
Abimanyu PoV
Puji syukur aku panjatkan kepada Allah yang telah memberikan jodoh terbaiknya untukku.
Aku cubit lenganku sendiri. "Auw" aku meringis kesakitan lenganku berwarna merah.
"Kenapa kak?" tanyanya lalu mendongak menatapku.
"Tidak" aku malu sendiri ternyata memang sakit, berarti aku tidak bermimpi. Bahwa gadis yang sepanjang malam tadi aku pikirkan sampai tidak bisa tidur kini menjadi istriku.
Aku takut setelah jauh darinya, ia akan pindah ke lain hati, tetapi saat ini aku sedang duduk diatas pesawat bersamanya.
Ya Allah... semoga pernikahanku yang kedua ini langgeng sampai kakek nenek.
Aku menatapnya ia sedang bersandar di jok bersedekap tatapanya lurus kedepan, tampaknya ia kedinginan.
"Kamu dingin?" tanyaku. Dia hanya tersenyum lalu ku lepas jaket ku.
"Pakai jaketku, supaya nggak dingin" lalu aku berniat memakaikan jaket ke tubuh rampingnya, namun ia menolak.
"Buat kakak saja, aku kan sudah pakai sweater" ia menggeser duduknya ke pinggir kaca. Rupanya ia masih belum terbiasa duduk berdekatan dengan aku.
"Hehehe... aku ini sekarang suamimu, jangan takut," sengaja aku menggodanya, ku buka sabuk pengaman lalu kupepet dia.
"Nggak takut kok" ucapnya lalu menatap keluar kaca. Aku sandarkan kepalaku dipundaknya.
"Kak... pakai sabuk pengamannya," ucapnya tanpa menoleh.
"Okay...." aku bergeser kupasang lagi sabuk, kemudian kami saling diam hingga akhirnya aku tertidur tidak tahu lagi apa yang ia lakukan.
Samar aku mendengar suara benda ditarik. Ternyata benar, pramugari sedang menarik troli memberikan makan malam.
Aku lirik jam dilengan, ternyata sudah jam tujuh malam, Astagfirlullah... aku melewatkan shalat maghrib. Berarti tujuh jam sudah kami diatas pesawat.
Aku menoleh istriku sedang gelisah. "Kenapa?" aku gapai tanganya, agar mendekat sebab aku tidak bisa bergeser lagi, terhalang sabuk pengaman.
"Aku pusing, sama mual kak" aku tatap wajahnya sedikit pucat.
"Kenapa, kamu nggak membangunkan aku? kamu lapar mungkin, makan dulu ya" aku berikan satu kotak nasi.
"Entar dulu kak, aku mual" ia mengulangi.
"Kamu mabuk uadara" aku sandarkan kepalanya didadaku. Dadaku berdegup kencang, aku pijit pelan pelipisnya.
"Kak perutku sakit" rintihnya.
__ADS_1
"Bentar ya" aku ambil minyak angin, setelah kepalanya aku sandarkan di jok.
Aku buka sabuk pengaman lalu berdiri, membuka katrol pesawat. Ambil obat-obatan yang sudah aku persiapkan jauh-jauh hari.
"Pakai minyak angin dulu" aku buka minyak angin lalu tanpa pikir-pikir lagi, aku singkap kaos berniat membaluri perutnya. Astagfirlullah... tanganku bergetar.
"Aku saja" ia terkejut juga, lalu ambil minyak angin dari tanganku.
"Hueeekkk..." rupanya dia benar-benar mabuk. Namun tidak ada yang dimuntahkan.
Aku ambil air mineral lalu memberikan kepadanya. "Minum dulu" namun dia tetap menggeleng.
Bingung apa yang harus aku lakukan aku dekatkan minyak angin ke hidunganya, ia memejamkan mata tampak lebih baik.
Lalu aku tidurkan ia dipangkuanku. "Kamu tidur dulu ya, supaya enakan baru nanti makan," ia mengangguk lantas memejamkan mata, kembali aku piijit pelipisnya.
Subhanallah... wajahnya baru kali ini aku memandangnya begitu dekat. Hidungnya bangir bibirnya merah tanpa polesan, dalam keadaan sakit begitupun masih cantik.
"Kakak makan saja dulu" rupanya ia tidak tidur.
"Iya nanti bareng kamu, kamu tidur saja dulu biar sembuh."
Ia sedikit tenang kemudian aku mendengar dengkuran halus.
Melati PoV
Gredeg, gredeg.
Aku baru sadar ternyata di pesawat, pesawat rupanya menabrak-nabrak awan.
Tangan kekar melingkar di dadaku sapuan napas hangat menyentuh lembut wajahku. Pria tampan itu tampak tidur pulas.
Pria ini rupanya doyan tidur, semenjak dari Jakarta perutku kembung, kepala pusing, mual, dan ingin sekali muntah, tetapi aku takut membangunkan dia.
Aku tatap jakunya yang naik turun suami dadakan ini, rupanya perhatian juga. Buktinya tadi ia merawat aku, dan setelah dirawat nyatanya aku bisa tidur dengan pulas dipangkuanya pula.
"Kruuk...kruuk.
Perutku terasa lapar sejak pagi aku tidak makan apapun karena terburu-buru mengejar dia ke Bandara. Ketika siang hari pun tidak sempat makan masih tegang dengan pernikahanku.
"Ya Allah... tidak aku sangka pria ini begitu cepat menjadi suamiku hanya dengan hitungan jam, pernikahan yang begitu kilat.
Entah mimpi apa, yang jelas aku bahagia. Aku sebenarnya masih takut bersentuhan dengannya rasanya ingin menggeser tangan itu tapi khawatir bangun.
Tapi rasa laparku semakin menyerang mau tidak mau aku pindahkan tanganya.
__ADS_1
"Eh kamu sudah lebih baik?" rupanya ia terbangun padahal aku sudah pelan-pelan.
"Sudah... terimakasih ya," aku tersenyum kepadanya.
"Kamu makan dulu, perutmu kosong loh" ucapnya. Aah... hatiku berbunga-bunga hanya kata itu saja sudah membuatku diawang-awang.
"Iya, tapi aku mau ke toilet dulu" jawabku sebenarnya aku ingin ke toilet sejak sore, tetapi takut bilang.
"Ayo" dia lantas membuka sabukku kepalanya tepat dibawah dagu aku. Aroma rambunya wangi.
"Aku pegang biar nggak jatuh" ucapnya lalu memegang pundakku dari belakang. Kami lantas berjalan ke toilet.
"Aku ikut masuk nggak?" tanya dia sambil tersenyum.
"Nggak usah" aku segera menutup pintu perlahan. Setelah kembali keluar rupanya ia masih menunggu.
Kami kembali ke tempat duduk menggunakan sabuk pengaman kemudian membuka kotak menu makan malam yang sudah dingin terkena ac.
"Kamu mau pesan apa lagi? ini daftar menunya," ucapnya sambil membuka katalog makanan.
"Cukup kak" setelah minum aku kembali mengantuk.
"Bobo sini lagi" ia menarik pundakku menidurkan dipangkuanya kembali, lalu menyelimuti aku dengan jaket.
Aku kembali pulas hingga akhirnya pipiku terasa ditepuk-tepuk pelan. Aku membuka mata.
"Kita sudah sampai."
Aku turun dari pesawat, saat ini malam hari. Perjalanan Idonesia Zurich hampir 18 jam saat ini sudah jam 12 malam.
Abim mengajak aku naik taksi menuju hotel terdekat 15 menit kemudian kami sampai di hotel.
"Capek banget ya?" tanyanya kemudian melingkarkan tangannya kepundak. Setelah kami masuk kedalam hotel.
Lelahku terasa hilang tatkala sampai didalam kamar hotel yang cukup mewah. Yang aku tahu biaya hidup ditempat ini cukup mahal. Lalu berapa suami baruku ini, menyewa hotel yang mewah? cek cek cek aku berdecak kagum.
Apa aku tidak salah dengar ketika Diah pernah mengadu dengan kak Mawar, jika Abim tipikal suami yang pelit?
"Kamu kekamar mandi dulu gih" titahnya mengejutkan lamunan aku. Ketika aku masih menatap terkesima ruangan hotel sambil bersandar di sofa. Ia tampak hanya mengenakan handuk kimono fasilitas hotel dengan rambut yang masih basah.
"Kak, nggak salah ya, kita menginap disini?" tanyaku.
"Kenapa gitu?" ia balik bertanya dengan dahi berkerut sambil menggosok kepalanya dengan handuk.
"Kenapa kita nggak langsung apartemen saja sih kak? hotel ini kan mahal,"
__ADS_1
"Sudah... jangan pikirkan itu kita kan sendang honeymoon." ia tersenyum lantas berdiri di depan ku.
.