PERNIKAHAN BERUJUNG LUKA.

PERNIKAHAN BERUJUNG LUKA.
Gagal.


__ADS_3

Pasutri yang sedang marahan itupun kembali membaik. Mereka sudah ngobrol dan bercanda seperti biasa.


"Bang, stok sayuran sudah habis," Melati membicarakan masalah lain.


"Kalau sekarang kita belanja, kamu capek nggak?" Abim mengelus kepala istrinya.


"Nggak kok, tapi tunggu habis ashar dulu" usul Melati.


"Kalau gitu, sekarang kita bikin dedek" Abim sepontan membopong tubuh istrinya dan membawanya masuk ke kamar. Melati menenggelamkan wajahnya di dada Abim. Abim menidurkan istrinya di ranjang kemudian melakukan pemanasan dulu, sebelum melaksanakan olah raga sore.


Teng tong... teng tong.


Suara bel apartemen mengejutkan keduanya. Melati mendorong pundak Abim, berniat membuka pintu.


"Biarkan saja" Abim menahan, lalu berniat melanjutkan olah raga. Namun bel terus menerus berbunyi. "Bang ada tamu ih... siapa tahu penting," Melati kembali mendorong tubuh Abim.


Tengtong... tengtong.


"Aaahhh... siapa sih... ganggu saja!" gerutu Abim mengacak rambutnya sendiri, kemudian keluar. Dengan rasa kesal Abim membuka pintu.


"Loe Sal!" ketus Abim tanpa menyuruh tamunya masuk.


"Kok gw nggak disuruh masuk sih Bim," kata Faizal hingga beberapa menit ia berdiri di luar, lalu Abim di dalam.


"Masuk Kak" Melati melebarkan pintu yang sudah mengganti bajunya rapi.


"Terimakasih Mel, ternyata bini loe baik Bim" ucap Faisal lalu masuk ke dalam lebih dulu. Abim mengacungkan tinju di belakang kepala Faisal tanpa ia tahu.


Melati yang sedang menutup pintu melihat tingkah suaminya, hanya menggeleng. Faisal tidak tahu bahwa kehadiranya mengganggu kegiatan sahabatnya.


*****


Jam delapan pagi di rumah sakit. "Rindy... aku dimana?" tanya Diah baru sadar dari pingsanya.


"Alhamdulillah... loe sudah sadar Diah, loe di rumah sakit dari kemarin sore, kamu pingsan di depan pabrik" terang Rindy.


Diah mengedarkan pandangannya. Lalu melihat infus yang di gantung. "Astagfirlullah... perut aku sakit Rin," Diah merasakan kesakitan.


"Ya, loe pasti lapar, sekarang makan dulu" Rindy membantu mengangkat kepala Diah menyandarkan di bantal setengah duduk. Rindy Ambil bubur yang disediakan rumah sakit kemudian menyuapi sahabatnya.

__ADS_1


Rindy memencet tombol tidak lama kemudian dokter datang.


"Bagaimana, sudah lebih baik?" tanya dokter wanita di ikuti perawat di belakang. Diah hanya mengangguk dan senyum yang di paksakan. Dokter kemudian memeriksa Diah.


"Mbak, di habiskan dulu makananya, terus di beri obat ya, jangan lupa minum air putih yang banyak" titah dokter.


"Baik Dok," jawab Rindy menatap dokter yang sudah berjalan keluar. Kemudian Rindy melanjutkan menyuapi Diah.


"Rin, kenapa aku bisa disini?" tanya Diah setelah bubur satu mangkok habis.


Rindy kemudian menceritakan apa yang terjadi. Dan juga menceritakan bahwa direktur utama tempat ia bekerja yang mengantarkan Diah kesini.


"Apa?! jadi direktur yang antar aku?" Diah yang awalnya lemah memaksakan bangun. "Aku malu..." Diah menutup wajahnya. Diah pernah mendengar selentingan. Bahwa Marselo adalah salah satu pemilik saham terbesar di perusahaan Food group dimana dia bekerja.


"Tenang Diah... jangan pikirkan apa-apa dulu, anggap saja ini keberuntungan buat loe" ucap Rindy.


"Terus... aku sakit apa?" cecar Diah. Menatap sahabatnya yang sedang merapikan bekas makan dirinya.


"Loe nggak makan berapa hari Diah... sampai loe kelaparan? menurut Dokter... usus loe hampir lengket," Rindy menjelaskan.


Diah diam, semenjak kedatangan Gita yang melabraknya tiga hari yang lalu, ia tidak nafsu makan. Makian Gita selalu terngiang di telinga. Diah berpikir keras bagaimana besok ia akan menjelaskan jika Gita datang kembali. Itulah yang membuatnya stres.


"Rin, aku mau cerita, tapi jangan tertawakan aku ya" Diah rupanya ingin berbagi kisah agar bebanya sedikit ringan.


"Gw siap menjadi teman curhat loe, masa tertawa, loe mau bagi kesedihan atau mau melawak" Rindy terkekeh agar Diah mau tertawa juga.


Diah kemudian menceritakan, bahwa dirinya sudah cerai dengan Alfred lantaran Alfred ternyata sudah beristri. Diah juga minta pendapat bagaimana caranya menjelaskan kepada Gita bahwa dirinya sudah cerai dengan Alfred.


"Ya Allah... jadi loe, sudah cerai? yang sabar ya" hibur Rindy. "Gue nggak bisa memberi saran apapun Diah, karena gw belum menikah. Yang penting loe istirahat, makan yang bergizi biar tenaga loe pulih," nasehat Rindy.


"Terimakasih ya Rin" Diah berkaca-kaca menatap Rindy, orang yang belum lama dikenalnya ini rupanya baik sekali. Diah sadar, ternyata orang baik, dikelilingi orang-orang baik pula. Jika tahu begini, mengapa dulu sampai mati-matian membela temanya yang jahat dan hanya menjerumuskan dirinya yang pada dasarnya sudah mempunyai perangai buruk.


Jika begini ia menjadi ingat Melati, dia yang sudah menyadarkan dirinya. Ingat Melati Diah berdoa dalam hati. Semoga Melati selalu berbahagia dengan Abim, mantan suaminya.


"Kamu sebaiknya pulang Rin... terimakasih ya, kamu baik banget sama aku"


"Tenang saja sih Diah, gw tungguin sampai loe sembuh," hibur Rindy.


"Ya nggak bisa begitu Rin.... terus kamu mau bolos kerja terus..."

__ADS_1


"Tenang.. aku sudah mengajukan cuti kok, paling gw pulang salin baju doang" Rindy menenangkan.


Rindy kemudian membantu Diah ke kamar mandi, mengganti pakaiannya yang sudah di siapkan pihak rumah sakit.


*******


Rumah gedongan lantai dua dengan halaman yang luas di fasilitasi kolam renang dibelakang. Pasutri setengah baya sedang menikmati hidangan pagi di gazebo pinggir kolam renang tersebut.


"Mi, Papi mau bicara" kata tuan Efendi kepada istrinya. Setelah menyeruput kopi dalam cangkir.


"Ada apa Pi? kok serius banget?" tanya wanita setengah baya walaupun orang kaya berpenampilan biasa saja. Namun tidak mengurangi kecantikannya.


"Sebelum menikah dengan Mami, Papi pernah menceritakan sebelumnya kan? bahwa Papi pernah mempunyai anak di masa lalu" tutur tuan Efendi yang duduk bersebelahan dengan istrinya.


"Iya, terus... kenapa? Papi sudah menemukan anak Papi?" Mami memutar tubuhnya menatap tuan Efendi.


"Sudah Mi, dan dia saat ini sedang di rawat di rumah sakit, badanya kurus, sepertinya banyak menanggung beban berat, dalam hidupnya" tutur tuan Efendi berkaca-kaca menatap kolam renang, tampak berkilau terkena pantulan cahaya matahari pagi.


"Sakit... sakit apa?" mami memegang tangan tuan Efendi yang berkeringat dingin.


"Tadi malam, sebenarnya... Papi sudah menjenguknya, makanya pulang sampai pagi," jujur tuan Efendi.


"Terus... Papi, sudah bercerita kepadanya, dan menceritakan siapa Papi, lalu apa tanggapannya?" cecar mami.


"Belum Mi, dia masih pingsan. Dan ternyata...anakku itu sudah menikah" Papi menarik napas panjang.


"Tapi miris Mi, ternyata dia sudah menjanda hingga dua kali," lirih tuan Efendi.


"Menjanda dua kali?" Mami terkejut. Dan di angguki oleh tuan Efendi. "Papi ingin membawa anak Papi kesini Mi, tinggal dirumah ini," tutur Papi.


"Mami... Papi... Juli berangkat ya" datang seorang gadis berusia 18 belas tahun, menghentikan obrolan beliau. Gadis itu adalah, anak tiri tuan Efendi. Dia kuliah di salah satu kampus ternama.


"Ya sudah... hati-hati ya" pesan mami dan papi. "Kamu sudah sarapan belum?" sambung papi.


"Sudah kok Pi, Juliana berangkat dulu ya, daaaa..." Juliana berjalan cepat kehalaman depan yang luas, supir sudah menunggu sambil memanaskan mobil.


Mami dan papi menatap Juliana hingga menghilang.


"Mi, Papi, juga mau ke rumah sakit menjenguk Diah"

__ADS_1


"Tunggu Pi." mami menarik lengan suaminya.


__ADS_2