
Sore hari acara pernikahan Diah sudah selesai, semua meninggalkan rumah pak Renggono. Marsel langsung memboyong Diah pulang ke rumahnya.
Begitu juga dengan Melati, kali ini ia mengajak Abim mengunjungi rumahnya yang sudah enam bulan tidak ia tengok, sekaligus mengontrol usaha ice cream miliknya nya.
"Pegangan yang erat" kata Abim ketika mereka sudah di atas motor besarnya.
"Memang Abang balon? di pegang erat-erat" kelakar Melati, keduanya terkekeh.
"Memang mau ngebut apa Bang?" Melati masih belum pegangan sebab malu dengan bapak, dan ibunya yang masih memperhatikan mereka.
"Sini" Abim menggapai kedua tangan Melati lalu melingkarkan ke perutnya.
Motor besar yang sudah lama di tinggalkan sang pemilik itupun melaju cepat menuju rumah Melati.
"Ih! Abang, kalau membawa motor jangan suka ngebut apa!" protes Melati baru kali ini ia berboncengan dengan Abim, membuatnya ngeri, saat ini mereka sudah sampai di halaman rumah.
"Masih belum seberapa itu, makanya tadi aku suruh pegangan" Abim terkekeh melihat wajah istrinya manyun, setelah membuka helm lalu meletakakan di atas motor.
"Di bilangin kok, itu kan bahaya Bang, jangan-jangan... Abang pernah ikutan geng motor, lagi!" Melati kemudian masuk ke dalam di ikuti Abim.
"Geng motor darimana? kan masa remajanya, di habiskan di kampung" ucap Abim.
"Masa muda Abang, di habiskan sama Diah" Melati lalu terkikik, sambil menutup mulutnya.
"Meledek" Abim mencubit pelan bibir Melati.
"Uh Abang ih" Melati menjatuhkan bokongnya di kursi, cemberut, padahal cubitan Abim tidak terasa sakit.
"Sini-sini, aku lihat, mana yang sakit? aku obati" Abim memutar pundak istrinya agar menghadapnya.
Melati spontan menurut. Lalu lesempatan itu digunakan Abim untuk menarik tengkuk istrinya langsung menyergap bibir merah alami itu, hingga beberapa menit.
Melati justeru mengalungkan lengannya ke leher suaminya, keduanya sama-sama merasakan sensasi yang luar biasa.
Selama di Indonesia, pasutri itu di sibukkan dengan berbagai macam hal, hingga momen seperti ini hampir tidak ada kesempatan.
"Melatiiii..." pekik Bombom membuat keduanya melepaskan tautan.
"Bombom..." Melati terlonjak kaget, lalu berdiri begitu juga dengan Abim.
"Dasar loe! kutu kupret, menthek elek, kurang asem, suting film di tempat umum!" cerocos Bombom, membuat Melati malu sekali. Ia lupa bahwa di garasi banyak anak buahnya yang sedang berkerja. Mendengar teriakan Bombom lantas semua berlari ke ruang tamu, termasuk Risda.
Abim lantas duduk bersandar di sofa menumpangkan satu kaki di atas lutut, seperti tidak terjadi apa-apa.
"Ada apa ini?" tanya bibi yang sedang memasak pun ikut keluar.
__ADS_1
"Tidak ada apa-apa Bi" sahut Melati, tersenyum kikuk.
"Biasa Bi, suara Bombom seperti kaleng rombeng," kata Risda. Ia tidak tahu, apa kejadian yang sebenarnya.
"Mel, bagaimana kabar loe?" Risda lalu memeluk sahabat sekaligus bos nya itu. Jika dengan Bombom Melati sudah bertemu saat Diah akad nikah tadi, tetapi dengan Risda baru kali ini mereka bertemu.
"Alhamdulillah... aku baik-baik saja Ris" kedua sahabat itu pun kemudian berbincang-bincang.
"Lain kali... kalau mau mesum di kamar saja Mel, menodai mata suci gw, tahu nggak loe!" kelakar Bombom.
"Seeetttt..." Melati menutup mulutnya sebab kelima anak buah Melati semua berkumpul.
"Kalian kembali bekerja ya" titah Risda.
Semua pun kembali bekerja tinggal Melati, Bombom, dan Risda membicarakan tentang perkembangan usahanya. Sedangkan Abim sibuk dengan handphone.
"Sudah sore, sebaiknya kalian pulang" titah Melati kepada Bombom dan Risda. Lalu Melati mengajak suaminya ke kamar.
Abim memeluk pundak Melati bergegas masuk ke dalam kamar.
Abim mengedarkan pandangannya tidak ada foto atau apapun di kamar Melati, baru sekali ini ia masuk ke kamar istrinya.
"Kamu dulu pernah punya pacar nggak?" tanya Abim, seraya melepas jaket lalu segera diambil oleh Melati digantung dengan hanger.
"Ya kali saja, ada pria spesial di hati kamu"
"Nggak lah... ngapain pacaran, belum apa-apa sudah di atur-atur, padahal belum ada ikatan, ujung-ujungnya berantem" celoteh Melati.
"Tapi kalau dulu pacaran sama aku nggak nolak kan?" Abim menyunggingkan bibir.
"Tapi, nyatanya, cintaku Abang tolak mentah-mentah, kan?" Melati balik bertanya seraya mencebik.
Abim tertohok mendengar pertanyaan Melati, ia mula-mulanya hanya ingin bergurau, malah kena batunya.
"Uh! obrolan kita nggak bermutu deh Bang, mendingan aku mandi dulu" Melati bergegas ke kamar mandi.
"Tunggu Mel, kita mandi bareng" Abim mengejar Melati yang masih berdiri di depan kemar mandi.
"Aku bukain bajunya ya" Abim tersenyum, setelah mendekati shower membuka baju istrinya.
"Abaaang..."
*******
Di tempat yang berbeda, malam harinya pasutri yang baru saja menikah menjadi pengantin nelangsa, terutama bagi Marsel.
__ADS_1
Betapa tidak? Lita tidak mau tidur sendiri, maunya tidur dengan mama barunya.
"Sudah malam Lita... sebaiknya kamu bobo, ditemani Mbak Marni..." kata Marsel.
Marsel sudah menunggu di kamarnya sejak sore, tetapi Diah tak kunjung masuk, ternyata Lita masih minta di ceritain sesuatu.
Terpaksa Marsel menyusul menangkap sosok istri barunya justeru tiduran seranjang dengan putrinya.
"Nggak mau bobo sama Mbak Marni, Tante kan sudah menjadi Mama aku, jadi aku mau bobo sama Mama," ucapnya polos.
Bocah kecil itu tidak tahu jika papanya sudah gelisah di kamar. Miring ke sana, miring ke sini, menahan hasrat cinta nya.
"Cek" Marsel menjatuhkan tubuhnya di kasur Lita.
"Iya, tapi... Mama Diah sudah menjadi istri papa, jadi harus bobo sama Papa" Marsel tidak mau kalah.
"Diah... bujuk dong! jangan Diam saja" Marsel akhirnya merebahkan tubuhnya di belakang Diah menyusupkan wajahnya ke tengkuk Diah, bermain-main di sana.
"Biar saja Tuan" kata Diah, sambil menggeliat geli merasakan bibir hangat Marsel, sapuan napas Marsel dari belakang membuatnya merinding. Sejatinya Diah pun belum siap melayani Marsel, masih risi tidur berdua dengannya.
Pengalaman paska menikah dulu, ketika malam pertama justeru menjadi prahara dalam rumah tangganya, membuat Diah sedikit trauma akan kegagalan pernikahanya yang ketiga kalinya.
Diah yang sekarang tentu berbeda dengan Diah yang dulu.
"Mama bobo di sini saja ya, jangan kemana-mana" Lita khawatir di tinggal.
"Iya, sekarang sudah jam 11 Lita bobo dulu, besok kan sekolah" nasehat Diah sambil mengusap kepala Lita.
"Tuh kan, kata Mama biarin saja" Lita justeru ndusel-ndusel ke perut Diah.
"Cek" Marsel berdecak berkali-kali, ia posesif dengan anaknya. Lalu nekat menyingkap piama Diah dari belakang tanpa Lita tahu, wajahnya bermain-main di bahu Diah yang putih.
"Tuan" Diah menurunkan piamanya yang tidur membelakangi suami barunya itu.
Tangan Marsel melingkar ke perut Diah dan akhirnya dua orang bapak, dan anak itu merebutkan tubuh mungil Diah.
"Papa ih! tanganya awas..." Lita menyingkirkan tangan kekar papanya. Namun tangan Marsel cukup kuat merangkul perut Diah. Diah malu dengan Lita kemudian ikut menyingkirkan tangan Marsel.
"Tuan... biar Lita bobo dulu" tanpa sadar Diah berucap seperti itu membuat Marsel tersenyum, lalu menarik tangannya dari perut Diah.
********
"Maaf telat up, soalnya sekarang sudah masuk sekolah, kesibukan budhe semakin bertambah."
"Hehehe... sok-sok an sibuk ya budhe🤣🤣🤣.
__ADS_1