PERNIKAHAN BERUJUNG LUKA.

PERNIKAHAN BERUJUNG LUKA.
Prenjak & Kedasih.


__ADS_3

Jam delapan malam, keseruan dua pasang pria dan wanita sedang makan di lesehan, selain membahas tentang pernikahan Intan, mereka bercanda tawa.


Sebenarnya mereka datang sejak selesai shalat maghrib, tetapi keadaan lesehan cukup ramai, terpaksa menunggu giliran.


"Aaa..." Abim menyuapi Melati.


"Iihh... malu tahu! Bang!" wajah Melati bersemu merah, malu dilihatin Rony dan Intan. Abim terkekeh.


"Aaaa..." Rony pun tak mau kalah.


"Nggak, mau!" Intan memalingkan muka.


"Jangan mau Tan, kalian belum boleh suap-suapan," kelakar Abim membuat semua tertawa.


"Enak juga menu di sini, tulang Bebek nya sampai empuk, terus... sambal nya juga mantap," kata Melati.


"Kamu pernah makan di sini Tan?" sambungnya.


"Belum, tapi kalau pulang kerja melihat tempat ini selalu ramai, sebenarnya pengin mampir, tapi malas, kalau makan hanya sendiri" tutur Intan.


"Nggak mau ngajak aku" Rony menimpali.


"Andai saja, kenal Mas, sejak dulu, pasti aku selalu minta di traktir," Intan kemudian menyuap Bebek yang sudah ia cocol dengan sambal.


Mereka pun menikmati hidangan.


*******


Di waktu yang sama. "Honey... ayo makan dong... kok di aduk-aduk terus..." Marsel menatap Diah yang tidak berselera untuk makan.


"What's wrong with you?" tanya Marsel.


Awalnya Diah hanya menggeleng, diam untuk beberapa saat, dan pada akhirnya Diah memberanikan diri untuk bertanya.


"Tuan, boleh saya bertanya sesuatu hal, yang pribadi?" Diah masih agak segan, kepada mantan bosnya, dan sekarang menjadi suaminya itu.


"Mau tanya apa?" Marsel yang awalnya, sedang makan mendadak berhenti mengunyah.


"Kalau boleh saya tahu, dimana mama Calista saat ini, dan siapa wanita yang bernama Arabella?"


Klontang!


Marsel menjatuhkan sendok ke dalam piring. "Jangan tanyakan itu lagi! ngerti!" wajah Marsel berubah horor membuat Diah ketakutan, air mata bening pun membasahi pipi.


"Shorry" Marsel merasa bersalah setelah melihat Diah menunduk dan menangis.


"Saya mau pulang!" Diah pun berdiri meninggalkan makanan yang sama sekali belum ia sentuh.


"Honey..." Marsel mengejarnya. "Maaf ya, aku salah, tapi aku mohon, jangan pulang malam ini" kata Marsel lembut.


"Silahkan saja, kalau Tuan masih mau menginap di sini, tapi saya pamit pulang, kasihan Lita menunggu," Diah beralasan minta izin tapi setengah memaksa.


Diah tidak perlu kembali ke kamar, toh tidak ada yang perlu di ambil. Ia segera keluar dari lobby hotel.

__ADS_1


"Tunggu *h*oney, baiklah... kalau kamu maunya pulang, kita pulang sekarang, tapi tunggu dulu, aku ambil jas" Marsel pun mengalah. Dengan langkah cepat ia kembali kekamar, ambil jas, dan kemeja kemudian kembali.


"Let's go" Marsel pun memeluk pundak Diah mengajaknya masuk ke dalam mobil.


Di alam mobil, tidak ada sepatah kata pun dari mulut Diah. Ia menatap pepohonan di pinggir jalan. Masih memikirkan banyak hal.


Diah masih belum sepenuhnya mengenal karakter suaminya. Bentakan tadi masih terngiang di telinga.


Marsel pun fokus menyetir, sebenarnya ia ingin Diah ngobrol seperti biasa, tidak di diamkan seperti ini.


********


"Mama... mama kemana? kenapa aku tadi nggak di jemput, hu huuu" Begitu melihat Diah dan Marsel masuk rumah, Lita langsung memeluk Diah sambil menangis.


"Oh iya maaf, tadi mendadak ada urusan, sayang" Diah langsung menggendong Lita mengajak ke kamarnya, setelah mencium punggung tangan oma.


"Bukanya kalian harusnya malam ini rencana menginap Sel?" oma langsung mencecar pertanyaan.


"Iya, tapi Diah nggak mau Mom, keingetan Lita terus" Marsel beralasan.


"Benar Sel, anakmu itu dari pulang sekolah tadi siang, merengek terus, Mom sama Marni, pusing di buatnya" oma geleng-geleng.


"Ya sudah Mom, aku ke kamar dulu." Marsel lantas menyusul istri dan putrinya yang sedang duduk di ranjang, tampak Diah dengan sabar membujuk Lita, yang masih ngambek.


Marsel tersenyum menghampiri mereka.


"Mama sekarang harus ceritain aku, soalnya tadi pergi nggak bilang-bilang" rengek Lita.


"Mama capek Lit, sebaiknya Lita bobok dulu, besok siang saja, pulang sekolah biar Mama cerita" nasehat Marsel, seraya naik ke tempat tidur merebahkan tubuhnya di ranjang sempit milik Lita.


"Ok, ok! sekarang Lita berhenti menangis, nanti mama cerita," Diah menarik napas panjang.


"Mama mau cerita apa?" Lita tiba-tiba berhenti menangis lalu menyusut air matanya dengan punggung tangan, kas anak-anak.


"Lita maunya Mama cerita apa?" Diah balik bertanya.


"Tentang hewan" jawabnya.


"Siap bos" Diah mengangkat telapak tangan memberi hormat. Marsel yang melihatnya terkekeh.


Diah pun tersenyum menoel hidung Lita. Lita ternyata menjadi hiburan sendiri bisa melupakan sedikit kesedihannya.


"Baik, Mama mau cerita tentang Burung, tapi Mama minta, Lita harus bisa ambil cerita ini yang baik-baik saja, tetapi... yang jelek jangan di tiru, ya"


"Iya Ma"


"Ceritanya sambil tiduran saja" Marsel mengusap-usap punggung Diah.


Marsel masih merasa bersalah karena membentak Diah tadi, ia sebenarnya takut untuk bicara, khawatir Diah semakin marah.


Diah tidak menyahut tetapi, menurut. Merebahkan tubuhnya di sebelah Marsel tapi membelakanginya, karena Diah menghadap ke Lita.


"Ada burung Kedasih betina, yang sangat jahat" Diah mulai cerita.

__ADS_1


"Tingkah laku burung tersebut tidak sebagus namanya. Ia mendatangi burung Prenjak yang sedang bertelur di sarangnya di atas pohon."


"Titi tuit... titi tuit, hai, Perjak! minggir kamu!" burung Kedasih mematuk kepala Prenjak dengan wajah menyeramkan.


"Prenjek... prenjek" karena takut dengan Kedasih, Prenjak mengalah meninggalkan telurnya. Kedasih masuk ke dalam sarang Prenjak, kemudian bertelur di sana"


"Hari berganti, telur Kedasih menetas lebih dulu, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya" Diah menitikan air mata tetapi segera mengusap agar Lita jangan sampai melihat.


"Anak Kedasih pun tumbuh menjadi anak yang jahat, telor Prenjak dia jatuhkan ke tanah"


"Ih! jahat ya, Ma"


"Ingat ya, ambil yang baik, cerita Mama" pesan Diah.


"Iya Ma, terus Ma"


"Hingga beranjak dewasa, anak Kedasih, semakin jahat, bukan hanya sifatnya yang buruk, tetapi wajahnya pun jelek" hiks hiks. Diah tidak kuat menahan tangis.


"Honey..." Marsel mengusap kepala Diah. "Kalau ceritanya sedih jangan di teruskan."


Diah tidak menjawab.


"Mama, jangan menangis," Lita menyusut mata mama barunya dengan jari.


"Maaf sayang... Mama baper"


"Iya sih Ma, Lita kalau mendengar cerita sedih suka baper juga" kata Lita polos.


"Mau terus nggak? soalnya ceritanya sedih" Diah mengalihkan.


"Terus Ma"


"Jika anak Kedasih tumbuh menjadi Burung yang buruk, berbanding terbalik dengan anak Prenjak, yang jatuh ke tanah, tumbuh menjadi Prenjak yang cantik, tidak hanya wajahnya yang cantik, hatinya pun lebih cantik" hiks.


"Hingga suatu ketika, ada Elang yang menyukai anak Kedasih. Mereka saling berhubungan. Anak Kedasih tidak mempedulikan perasaan anak Prenjak. Padahal anak Prenjak pun menyukai Elang"


"Dengan sombongnya Kedasih bercinta dengan Elang, di depan Prenjak cantik" Diah kembali menangis.


"Tetapi... kejahatan Kedasih semakin menjadi-jadi, tidak cukup satu Elang yang menyukainya, justeru berkhianat dengan Elang yang lain"


"Hingga akhirnya, Kedasih kena karmanya sendiri, dia di sakiti Elang yang ia puja."


"Nah, sukurin tuh Kedasih, jahat!" Lita rupanya ikut baper.


"Sejak saat itu, Kedasih mulai sadar dari kekeliruanya, dan bertaubat, memohon ampunan kepada Tuhan Nya"


"Oh, jadi... Kedasih jadi baik ya, Ma? nggak jahat lagi"


"Iya, tapi karma Kedasih masih berlaku. Ketika Prenjak hidup bahagia dengan Elang yang sudah Kedasih sakiti."


"Kedasih, mencoba menerima Elang yang lain, tetapi... Elang itupun, membohongi Kedasih" Diah pun tidak kuat lagi melanjutkan ceritanya. Ia menangis tersedu-sedu.


"Honey..." Marsel bangun dari tidurnya melihat Lita sudah tertidur. Lalu membangunkan Diah. Mereka duduk berhadapan, lalu memeluk tubuh ringkih Diah.

__ADS_1


"Jujur, sama aku, ada apa?" Marsel menyimpulkan dalam cerita tadi, ternyata istrinya mempunyai kisah masa lalu yang rumit. 😢😢😢.


.


__ADS_2