
Dengan rasa kecewa yang membuncah Adit kembali pulang kerumah. Ia sengaja datang pagi-pagi ingin minta tolong ibu tirinya agar turut membantu mengurus pak Renggono. Tetapi jawaban bu Reny justeru membuatnya kesal.
"Eeeh... kenapa sih, Yah... pagi-pagi kok cemberut," kata Mawar yang baru selesai mandi, menatap wajah suaminya ditekuk.
Sebelum anaknya bangun Mawar harus sudah mandi agar nanti tidak repot.
"Mulai bulan ini, nggak usah memberi uang ibu lagi Bun, biar dia berpikir," kata Adit lalu menjatuhkan bokongnya di kursi.
"Loh-loh... ada apa sih Mas?" tanya Mawar, walaupun sebenarnya Mawar tahu pasti bu Reny berbuat ulah hingga suaminya marah. Tetapi mengapa harus menghentikan jatah uang bulanan mertuanya.
"Pokoknya turuti saja apa kataku" tegas Adit, saat ini sudah rapi karena jam delapan nanti akan berangkat ke bengkel, tetapi ia mengurungkan niatnya. Lebih baik menemani bapaknya.
"Aku hari ini nggak ke bengkel Bun, mau menjaga Bapak" ucapnya kemudian.
"Ya... lakukan saja yang menurutmu baik Yah," sahut Mawar mendengar kata suaminya.
"Ibu nggak mau menemani Bapak, Mas?" tanya Mawar sambil menyisir rambut panjangnya sebelum mengenakan kerudung.
"Nggak usah bahas wanita itu lagi Bun," Adit sangat kesal sekedar menyebut namanya saja, rasanya malas.
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam..."
Abim tampak masuk kedalam rumah, tadi malam tidur dirumah sakit, menggantikan Adit.
"Duduk Bim, sarapan dulu" titah Adit. Sebenarnya Adit tidak enak hati harus merepotkan Abim, menemani pak Renggono.
"Terimakasih kak, saya numpang mandi ya" ucapnya.
"Silahkan" sahut Mawar dan Adit bersamaan.
Abim hendak masuk kekamar mandi. Namun dikejutkan oleh Melati yang baru selesai mandi.
"Mel"
"Kak"
Ucap mereka bersamaan.
"Kamu menginap disini Mel?" tanya Abim.
"Iya, kakak sendiri ngapain disini?" Melati balik bertanya.
"Habis dari rumah sakit, bergantian dengan kak Adit, menunggu Pak Renggono," tutur Abim.
"Tadi malam kamu kemana Mel, aku tungguin... kirain mau menemani aku makan bakso nggak taunya, malah ngilang." raut kecewa diwajah Abim.
"Loh kalian ini ngobrol didepan kamar mandi," Mawar mengejutkan mereka
"Eh iya, saya lupa kalau mau mandi kak" Abim garuk-garuk kepala terkekeh, lantas masuk kekamar mandi.
Mawar dan Melati saling pandang.
__ADS_1
Mawar kemudian memeriksa popok, Syifa yang sudah bangun dari tidurnya. Melati ikut berdiri disamping box.
"Aku buatkan susu ya, Kak" Melati ambil botol yang sudah di steril oleh Mawar.
"Mel" sapa Mawar, ia sedang nungging sambil mengganti popok.
"Ada apa kak?" tanya Melati menghampiri Mawar sambil meletakkan botol susu di box.
"Kenapa sih... kamu nggak segera terima Abim, dia itu sepertinya tulus mencintai kamu," Mawar menasehati Adiknya. Namun, Mela, tidak menjawab.
"Mel, yang namanya perjalanan hidup itu... memang nggak selamanya lurus, kadang ada belokan, ada tanjakan, kadang juga ada jurang terjal, tetapi tinggal bagaiama caranya kita melewati jalan itu. Harus punya skil, menghindari agar kita jangan sampai tergelincir, terperosok." Mawar kemudian mengangkat kepala menatap adiknya yang sedang memencet-mencet boneka kecil milik Syifa.
"Yaah... kakak bisa berbicara begitu karena kakak, tidak merasakan seperti aku," jawab Melati lupa bahwa kakaknya pernah merasakan persoalan rumah tangga yang jauh lebih menyakitkan.
"Kata siapa Mel, kakak tidak merasakan itu, walaupun kakak terlihat melewati jalan lurus, masih juga banyak batu kerikil yang membuat kakak tersandung." kata Mawar flashback masa lalu.
"Maaf kak, bukan maksud aku..." Melati memotong ucapanya. Ia merasa bersalah. Dulu kakaknya melewati perjalanan hidup yang rumit, toh kakanya bisa bahagia hingga kini.
"Syifa sudah bangun ya Kak" Abim sudah selesai mandi, menghentikan obrolan kakak Adik itu. Ia sudah memakai kemeja rapi hendak kekantor.
"Sudah Bim, sebelum berangkat sarapan dulu," titah Mawar.
"Iya Kak, saya boleh menggendong Syifa sebentar kan?" Abim ingin mengajak bermain Syifa sebentar.
"Silahkan, kalau gitu, saya siapkan sarapan dulu" Mawar segera kedapur.
"Mel"
"Apa"
"Hari minggu ya?" Melati mengingat-ingat, kira-kira hari minggu besok ada acara atau tidak.
"Oh hari minggu, aku nggak bisa Kak, soalnya aku disuruh mewakili Kak Adit dan Kak Mawar," jawab Melati.
Memang benar Melati akan menghadiri acara yang dihadiri para pembisnis.
"Sendirian?" tanya Abim melempar pandang kearah Melati, sambil menepuk-nepuk pelan pantat Syifa yang sedang tengkurap di box.
"Sama Alex" Melati mejawab santai.
"Alex, Mel?" Abim terkejut, raut kecewa tampak nyata diwajah Abim.
Melati tidak menyadari bahwa Abim sangat cemburu, lalu menganggukan kepala.
"Saya kedapur dulu, Kak," ujarnya kemudian meninggalkan Abim hendak membantu kakaknya menyiapkan sarapan.
Abim mengacak rambutnya gusar, seketika ingat wajah Alex dan juga Rony. Kenapa Abim tidak bisa seperti mereka, selalu berbincang akrab dengan Melati.
Andai saja bisa memutar waktu, Abim ingin kembali seperti dulu, dicintai Melati.
"Tuan... dipanggil Non Mawar" kata baby sitter yang ingin memandikan Syifa membuyarkan lamunan Abim.
"Iya Mbak"
__ADS_1
Abim kemudian menuju meja makan tampak keluarga besar Mawar sudah berkumpul termasuk bu Riska dan Pak Sutisna.
"Sini Nak Abim" Pak Sutisna menunjuk kursi disebelah nya.
"Terimakasih Pak"
Mereka makan bersama tanpa ada yang bersuara.
"Bim, tadi saya sudah membicarakan dengan Mawar, kami sepakat ingin ambil perawat laki-laki untuk Bapak," tutur Adit setelah selesai makan.
"Jadi kamu nggak usah mondar mandir kasihan, kamu jadi repot," imbuhnya.
"Oh gitu Kak, kalau masalah biaya jangan khawatir kak, saya siap membantu, demi kesembuhan Bapak," jawab Abim jujur.
"Terimakasih Bim, untuk saat ini InsyaAllah... saya sudah siapkan," Mereka berbincang akrab.
"Biar pagi ini, saya dan Bapak yang menunggu besan Dit, kalau kalian pada mau berangkat kerja, berangkat saja" kata bu Riska memecah kebuntuan.
"Memang Bapak sama Ibu tidak jualan?" tanya Adit.
"Kamu ini Dit, jualan kan bisa besok lagi, saya ingin memberi semangat besan agar cepat sembuh," tulus pak Sutisna.
"Memang perawatnya datang kapan kak?" Melati yang dari tadi diam pun bertanya.
Semuanya tampak menghormati pak Renggono, karena beliau orang baik.
"Tadi aku sudah telepon ke Yayasan, katanya besok pagi Mel" Mawar yang menjawab.
Mawar memang tadi segera menghubungi Yayasan begitu bu Reny tidak bisa merawat mertuanya. Lebih baik Mawar menanyakan tentang perawat.
"Assalamualaikum..." perbincangan pagi berhenti ketika ada salam semua menjawab.
"Lex, kamu sudah datang? sarapan sekalian nih," kata Melati.
Melati memang minta dijemput Alex sebab kemarin kesini bersama Mawar naik mobil, jadi tidak membawa motor.
"Aku sudah sarapan Mel," jawab Alex kemudian menyalami pak Sutisna, bu Reny dan yang lain. Saat terakhir bersalaman dengan Abim Alex seraya berbisik.
"Anda harus tahu bung, Melati itu milik saya, dan akan menjadi milik saya!" tangan Alex menjabat tangan Abim sekuat tenaga. Hingga Abim meringis kesakitan.
Alex cemburu mengapa tiap kali melihat Abim ada di rumah Mawar, ada apa lagi jika bukan ingin bertemu Melati? pikir Alex.
Semua itu tidak lepas dari tatapan Melati.
"Kita berangkat sekarang saja Lex" Melati melihat situasi yang sedang tidak baik, lebih baik mengajak Alex keluar.
"Saya juga pamit Pak, Bu" Abim pun segera menyusul setelah diiyakan semuanya.
Sampai halaman, hati Abim merasa tidak rela saat Melati berboncengan dengan Alex.
Abim rasanya ingin meminta Melati turun, tetapi jika dipikir ada hak apa, Abim melarang mereka? Abim benar-benar cemburu.
.
__ADS_1
.