PERNIKAHAN BERUJUNG LUKA.

PERNIKAHAN BERUJUNG LUKA.
Iri Hati.


__ADS_3

Abim masuk kamar menutup tubuh Diah dengan selimut. Ia bingung ingin tidur dimana disini tidak ada sofa seperti dikamarnya.


Pria tampan itu tidak kehabisan akal, ia mengangkat permadani yang digulung disudut kamar, setelah menggelar lantas tidur.


Diah semakin kesal dibuatnya, suaminya ini benar-benar kelewatan alih-alih menyentuh tubuhnya justeru mendengkur dibawah.


********


Pagi hari mendengar Adzan subuh seperti biasa, Abim bangun. Kepalanya terasa sakit dan mual, inilah hasil dia tidur di lantai walaupun memakai alas suka masuk angin.


Abim memaksakan ke masjid, setelah mandi air hangat, dan ambil perlengkapan shalat dilantai atas.


"Barengan Bim" kata papa yang sudah rapi, berjalan cepat mengejar Abim yang sudah membuka pintu.


"Kepala aku sakit, Pa," kata Abim kemudian, sambil memijit pelipis.


"Loh, lagi sakit kok ke masjid? sholat dirumah saja," papa menghentikan langkah Ambim memegangi pundaknya.


"Nggak apa-apa kok Pa, ayuk," mereka berangkat berjalan bersebelahan.


"Bim"


Abim menoleh papa yang berjalan disamping.


"Ada apa, Pa?"


"Kamu yakin, yang dikandung Diah itu anakmu?" tanya papa pada akhirnya.


Deg. Abim menghentikan langkahnya.


"Maksud Papa?" Abim balik bertanya terperangah mengapa papa bisa bertanya seperti itu, apakah papa tahu bahwa rumah tangganya selama ini tidak harmonis?


"Jawab saja," kata papa pendek.


"Heheh... Papa, ya jelas anak Abim lah? Diah kan istri Abim," Abim menjawab santai.


"Yah, semoga begitu ya Bim," papa menarik napas panjang.


"Ayo Pa, sudah Iqomah." Abim mengalihkan tapi memang benar, di masjid sudah Iqomah kedua pria berbeda generasi itupun berjalan cepat menuju masjid.


Pulang dari masjid Abim kembali masuk kekamar, saat ini masih jam lima pagi.


"Diah... bangun" Abim membangunkan istrinya agar shalat subuh. Walaupun Abim sering mengingatkan tetapi tidak didengar. Yah siapa tahu, setelah hamil akan berubah.


"Diah! cepat bangun, kamu itu sudah mau menjadi ibu!" tegas Abim.


"Iiihhh... berisik, Mas!" ketus Diah ambil bantal untuk menutup telinganya. "Masih ngantuk tahu nggak?!" cicitnya.


Abim tidak mendengarkan omelan Diah lalu keluar dari kamar. Kepalanya sudah sakit, menjadi tambah sakit, jika tetap disini.


"Diah mana Bim? ajak kesini biar sarapan bareng." titah mama.

__ADS_1


"Biar saja, Ma" jawab Abim singkat kemudian menarik kursi.


"Masih pusing Bim?" tanya papa yang baru keluar dari kamar.


"Masih Pa" ucapnya, menatap hidangan dimeja makan ia kembali mual.


"Kamu sakit, Nak?" tanya mama tampak kaget medengar anaknya sakit.


"Hanya pusing dan mual saja kok Ma," ucapnya lalu meneguk air teh hangat yang sudah dibuatkan bibi pulang dari masjid tadi.


"Oh itu sih biasa Bim, banyak kok jika istrinya hamil suami yang merasakan seperti itu" ujar mama. "Sebaiknya kamu tidak usah masuk kerja dulu" titah mama disamping Abim sedang tidak enak badan, juga agar bisa menemani Diah.


"Pengenya Ma, tapi banyak kerjaan di kantor." jawab Abim jika memaksa masuk kepalanya semakin sakit. Namun jika libur, kerjaan banyak.


"Benar kata Mama Bim, sebaiknya kamu libur dulu telepon saja, minta izin," papa menimpali.


"Baik pa" Abim pun menyerah.


"Ciee... kirain di novel yang aku baca doang yang suka ada cerita seperti itu, ternyata kak Abim mengalami, sangking cintanya tuh Ma," lagi-lagi Intan menggoda Abim.


Abim tidak menyahut lantas menyikut adiknya yang posisinya disebelah.


Ceklek


Diah keluar dari kamar, mengerjapkan mata. "Aku mau kekamar mandi, Mas," ucap Diah wajahnya dibuat memelas, agar Abim mau mengartarkan, digandeng kekamar mandi oleh suami tentu menyenangkan.


"Sendiri saja! memang nggak bisa?!" Abim kesal tadi giliran disuruh shalat nggak mau malah galakan dia. Sekarang dengan seenaknya sendiri minta diantar kekamar mandi.


"Sama aku saja, kak Abim sedang tidak enak badan," dengan cepat Intan menggandeng tangan Diah.


Papa senyum-senyum sendiri menatap Diah yang digandeng Intan setengah menarik tangan sepertinya Diah ingin lepas dari tangan Intan.


"Lepas Tan, aku bisa sendiri!" ucapnya merengut kesal.


Intan melepas tangan Diah, lalu kembali ke meja makan. Sambil menunggu Diah mereka berbincang-bincang.


Tok tok tok.


Saat perbincangan pagi pintu rumah diketuk, bibi lantas membukakan.


"Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam..."


Bibi menatap seksama tamu nya, gadis cantik berhijab tersenyum ramah kepadanya.


"Non Mela" bibi membalas senyum Melati.


" Iya Bi, saya disuruh kak Mawar mengantarkan bubur kacang hijau untuk Diah, katanya sedang ngidam ya?" tanya Intan lalu menyerahkan rantang kepada bibi.


"Masuk-masuk, Non, Intan sedang di meja makan," kata bibi.

__ADS_1


"Baik Bi"


Bibi mengajak masuk Melati, menemui Intan dimeja makan.


"Non Intan, ada Non melati ini," kata bibi berdiri di dekat meja lalu meletakan rantang.


Semua mata beralih menatap Melati. "Melati..." pekik Intan heboh lalu memeluknya.


"Ya Allah nak, kamu kenapa sudah empat bulan loh, nggak kesini?" Mama Sahina pun memeluknya.


"Maaf Tante, saya memang sibuk menyusun skripsi." sahut Melati. Memang benar adanya, saat ini ia sedang menyusun skripsi. Waktunya hanya malam hari, lalu ia manfaatkan semaksimal mungkin.


"Kamu sehat Mel?" tanya papa yang sejak dari tadi menatap gadis yang harusnya menjadi menantunya itu.


"Alhamdulillah... sehat, Om" Melati menangkupkan kedua telapak tangan di dada.


Abim diam sok angkuh tidak kenal padahal dalam hatinya bersorak senang melihat kehadiran Melati. Dada Abim dag dig dug tidak karuan.


Mereka tidak tahu, bahwa Diah berdiri menatap keakraban keluarga mertuanya terhadap Melati, hati Diah terbakar api cemburu. Semua keluarga ini menyangi Melati lalu mengapa jika dengan dirinya seolah semua membenci?


Terutama mertuanya laki-laki, selama Diah tinggal dirumah ini belum pernah disapa dengan hangat begitu. Sekalinya mengajak bicara, pasti dengan nada ketus.


Diah memberanikan diri untuk bergabung. Ia lantas menarik kursi duduk disebelah Abim.


"Selamat ya Diah... kata kak Mawar kamu sedang hamil ya?" tanya Melati yang duduk disebalah Intan sahabatnya.


"Terimakasih," jawab Diah yang sedang operekting tanganya merangkul pinggang Abim pamer kemesraan.


"Ngapain kamu kesini Mel?" tanya Diah bersikap biasa, karena takut dengan mertua laki-laki yang duduk berhadapan dengannya.


"Aku disuruh mengantarkan bubur kacang hijau ini sama kak Mawar," terang Melati, lalu meletakkan mangkok didepan Intan.


"Terimakasih dong Diah orang sudah diantar jauh-jauh kok," Abim mengingatkan seperti anak kecil.


"Terimakasih" ucap Diah pada akhirnya, walupun terkesan dipaksakan.


"Ya sudah, ayo sarapan," titah mama. Mereka sarapan. Seisi rumah pun berkumpul tidak ada yang pergi kemana-mana.


Melati berada disitu hingga menjelang siang, keseruahan ngobrol dengan mama, dan Intan sambil membuat kue, dan masak untuk makan siang, membuatnya betah.


Trio cantik itu pun, tidak melewatkan canda tawa saling mencolek terigu karena iseng hingga membuatnya berlarian kesana kemari.


Diah lagi-lagi mengawasi dari pintu kamar yang dia buka sedikit, giginya gemerutuk menahan marah. Iri dengan kekompakan mereka. Padahal ketika diajak gabung sama mama tadi, ia menolak dengan alasan pusing. Sedangkan Abim tidur dikamar atas setelah diberi obat mama tadi pagi.


Hingga akhirnya acara masak selesai, Melati masuk kekamar Intan mereka tiduran disana.


Sementara dibawah tampak sepi, kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Diah. Ia berjalan kedapur pikiran jahatnya bereaksi. Mata liarnya membuka kitchen set, mengambil sesuatu disana, setelah berhasil Diah membubuhkan serbuk putih dalam sayur yang dimasak oleh Melati.


*****


Apa ya... yang dibubuhkan Diah???

__ADS_1


.


__ADS_2