
Seminggu kemudian, Marsel dan Diah, belum bisa melaksanakan ibadah suami istri. Karena bocil masih terus mengganggu.
"Sebaiknya... ajak istrimu bulan madu Chel, biar anakmu di rumah sama Mom, sebelum Mommy, kembali ke Belanda" nasehat oma. Beliau tahu Lita selalu mengganggu anak dan menantunya, hingga belum ada waktu untuk mereka berduaan.
"Rencananya begitu Mom, kata Diah... menunggu acara resepsi pernikahan mantan iparnya besok" jawab Marsel, yang dimaksud adalah; Intan.
"Oh, terus... rencana kalian mau bulan madu kemana?" tanya oma seraya mengaduk minuman rendah kalori, untuk sarapan pagi ini.
"Aku, maunya ke Belanda Mom, sekalian menemui kerabat dekat di sana, tapi menurut Diah... saat ini belum liburan sekolah, kasihan kalau Lita ditinggal kelamaan." terang Marsel. "Jadi kami memutuskan ke Bali saja" sambungnya.
"Benar juga istrimu Chel" oma manggut-manggut. "Terus rencanamu berapa hari di sana?"
"Paling sepekan Mom"
"Papa... Lita sudah rapi" Lita berlari dari kamar sudah mengenakan pakaian seragam TK, di ikuti Diah dari belakang sudah rapi juga, hendak mengantar sekolah anak sambungnya.
"Ya, kita sarapan dulu" kata Marsel, kemudian menarik kursi untuk Diah agar duduk di sebelahnya.
"Tuan mau sarapan apa?" tanya Diah.
"Honey... kapan sih, kamu tidak memanggilku dengan sebutan itu?" protes Marsel.
"Betul Diah... kalian itu bukan atasan bawahan lagi, tapi sudah suami istri" mom heran sudah sering memperingatkan Diah, tapi terus mengulangi.
"Iya Mom, sudah kebiasaan" ucapnya terkekeh. Lalu mengoleskan mentega kedalam roti tawar diletakkan lembaran keju di tengah lalu menyusunya di piring, kemudian diberikan kepada suaminya.
"Terimakasih" ucap Marsel sebelum menggigit roti tersebut.
"Mom mau juga?" tanya Diah, menatap oma yang hanya ada minuman di depan beliau.
"Tidak usah, sudah bikin sendiri" tolak oma.
"Aku mau Ma, tapi buat bekal, sekarang aku minum sereal saja," Lita menimpali.
"Okay..." dengan cepat Diah menyeduh sereal untuk Lita. Sedangkan dia sendiri, makan nasi goreng buatan bibi.
"Lita ke sekolah di antar Mbak Marni, sama Mamang, Mama biar ikut Papa ke kantor" kata Marsel.
"No! Papa" Lita langsung memegang lengan Diah.
Marsel menatap Mom, menarik napas panjang.
__ADS_1
"Okay... Mama Diah yang mengantar kamu, tapi tangannya di lepas dong! kalau dipegangi terus... bagaimana Mama mau makan," titah Oma.
"Oh, iya lupa" Lita terkikik. Di meja makan menjadi ramai, dengan celotehan Lita mengajak nborol Diah.
"Makan dulu sayang... ngomongnya nanti, takut keselek" kata Diah dan di angguki Lita. Semua lantas diam hanya terdengar dentingan sendok dan garpu.
"Sudah selesai makanya? kita berangkat yuk" Diah menggandeng tangan Lita menuju mobil mereka di antar Mamang sekaligus mengantar Marsel ke kantor.
"Honey, setelah Lita masuk kelas, kamu ikut aku ke kantor ya, tapi jangan bilang sama Lita, bisa ngambek Dia" bisik Marsel.
"Baiklah, asalkan... sebelum Lita pulang, aku sudah sampai ke sekolah, khawatir Lita mencari aku, apa tidak sebaiknya lain kali saja, ke kantornya?" Diah membayangkan jika Lita sudah pulang tidak ada dirinya pasti kebingungan.
"Nggak keburu-buru, kan tiga jam Lita di sekolah" jawab Marsel.
Setelah mengantarkan Lita sampai sekolah, benar saja, Diah ikut ke kantor. Tidak lama kemudian, mereka sampai tujuan.
"Tuan... jalanya duluan ya" Diah ragu masuk ke pabrik, jika ia datang bersama Marsel, tentu akan menjadi pertanyaan teman-temannya.
"Hais! kamu kenapa sih, Honey... malu... jalan sama aku?" Marselo yang sudah turun duluan, salah sangka.
"Bukan begitu Tuan, saya malu sama teman-teman" Diah masih bersandar di jok memutar bola matanya ke sekeliling.
"Honey" Marsel mengulurkan tangan agar Diah turun.
Diah pun, di gandeng Marsel. Namun, sebelum turun dari mobil. Diah ambil masker kemudian menutup wajahnya, hanya terlihat mata.
Jika sampai karyawan tahu Diah yang hanya buruh pabrik kemudian menikah dengan orang nomor satu di perusahaan ini pasti akan banyak cibiran. Pikir Diah.
Sampai di lift keadaan penuh, semua mata wanita tertuju kepada Marsel yang tampak cuek, tangannya masih menggengam tangan Diah.
Sementara Diah menunduk, khawatir ada yang mengenali dirinya. Lift terbuka Diah merasa lega.
Sampai ruangan masih sepi, Siska rupanya belum datang.
"Duduk sini Honey" Marsel menepuk kursi di sebelah yang tampak sempit.
"Aku di sini saja, di situ sempit" Diah duduk di sofa. Memandang sekeliling, ia masih tidak percaya, terakhir kesini saat pertama kali bertemu dengan Calista.
Lalu beralih menatap Marsel yang sedang membuka laci, ambil kaca mata lalu menyangkutkan ke kedua sisi telinga.
Diah masih belum percaya, bahwa pria tampan itu kini menjadi suaminya, dadanya terasa berdebar kencang.
__ADS_1
Susana ruangan menjadi hening, Marselo menoleh, awalnya hendak menyalakan komputer. Namun begitu melihat Diah yang sedang memandangnya tidak berkedip mengukir senyum.
Marsel pun berdiri dari duduknya lalu menghampiri istrinya. Tangan kekar itu melingkar di pundak. I love you" Marsel lalu memutar wajah Diah memandangi tanpa berkedip.
Begitu juga dengan Diah, keduanya sama-sama di terjang badai asmara. Wajah duda beranak satu itu mendekatkan wajahnya hingga tinggal beberapa cm. Dan pada akhirnya kedua bibir saling bertaut.
Keduanya pun tenggelam dalam buaian cinta. "Honey..." Marsel mendorong pundak istrinya hingga terlentang di sofa.
Marsel melanjutkan meneguk manisnya madu. Mereka terlena tidak sadar jika sedang berada di kantor.
Ceklak.
"Bluk" Mendengar pintu di buka, Diah mendorong tubuh kekar Marsel hingga jatuh ke lantai, Diah panik karena tertangkap basah oleh seseorang.
"Astagfirlullah..." Marsel memegangi keningnya.
"Maaf" Diah menatap kening Marsel tampak benjol. Diah bingung apa yang akan ia lakukan.
Marsel segera duduk. Kemeja dan Jas sudah lepas dari tubuh tanpa ia sadari, bagusnya ia masih mengenakan kaos.
Sementara Marsel menatap tajam wanita yang sudah mengganggu acaranya.
Wanita itu yang tak lain adalah; Siska sekretaris pribadi nya. Masih tidak percaya, melihat pemandangan yang baru saja terjadi. Siska tidak menyangka bos yang dingin itu bisa berbuat mesum dengan pegawai rendahan macam Diah.
"Sudah berapa kali saya bilang Siska! kalau masuk ketuk pintu!" ujarnya kesal sambil bangun lalu mengenakan pakaian.
Diah jangan di tanya langsung ngibrit ke kamar mandi. Selain malu, ia juga menghidari tatapan Siska yang tampak horor.
"Oh iya, maaf Pak, saya hanya ingin mengantarkan jadwal meeting hari ini"
Siska lalu membacakan agenda rapat hari ini.
"Tunggu saya di luar!" ucapnya ketus.
"Baik Pak" Siska keluar, dengan membawa seribu pertanyaan, mengingat Diah yang menikmati ciuman Marsel tadi membuat darahnya mendidih.
Siska kesal, sudah berapa tahun bekerja di sini, jangankan mendapat perhatian Marsel, berbicara saja hanya seperlunya.
Sementara di dalam. "Honey... aku ada rapat sebentar, kamu tunggu di sini, nanti kita jemput Lita sama-sama" ucapanya sambil membawa map yang di berikan Siska tadi.
"Rapatnya sama sekretaris tadi, ya?" tanya Diah setelah keluar dari kamar mandi lalu merapikan kerudungnya.
__ADS_1
"Iya, nggak lama kok, kamu nonton tv saja" Marselo mengakhiri obrolan kemudian keluar bersama Siska, Rapat dengan klien di salah satu Cafe.