
"Sekarang kan kita sudah lulus, terùs apa rencana kalian?" tanya Melati ketika selesai makan siang disalah satu Cafe.
"Gw sih sudah kerja, gaji lumayan, tapi gw pengen buka usaha apa gitu, tapi masih bingung," jawab Alex lalu meneguk mocacino.
"Gw juga sudah kerja, tapi gajinya hanya cukup untuk gw sendiri, belum bisa ngasih ibu," kata Risda sedih.
"Apa lagi gw, dengan keadaan badan gw yang gendut dijadikan alasan perusahaan untuk tidak menerima karyawan seperti gw," keluh Bombom.
"Makanya loe, jangan perut aja loe gedein, makan sepiring mentung masih nambah," seloroh Alex.
"Jangan menghina loe Lex, gw sumpahin loe jadi kerbau." Bombom menjitak kepala Alex.
"Hais, kalian jangan bercanda dong... gw ada renaca nih" Melati berkata serius.
"Apa?" tanya mereka.
"Gw punya rencana, ingin membuka usaha, membuat ice cream, bermacam-macam rasa, tapi kendalanya modal gw belum cukup" "Nah... bagaiaman kalau kita join, untuk membeli freezer, lalu kita rintis usaha kita, bersama" usul Melati.
"Waah... ide bagus tuh Mel, gw setuju" Alex bersemangat.
"Nah, kalau kalian setuju... bagaimana kalau kita mulai usaha?" tanya Melati menatap ketiga sahabatnya bergantian.
"Gw juga setuju Mel, gw punya sih tabungan, walaupun nggak banyak." Risda tak kalah antusias.
"Terus terang, kalau modal gw nggak punya, tapi jika tenaga gw dibutuhkan gw siap," kata Bombom terus terang.
"Okay... kalau gitu... kita sama-sama menanam saham semampu kita, punya seberapa pun, nggak usah dipaksakan, dan loe Bom, kalau loe belum punya modal, mendukung tenaga saja kita sudah senang," pungkas Melati.
Selesai membahas kerja sama, mereka pulang. Alex mengantarkan Melati, sebab tadi pagi Melati berangkat bersama Mawar jadi tidak membawa motor.
Disalah satu taman Alex menghentikan motornya.
"Kenapa berhenti disini Lex?" tanya Melati.
"Kita lihat danau yang baru diresmikan kemarin ya" kata Alex.
"Boleh sih... tapi jangan lama-lama, gw mau menjenguk saudara yang sedang melahirkan." kata Melati.
Mereka benar melihat Danau, sebenarnya Alex ingin mengutarakan niatnya kepada Melati, tetapi lagi-lagi urung. Alex akhirnya mengantar Melati kerumah sakit dimana Diah dirawat.
********
Abim meng-Adzani anaknya lalu menidurkan kembali di box bayi. Ia masih tertegun memandangi bayi yang mempunyai rambut, dan alis putih, kulit putih pucat, kehilangan pigmen, mata biru terang, pupil seperti transparan.
Abimanyu masih berpikir keras, anak albino biasanya karena factor genetik, sementara dari keluarga besarnya tidak ada gen seperti itu. Abim pun menyimpulkan, terjawab sudah keraguanya selama ini.
Yang menjadi pertanyaan adalah; siapakah ayah biologis anak Diah?
"Tuan... anaknya akan saya pindah keruang rawat" kata suster mengejutkan Abim.
"Baik sus"
__ADS_1
Bayi digendong suster masuk keruang rawat. Abim mengikuti.
Sementara Diah, sedang di bersihkan oleh salah satu perawat.
Suster memandangi Abim dari samping, lalu mengalihkan pandangan kepada bayi.
Mengapa ayah dan ibu anak ini, wajahnya berbeda? suster lantas kembali keluar setelah menidurkan baby di box, tidak lagi ingin pusing memikirkan orang lain.
"Tunggu sus" Abim menghentikan suster.
"Ada apa Tuan?" tanya suster.
"Saya titip anak saya sebentar sus, mau panggil neneknya dulu," kata Abim minta tolong.
"Baiklah" suster kemudian kembali masuk, duduk dikursi menunggu baby.
"Pa, Ma, anaknya sudah dipindah keruang rawat," Abim memberi tahu.
"Kok anaknya sih, Bim... anakku gitu dong, nyebut anak sendiri kok begitu," protes mama.
Abim tersenyum masam, dan tidak luput dari perhatian papa. Kemudian mama berjalan lebih dulu ingin cepat menimbang cucu pertamanya.
"Kenapa kamu? sepertinya tidak senang dengan kehadiran anakmu?" tanya papa ternyata peka dengan anaknya.
"Bukan tidak senang Pa, tapi... nanti Papa lihat saja, sendiri," jawab Abim. Entah senang atau sedih, yang dirasakan Abim, yang jelas saat ini pikiranya sedang kacau.
Setelah diah sehat nanti Abim akan mencecar Diah siapa ayah anaknya, dan akan menemui pria tersebut agar mereka bisa hidup bahagia bersama keluarganya.
"Pa" mama lalu menatap papa seolah memberi tahu. Ini loh cucumu. Tapi hanya dalam hati.
Papa mendekati cucunya, reaksi papa tidak seperti mama maupun Abim, namun tampak biasa saja.
"Diah belum dibawa kesini ya Bim?" tanya Mama, jarinya menelusuri wajah cucunya.
"Seperti apapun keadaanmu, jadilah anak shaleh nak," bisiknya di telinga cucunya, mengecup pipi cucunya sayang.
"Begitulah anak Abim, Ma" lirih Abim, tahu apa yang dipikirkan mama, tanpa menjawab pertanyaan mama mengenai Diah yang belum selesai di bersihkan perawat.
"Seettt... seperti apa cucu mama, ini titipan Allah Bim, kita harus mensyukuri" titah mama lalu menidurkan baby.
Sementara papa sepatah kata pun tidak berbicara.
Beliau saling diam tidak lagi membahas cucu nya, kemudian mengajak istrinya shalat maghrib di mushola rumah sakit. Selepas magrib beliau pulang.
"Oeeekk... oeeekkk... baby menangis kencang. Tangan kekar itu mengangkat bayi mungil itu lalu menggendongnya. Namun bayi tidak juga diam.
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam"
Abim mendengar suara yang di kenal bersama pria yang dulu pernah bertemu dipuncak masuk kedalam.
__ADS_1
"Loh, kok menangis kak?" Melati mendekati bayi dalam gendongan Abim bersama Alex. Kedua remaja itu terkejut melihat wajah baby, namun berusaha menyembunyikan.
"Waahh... lucunya..." ucap Melati, tapi baby terus menangis.
"Ada susu kak?" tanya Melati kemudian.
"Ada Mel, aku sampai lupa" jawab Abim berniat membuat susu.
"Aku buatkan kak" Melati segera membuat susu, mengukur air hangat dan air dingin. Ia sudah tahu takaranya karena dulu sering membuat susu untuk Bhanu anak Mawar.
"Mel, loe merasa aneh nggak, dengan anak, saudara mu itu?" tanya Alex bicara pelan agar tidak terdengar Abim, walaupun samar dengan tangis bayi.
"Iya Lex, tapi biar saja," jawab Melati. Alex pun tidak bertanya apapun lagi.
Melati sedang mengingat-ingat sepertinya pernah melihat wajah pria yang mirip anak Abim, sambil mengocok susu.
Otak cerdasnya berputar, ia ingat pernah memergoki pria yang mirip bayi itu, ketika dilampu merah beberapa bulan yang lalu saat berduaan dimobil bersama Diah.
"Ini coba dikasih susunya kak," Melati memberikan botol.
"Terimakasih Mel, aku jadi merepotkan" Abim merasa tidak enak hati.
"Sama-sama kak, nggak repot kok" jawab Melati. Mereka bertiga ngobrol sesaat kemudian pamit pulang.
Setelah isya, Diah didorong suster dengan kursi roda menuju ruang rawat. Mana anak kita Mas?"
Diah ingin segera melihat wajah anaknya.
"Di box" singkat Abim.
"Saya antar Non" suster mendorong kursi roda mendekati box.
"Tidaaakk..." pekik Diah. Suster terlonjak kaget. Untungnya mama Ina minta kamar yang hanya sendiri.
"Diah! pelankan suaramu," kata Abim.
"I-iya Non, Nona jangan teriak-teriak dulu, kan baru habis caesar." suster memberanikan diri untuk bicara.
"Tidak! dia bukan anakku" tegas Diah dengan wajah marah.
"Diah! kamu tidak boleh bicara begitu," Abim mengingatkan.
"Iya Non, ini anak Nona," suster meyakinkan wanita yang masih di kursi roda.
"Bukan! dia bukan anakku, pasti anakku tertukar dengan anak orang lain! iya kan Sus, ngakuk!" bentak Diah.
"Diah! astagfirlullah... istighfar Diah" Abim mendekati.
"Benar Non, ini memang anak Nona," suster menjelaskan sambil menjauh dari kursi roda, takut menatap wajah Diah yang sedang dikuasai amarah.
"Tidaaakk... ini bukan anakku!" kekeh Diah menatap suster tajam.
__ADS_1
.