
Pertemuan tuan Efendi dengan Diah Susanti, sungguh mengharu biru. Diah selama ini tidak menyangka bahwa ia bisa bertemu dengan ayahnya saat usianya tepat menginjak 26 tahun. Sungguh kado yang luar biasa indah dari Allah baginya.
"Kenalkan Diah... ini adik kamu" kata mami, saat ini Juliana baru pulang kuliah.
"Diah..." Diah mengulurkan tangannya tersenyum.
"Juliana" keduanya saling berhadapan, tetapi masih tampak canggung.
"Kakak... jadi ini, kak Diah, yang sering Papi ceritakan?" Juli menatap papi ada binar bahagia.
"Betul Nak, kalian yang akur ya" papi melingkarkan kedua tangannya ke pundak Diah, dan Juliana, posisi papi di tengah.
"Jelas dong Pi, iya nggak kak" Juliana lantas memeluk Diah. Namun, Diah masih tersenyum kikuk.
"Papi harap... kamu mau tinggal di sini" titah papi dari ruang tamu, papi mengajak pindah ke taman belakang agar lebih santai berbicara.
Mereka sedang berkumpul dengan anak yang baru dijumpainya itu, anak tirinya yang baru pulang kuliah, dan juga mami Desty.
"Untuk saat ini, aku belum bisa Pi" jawab Diah, sekarang ini, ia sedang belajar untuk menjadi pribadi yang mandiri.
"Papi kamu benar Nak, sudah saatnya kamu bahagia, tidak usah bekerja, lebih baik lanjutkan kuliah" sambung mami Desty.
Diah diam, hanya menggoyang-goyangkan kakinya di atas gazebo dengan kaki menjuntai menghadap kolam renang.
"Betul Kak Diah, Kakak kuliah sama aku, nanti kita satu kampus Kak" Juliana ikut membujuk.
"Nggak dek, otak aku yang pas- pasan, sudah sulit untuk diajak berpikir" jawab Diah memang benar adanya.
Semua mata tertuju kepadanya. "Kak Diah jangan pesimis... optimis dong Kak" nasehat Juliana.
"Jangan bahas kuliah dulu ya dek, kita rayakan saja, pertemuan ini" pungkas Diah.
Mereka berbincang-bicang masalah lain. Diah rupanya malas membahas tentang kuliah, apa lagi harus melanjutkan, otak nya sudah tidak mau kompromi.
Diah pun akhirnya pamit pulang walaupun semua membujuk untuk tinggal di rumah papi atau setidaknya menginap untuk malam ini, tapi Diah belum menerima.
"Besok kan hari minggu kak, sebaiknya... Kakak, menginap di sini" kata Juli.
"Besok siang saja dek, InsyaAllah... aku kemari lagi" Diah ingin pulang besok pagi harus mencuci pakaian lalu menggosoknya.
********
__ADS_1
Sabtu sore saatnya pekerja proyek menerima gaji termasuk Alfred. Ia menerima amplop gaji mingguan.
Ia tersenyum ketika membuka amplop menghitungnya ada 900 ribu, walapun tidak sebanding saat bekerja dengan mertuanya. Namun, setidaknya ia mempunyai penghasilan sendiri.
"Mbak... hutang saya berapa ya?" tanya Alfred kepada penjaga warteg yang berbadan semok, dan selalu genit kepadanya.
"Sebentar ya" wanita itu membuka buku catatan hutang harian. "150 ribu Bang" kata wanita itu.
Alfred lalu membayarnya, tanpa permisi langsung pergi meninggalkan pelayan Warteg. Ia naik angkutan menuju supermarket berniat membeli buah kesukaan Gita. Tidak mungkin ia memberikan uang segitu kepada istrinya sama saja menabur garam di laut asin.
Sampai di pasar swalayan, ia memilih buah, sambil menenteng keranjang.
Tidak peduli menjadi pusat perhatikan orang-orang, mungkin merasa aneh karena penampilanya yang masih mengenakan kaos, dan celana dekil banyak semen mengering. Menguncir rambunya dengan karet gelang, yang ia ambil ketika membeli nasi bungkus tadi siang. Jauh berbeda dengan Alfred yang dulu saat menjadi direktur.
Ketika hendak membayar ke kasir, Alfred melewati toko mainan. Tangan putih pucat itu mengangkat mobil-mobilan, menelisik harganya, kemudian memasukan ke dalam keranjang. Sudah lama sekali, ia tidak pernah membelikan mainan untuk anaknya.
Di samping mobilan, mata birunya menangkap satu paket boneka, untuk stimulasi anak usia 6 bulan. Alfred mengangkat boneka itu, spontan ia ingat anaknya yang ia sia-siakan. Bahkan sampai saat ini ia sama sekali belum pernah melihat wajah anaknya, buah cintanya dengan Diah.
Matanya berkaca-kaca lalu memeluk boneka itu. Ingin sekali rasanya menemui anak keduanya, dan memberikan boneka ini. Tetapi bagaimana caranya? tidak mungkin ia tiba-tiba datang, otomatis ia di keroyok keluarga yang sudah mengadopsi anaknya. Secara dia sama sekali belum mengenal keluarga Diah.
Alfred memutuskan memasukan boneka ke dalam keranjang.
"Oh... minta tolong saja, ke tempat penitipan barang Bang"
"Oh gitu ya, terimakasih" Alfred menuju penitipan barang. Benar saja boneka satu paket yang berisi lima boneka hewan lucu-lucu itu di bungkus dengan rapi.
Alfred kemudian kembali keluar naik angkutan, menuju alamat Mawar. Tidak sulit mencari alamat Mawar yang sudah masuk google, yang pernah ditunjukan Diah ketika mereka masih bersama.
Alfred turun dari angkutan, menutup wajahnya dengan sapu tangan hanya terlihat matanya.
Ia jalan mengendap-endap agar tidak terlihat oleh penghuninya kemudian melempar boneka ke dalam pagar.
Baby sitter Mawar yang sedang mendorong stroller hendak mengajak Syifa jalan-jalan ke kawasan komplek, melihat seseorang melempar barang. Ia clingukan mencari siapa gerangan. Namun tidak ada orang, di sekitar.
Alfred meninggalkan tempat itu, setelah yakin boneka itu disimpan baby sitter.
********
"Sus, Freddy sudah mandi?" tanya Gita, kepada baby sitter. Ia sedang berada di dapur membantu menyiapkan makan malam.
"Sudah Non" jawab suster.
__ADS_1
"Sekarang kemana? tumben! anak itu tidak ada suaranya?" Gita heran, biasanya putranya selalu tanya ini itu.
"Main di kamar Non, tadi di bawakan oleh-oleh mobilan oleh Tuan" jawab Suster. Setelah menerima mobilan dari daddy nya ketika di halaman tadi, Freddy tampak kegirangan lalu membawa mainan masuk ke tempat bermain.
"Tuan sudah pulang Sus?" Gita belum melihat suaminya.
"Sudah Non, tadi Tuan juga membeli buah, sudah saya cuci" imbuh bibi sambil menunjukkan buah di dalam lemari pendingin.
Gita tidak menjawab lantas ke kamar hendak melihat suaminya, sebenarnya apa yang dilakukan Alfeed di luar sana? Terlebih saat ini membeli buah.
Walaupun sampai saat ini pun, hubungan mereka belum membaik. Namun, ketika hendak memijak anak tangga. Mata Gita menangkap sosok suaminya yang sedang mendengkur halus di sofa.
Gita mendekati suaminya menatap lekat wajah laki-laki yang masih bertahta di hatinya hingga kini.
Badanya tampak kurus, wajahnya sedikit hitam, terlihat nyenyak dalam tidur sorenya, mungkin karena kelelahan.
Air mata Gita tidak bisa ditahan, ketika melihat bajunya yang masih banyak bekas material yang melekat. Tanpa bertanya Gita sudah bisa menjawab, pekerjaan apa yang suaminya lakukan kini.
Gita mengangkat tanganya, berniat membangunkan suaminya, tetapi ia menurunkan kembali.
Gita menutup mulutnya agar tangisnya tidak terdengar. Ia meniggalkan suaminya melanjutkan niatnya ke kamar dengan perasaan campur aduk.
Melihat kerja keras yang di lakukan suaminya kini, ia tidak tega. Namun, ketika ingat pengkhianatan suaminya yang sudah menorehkan luka hatinya, perang batin yang ia rasakan.
Gita mengusap air matanya, agar tidak ada jejak kemudian mendekati putranya.
"Ciiiiittttt.... ngeeeeng... ngeeeeeng..." Freddy sedang asyik menabrak-nabrakan pelan antara mobil yang ia pegang tangan kiri, dan tangan kanan.
"Sayang... sedang main apa?" tanya Gita lalu duduk di lantai di depan putranya.
"Main mobilan baru Mom, ini Daddy yang beli, bagus kan?" Freddy menunjukan mobilan yang ia pegang.
"Bagus... sekarang Freddy bangunin Daddy di sofa lantai bawah dulu ya... suruh mandi, terus suruh bobo di kamar" titah Gita.
"Okay... Mom" Freddy bersemangat.
"Banguninya pelan ya, yang sopan, supaya Daddy nggak kaget" Gita menambahkan.
Freddy mengangguk lalu berlari-lari kecil menuruni anak tangga berniat membangunkan daddy nya.
.-
__ADS_1