" memang benar apa yang dikatakan Alex.
"Sudah Lex, nggak usah dibahas lagi" jawab Melati kemudian duduk di depan komputer.
"Kalian ini mau bekerja apa mau pacaran sih..." Bombom kembali berseloroh.
Alex kemudian menghentikan bicaranya mereka kembali bekerja hingga istirahat siang.
"Lex, ternyata loe merokok?" tanya Melati setelah makan kemudian menemui Alex yang sedang duduk di taman. Kedua jarinya menjepit rokok yang tinggal setengahnya, menghisap hingga asap mengebul ke udara.
"Yah... sekali-kali Mel, kalau lagi suntuk saja," sahutnya, lantas melindas rokok yang belum habis dengan sepatu menghormati Melati yang anti asap rokok.
"Memang loe suntuk kenapa?" tanya Melati lantas duduk di ayunan. Kakinya menjejak tanah hingga ayunan bergerak kencang.
"Nggak apa-apa Mel" sahutnya. "Mel, ada yang gue, mau omongin," Alex melempar tatapan kearah gadis yang ia cintai itu.
__ADS_1
"Mau ngomong apa sih lex? dari tadi loe bikin gue penasaran?" tanya Melati heran, tidak biasanya Alex berbicara serius, selalu slenge-an, dan yang mengejutkan Melati. Alex ketahuan merokok padahal selama ini Melati belum pernah melihatnya.
"Lex" Melati menuggu jawaban Alex tetapi, Alex tak kunjung bicara.
"Bulan depan, gue mau berhenti bekerja sama loe" kata Alex tampak berat.
"Loh, memang kenapa Lex?" tanya Melati terkejut lantas menghentikan ayunan.
"Bukan apa-apa Mel, gw hanya ingin membuka usaha sendiri, walapun masih baru rencana" Alex pikir jika ingin mendapatkan Melati harus berani mengambil keputusan setidaknya agar percaya diri. Dan harus menyejajari usaha Melati agar tidak menjadi ketimpangan sosial di kemudian hari. Bukan berniat menyaingi namun, sudah menjadi cita-cita Alex juga ingin mewujutkan harapanya.
"Oh... nggak masalah Lex, jika itu tujuan loe, semoga berhasil ya," Melati tidak bisa melarang Alex, toh masih akhir bulan, dan Melati masih bisa merekrut karyawan baru.
"Semoga Mel" perbincang berhenti mereka kembali melanjutkan pekerjaannya.
*******
Sementara di perusahaan pak Johan, Abim sudah mengajukan surat pengunduran diri. Dan niatnya sudah tercium oleh rekan kerjanya satu divisi.
"Loe beneran, mau mengundurkan diri Bim?" tanya Refan mereka saat ini sedang menikmati kopi di Cafe tidak jauh dari kantor.
"Beneran lah Fan, kapan gue jika bicara tidak serius," jawab Abim memang benar adanya.
"Gue mau melanjutkan kuliah dulu, gw nyesel, kenapa dulu nggak menuruti saran Papa" sesal Abim.
"Oh, sebenarnya kuliah kan bisa malam Bim, kenapa juga...loe buru-buru berhenti" Refan tidak tahu jika sahabatnya ini anak seorang pengusaha.
"Bukan apa-apa sih... gw ingin fokus kuliah saja," Abim menjawab santai.
"Bim, sebenarnya ada yang mau gw tanyakan sama loe"
"Tanya apa?" Abim menoleh cepat.
"Sudah lama gw penasaran Bim, di wallpaper loe itu ada foto anak bayi, tapi kok bue? bukanya mantan bini loe orang Indonesia tulen?" Pertanyaan itu keluar juga dari mulut Refan yang sudah sejak lama ia pendam.
Abim menarik napas panjang. "Ceritanya panjang Fan, itu salah satu alasan, kenapa gw harus bercerai" Abim selama ini memang terlalu tertutup untuk masalah pribadinya, termasuk kepada sahabatnya.
Refan manggut-manggut. "Berarti anak itu bukan darah daging loe Bim?" Refan muali paham.
Abim tidak menjawab hanya menganggukan kepala. Obrolan berhenti karena mereka harus kembali bekerja.
__ADS_1
*******
Jam delapan malam, Abim baru pulang kerja, ia menyelesaikan pekerjaanya yang sempat tertunda.
Abim menatap kaca spion ketika keluar dari kantor tadi, sepertinya ada yang mengikuti.
Ketika sampai di tempat sepi ketiga motor itu menghadangnya.
Abim lantas berhenti. "Ada apa ini?" tanya Abim masih dengan suara pelan.
"Turun!" bentak tiga pria yang tertutup helm mendekati Abim.
Abim menurut, kemudian turun dari motor.
Buk buk buk.
Tiga pria itu tiba-tiba menyerang mengeroyok Abim namun Abim masih mencoba melawan. "Siapa kalian?!" Abim bertanya sambil menangkis serangan-serangan mereka.
"Tidak usah banyak tanya?! malam ini juga loe harus mati!" salah satu pria itu berbicara dengan percaya diri.
"Hahaha... bunuh dia!" bentak salah satu pria dia bermain curang meringkus tangan Abim dari belakang. Namun Abim masih bisa berpikir. Ketika kedua orang menghunus pisau kearahnya. Abim menendangnya bagian alat vital pria itu mengerang kesakitan.
"Kurang ajar!" pria yang dibelakang Abim geram, kemudian meninju tengkuk Abim hingga jatuh terkapar.
Buk buk buk
Datang salah satu pria jangkung yang loncat dari mobil, membantu Abim, tanpa banyak bicara.
Kedua pria yang terkapar bangkit, merogoh pistol yang ia selipkan di belakang.
Dooor..." tembakan mengenai tubuh Abim, ia jatuh terkapar.
Ketiga pria itu merasa misinya berhasil lalu setarter motor pergi meninggalkan tempat itu.
"Brengseeek..." pria jangkung itu ingin mengejar namun ketiga pria itupun kabur hanya meninggalkan kebul asap motor.
Pria jangkung membuka mobil kemudian mengangkat tubuh Abim menidurkan di jok tengah. Pria jangkung menjalankan mobilnya setelah memberi pertolongan sementara kepada luka Abim. Meninggalkan motor Abim yang sudah ia pinggirkan.
.
__ADS_1
.