
Prok prok prok.
"Uti... Uti, kok di sini, lagi ngapain?" tanya bocah kelas satu SD yang tak lain adalah; Bhanu, berlari menghampiri bu Reny.
"Nggak ngapa-ngapain, cuma kebelet pipis. Ya, kebelet pipis" sahut bu Reny asal.
"Oh... Bhanu juga mau pipis nih" Bhanu berlari ke kamar mandi sambil memegangi anunya, rupanya memang sudah kebelet.
Bu Reny memandangi cucunya, hingga tidak terlihat lagi. Namun, tidak ia sadari Efendi sudah tidak ada di tempat itu. Beliau kesal, merasa di abaikan kemudian mengejarnya.
Andi, aku tahu kamu memang sudah kaya, jangan panggil aku Reny, jika tidak bisa menundukkan kamu seperti dulu. Ahahaha.
Reny pun keluar dari rumah Mawar, Kembali berkumpul dengan yang lain. Matanya menangkap sosok Andi yang sedang di rangkul pinggangnya oleh Desty ada rasa tidak rela di hati nya.
"Ehem..." Reny menghampri Efendi dan Desty.
"Jeung... maaf ya, padahal sudah sejak tadi kalian di sini, tapi kita belum sempat berkenalan. Kenalkan, nama saya Renyta," bu Reny menyeringai menatap Desty, dan Andi bergantian.
Andi memalingkan wajah.
"Desty" ucap Desty bersikap sopan walaupun mencium gelagat yang tidak bersahabat dari tatapan orang yang berada di masalalu suaminya itu.
"Oho, nama yang bagus" puji bu Reny setengah meledek.
"Hehe... rupanya kamu takut sekali ya, suamimu diambil orang, sampai tanganmu tidak mau lepas dari pinggangnya," bu Reny melirik tangan Desty.
Tuan Efendi menatap jengkel, wajah Reny sekarang tidak lebih dari burung hantu.
"Tidak juga jeung Reny, walaupun banyak wanita yang menginginkan suami saya, tapi suami saya tetap memilih saya, sudah terlanjur cinta sih, sama saya, hehehe. Iya kan Pi?" jawab Desty membuat Reny semakin marah.
"Iya jelas dong sayang... sebaiknya kita pergi dari tempat ini" tuan Efendi takut Reny menjadi-jadi lebih baik menghindar.
"Tunggu! jangan terburu-terburu dong! kamu nggak tahu kan Desty... jika 10 menit yang lalu suamimu menemui aku," sungut bu Reny, tetapi melihat Desty menoleh suaminya cepat. Bu Reny puas lalu menjauh, menemui kerabat yang lain.
"Ibu darimana? sebaiknya kita foto dulu" kata Diah, sebab pemandu acara minta Diah foto bersama kedua pasang orang tuannya, setelah beberapa pose foto dengan Marsel.
"Ibu habis dari kamar mandi," bohong bu Reny.
"Tadi Uti, kan ngobrol sama Paman ini," jujur Bhanu yang dimaksud adalah tuan Efendi ternyata Bhanu di suruh Mawar memanggil tuan Efendi agar foto bersama Diah.
Desty, pak Renggono, dan juga yang lain menatap Andi dan Reny minta penjelasan, termasuk Diah. Diah tidak ingin ibunya menyakiti pak Renggono dan juga mami Desty. Suasana menegang sibuk dengan pikiran sendiri-sendiri.
"Sudah, mari Pak, Bu, kita foto dulu" Marsel yang tidak mengetahui apa yang terjadi mencairkan suasana.
__ADS_1
Semua bergantian naik ke atas panggung kecil foto bersama.
********
Dari kejauhan, sepasang mata yang memakai penutup kepala ternyata melihat acara sakral tersebut, hingga sampai acara foto-foto ia baru meninggalkan tempat itu.
Alfredo PoV.
Ku tatap wanita yang dulu mengisi hari-hari ku, membuat aku menjadi pria dihargai, dan dianggap sebagai laki-laki.Ternyata ia sudah menemukan pria yang lain.
Semoga kamu bahagia Diah... doaku dalam hati. Aku mencoba menutup bayang-bayangnya, demi Freddy, dan Gita walaupun tidak mudah. Namun lambat laun aku berusaha untuk melupakan.
Awalnya aku datang kemari hanya ingin melihat putriku. Namun, tidak aku sangka ternyata tepat pernikahan mantan istriku.
Aku naik ojek online setelah mengamatinya dari kejauhan kembali ke konter hp dimana aku mengais rejeki kini.
"Fred, aku sudah minta Ayah, agar kamu bekerja di kantor lagi, walaupun hanya karyawan biasa" kata Gita. Flashback, sebelum aku membuka konter.
"Tidak Git, aku ingin mandiri" ucapku ketika kami sudah berbaikan lima bulan yang lalu.
"Kenapa Fred? daripada kamu bekerja sebagai kuli, lebih baik di kantor Ayah," sambungnya.
"No!" hanya kata itu jawabku. Aku laki-laki yang punya harga diri tidak ingin terus di injak-injak oleh keluarga istriku.
Kata-kata mertuaku selalu melukai perasaanku, walaupun benar adanya, toh aku sudah membantu mengembangkan perusahaan miliknya. Namun tidak sedikitpun jerih payahku dihargai.
Dengan gigih aku kumpulkan uang untuk sewa kios, aku putuskan membuka konter hp awalnya hanya kecil-kecilan, tapi sahabatku Ricardo, menawarkan kerja sama denganku. Ia sebagai penyuplai hp dan pernak pernik.
Alhamdulillah... aku sekarang sudah bisa mandiri. Walaupun, penghasilan aku hanya sepucuk kuku hitam dari uang mertuaku yang diberikan kepada Gita.
Tentu aku belum bisa mencukupi kebutuhan istriku sepenuhnya. Sebab Gita sudah terbiasa hidup dalam kemewahan.Tetapi aku akan berusaha, agar suatu saat nanti bisa menghidupi Gita seperti tuntutan mertuaku.
"Di sini kan Bang?" tukang ojek menyadarkan lamunanku.Ternyata aku sudah sampai di depan konter.
"Oh betul, terimakasih ya"
Setelah membayar ojek, aku terkejut, mendapati Gita dan Freddy yang sedang duduk di kursi panjang di depan konter. Gita rupanya pulang menjemput anakku yang masih memakai seragam merah putih.
"Daddy darimana? aku nunggu lama?" tanya anakku cemberut duduk di pangkuan Gita.
"Ada perlu sebentar sayang..." jawabku.
Aku tatap Gita, dia pun sepertinya kesal.
__ADS_1
"Kamu kemana sih Fred? Freddy pulang sekolah merengek terus minta mampir ke sini. Eh, ternyata kamu malah nggak ada,"
"Ya sudah... sekarang kita pulang saja, nanti kita cerita dirumah" ucapku. Aku urungkan niatku untuk membuka konter kembali siang ini.
Aku masuk ke dalam mobil milik Gita. Di dalam mobil kami saling diam hanya anakku yang mengajakku bicara.
Yah begini lah aku, hanya pria tak berguna hidup dengan istri kaya raya tidak ada bagusnya dimata mertuaku.
Dulu aku sangat mencintai Gita, kami saling mencintai, tetapi kedua mertuaku selalu merecoki rumah tangga ku. Dan yang membuat aku heran, Gita selalu menuruti keinginan kedua orang tuanya daripada aku suaminya.
Terlebih, saat aku diberi jabatan direktur oleh mertuaku, atas permintaan Gita tentunya. Aku semakin tidak berharga di mata mereka.
Hingga aku mencari ketenangan di luar rumah, berpetualang mencari gadis-gadis. Dan bertemu dengan Diah. Itulah pangkal aku menjadi pria brengsek! memang aku akui.
Diah walaupun bukan wanita baik, tapi ia menghargai aku, menerima aku apa adanya. Kami menjalin hubungan sembunyi-sembunyi hingga kepergok oleh mertuaku.
Tentu saja mertuaku semakin murka, aku di pecat dari kantor dan di usir dari rumah.
Dan pada akhirnya Diah hamil, pada saat itu pula, tabunganku habis membuat aku setres hingga lari ke minuman keras yang sudah lama aku tinggalkan.
"Daddy sudah sampai..." Freddy menyadarkan aku.
"Oh iya ayo" kami pun turun dari mobil masuk ke kamar.
Author PoV.
Sore hari setelah beristirahat, Gita kembali menanyakan kemana tadi siang, suaminya itu pergi.
"Kamu tadi siang kemana Fred?" tanya Gita, seraya menyisir rambut selepas mandi.
"Aku tadi menengok Syifa Git" jawab Alfred dengan suara serak kas bangun tidur.
"Masih sembunyi-sembunyi Fred? mau sampai kapan?" Gita menoleh Alfred yang masih enggan bangun dari tempat tidur.
"Yah... mau bagaimana lagi Git, aku masih takut bagaimana caranya menceritakan kepada mereka," Alfred kemudian bangun dari tidurnya.
"Iya, itu kamu Fred! saat berbuat keenakan! sampai tidak memikirkan aku, tapi giliran berhadapan dengan mereka kamu takut!" ketus Gita.
"Sudahlah Git, aku kan sudah minta maaf, ya sudahlah... jangan terus mengungkit," jawab Alfred kemudian masuk ke kamar mandi.
Sebenarnya Alfred ingin jujur menceritakan jika mantan istrinya sudah menikah. Tetapi situasinya sedang tidak baik pasti ujung-ujungnya ribut. Lebih baik Alfred mandi menyegarkan tubuhnya.
Beginilah keadaan rumah tangga Alfred dan Gita. Walaupun mencoba untuk memperbaiki, bak paku menancap di tembok walaupun di perbaiki tetap berbekas. Jika ditanya siap yang salah? tentu tidak ada yang benar.
__ADS_1
.