
Diah menjerit histeris ketika pak Renggono, mengajaknya pulang kerumah. Yang Ia inginkan pulang kembali kerumah Abim.
"Tidak usah seperti anak kecil Diah... jodoh saya sama kamu, hanya sampai disini" kata Abim saat ini mengajaknya bicara dari hati ke hati.
"Mas tega... aku nggak mau bercerai, aku ingin kita hidup bersama, dan memperbaiki semuanya," rengek Diah entah benar atau tidak kata yang keluar dari bibirnya.
"Sekarang lebih baik, temui pria yang sudah meniduri kamu, ajaklah menikah, jangan terus menerus berbuat dosa!" pungkas Abim.
"Sudah berapa kali aku bilang, aku nggak pernah selingkuh" bantah Diah menggenggam tangan Abim Diah bersimpuh di depannya.
Abim tidak lagi menjawab, ia menatap pintu keluar rasanya ingin berlari cepat pulang.
"Sudah lah Diah, lebih baik kita pulang," pak Renggono membantunya berdiri.
"Benar kata Bapak Diah, ayo," Mawar yang sedang berdiri disamping mertuanya menggendong Almassyifa, menepuk pundak Diah.
"Ayo Diah" Adit yang awalnya diam membangunkan adik tirinya.
Abim lantas berdiri, menyingkirkan tangan Diah yang memegang lututnya.
"Saya duluan Pak" ucapnya, setelah menyalami mertuanya dan mencium Syifa lantas keluar menuju parkiran motor. Tidak lagi menoleh kebelakang, walaupun mendengar suara Diah yang terus menerus memanggilnya.
Abim menjalankan motornya, kini perjalanan hidupnya dengan Diah telah berakhir.
Gagal, pasti. Hancur, iya. Tertekan sudah pasti. Namun, inilah pilihan terbaik yang harus ia Ambil, jalan kedepanya masih panjang.
Banyak pelajaran yang bisa ia ambil dari pernikahannya dengan Diah, sungguh menyakitkan memang. Namun, ya sudahlah, mungkin ini teguran dari Tuhan, jangan bertindak sendiri, demi cinta sampai rela berseteru dengan orang tua.
Kini Abim menyadari, restu orang tua penting sekali, karena restu merupakan sebuah doa, dan doa amatlah penting dalam kehidupan, karena restu orang tua adalah restu Allah.
Tidak terasa motor Abim sampai dirumah. Yang pertama kali ia tuju adalah kedua orang tuanya.
"Mama... Papa..." Abim menghambur ke pelukan mama yang sedang duduk santai dengan papa sambil menonton televisi.
Beliau sengaja libur karena berniat menjemput Syifa, tetapi ternyata Abim sudah pulang tanpa Syifa.
Abim menumpahkan segala rasa, air matanya berderai telungkup di pangkuan mama. Sesombong apapun seorang anak, pada akhirnya akan kembali mencari orang tuanya saat terpuruk.
Begitu juga sebaliknya sekeras apapun orang tua memenggang teguh prinsip dalam hidup, tetap akan luluh juga dengan airmata anak.
"Abim... yang sabar, ya Nak" tangan halus mengusap kepala anak kandunya sayang.
__ADS_1
"Maafkan Abim, Ma" Abim mengangkat kepala menatap mama lekat dengan mata yang berkabut, keduanya larut dalam tangis.
Begitulah, seberapa kuat seorang anak, seberapa tua usia anak, jika hatinya sedang sakit rangkulan orang tua adalah obat yang manjur.
Abim memutar bola matanya beralih menatap papa yang duduk disebelah mama. "Papa... hu huuu..." Abim tergugu. Baru kali ini, memeluk papa setelah menikah, terakhir memeluk papa, saat menikah setahun yang lalu.
"Maafkan Abim Pa, seandainya Abim dulu tidak membantah Papa, dan Mama, Abim tidak akan seperti ini," Abim kembali terguncang menangis tersedu-sedu seperti saat tk dulu menginginkan sesuatu tidak dituruti.
"Sudahlah Nak, Papa sudah memaafkan kamu, sebesar apa kesalahan yang kamu perbuat, Papa tidak pernah mendoakan kamu yang jelek." papa mengelus punggung anak sulung kesayangan.
Memang benar, walaupun menentang keras hubungan Abim dengan Diah mama maupun papa selalu berdoa agar anaknya bahagia.
"Terimakasih Pa" Abim kembali mengangkat kepala lalu duduk di tengah antara papa dan mama.
"Kamu sudah pulang Nak? Mama pikir nanti sore, Papa sama Mama berniat menjemput kamu," sesal mama.
"Nggak apa-apa Ma, Abim kan bawa motor" Abim nempel di pundak mama seolah tidak ingin kehilangan momentum seperti ini.
"Terus Syifa mana?" sebenarnya keluarga Abim sudah sepakat ingin merawat dan menyayangi Syifa.
"Sama kak Mawar, Ma" Abim lalu menceritakan kepada mama maupun papa, bahwa Mawar dan Adit ingin mengadopsi Syifa.
"Jangan banyak pikiran Bim, perjalanan kamu masih panjang," pungkas papa.
"Iya Pa." Dengan langkah gontai Abim masuk kedalam kamar. Ia menelisik ruangan yang sudah empat bulan tidak ia tiduri, setelah pindah kerumahnya sendiri.
Abim merebahkan tubuhnya di kasur, ia menatap foto pernikahan yang berbingkai besar.
Hatinya kembali runtuh, tidak menyangka pernikahanya akan berakhir seperti ini.
Jika ingat saat merajut impian dengan Diah sungguh memimpikan yang indah-indah.
Abim bangun dari tidurnya lantas jinjit menurunkan bingkai. "Semoga kamu bahagia bersama pria lain Diah" gumamnya. Lalu menggulung bingkai tersebut.
********
"Unda, unda... ini dedek, Bhanu?" tanya Bhanu ketika Mawar memperkenalkan Syifa kepada anaknya.
"Iya, dedek Syifa ini, adik kamu," terang Mawar, kemudian menidurkan Syifa di box setelah Adit mempersiapkan semua.
"Nanti Bhanu jadi ada teman main," Adit yang sedang membantu Mawar merapikan pakaian Syifa yang barusan mereka beli menimpali.
__ADS_1
"Kelual dali pelut, Unda, Yah?" Bhanu tampak lucu dengan bahasa cadelnya, memegangi perut bundanya.
"Ya... nggak keluar dari perut bunda, sih... tapi Bhanu nggak apa-apa kan?" Mawar mengajak anak kandunya berbicara seperti orang dewasa.
"Ndak apa-apa Unda, aku teneng," Bhanu anak paud itu tersenyum.
"Oh... pantesan... kulitnya, matanya, lambut, hidung, beda sama Bhanu." Bocah kecil yang mirip Mawar dan Adit itu, kemudian berlari menghampiri kaca, memandangi wajahnya sendiri meraba-raba. Bhanu kemudian berlari menghampiri Mawar kembali.
"Iya Bun, memang beda," ucapnya, lalu menggaruk-ngaruk kepalanya. Bhanu masih belum mengerti mengapa Syifa berbeda dengan dirinya maupun teman-teman nya.
Adit mengamati tingkah anaknya di pinggir box mengulas senyum.
"Bhanu boleh gendong Bun?" Bhanu menoel-noel pipi Syifa.
"Sekarang belum boleh, nanti ya... kalau sudah agak besar." Mawar menjelaskan.
"Dulu waktu aku kecil, tegini juga ya, Bun?" tanya Bhanu matanya tidak berpaling dari wajah Syifa.
"Sama, kamu dulu juga segini, tapi sekarang sudah menjadi jagoan," Mawar mengusap pucuk kepala Bhanu keduanya pun tertawa.
"Pasti besalnya lama ya Unda" Bhanu bergelayutan di box.
"Nggak kok, asal dedek doyan makan, pasti cepat besar" Mawar menoleh Bhanu. "Tidak boleh gelayutan begitu kakak... nanti takut jatuh," kata Mawar.
"Kakak, Unda?" Bhanu terkejut dipanggil kakak lantas melepas tanganya yang memegangi box.
"Betul, Bhanu kan sekarang sudah punya adik," Adit yang menjawab.
"Holeee... aku jadi kakaaakkk..." Bhanu jingkrak-jingkrak kegirangan.
"Oeeek... oeeekkk,"
*******
"Maaf reader, budhe terlambat up, soalnya lagi sibuk membantu Melanti menyiapkan oborampe untuk membuka usaha barunya.🤣🤣🤣.
"Ikuti terus ya, apa yang akan terjadi setelah perceraian Abim. Akankah ia bahagia?
Apakah Diah, masih akan terus menggangu Abim? akan ada babak baru setelah ini.
Terus beri komentar, like, dan vote agar budhe selalu semangat.
__ADS_1