
"Kenalkan dik, namaku Faisal" Faisal mengulurkan tangannya kepada Melati di depan Abim.
"Heh! ini istri gw dodol!" Abim mendorong tangan Faisal lalu tangan kirinya, melingkar di pundak Melati. Melati hanya tersenyum mengangguk sopan.
"Istri?" Faisal terkejut, lalu mundur. Faisal pernah melihat foto Abim dengan istrinya yang ditunjukan oleh Tio dulu, tidak secantik itu. Faisal menyeringai lalu menggaruk-ngaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Duduk loe! makannya tanya dulu" Abim melotot jengkel.
"Bim, memang bini loe ada berapa sih... kok beda sama yang dulu?" Faisal kembali maju lalu berbisik sungguh Faisal penasaran.
"Keppo loe! duduk sana"
"Ih! di tanya pelit banget" gerutu Faisal sambil berlalu duduk di kursi semula.
Bus pun akhirnya berjalan, Faisal ngobrol panjang lebar dengan Abim. Sedangkan Melati lebih asik melihat keluar kaca.Tidak terasa bus melewati apartemen mereka, kemudian turun.
"Bim, nanti malam gw boleh nggak, main ke tempat loe?"
"Boleh, tapi awas saja! loe berani gangguin bini gw" jawab Abim sambil mengangkat tinju.
"Ahahaha, tenang... sudah jadi bini loe mah gw jadi satpam bini loe saja, pasti di kampus banyak yang nggodain. Iya nggak Mel?"
Melati tidak menyahut hanya senyum sedikit.
Mereka berpisah, Abim ke lantai tiga sedangkan Faisal ke lantai lima.
"Capek banget tenyata" Abim lantas menjatuhkan bokongnya di sofa depan televisi, sambil merenggangkan otot.
"Lumayan... aku ganti baju dulu terus siapin makan siang ya kak,"
"Capek Mel, delivery saja," usul Abim, kasihan jika istrinya itu memasak.
Melati hanya mengangkat telapak tangan memberi kode 'jangan' lalu ke kamar mandi bersih-bersih, lalu ganti baju santai. Ia mengenakan celana selutut dan kaos longgar.
"Kak, ayo shalat dulu" Melati membuka pintu melihat Abim bersandar di sofa tampak memejamkan mata.
"Iya" Abim pun masuk ke kamar mandi sama seperti yang di lakukan Melati. Kemudian shalat dzuhur berjamaah.
Melati kemudian ke dapur setelah selesai shalat. Menyiapkan makan siang. Ayam yang sudah di ungkep tinggal menggoreng, dan memasak sayur sop tinggal menumis bumbu yang sudah Melati siapkan tadi pagi sebelum berangkat ke kampus.
Abim ambil air dari kulkas lalu duduk di meja makan. Memperhatikan istrinya yang sedang memasak tampak gesit.
"Aku bantu ya" ucapnya mendekati Melati.
"Bener mau bantu..." Melati menoleh Abim di sebelah.
__ADS_1
"Beneran"
"Ya sudah... kakak nguleg sambal goreng ya"
"Siap" mereka masak bersama sambil bercanda. Ayam goreng, sup sayuran, dan sambal goreng sudah siap di meja makan.
"Kalau begini terus, bisa kegemukan aku, di masakin sama kamu terus, ternyata kamu pintar masak ya," puji Abim setelah makan Abim yang mencuci piring. Awalnya Melati yang akan mencuci tapi Abim menyuruhnya duduk.
"Makanya kira-kira atuh Kak, biar nggak kegemukan," jawab Melati sambil merapikan meja makan.
"Kamu paling bisa menyahut, ayo aku mau bicara" Abim berjalan ke sofa selesai mencuci piring.
"Apa" Melati mengikuti lalu duduk di sebelahnya.
"Kamu manggilnya jangan kakak terus, orang mengira kamu itu adik aku kan" protes Abim.
"Terus, aku harus memanggil kakak apa?" Melati bingung lidahnya terasa sulit menyebut panggilan lain.
"Ya... apa kek. Yank, Beb, atau apa gitu" jawab Abim, lalu menyandarkan kepalanya di pundak Melati terasa nyaman.
"Ya sudah... karena Papa Wahid berasal dari Jakarta aku panggil kakak Abang saja" usul Melati.
"Boleh. Oh iya Mel, bagaimana kuliah pertama kamu?" Abim mengganti topik pembicaraan.
"Cewek apa cowok?"
"Cewek lah... Dinda namanya."
"Terus, yang cowok tadi?" tanya Abim yang di maksud Uiby.
"Oh itu mah, baru kenalan di luar tadi Bang" jujur Melati.
"Jangan-jangan, kamu nanti balas dendam sama aku Mel" rupanya Abim inceure dengan pria yang berkenalan sama Melati tadi.
"Dendam?" Melati mengerutkan kening.
"Iya, dulu kan aku pernah menolak kamu, terus... kamu balas dendam dech" Abim tampak serius.
"Ih! kalau bicara di jaga" Melati mencubit bibir Abim lalu berdiri menuju kamar. Abim memegangi bibirnya seraya tersenyum. Lalu mengejar istrinya.
"Eh, eh... mulai berani mencubit bibir aku ya "Abim lantas lompat ke tempat tidur. Menindih tubuh Melati yang sudah merebahkan tubuhnya di ranjang. "Abang mau ngapain? tadi katanya capek, siang-siang juga! sabar atuh, Abang!"
"Abaaaaang..."
"Seeeetttt... 🏃♀️🏃♀️🏃♀️
__ADS_1
*******
Pagi hari Gita membuktikan ucapanya ia mendatangi kontrakan Diah.
Gita turun dari mobil ingin segera menemui madunya untuk mengajak Alfred pulang. Sebab Freddy selalu merengek menanyakan kemana daddy nya, mengapa tidak segera pulang.
Gita mengangkat tangan yang awalnya ragu lalu memantapkan hatinya untuk mengetuk pintu. Namun berkali-kali mengetuk pintu tidak ada yang membuka.
"Mbak... mau mencari Diah?" tanya pemilik kontrakan. Yang tiba-tiba ada di belakang, mengejutkan Gita.
"Betul Bu, orangnya kemana ya?" tanya Gita. Gita tidak tahu bahwa Diah bekerja sebagai buruh pabrik.
"Kalau jam segini dia kerja Mbak, nanti sore baru pulang, Mbak ini siapa nya Diah?"
"Saya temanya Bu, ngomong-ngomong... suaminya kerja juga ya?" selidik Gita.
"Suami? Diah sudah cerai dengan suaminya Mbak. Bule tapi pengangguran, nggak pernah ngasih duit! tapi pengenya makan enak, kalau nggak dituruti ngajak ribut."
Tebak pemilik kontrakan padahal hanya kira-kira. Diah sama sekali tidak pernah menceritakan kejelekan suaminya, walaupun yang di katakan pemilik kontrakan benar adanya.
"Saya sebel sama suaminya, biarin saja cerai, laki-laki macam itu buat apa?" omel Ibu kontrakan seperti petasan berantai.
Deg. "Cerai Bu" Gita mengerutkan kening.
"Iya, Diah yang minta cerai, dia kan cuma nikah siri Mbak. Hampir tiap malam bertengkar sampai kami semua kebrisikan." imbuh ibu kontrakan semakin kesal.
"Oh gitu ya? kalau gitu saya pamit pulang, Bu" Gita menyalami ibu itu.
"Iya Mbak"
Gita masuk ke dalam mobil sambil menyetir ia berpikir, Alfred dengan Diah sudah bercerai? berarti yang dikatakan Diah benar adanya.
Alfred ternyata hanya menikah siri. Gita percaya bahwa Diah sudah bercerai menurut penuturan pemilik kontrakan tadi. Terlebih menikah siri mudah untuk bercerai tidak harus ribet mengurus ini itu.
Gita merasa bersalah emosinya mengalahkan logika, mengapa Dia tidak mau mendengar penjelasan Diah.
Gita memelantan mobilnya tatkala pandanganya menatap pejalan kaki yang lusuh di trotoar, dan wajah itu pria yang ia cari.
Tin... tin... tiiiinnnn....
Klakson mobil Gita menggema. Para pejalan kaki berhenti termasuk Alfred. Gita melambaikan tangan kearah Alfred melalui kaca mobil yang di buka separuh.
Alfred berjalan tampak ragu-ragu mendekati mobil Gita. Ia menghentikan langkahnya, menunggu intruksi istrinya.
Gita menatap suaminya, rambutnya acak-acakan, bajunya lusuh, dan dekil, seperti gelandangan. Bajunya masih sama ketika ia usir seminggu yang lalu. Wajahnya pun kuyu mungkin kelelahan berjalan. Motor bututnya yang biasa ia pakai entah kemana.
__ADS_1