
Jam berganti, Melati bersama ketiga sahabatnya menuju halaman kampus kerena sudah jam pulang.
"Aku duluan ya, Mel"
"Iya Din"
Dinda pulang lebih dulu, karena jurusan bus yang mereka tumpangi berbeda arah.
"Kamu aku antar ya, mel" Uiby bersemangat.
"Nggak usah By, saya menunggu suami, kamu duluan saja" Melati membuka handphone ingin kirim pesan kepada suaminya.
"Ya sudah... aku temani kamu saja" Bukan pergi Uiby justeru berdiri di samping Melati.
Melati tidak memperhatikan Uiby lagi, lalu menulis pesan untuk Abim.
"Bang, aku tunggu di depan kampus" chat Melati. Namun menunggu satu menit, dua menit, hingga 15 menit, masih belum dibaca.
Melati segera telepon, deringan ketiga handphone di angkat, tapi bukan Abim yang mengangkat melainkan seorang wanita.
"Hallo!"
"Hallo... siap ini" tanya Melati. Dengan bahasa inggris.
"I'm his girl friend"
Tut.
"By, kamu pulang saja dulu, aku mau menyusul suami saya"
"Ciee cieee..." Uiby menggoda. Namun Melati sudah tidak menggubris.
Tanpa menjawab Uiby. Melati lalu meninggalkannya. Ia kesal kepada suaminya, tidak pikir-pikir lagi lantas menuju kelas Abim.
Melati mengedarkan pandangan tidak ada satu orangpun di kelas. Rupanya sudah pulang semua.
Dengan rasa kecewa Melati berjalan kepinggir jalan naik bus pulang lebih dulu meniggalkan kampus.
*****
Sementara Abim yang baru selesai mengadakan penelitian teknik industri, dengan beberapa teman satu jurusan di Lab. Ia lupa mengabari Melati. Abim bergegas ambil handphone yang ia letakan di atas meja agak jauh dari tempat duduknya.
Di situ ada Nora yang sedang duduk santai bersama ketiga temanya. Abim tidak menghiraukan. Ia membuka handphone melihat chat satu jam yang lalu.
Abim segera telepon Melati, tetapi tidak di angkat-angkat. Abim panik sendiri. Ia merasa bersalah pasti Melati kelamaan menunggu di halaman.
Abim tidak tahu bahwa Nora tadi mengangkat telepon Melati.
"Sal gw duluan ya" Abim segera berlalu.
__ADS_1
"Eh tunggu Bim" Faisal lalu mengejar.
"Ya elaah... pelan-pelan apa! jalan loe Bim" Faisal terengah-engah mengejar Abim.
"Buruan... gw lupa ngabari bini gw"
"Paling nunggu di depan dia Bim, jangan panik apa, takut banget bini loe di ambil orang," Faisal terkekeh.
"Diam loe ah!" Abim melotot kesal.
Sampai di halaman kampus sudah sepi hanya tinggal satu dua orang yang sedang ada materi tambahan.
Abim kembali menghubungi Melati. Namun justeru di rijek.
Deg
Abim mencoba menghubungi berkali-kali. Namun hanya operator yang menjawab. Abim mengantongi handphone gusar. Bingung apa yang harus ia lakukan ingin pulang kwatir Melati masih di sekitar sini.
"Paling sudah pulang duluan Bim, loe tadi kan belum kirim kabar kalau mau pulang terlambat" Faisal tahu pasti Melati sedang marah.
"Ah loe Bim! sudah tahu jawabannya. Bini loe pasti kesal, kita cabut yuk, pasti dia sudah pulang duluan," Faisal menarik kencang tangan Abim lalu menyetop bus.
*****
Abim sampai di apartemen, lalu masuk ke dalam yang pertama ia lihat adalah rak sepatu. Sepatu istrinya yang tadi pagi dia pakai sudah ada di situ. Abim langsung mendorong pintu kamar tapi di kunci dari dalam.
Tok tok tok.
Tidak ada jawaban dari dalam. "Mel buka dong..." lagi-lagi tidak ada jawaban.
"Mel pleass... buka dong..." berkali-kali Abim membujuk. Namun rupanya Melati benar-benar marah.
Abim berjalan meletakkan tas yang berisi lap top di atas meja lalu merebahkan tubuhnya di sofa.
Satu jam kemudian, Melati keluar dari kamar ia mengedarkan pandangan mencari sosok suaminya ternyata tidur di sofa.
Ia mendekat ternyata Abim mendengkur halus.
"Huh! tahu aku lagi marah! tapi bisa tidur pulas, pasti capek habis senang-senang d**engan wanita lain**"
Melati lantas membuka sepatu suaminya pelan. Kemudian meletakkan sepatu di rak.
Abim membuka mata tersenyum. Ketika Melati balik badan Abim pura-pura tidur kembali.
Melati ke dapur hendak menyiapkan makan siang yang tertunda.
Melati mengeluarkan sayuran dari kulkas, memotong-motong wortel, bakso, dan sayuran lain peranti membuat capcai.
Ia mengulek bumbu, kemudian menumisnya.
__ADS_1
Sementara Abim bangun dari tidur pura-puranya, lalu berjalan pelan ke kamar. Setelah kekamar mandi dan ganti pakaian ia menyusul istrinya ke dapur.
Ia menatap Melati memakai baju santai mirip daster, tetapi pas di badan. Ia sedang mengaduk-aduk capcai bergoyang-goyang tampak aduhai.
"Masak apa sih... istriku..." Abim mencium ceruk leher Melati. Melati diam membisu.
"Heee... jangan marah dong, aku minta maaf, aku tadi lupa memberi tahu kamu"
Melati menyingkirkan tangan Abim, kemudian ambil piring untuk menempati capai. Melati tidak mau menatap Abim, ia membawa capcai ke meja makan.
Abim menyusulnya lantas menarik kursi kemudian duduk. Ia menopang dagu menatap istrinya yang sedang cemberut tapi masih melayaninya.
Melati menyendok nasi meletakan satu centong ke piring Abim. Menambahkan capcai dan Ayam goreng.
Keduanya saling diam, Abim segera menyuap, mengunyahnya perlahan. Ia menatap Melati yang hanya mengaduk aduk nasi.
"Mel, makan... kok diaduk-aduk terus..."
Melati pun menyuapnya sedikit. Begitulah Melati jika marah tidak mau bersuara. Abim sudah selesai makan lalu membenahi piring. Sementara Melati membersihkan meja makan.
"Kok cuma dimakan sedikit... Abang suapi ya" ucapnya lembut. Melati mlengos jengkel.
Abim menarik napas panjang lalu menuju tempat pencucian piring. Selesai mencuti piring menghampiri istrinya yang sedang duduk dipojok sofa menonton televisi seraya menopang pelipis.
"Mel... kalau Abang salah ceritakan, dimana salahnya, bukankah Abang sudah minta maaf Mel, berapa kali Abang harus jelaskan" Abim sebisa mungkin meluruskan, jangan sampai persoalan menjadi berlarut-larut.
"Nggak usah pura-pura nggak tahu, tadi Abang kencan dengan perempuan lain kan?!" ketus Melati kemudian menangis.
"Perempuan? perempuan siapa?" Abim lantas berjongkok di depan Melati.
Air mata Melati mengalir deras. "Ayo dong cerita Mel, sumpah Mel, aku tadi benar-benar di Lab tidak tahu perempuan yang kamu maksud" Abim mengusap air mata Melati.
"Tadi waktu aku telepon, yang angkat perempuan, terus... dia bilang pacar Abang" hiks hiks.
"Ya Allah... apa dia bicara dengan bahasa inggris?" tanya Abim pelan.
"Iya"
Abim lantas merangkul pundak istrinya. "Tadi tuh... Abang sedang di Lab bersama lima pria salah satunya Faisal. Kami sedang melakukan penelitian, kalau kamu nggak percaya aku panggil Faisal kesini sekarang ya" Abim berdiri tetapi di tarik Melati hingga duduk kembali.
"Terus, kenapa handphone Abang bisa sama dia?" Melati menatap Abim yang duduk menghadapnya.
"Selama kami di Lab, semua handphone di kumpulkan di atas meja. Nah, terus... ada tiga wanita kebetulan satu kelas mereka ngobrol di meja itu. Berarti dia yang angkat telepon kamu" Abim menjelaskan sampai detail.
"Terus... apa maksudnya coba! dia lancang!" ketus Melati.
"Tapi Abang beneran nggak ada apa-apa sama dia kan?" Melati menggeser duduknya menjaga jarak.
"Astagfirlullah... Mel, yang ada dalam hati Abang itu hanya kamu, dan tidak ada yang akan bisa menggantikan" jujur Abim kemudian merengkuh tubuh istrinya.
__ADS_1
.