PERNIKAHAN BERUJUNG LUKA.

PERNIKAHAN BERUJUNG LUKA.
Pertemuan Tak Terduga.


__ADS_3

"Kenapa Diah? pelan-pelan... khawatir pisaunya kena kaki kamu." kata Mama saat Diah menjatuhkan pisau.


"Ti- tidak a-apa Ma," jawab Diah terbata-bata lalu ambil pisau dibawah meletakkan di wastafel.


Andai Mama tahu, bahwa anak laki-laki Mama tidak pernah menyentuh tubuhku, lantas kepuasan ranjang yang bagaimana?


Mama melirik wajah Diah mengapa saat membicarakan ranjang, wajah Diah berubah tegang. Apakah ada sesuatu dengan Abim? Mama bertanya dalam hati.


Masakan sudah matang lantas Mama memanggil Papa ke ruang kerja.


Sedangkan Diah mengangkat menu makan siang ke meja makan.


Diah lantas duduk disofa bersandar, setengah tiduran, pikiranya traveling.


Jika hidup dalam suasana begini sampai kapan akan bertahan? Diah orang yang bebas, tidak biasa di atur.


Diah ibarat burung yang bebas terbang sesuai kehendak. Namun saat ini ia merasa hidupnya terkurung dalam sangkar.


Apa lagi Mama sudah menyinggung soal pribadinya, terlebih rumah tangganya.


Aku harus bisa membujuk Abim untuk pindah dari tempat ini.


"Diah... sini nak" Mama mengejutkan lamunan Diah.


"Iya Ma" Diah lastas menyusul ke meja makan. Tampak Papa Wahid tidak sedikitpun meliriknya apa lagi menyapanya.


Diah menatap Papa menegang, seperti saat SMA dulu selalu di sidang Guru BP.


"Intan mana Ma?" tanya Papa.


"Belum dipanggil Pa, bentar nanti Mama panggil" Mama menyahut sambil meladeni Papa.


"Biar saya saja yang memanggil Ma" tanpa jawaban dari Mama Diah lantas keatas.


"Abim dari tadi pagi belum pulang ya Ma?" tanya Papa dari tadi tidak melihat Abim.


"Belum, tadi telepon Mama, katanya mau ke puncak bersama teman kuliahnya dulu." tutur Mama.


"Puncak? ada urusan apa disana?" Papa menatap Mama lekat.


"Aku nggak tahu Pa," Mama mengedikan bahunya. Obrolan berhenti Diah dan Intan sudah turun.


Mereka makan bersama tanpa Abim, setelah makan Intan mengangkat piring kotor kebelakang. Kali ini Diah membantu sebenarnya Diah malas tetapi Diah ingin menghindari wajah Papa yang membuatnya begidik.


Intan bersama Diah kembali keluar Intan segera bergabung duduk ngobrol diruang keluarga


Sementara Diah cepat-cepat keatas takut melihat wajah Papa. Namun baru beberapa langkah Papa menghentikan. "Mau kemana kamu saya ingin bicara." ujar Papa dingin.


Deg deg.

__ADS_1


Diah kembali turun lalu ikut gabung bersama mereka.


"Kamu pernah kuliah dimana?" tanya Papa, to dhe point.


"Di kampus xxx bersama Mawar Pa, tapi tidak selesai." sahutnya sambil menunduk.


Tidak ada orang yang Diah takuti didunia ini. Namun dengan Papa, mengapa jadi menciut.


Diah kuliah hanya sampai dua semester. Karena sering tidak masuk, dan tidak membayar uang kuliah akhirnya di D,O biaya kuliah dari Adit hanya untuk bersenang-senang.


"Lantas apa keahlian kamu?" cecar Papa.


"Maksudnya, Pa?" Diah balik bertanya tidak mengerti pertanyaan Papa. Diah menatap Papa hanya sesekali, takut dengan mata elangnya.


"Kamu bisa memasak?" Papa seperti sedang wawancarai karyawan.


Diah menggeleng.


"Menjahit, melukis?"


Diah juga menggeleng.


Atau ada keahlian dibidang akademik?" Papa terus mencecar, Diah rasanya kebelet pipis.


Diah juga menggeleng.


"Lalu untuk apa kamu hidup?!" ketus Papa.


"Hidup itu harus punya tujuan, Diah, tidak hanya keluyuran kemana-mana menghabiskan uang suami, untuk tujuan yang tidak baik!" Papa rupanya masih terus menyelidiki kegiatan Diah diluar sana.


"Jika saya mengizinkan kamu tinggal disini, itu karena demi Abim. Tetapi tinggal disini harus ada aturan, tidak boleh keluar dari rumah untuk hal yang tidak berguna! ngerti kamu?!"


Papa lantas pergi meninggalkan Diah masuk kedalam kamar, diikuti Mama.


Jujur dalam hati Papa, masih belum bisa menerima Diah sebagai menantu. Diah bukan wanita yang masuk kriteria Papa. Sebenarnya Papa tidak ingin mempunyai menantu yang pandai, seperti yang dipertanyakan kepada Diah. Tetapi Papa hanya ingin mempunyai menantu yang berakhlak baik.


Intan yang dari tadi hanya diam lantas berdiri meninggalkan Diah melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.


Dengan dada yang terasa sesak, Diah menapaki anak tangga membuka pintu kamar lantas menjatuhkan tubuhnya dikasur.


Tubuhnya bergetar menangis tersedu-sedu. Selama ini jika ada yang menasehati hanya masuk kuping kanan keluar kuping kiri. Namun kenapa kata demi kata yang diucapkan mertua laki-lakinya begitu melukai hatinya.


****


Di puncak Bogor, burung-burung berkicau merdu. Gadis berhijap tampak enerjik berjalan kesana kemari. Dialah Melati.


Siang hari Mahasiwa jurusan Ekonomi yang kuliah malam hari rata-rata berlatar belakang bekerja profesional. Melati salah satunya sedang menggelar Outbound.


Mahasiswa yang baru maupun yang lama bergabung menjadi satu.

__ADS_1


Kegiatan ini telah digelar sejak sabtu sore. Dimana waktu mereka tersita oleh pekerjaan dan keluarga tentunya. Sebab para mahasiswa yang kuliah malam rata-rata sudah berkeluarga. Jika ada yang lajang mungkin hanya beberapa.


Beberapa Vila telah diboking tampak mereka sedang menyatap makan siang setelah melakukan berbagai macam kegiatan sejak pagi.


Semilir angin walupun Matahari sedang terik. Namun tidak terasa karena mereka berada dibawah pohon yang rimbun.


"Mel kok udang loe, nggak dimakan?" Tanya Bombom melirik kotak nasi milik Melati.


Alex pun lantas ikut menelisik box yang Melati pegang.


"Kalian mau?" tanya Melati menatap kedua pria itu.


"Mauuu... " seru kedua cowok itu bersaamaan. Siang ini memang hanya makan nasi kotak yang disediakan pantia. Tidak seperti tadi malam diadakan bakar-bakar Ikan, Ayam, maupun jagung.


"Kalian ini dasar rakus," Risda mencebik.


"Bodo" Alex menjawab lantas ambil udang dari kotak nasi milik Melati. Dada Alex berdegup kencang hingga tanggannya gemetaran ingin ambil udang dengan sumpit tidak bisa-bisa.


"Sini... saya ambilkan" kata Melati tidak tahu jika Alex sedang grogi. Melati ambil lima ekor udang memindahkan kekotak Alex.


"Saya tidak dibagi?" Dosen jangkung itupun ikut bergabung.


"Pak Rony," ucap mereka bersamaan mendongak keatas menatap Pak Roni masih berdiri.


"Duduk Pak" Bombom mempersilahkan.


Alex kesal kenapa kemana-mana Dosen ini selalu membuntuti. "Kenapa tidak bergabung dengan Dosen yang lain Pak?" tanya Alex ingin Dosenya segera menjauh.


"Memang kenapa, kalau saya bergabung dengan kalian?" Rony balik bertanya lantas duduk di sisi kiri Melati sedangakan Alex disisi kanan.


Alex mengunyah udang pandangannya tidak lepas dari Rony yang selalu akrab jika ngobrol dengan Melati.


"Masih banyak kegiatan nggak hari ini Mel?" tanya Rony.


"Tidak ada lagi Pak, setelah ini bebas jalan-jalan lantas jam tiga kumpul sebab jam empat sudah pulang." terang Melati.


"Kita jalan-jalan ke kebun teh ya Mel" kata Rony.


Alex semakin kesal.


"Boleh asal bareng-bareng teman yang lain ya Pak, tidak enak soalnya," jawab Melati setelah meneguk air.


Yes. Alex membatin tersenyum samar.


"Mela... kamu disini?" sapa pria tampan mendekati Melati.


Siapa lagi ini?


Rony dan Alex membatin.

__ADS_1


.


.


__ADS_2