PERNIKAHAN BERUJUNG LUKA.

PERNIKAHAN BERUJUNG LUKA.
Kesedihan Diah.


__ADS_3

Ketegangan antara pak Renggono dan istrinya terjadi, saat bu Reny selalu nimbrung ketika sedang musyawarah antara pak Renggono dan juga Marselo.


Membicarakan rencana pernikahan Diah. Karena permintaan yang menyudutkan calon menantunya, membuat Renggono malu, terutama Diah.


"Baik Bu, tanpa ibu minta saya akan adakan pesta, jika perlu di hotel mewah" sahut Marsel.


"Tidak! saya tidak setuju diadakan pesta, saya ini sudah janda dua kali, saya ingin pernikahan ini hanya dihadiri keluarga!" tegas Diah.


"Tak" Diah meletakan minum di atas meja, menunduk menyembunyikan rasa malu di hadapan calon suaminya.


"Tidak masalah Diah, nanti aku akan siapakan pesta pernikahan kita" Marsel menjawabnya santai.


Bu Reny menyeringai licik, sambil manggut-manggut.Tidak lepas dari tatapan Diah.


"Tidak! saya malu jika harus pesta! jika Ibu keberatan, lebih baik tidak usah menikah!" ketus Diah membuat bu Reny meradang.


"Kamu ini kenapa Diah... orang Marsel saja mau kok!" jawabnya tidak tahu malu.


"Sudah-sudah! saya kepala keluarga di sini, saya yang membuat keputusan. Benar kata Diah, sebaiknya pernikahan Diah, tidak usah dirayakan, cukup mengundang orang-orang terdekat" pak Renggono menyudahi obrolan.


"Iya, Bapak bisa bicara begitu, karena Diah bukan anak kandungmu!"


Bu Reny kesal, lalu masuk ke dalam kamar uring-uringan sendiri.


Pak Renggono menarik napas panjang. Tidak lagi menggubris omelan istrinya, lalu beliau ngobrol santai dengan Marsel, dan juga Diah.


Waktu sudah malam, Marsel pamit pulang, Diah akan menyusul besok sore, sebab besok pagi akan ada perayaan ulang tahun Syifa.


********


Happy birth day too you


Happy birth day too you🎵


Plok plok plok.


Tepuk tangan meriah, tibalah saatnya tepat satu tahun usia Syifa. Keluarga semua berkumpul, kecuali bu Reny.


Adit dan Mawar sedang mendampingi Syifa mereka berdiri di belakang anak nya.


Abim dengan Melati tampak berdiri di samping Mawar. Begitu juga Diah, dan Marsel, mengajak Calista turut memeriahkan acara tersebut. Mereka membawa kado lalu meletakkan di atas meja. Tidak terkecuali bu Riska juga memberi kado. Walaupun Syifa hanya anak angkat Mawar. Namun pak Sutisna dan bu Riska tidak membedakan antara Bhanu dan Syifa.


Andai Syifa sudah besar mungkin akan bahagia, mempunyai tiga pasang orang tua yang menyayangi.


Bhanu dan Calista, duduk mendampingi Syifa. Mereka memakai topi berbentuk kerucut, dan kaca mata dari karton tampak lucu. Anak-anak sekitar komplek pun turut hadir karena Mawar mengundangnya.


Tiup lilinya

__ADS_1


Tiup lilinya.


"Bruuuttt"


Bibir Syifa tampak monyong ingin meniup tapi belum bisa, hanya terdengar gaburan bibirnya. Mengundang gelak tawa mereka.


"Wus" Bhanu gemas melihat adiknya tidak juga bisa meniup lilin. Akhirnya Bhanu yang meniup.


"Huu aaa..." Syifa menangis karena sudah ditiup kakaknya.


Diah mendekat ingin menenangkan putrinya. "Huu aaa..." tangis Syifa justeru semakin kencang seolah menolak kehadiran ibu kandungnya, membuat Diah terperangah lalu lebih baik menjauh.


"Bhanu... biar adik sendiri yang meniup lilinya sayang..." Mawar mendekati anaknya, awalnya memberi ruang kepada Diah, biar bagaimana Diah wanita yang sudah banyak mengeluarkan darah untuk melahirkan Syifa. Mawar tidak mau egois, tetapi Syifa justeru ketakutan.


"Ahahaha... habisnya niupnya lama," Bhanu tertawa. Sedangkan Calista tersenyum malu-malu. Sebab Lita baru mengenal mereka.


"Cup cup, sayang... sekarang Ayah menyalakan lilin lagi ya, nanti adik yang tiup," Mawar menenangkan.


"Yah... tolong nyalakan lilin" titah Mawar kepada Adit.


"Baik Bun" Adit pun menyalakan lilin kembali, agar Syifa senang. Dengan susah payah Syifa meniup lilin, akhirnya lilin pun padam. Syifa ikut tepuk tangan dan tertawa-tawa.


Diah menitikan air mata, penyesalanya kini kembali hadir. Andai saja dulu dia menyayangi Syifa, dan merawatnya sejak kecil, tentu saat ini dirinya bisa memeluk dan menggendong anaknya.


Diah menjauh dari mereka masuk ke kamar mandi menumpahkan air mata. Ternyata begini rasanya jika jauh dengan anak.


Diah benar-benar kacau, sejak tadi malam ibunya mendiamkan dirinya, bahkan saat ini pun tidak ingin hadir ke rumah Mawar.


Sentara Melati yang melihat Diah menjauh. Ia mengikuti, lalu menunggu di depan kamar mandi, meninggalakan Abim yang sedang ngobrol dengan Marsel. Dan juga kepada para pini sepuh, pak Renggono dan pak Sutisna.


"Diah... kamu kenapa?" tanya Melati saat Diah keluar dari kamar mandi.


"Hiks hiks... Mel..." Diah memeluk Melati dengan erat.


"Tenangkan dirimu Diah, jika kamu ingin berkeluh kesah aku siap mendengarkan," Melati mengajak Diah masuk ke kamar.


Sambil sesekali mengusap air matanya Diah curhat kepada Melati. "Kenapa aku dulu menjadi orang jahat Mel, sekarang aku menerima karma, anakku tidak mau aku dekati,"


"Diah... yang berlalu, biarlah berlàlu, semua manusia pernah khilaf, tapi kamu sekarang Diah yang baik, hati," Melati menghibur Diah ia turut sedih, melihat wajah Diah yang tampak kusut.


"Sudahlah Diah... yang sabar... Syifa itu masih anak kecil, banyak anak kecil yang bersikap seperti itu"


"Yang Syifa tahu, kamu seperti aku, hanya tamu di rumah ini, suatu saat nanti jika ia dewasa akan menyayangimu seperti kita menyayangi ibu kita," Melati menjelaskan panjang lebar.


Tok tok tok.


"Yaaang, kamu di dalam..." suara Abim dari luar.

__ADS_1


Ceklak.


"Kalian ngapain di sini? kita diajak foto bersama," kata Abim, menatap wajah Diah sekilas, sama sekali sudah tidak ada getaran sejak di dikecewakan dulu. Tapi yang membuat Abim heran, Diah sepertinya menangis terlalu lama hingga matanya bengkak, ada apa denganya?


Selama mereka bercerai baru dua kali ini mereka bertemu.


Abim tahu, Diah bukan tipikal wanita yang cengeng, mudah menangis, selama mengenal mantan istrinya itu, Diah orang yang masa bodoh, tidak memikirkan orang lain.


"Diah... kita keluar yuk, kita foto dulu" ajak Melati.


"Aku nggak ikut Mel, tolong nanti sampaikan kepada Marsel, aku menunggu di mobil" ucapnya. Diah tidak mungkin tampil keluar dalam keadaan seperti ini tentu akan menjadi pertanyaan banyak orang.


"Ya sudah... nanti aku sampaikan" Melati keluar kemudian menutup pintu.


"Kenapa tuh Diah?" tanya Abim kemudian, setelah mereka jalan kedepan.


"Keppo deh... masih ada rasa nih" kelakar Melati.


"Cup, mulutnya dijaga, kalau ngomong" Abim mengecup bibir istrinya gemas dengan ucapanya.


"Iya, iya. Aku percaya, sekarang Abang temui calon nya Diah" kata Melati.


Mereka kembali bergabung, dengan yang lain.


Acara sudah selesai hanya tinggal foto keluarga.


"Diah mana ini?" Mawar memutar bola matanya mencari adik iparnya. Namun tidak terlihat. Melati lantas berbisik di telinga kakaknya. Mawar mengangguk.


"Non Mawar... saya menemukan kado di halaman" kata bibi membawa kado besar.


"Oh terimakasih Bi" Mawar menerima kado tersebut lalu menatap Adit suaminya.


"Kadonya gede banget dari siapa Kak?" Melati tampak memandangi kado.


"Aku juga nggak tahu Mel, sudah berapa kali kami menerima kado tanpa identitas seperti ini," Mawar penasaran siapa pengirim kado misterius tersebut.


"Makanya Bim, aku sering telepon kamu, setiap ada kiriman kado, aku pikir dari kamu" Adit menimpali.


"Sudah dilihat CC TV nya Kak?" tanya Abim.


"Sudah, dia seorang pria, tapi kepalanya ditutup, kami sama sekali tidak mengenali," Adit menambahkan.


"Mungkin... Ayah kandung Syifa Kak" kata Melati otak cerdasnya langsung mencerna.


"Oh iya, kenapa kami nggak kepikiran" Adit dan Mawar tepuk jidat.


"Coba buka kadonya Kak" kata Melati. Mawar membuka kado minterius itu, dan isinya boneka beruang madu yang besar. Namun tidak ada tulisan sama sekali di dalam.

__ADS_1


.


__ADS_2