
"Diah... maafkan aku. Selama ini aku hanya bisa menyusahkan kamu, aku pergi" Alfred mengakhiri kata. Kemudian keluar membuka pintu lalu menutupnya kembali.
Dengan rasa sesak di dada. Diah menatap langkah gontai Alfred yang saat ini sudah tidak ada lagi hubungan suami istri itu melalui jendela. Tangisnya pecah.
Diah lantas merosot kebawah duduk di lantai, bersandar tembok. Ia menatap keatas menyusut air matanya dengan jari. Inilah akhir penjalanan cintanya dengan Alfred. Tidak seorangpun pasangan suami istri yang ingin bercerai. Namun, hanya jalan inilah, jalan terbaik yang harus ia tempuh, untuk kebaikan semua.
Toh Alfred sejauh ini tidak menyayangi Syifa. Cukup Syifa yang menjadi korban keegoisan dirinya dan juga Alfred. Jangan ada lagi anak yang tersakit. Biarlah jika suatu saat nanti Syifa beranjak dewasa, dan mau mengakuinya sebagai ibu, ia akan jelaskan semua.
Dulu ketika bercerai dengan Abim kenapa tidak sesakit ini? namun mengapa kini teramat sangat menyayat hati. Mungkin lantaran mereka sudah dikaruniai anak. Diah lantas berdiri dengan tertatih-tatih ke kamar mandi. Ia berniat mandi dan shalat isya. Hanya Allah tempat Diah untuk mengadu.
*******
Begitu juga dengan Alfred, sebelum menyalakan motornya, ia menatap pintu kontrakan Diah. Rasanya berat sekali mengapa harus berpisah? Tidak disangka perjalanan cintanya dengan Diah hanya sampai di sini.
Jujur, Alfred sangat mencintai Diah. Alfred menyalakan motornya kemudian pergi.
******
Pagi hari burung-burung berkicau merdu di pepohonan. Daerah yang terisolir. Namun, pohon di bukit tumbuh rindang terlihat dari bantaran sawah. Siapapun akan betah di tempat ini. Namun, kampung ini penduduknya nyaris habis, ditinggalkan penghuninya pergi merantau. Lantaran ingin mencari kehidupan yang lebih layak. Jika ada yang tinggal hanya orang-orang yang usianya tidak lagi muda. Padahal jika mereka mau mengelola sawah-sawah itu justeru menghasilkan mata pencaharian.
Bu Reny duduk termenung menatap ikan cere yang sedang berlarian entah apa yang beliau pikirkan.
"Mbak Reny, apa kabar?" Gini menyalami istri saudara sepupunya itu.
"Kabar baik, hanya Mas Mu, yang sedang sakit keras."
"Iya Mbak, saya juga mendengar kabar itu, tapi mau menengok belum sempat. Si bungsu susah ditinggal" tutur Gini.
"Terus... kenapa Mbak Reny, justeru pulang sendiri? bukan merawat Mas Renggono yang sedang sakit?" cecar adik sepupu pak Renggono yang bernama Wagini. Gini menemui bu Reny yang sedang duduk di saung pinggir sawah.
Sepupu pak Renggono mendengar kabar bahwa kakak sepupunya sedang sakit. Tetapi mengapa istrinya justeru meninggalkan suaminya? Walaupun Gini sudah bisa menebak istri sepupunya ini orang seperti apa. Orang sekampung pun tahu bu Reny tidak disukai tetangga karena kelakuanya yang buruk. Tetapi seburuk-buruknya istri, jika suaminya sedang sakit pasti akan merawatnya.
"Masmu itu kan memang sudah tua Gin, sering sakit-sakitan. Dia itu sudah pikun nggak mau diurus sama saya"
"Saya sedih, karena malah diusir, nggak nyangka to? Kang Mas mu jadi seperti itu" bu Reny ternyata pulang ke kampung, dan menjadi pembohong sukses.
"Masa sih Mbak?" Gini mengerutkan dahi. Setahunya Mas Renggono baru berumur 55 tahun, jarang usia segitu sudah mengalami pikun.
"Benar, terus kedatangan saya kemari, juga diutus sama Adit," ucapnya sambil menopang dagu menatap sawah pura-pura sedih.
__ADS_1
"Di utus apa Mbak?" tanya Gini semakin berkerut.
"Kata Adit, saya disuruh ambil sertifikat rumah Mas kamu. Soalnya biaya berobatnya habis banyak"
"Jadi... Adit nggak sanggup lagi membayar tunggakan rumah sakit yang semakin membengkak." tuturnya meyakinkan.
Gini tidak menolak dan juga tidak mengiyakan. Masalah sertifikat warisan dari kakek Gini, dan Renggono belum dipecah. Jadi harus berunding dengan keluarga besar keturunan kakek.
********
"Mommy nakal, kenapa Mommy mengusir Daddy" hu aaaa..." Freddy menangis menjerit-jerit guling-guling di kasur. Daddy nya malam ini tidak pulang. Freddy rupanya mendengar pertengkaran orang tuanya sore tadi.
"Sayang, kamu belum mengerti Nak, sekarang bobo dulu, besok Daddy pasti pulang," Gita bingung bagaimana caranya menenangkan anaknya.
"Mommy bohong! Mommy nggak sayang Daddy. Freddy mau ikut Daddy saja," hu aaaa..."
"Ya sudah... kita telepon Daddy ya, Freddy yang telepon" Gita menggeser layar, mencari nama daddy, menekan tombol. Lalu memberikan kepada Freddy. Namun tidak di angkat-angkat anak umur 4 tahun itu kesal.
"Tuh! Daddy marah kan! telepon Freddy nggak diangkat!"
Prookkk" Freddy melempar handphone ke lantai hingga hancur berantakan.
"Biarin, tadi Mommy juga melempar penggorengan," hu aaa..." Rupanya drama Gita membanting penggorengan tadi sore, langsung di tiru Freddy.
Gita meninggalkan Freddy yang sedang menangis. Ia duduk di sofa mengamati handphone tanpa berniat membereskan.
Gita tahu, Fredy memang dekat dengan ayahnya. Alfred selalu mengajak main bola, main catur, dan permainan laki-laki yang lain. Gita tidak bisa melakukan itu.
Freddy terus menangis malam pun telah larut kemudian tidur dengan sendirinya karena lelah menangis.
Gita mendekati anaknya yang sudah terlelap, menyingkirkan rambut yang menutup wajahnya, kemudian mencium pipinya sayang.
Gita lalu memeluk anaknya air matanya membasahi bantal. Ia bingung, keputusan apa yang harus ia ambil saat ini? jika nekat bercerai khawatir mempengaruhi psikis Freddy. Namun jika tetap bertahan tentu ia tidak ingin di madu.
*******
Keesokan harinya, selesai shalat Gita berniat membangunkan Freddy.
"Daddy... Daddy..." rintih Freddy bocah kecil itu meringkuk, memanggil-manggil daddy nya.
__ADS_1
"Freddy..." Gita langsung merengkuh tubuh Freddy. "Astagfirlullah... kamu panas sekali Nak" Gita berjalan cepat menuju P3K ambil termometer. Kemudian kembali lagi meletakkan alat pengukur panas itu menyelipkan kedalam ketiak Freddy.
"Daddy..."
"Sabar ya sayang... ya Allah..." Gita menelisik termometer, suhu tubuh Freddy mencapai 39. Gita lantas keluar menuruni tangga.
"Suster..." Gita berjalan setengah berlari memanggil baby sitter.
"Iya Non" baby sitter yang sedang membuatkan sarapan khusus untuk Freddy segera menghampiri Gita yang sedang panik menuruni tangga.
"Siapkan mobil sus, kita segera membawa Freddy ke dokter"
"Memang Freddy kenapa Non?" tanya suster kemudian mengambil kunci mobil yang digantung.
"Panas banget" jawab Gita lalu kembali ke lantai atas. Sampai di kamar Freddy menggigil.
"Daddy... please... pulang Dad" lirihnya sambil memeluk guling.
"Ayo sayang... kita ke Dokter ya..." Gita ingin menggendong Freddy. Namun Freddy mendorong tangan mommy nya.
"Freddy nggak mau ke Dokter Mom, Freddy mau Daddy," kukuh Freddy.
"Iya sayang, nanti kita cari Deddy ya" Gita menggendong Freddy menuruni tangga. Lalu keluar. Baby sitter sudah memanaskan mobil diluar.
"Cepat sus, ke rumah sakit Ibu dan Anak saja" kata Gita.
"Baik Non" suster mengemudikan mobil bos nya. Sementara gita, memangku anaknya sambil mengajaknya bicara. Mendadak mata Freddy mendelik keatas. Tubuhnya berguncang hebat diiringi gerakan menyentak giginya mengunci.
"Suster cepet sus, Freddy kejang sus," hiks hiks.
"Iya nyonya"
Gita bingung apa yang harus ia lakukan, Ia hanya menangis sepanjang jalan sambil berdoa, semoga Freddy selamat.
Mobil yang dikendarai baby sitter sampai didepan rumah sakit.
Baby sitter membukakan pintu untuk bosnya. Lastas segera berlari mendahului Gita masuk kedalam rumah sakit menuju UGD. Sementara Gita membopong anaknya yang sudah tidak sadarkan diri.
"Sayang... tahan ya Nak" begitu terus ucapnya sambil menangis tidak berhenti berdoa. Gita merutuki dirinya sendiri menyesal karena telah membentak anaknya tadi malam. Jika terjadi apa-apa dengan Freddy Gita tidak akan bisa memafkan dirinya sendiri.
__ADS_1
.