
Pagi yang dingin menusuk pori-pori walaupun tanpa menyalakan AC. Melati mengerjapkan mata, ia tampak kebingungan. Mata sayunya menyapu ruangan dimanakah dirinya kini berada?
Ia memiringkan badan pandangannya menangkap sosok wanita setengah baya yang meringkuk didepanya.
"Ibu" gumamnya, ia mengingat-ingat bukankah tadi malam dia berada di pesta, tetapi mengapa ia bisa tidur bersama ibunya?
"Astagfirlullah..." ia baru sadar, lalu duduk memandangi seluruh tubuhnya. Ia merasa lega, tidak ada yang lecet sedikit pun. Ia juga melihat baju yang dikenakan tadi malam, sudah diganti baju tidur, pasti bu Riska yang menggantinya.
Melati turun dari ranjang, kemudian berjalan kekamar mandi. Ambil air wudhu setelah mandi dengan air hangat.
Ia keluar dari kamar mandi lantas ganti baju, ambil mukena kemudian shalat subuh. Bibirnya komat kamit membaca zikir setelah selesai shalat.
Tiba-tiba ia ingat ketika di pesta, merasa dibekap mulutnya oleh seseorang, ketika didepan toilet, lantas siapa orang itu?
Melati telungkup di sadjadah ia juga ingat ketika Abim marah kepadanya lalu pergi tanpa sepatah kata pun. Ia benar-benar merasa bersalah.
"Mel, kamu sudah shalat Nak?" tanya bu Riska, membuat Melati segera duduk.
"Mel, apa yang terjadi Nak? kamu tidak kenapa-kenapa kan?" bu Riska tampak tegang, menghampiri anaknya.
"Aku tidak baik-baik saja, Bu, sebenarnya ada apa, kenapa Mela tiba-tiba bisa berada disini? bukankah Mela tadi malam sedang ke pesta?" Melati balik bertanya mengalir deras.
"Yang penting kamu tidak apa-apa Nak, ibu mau shalat subuh dulu, nanti ibu cerita ya" Ibu turun dari tempat tidur.
"Baik Bu" Melati pun melipat mukena lalu berdiri membereskan tempat tidur. Ia segera ambil sapu, membersihkan kamar.
"Biar Melati saja, yang masak Bu," Melati menyusul ibu yang sedang membuat nasi goreng kesukaan Melati.
"Nggak usah... tanggung, sudah mau matang kok." Ibu mengaduk-aduk nasi goreng cepat
"Mel, kamu sudah bangun, kamu tidak ada yang sakit kan Nak?" pak Sutisna yang baru pulang dari Masjid mencecar pertanyaan.
"Alhamdulillah... Mela sehat kok" jawab Melati.
"Syukurlah Nak" bapak mengusap kepala anak kandunya tampak ada kelegaan bahwa Melati tidak kurang suatu apa. Tadi malam beliau tidak bisa tidur memikirkan anaknya yang pulang dalam keadaan pingsan. Sebagai orang tua tentu berpikir yang tidak-tidak terlebih anaknya perempuan.
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam..."
Ada yang mengucap salam, padahal masih jam enam pagi, Melati segera keluar membuka pintu.
Ceklak.
"Melati... kamu nggak apa-apa kan?" Mawar langsung memeluknya begitu pintu dibuka, sambil menangis.
Mawar datang bersama suaminya yang menggendong Bhanu.
Barusan bu Riska telepon Mawar, menceritakan tentang Melati. Mawar mendengar cerita bu Riska langsung mengajak Adit datang kemari, menggendong Bhanu yang masih tidur.
"Nggak kenapa-kenapa kak" jawab Melati.
"Dit, sebaiknya Bhanu ditidurkan dikamar saja" titah Ibu.
__ADS_1
"Baik Bu" Adit masuk kekamar tamu setelah menidurkan Bhanu kembali keluar.
"Minum dulu kak" Melati membawa nampan rupanya ia membuat teh manis.
Mereka duduk santai di karpet. "Ini aku tadi bawa cemilan" Mawar mengeluarkan roti sobek yang ia ambil dari toko.
"Bu, sebenarnya ada apa sih?" Melati sangat penasaran.
"Iya Bu, cepat ceritakan," Mawar tak kalah penasaran.
Flashback on
Tok tok tok.
"Assalamualaikum,"
Mendengar salam dari luar ibu tersenyum. "Pak, pasti itu Melati" Ibu Riska bergegas kedepan berniat membuka pintu. Beliau masih belum tidur menunggu Melati pulang, saat ini sudah jam 11 malam.
"Biar Bapak saja yang membuka, Bu" pak Sutisna berjalan mendahului bu Riska.
Ceklak.
"Nak Rony?" pak Sutisna dan bu Riska terkejut melihat Rony menggendong Melati.
"Apa yang terjadi Nak?" Melihat Melati dibopong Rony bu Riska berpikir negative langsung Menangis.
"Kenapa Melati bisa bersama kamu? terùs Alex kemana" cecar bu Riska tampak syok.
"Biar Nak Rony masuk kedalam dulu Bu" pak Sutisna tampak lebih tegar dibandingkan ibu.
"Melati direbahkan dimana Pak" Rony tampak lelah membopong Melati. Wajar, dari pagi Rony sama sekali tidak istirahat.
"Langsung kemar saja Nak," pak Sutisna mengantar Rony ke kamar kemudian menidurkan Melati di ranjang.
"Mari Nak" pak Sutisna mengajak Rony kembali keluar, setelah menutup pintu mereka duduk di sofa.
"Minum dulu Nak Rony," bu Riska memberikan segelas air putih kepada Rony.
"Terimakasih, Bu" Rony segera minum sepertinya terlihat haus.
"Memang Melati tadi berangkat bersama Alex Bu?" Rony mulai bicara.
"Bersama Alex, berboncengan motor, makanya saya heran mengapa Melati bisa bersama kamu," ibu sungguh keheranan.
"Saya juga tidak tahu bu" Rony kemudian menceritakan.
Jam 10 malam Rony masih mengurus ini itu, sebagai panitia ia sangat sibuk.
Deerrtt deeerrrtt
Handphone nya berbegar, ia lantas merogoh dari saku jas. Ia melihat nomor yang menghubungi tidak dikenal. Rony tidak berniat mengangkatnya ia pikir orang iseng. Namun handphone terus berbunyi Rony segera menyingkir dari keramaian mengangkat nya.
"Hallo" Rony menjawab.
__ADS_1
"Hallo, cepat datang ke kebun belakang Grocery Store" jawab seorang pria.
"Ada apa, Anda ini siapa?" cecar Rony.
"Tidak perlu banyak tanya, cepat segera datang, ini menyangkut nyawa seseorang."
Tut.
Tanpa berpikir lagi, Rony segera menuju tempat yang diberi tahu orang misterius itu.
Tanpa gentar Rony berjalan cepat, dengan sorot rembulan tampak wanita berhijab tidur di rerumputan.
Rony menatap lekat wanita itu, agar lebih jelas menyalakan senter.
"Melati? gumam Rony lantas menyenter sekeliling tampak sepi tidak ada siapapun.
Rony lantas mengangkat Melati membawa ke parkiran.
"Pak, boleh minta tolong?" tanya Rony kepada salah satu satpam.
"Ada apa Pak, istrinya kenapa?" satpam balik bertanya.
"Istri saya pingsan, tolong bukakan mobil saya, kuncinya di saku jas," terang Rony.
"Baik, mungkin istri Anda sedang hamil, makanya dia pingsan," tebak satpam sambil memencet remote.
Rony tidak menjawab, lantas menidurkan Melati, di jok belakang. Dengan cepat ia menyalakan mobil. Dosen itu sempat berpikir ingin mengantar Melati kemana. Yang ia tahu hanya rumah Mawar tetapi jika kesana pasti Adit akan salah paham. Mengingat selama ini hubungan mereka kurang baik.
Rony lantas kembali turun membuka tas Melati berniat mencari hp, tetapi Rony tidak menemukan benda tersebut. Rony lantas mencari KTP melihat alamat yang tertera.
"Begitulah ceritanya" ucap Rony.
"Ya Allah... Terimakasih nak" ibu lantas kekamar mengganti pakaian Melati sambil mengamati seluruh tubuh anaknya. Melihat anaknya baik-baik saja napasnya juga teratur bu Riska kemudian menyeka seluruh tubuh Melati.
Flashback off.
"Rony??"
Melati, Mawar, Adit saling pandang.
"Terus Alex kemana?" Melati bingung.
"Itu yang membuat ibu bingung dari tadi malam, sebaiknya telepon saja sekarang" titah ibu.
"Baiklah" Melati segera kekamar ambil tas tak lama kemudian kembali.
"Yah, handphone aku hilang" sesal Melati. Ia ingat, terakhir pegang hp saat ke luar dari toilet, mungkin handphone jatuh.
"Sebenarnya bagaimana ceritanya Mel, kenapa kamu bisa sampai berada di kebun?" tanya Adit.
Melati menceritakan saat di bekap di toilet, setelah itu tidak ingat apa-apa lagi.
.
__ADS_1
.