
"Cepat naik Fred" titah Gita sebab Alfred bergeming. Alfred tidak menjawab, kemudian membuka pintu lalu duduk di jok depan.
Gita menjalankan mobilnya tidak ada yang terucap dari bibir nya.
"Terimakasih Git" ucap Alfred pada akhirnya.
"Saya mengajak kamu pulang, hanya demi Freddy! jadi jangan pernah mengganggap kalau saya kasihan sama kamu!" ketus Gita.
"Aku mengerti" lirih Alfred.
Gita kembali diam, mobil melaju cepat tidak lama kemudian, mereka sampai di rumah.
"Daddy..." Freddy langsung berlari keluar ketika bibi membuka pintu. Ia melihat Daddy nya pulang langsung merangkul.
Gita masih terpaku di tempat melihat interaksi keduanya. Alfred mengangkat anaknya kedalam gendongan.
"Daddy jahat, Daddy pergi nggak bilang-bilang, Daddy nggak sayang sama Freddy" cecar Freddy menenggelamkan wajahnya di dada Alfred. Alfred tidak sepatah kata pun berbicara.
"Kok Daddy bau..." kata Freddy sambil menutup hidung kas anak-anak tampak lucu, sangking kangenya Freddy tidak menyadari bahwa Alfred bau sampah busuk.
"Daddy mandi dulu ya" ucap Alfred tersenyum malu, seraya menurunkan Freddy dari gendongan.
"Okay... Daddy." Freddy membiarkan Alfred masuk kedalam. Lalu berlari menghampiri Gita.
"Mommy... jangan usir Daddy lagi ya" ucapnya polos. "Nggak... kita kedalam yuk" sahut Gita.Gita menuntun Freddy mereka masuk kedalam kamar.
"Daddy habis ngapain ya, Mom?" tanya bocah kecil itu mendekati Gita yang sedang melepas hijab.
"Daddy pulang kerja," jawab Gita berbohong tidak mungkin menceritakan yang sebenarnya kepada anaknya.
"Kerja apa sih Mom? kok bau sampah?"
Gita menoleh cepat. "Sekarang... Freddy minta ganti baju dulu sama suster, baju kamu juga bau," Gita mengalihkan. Baju Freddy pun sedikit bau mungkin karena tadi memeluk Alfred.
Alfred sudah selesai mandi wajah bulenya yang awalnya cemong sudah tidak nampak lagi. Baunya pun sudah wangi. Bapak dan anak itupun, kemudian masuk ke kamar bermain. Dimana biasa mereka menghabiskan waktu.
"Ahahaha... aku naik kuda, aku naik kuda" Ahahaha... Freddy kegirangan rupanya ia naik di punggung Daddy nya yang merangkak berputar-putar dengan lutut.
Gita menatap suami dan anaknya di sela-sela pintu yang tidak tertutup rapat.
*******
Sore hari di depan pabrik tampak ramai sudah saatnya para buruh pabrik pulang.
Termasuk Diah, ia berjalan sempoyongan memegangi perutnya yang terasa sakit. Kepalanya pusing, mual dan ingin muntah.
Diah jatuh tersungkur para karyawan berkerumun ingin menolong.
__ADS_1
"Panas banget ini badanya" kata salah satu karyawan memegangi dahi Diah dengan punggung tangan.
"Terus... bagaimana?" tanya karyawan yang satu lagi.
"Diah... Rindy masuk kedalam kerumunan lalu memangku kepala sahabatnya yang terlentang di konblok. "Diah... bangun Diah..." Rindy menepuk-nepuk pelan pipi Diah.
"Ada apa ini?" tanya pria kira-kira berumur 35 tahun, mendekati kerumunan. Pria yang mengenakan kemeja biru laut dan jas hitam itu pun ikut membelah kerumunan.
"Teman saya pingsan Tuan, badanya panas" terang Rindy.
Karyawan yang mengerubungi Diah tahu siapa yang datang lantas menyingkir semua.
"Kalian jangan minggir, cepat angkat ke mobil saya, kita bawa kerumah sakit," titah pria yang tingginya 180 itu.
"Biar saya saja, Tuan" Rindy berniat mengangkat. Namun, tidak bisa sendiri pria itu lantas membantu menggotong, dan membawanya menuju mobil.
Karyawan yang lain membulatkan mata terkejut. "Hah... direktur kita mau menolong karyawan rendahan?" para karyawan heboh.
"Kalau gitu, aku mau sakit ah... biar di tolong seperti dia," celetuk wanita yang bertubuh ramping berkedudukan sebagai sekretaris pria tadi, entah siapa namanya tidak dipikir dulu.
"Dasar! dicatat malaikat loh" kata teman wanita itu.
"Habisnya, sudah 3 tahun menjadi sekretarisnya, aku kalau bicara dengannya, dijawab hanya seperlunya" Begitulah ocehan para karyawan.
Sementara di parkiran mobil. Rindy dan direktur utama sampai di mobil BMW berwarna hitam.
"Siapa ini Tuan?" tanya supir seraya membuka pintu.
"Langsung ke rumah sakit terdekat Mang," titah direktur kepada supir.
"Baik Tuan" jawab mamang.
"Temanmu sering pingsan begitu?" tanya direktur menoleh kebelakang kepada Rindy.
"Ti... tidak per... penah Tuan" jawab Rindy gagap karena masih memikirkan temannya pingsan di tambah lagi bisa satu mobil dengan direktur membuatnya terasa jantungan.
******
Di ruang UGD dokter segera menangani Diah dan dilakukan pemeriksa di laboratorium, menurut dokter Diah mengalami infeksi usus. Juga melakukan rontgen di bagian perut. Sebab menurut Rindy Diah beberapa hari ini mengeluhkan sakit perut.
Hingga lepas manggrib, sang direktur masih menunggu hasil pemeriksaan selanjutnya.
"Keluarga Diah Susanti" panggil suster.
"Saya Sus" Rindy segera menemui dokter diikuti direktur.
"Anda suaminya?" tanya dokter ketika mereka sampai ruangan. Direktur dan Rindi saling pandang. "Dia..." direktur ingin menjawab tapi di potong oleh dokter. "Makanya diperhatikan Mas, istri Anda sepertinya kelaparan," terang dokter
__ADS_1
"Kelaparan?" direktur terkejut.
"Iya, ususnya hampir lengket, sebaiknya istri Anda dirawat untuk beberapa hari," tutur dokter.
"Lakukan yang terbaik dok" pungkas direktur.
Diah yang belum sadarkan diri segera dibawa keruang rawat. "Siapa nama kamu?" tanya direktur kepada Rindy.
"Sa... saya Rindy, Tuan" Rindy tampak gugup.
"Saya sudah urus administrasi nya, sebaiknya kamu tunggui Dia. Saya pulang, jika ada sesuatu hubungi saya," direktur menyerahkan kartu nama kepada Rindy. Kemudian meninggalkan ruang rawat inap. Rindy menatap punggung direktur yang sedang jalan keluar menepuk-nepuk pipinya sendiri. "Oh ternyata tidak mimpi." gumamnya.
Diluar pria bertubuh kekar tampak sedang mengikuti mereka.
Ternyata sampai di depan rumah sakit tadi, di belakang mobil tersebut ada motor yang mengikuti. Ia adalah bodyguard suruhan tuan Efendi.
Bodyguard menatap tandu yang menggotong Diah oleh pihak rumah sakit di ikuti direktur dan juga Rindy. Ia lalu merogoh handphone menghubungi tuan Efendi.
"Hallo...!! suara tuan Efendi di seberang telepon.
"Hallo Tuan, putri Tuan dibawa ke rumah sakit"
"Kerumah sakit? rumah sakit mana?"
" Rumah xxx Tuan"
"Baik saya segera kesana."
Tuan Efendi memutus sambungan telepon beliu masih sibuk di gudang beras. Lalu mematikan komputer bergegas menuju rumah sakit bersama supir.
******
Malam hari dirumah sakit tuan Efendi masuk ke ruang rawat. Diah sudah di infus. Ia melihat anaknya tergolek di tempat tidur, terlihat kantung mata yang cekung, pipinya tirus, hatinya mencelos.
Rindy tampak duduk telungkup menunggui sahabatnya. Ia rela tidak pulang demi sahabatnya.
Kreeettt..." mendengar tiang infus ditarik. Rindy bangun dari tidurnya karena memang tidak terlalu pulas.
"Siapa Anda?!" ketus Rindy lantas berdiri cepat siaga jika pria setengah baya akan berbuat jahat.
"Jangan takut, saya keluarganya," tutur tuan Efendi santai tapi netranya tidak berpaling dari Diah.
"Keluarga?" Rindy masih tidak percaya, sebab ia belum sempat menghubungi keluarga Diah.
"Apa yang di alami anak saya? sakit apa Dia?" cecar tuan Efendi.
"Anda jangan mengaku-ngaku, Anda bukan Bapak Diah," Rindy mengusir tuan Efendi mendorong keluar. Rindy takut om ini akan berbuat macam-macam dengan mereka.
__ADS_1
.
"Assalamualaikum... budhe sedang dikasih nikmat sakit, selama seminggu belakangan ini. Tapi budhe sempatkan menulis, walaupun sambil tidur. Mohon doanya ya" 🤝🤝🤝 ✍✍✍.