PERNIKAHAN BERUJUNG LUKA.

PERNIKAHAN BERUJUNG LUKA.
Aku Harus Pergi.


__ADS_3

Detik menit berganti jam, Gita hanya gulang guling sepanjang malam, ia tidak bisa memejamkan mata. Wanita berusia 28 tahun yang berkulit putih itu tidur menggelar kasur lipat dibawah tidak mau tidur bersama suaminya.


Hingga terdengar gema adzan subuh, ia bangun melipat kasur kembali dan menyandarkan disudut ruangan.


Ia bersujud berserah diri kepada Allah, setelah mandi dan ambil air wudhu. Agar diberi kekuatan untuk menjalani hidup yang semakin rumit.


Bersamaan dengan itu Alfred pun membuka mata menyapu seluruh ruangan. Ia terperangah tatkala pandanganya tertuju kepada Gita yang sedang berdoa dengan khusyu.


Alfred kebingungan ia ingat seketika bahwa tadi malam ia mabuk berat dan diantar oleh seorang wanita. Dan motornya pun entah kemana, mungkin masih di club malam. Habis sudah kini riwayat Alfred mungkin hanya sampai disini. Belangnya sudah tertangkap oleh dua wanita yang kini menjadi istrinya.


"Gita..." ucapnya dengan suara serak kas bangun tidur, seraya berjalan mendekati istrinya lalu memeluk Gita yang sedang membuka mukena.


"Jangan sentuh aku Fred, sebelum kamu berjanji, untuk tidak menyentuh minuman laknat itu!" ketus Gita menyentak tangan Alfred.


"Sorry... aku minum sedikit Git, karena pusing," Alfred beralasan.


Gita berdiri meninggalkan Alfred lalu duduk di ranjang, keduanya saling diam.


Alfred menatap wajah Gita seperti mengobarkan api peperangan, ia berkeringat dingin. Dua wanita yang selalu mendambakan dirinya kini semua berubah siap menyerang.


"Siapa wanita yang bernama Diah itu Fred?" tanya Gita to dhe point.


Alfred terkesiap, lidahnya merasa kelu untuk bicara, darimana Gita tahu? pikirnya.


"Siapa dia Fred?!" bentak Gita.


"Di-dia..." Alfred gagap menjawabnya.


"Jawab yang jujur, Fred?!" Gita lantas berdiri didepan Alfred yang masih duduk diatas sadjadah, tetapi bukan habis shalat.


"Di- dia... i-istri aku ju-ga," Alfred seperti orang yang akan diterkam hari mau sangking takutnya.


Buk, buk.


Gita memukuli Alfred dengan bantal, kini hatinya hancur, ia sudah berani melawan ayahnya, hanya untuk membela pria tidak berguna seperti Alfred.


"Kamu laki-laki pembohong Alfred, ceraikan aku, ceraikan aku Alfred...!!" buk buk.


"Mommy... jangan pukul Daddy..." Freddy berlari masuk kedalam lalu merangkul tubuh Alfred menghalangi agar Mommy tidak terus memukuli, Freddy tidak tahu hanya dipukul dengan bantal mana mungkin terasa sakit.


*******


Di salah satu kamar rumah Mawar selesai shalat gadis cantik, duduk termenung diatas sadjadah.

__ADS_1


Ia merasa rindu dengan Abim pria yang dicintainya. Dia adalah Melati, bertanya-tanya dalam hati, mengapa setelah menolong dirinya, Abim sama sekali tidak mau menemui atau setidaknya kirim pesan.


Melati ingin mengucapkan terimakasih kepada Abim tanpa dirinya entah bagaimana nasipnya. Dan juga ingin mengambil keputusan menerima Abim merajut cinta kembali yang telah terkoyak.


Tetapi rasa malu lebih besar daripada mengakui rasa cintanya. Melati ingin memulai hidup bersama Abim, tetapi bagaimana caranya? tentu tidak mungkin Melati mengutarakan maksudnya.


Melati berharap Abim datang menemui dan mengulang kembali yang pernah Abim katakan kepadanya.


"Mel, aku mencintaimu,"


Tetapi Melati hanya bermimpi nyatanya tidak lagi mendengar kata itu.


"Mel, kamu sudah shalat?" tanya Mawar tiba-tiba masuk kamar Melati.


"Astagfirlullah... kaget kak" Melati mengelus dadanya.


"Kamu lagi mikir apa sih... pagi-pagi kok melamun?" Mawar terkekeh.


"Nggak melamun kok," jawab Melati.


"Jangan bohong Mel, sudah beberapa hari ini, kakak perhatikan... kamu sering melamun." Mawar Diam-diam memperhatikan adiknya.


"Kak, menurut kak Mawar, bagaimana sih... kalau kita sebagai wanita mengutarakan cinta lebih dulu?" tanya Intan pipinya merah malu.


"Ini kan misalnya kak."


"Tergantung," jawab Mawar pendek.


"Kok tergantung?" Melati bingung kakaknya ini ditanya berbelit-belit.


"Tergantung bagaiaman awalnya Mel, bukankah kamu pernah bercerita sama kakak, kalau Abim pernah mengutarakan perasaannya sama kamu,"


"Kok jadi Abim sih kak?" Melati masih pura-pura.


"Jangan menutupi-menutupi sama kakak, Mel, kakak tahu, kalian itu sebenarnya saling mencintai kan? hanya kalian itu malu mengakui," kata Mawar benar adanya.


"Tidak usah menunggu Abim Mel, jika kamu memang mencintainya cepat utarakan, kamu nggak ingin kan? Abim jatuh cinta dengan wanita bule di Eropa sana?"


"Maksud kakak?" Melati menatap Mawar lekat.


"Abim berangkat hari ini loh, jam sembilan nanti, cepat telepon! utarakan," titah Mawar.


"Apa? bukankah... masih seminggu lagi kak?" cecar Melati.

__ADS_1


"Masalah itu kakak nggak tahu, tadi soalnya dia telepon kakak, minta maaf karena nggak bisa menjenguk Syifa dalam waktu yang lama." tutur Mawar panjang lebar.


"Kakak... kenapa nggak bilang dari tadi?" Melati lantas berdiri membuka lemari ambil baju sweater panjang yang ia gantung, memakai kerudung bergo, ambil tas slempang memasukan handphone yang tergeletak di tempat tidur.


Mawar menatap adiknya bingung yang sedang kalang kabut.


"Aku berangkat kak" ucapanya tanpa menunggu jawaban Mawar, sambil berjalan lalu memesan taksi.


"Mel... bawa bekal roti" suara Mawar masih terdengar samar-samar namun Melati tidak lagi menoleh.


Melati menunggu taksi saat ini sudah jam 6 jika berangkat jam 9 itu artinya jam tujuh Abim sudah berangkat ke Bandara. Melati gelisah.


********


Abim didalam kamar sedang bersiap-siap memasukan pakaian dari lemari kedalam koper yang hendak ia bawa. Dan juga surat-surat penting, pasport, dan lain sebagainya, tidak lupa juga Abim memasukan foto Melati yang ia ambil dari album dilantai bawah tadi malam.


Aku berangkat Mel, mencintai tidak harus memiliki jika kita berjodoh kemanapun kita akan bertemu.


Abim mencium foto melati lalu memasukan kedalam koper.


Tak tak tak


Abim berjalan cepat menuruni tangga sambil membawa koper.


"Ma... Pa... Abim berangkat ya" Abim mendekati kedua orang tuanya kemudian mencium punggung tangan beliau.


"Kamu hati-hati disana ya Nak" mama memeluk anak sulungnya erat tangisnya pecah, walaupun dulu mama berpisah dengan anaknya lantaran sekolah di luar kota. Tetapi setidaknya masih bisa berkunjung setiap bulan. Tapi ini selama dua tahun? memikirkan selama itu mama Ina benar-benar sedih.


"Mama... jangan sedih dong..." Abim mengusap air mata mama, lalu memegang pundaknya. "Abim kan sudah bilang Ma, saat libur semester nanti... Abim jenguk Papa, Mama." hibur Abim.


Intan tidak bisa berkata apa-apa hanya bisa menangis. Walupun sering adu mulut dengan kakaknya karena hal sepele, tetapi mereka saling menyayangi.


"Kamu sudah bertekad, jauh-jauh pergi dari Indonesia, ingin menuntut ilmu, pesan Papa... kamu yang serius ya Nak" papa mengusap kepala Abim.


"Iya Pa" ucapnya singkat kemudian memeluk papa erat.


"Kakak... hiks hiks, kenapa kakak harus pergi... kenapa nggak disini saja..." Air mata Intan yang sudah sejak tadi ia tahan pun luruh.


"Dek, kakak tuh... pergi cuma sebentar loh, kok kamu ikutan menangis?"


"Sudah ya... kakak berangkat, nanti kakak terlambat" pungkas Abim.


Abim berangkat bersama supir, diantar mama, papa, dan juga Intan.

__ADS_1


.


__ADS_2