
"Mas! sakit!" sergah Diah menarik pergelangan tangan yang dipegang kencang oleh Abim hingga memerah. Namun Abim justeru memegangnya kencang.
"Kamu ini manusia atau bukan Diah, bagaimana caranya menasehati nanusia macam kamu!" Abim mengibas kasar tangan Diah.
"Kalian yang keterlaluan Mas, aku dirumah ini selalu dimusuhi, disia-siakan!" Diah akhirnya menangis.
"Itu karena kelakuanmu sendiri, menjadi wanita binal, susah diatur!" Abim menunjuk dada Diah.
"Aku nggak mau disini, aku mau pulang kerumah ibu!" Diah sesegukan.
"Pulang sana! saat ini juga boleh! saya tidak akan menahan kamu!" Abim benar-benar emosi.
"Perlu kamu tahu Diah! saya menyesal sudah mengorbankan masa remaja saya, hanya untuk menikahi wanita seperti mu!" Abim kini sudah benar-benar geram dibuatnya.
"Mas Abim..." kedua tangan Diah memukul-mukul perutnya, mendengar perkataan Abim.
"Hentikan Diah! jika tidak, bukan hanya bayimu yang sakit, tapi kamu pun akan mati!" sergah Abim. Semarah-marahnya Abim tidak akan tega melihat anak dalam kandungan Diah kenapa-kenapa.
Abim lantas keluar meninggalkan Diah naik kelantai atas.
Sementara Diah telepon ibunya mengadukan kejadian hari ini, bahwa disini tidak bahagia selalu dimusuhi. Setelah telepon bu Reny, Diah lalu tidur hingga waktu sore.
Tok tok tok.
Ceklek
Bi Emi membuka pintu tertegun, menatap tamu majikanya.
Wanita paruh baya rambut disanggul, baju merah, celana pun merah, jika di telisik seperti biji saga. Wanita temperamen ini sudah agak mengerti masalah fashion, walaupun masih terkesan norak. Sandal pun sudah tidak memakai sandal jepit kamar mandi seperti dulu.
"Jeng Ina ada?" tanya wanita itu.
"Oh ada Bu, silahkan masuk," bi Emi mengajak bu Reny masuk. Ya wanita itu ternyata bu Reny.
"Panggil saya, Nyonya!" ucapnya angkuh.
"Oh maaf, silahkan duduk Nyonga" bibi mengalah.
"Saya panggilkan Non Diah dulu, soalnya Nyonya Ina, jam segini biasanya sedang mandi," Bibi bergegas meninggalkan tamunya, memanggil Diah kekamar.
"Ibu suruh kesini saja, Bi," lirih Diah. Ia tidur memeluk guling, setelah bibi mengetuk pintu disilahkan masuk sang pemilik kamar. Lalu memberi tahu bahwa ada bu Reny menunggu diluar.
"Baik Non" bibi kembali keruang tamu. "Bu, eh Nyonya, kata Non Diah, Nyonya disuruh kekamar, saja" terang bibi.
Bu Reny lantas berdiri mengikuti bibi.
"Masuk Nyonya" kata bibi.
__ADS_1
Bu Reny masuk kekamar Diah, melihat anaknya sedang menangis lantas mendekat.
Ternyata Diah bisa menangis juga. Sebenarnya tadi sudah tidak menangis, setelah mendengar ibunya datang langsung ekting.
"Diah" bu Reny duduk disamping anaknya.
"Bu" Diah kemudian bangun memeluk bu Reny. Ibu dan anak itupun saling melepas kangen. Semenjak Diah bekerja, ia belum mengunjungi ibunya.
Hingga beberapa menit kemudian, bu Reny melonggarkan pelukanya. Mendorong pundak Diah menatap lekat wajah anaknya pipi memerah dan mata sembab.
"Kamu kenapa?" tanya bu Reny kemudian.
"Diah mau pulang saja bu, nggak mau disini" rengek Diah.
"Seeettt... sabar... kamu lupa misi kita, mertua kamu ini orang kaya loh, selangkah lagi kita akan memeliki semua" bu Reny menyeringai licik.
Ternyata Diah betah dirumah mertuanya semata-mata bujukan bu Reni ingin menguasai hartanya.
"Tapi... aku nggak kuat lagi, selalu dimusuhi keluarga ini, terutama Papa, Bu" adu Diah.
"Dengarkan Ibu, Diah, berkat kesabaran ibu, dua rumah milik Mawar sudah kita kuasai, ahaha..." bu Reny tertawa jahat.
"Sudah... sekarang kamu sabar dulu, perbaiki hubungan kamu dengan mertua, dan suamimu. Apa lagi, kamu saat ini sedang mengandung anak Abim, jadikan senjata bayi dalam kandunganmu." pungkas bu Reny.
Bu Reny lantas keluar besan perempuannya sudah menunggu diruang tamu.
"Kabar baik" mama Sahina menjawab ramah.
"Silahkan duduk jeung," mama menunjuk kursi didepanya.
"Terimakasih..." bu Reny duduk mengikuti gaya besan yang sudah duduk melipat kaki. Padahal rasanya tidak betah. Maklum, biasanya duduk selonjor atau nongkrong.
"Jeung... maafkan kelakuan Diah ya, anak itu memang suka kurang ajar, maklum lah... tidak ada figur ayah sejak kecil, cek," bu Reny berdecak kesal.
"Saya maklum kok jeung, kami sekeluarga sudah cukup sabar menghadapi putri ibu, tapi... jika sudah berniat membahayakan kesehatan orang lain sepertinya kami tidak bisa mentolerir lagi," tegas mama.
Mama Sahina rupanya sudah mulai lelah menghadapi Diah.
"Jeung... saya mohon maaf atas nama Diah, tolong beri kesempatan sekali lagi, anak saya sedang mengandung anak Abim, apa jeung Ina tega... Diah membesarkan anaknya sendiri." bu Reny mimblik-mimblik menangis.
Bukan mama Ina namanya, jika tidak memberi maaf. Beliau pun ngobrol panjang lebar. Menjelang magrib bu Reny pamit pulang.
********
Lima bulan berlalu, selama itu pula Diah sedikit berubah. Jika didepan Abim tentunya, entahlah jika dibelakang. Karena Diah menuruti kata-kata ibunya.
Abim pun memboyong Diah kerumahnya sendiri, sudah sejak tiga bulan yang lalu.
__ADS_1
Walaupun Diah belum bisa menjalankan tugas sebagai istri, karena mereka sama-sama sibuk bekerja diluar. Abim lah yang harus mengalah bangun pagi-pagi membereskan rumah sebelum berangkat.
Rumah tipe 70 tentu jauh dari kata mewah, bagi Abim. Jika di bandingkan rumah keluarganya kamar Abim pun besarnya setengah dari rumahnya yang ditinggali kini.
Kesulitan uang, jelas iya. Pasalnya gaji Abim sembilan juta untuk keperluan ini itu, membayar listrik, air, angsuran rumah, memberi Diah setiap hari 100 ribu. Walaupun Abim tidak tahu uang yang ia berikan untuk apa. Nyatanya, Abim tidak pernah dibelikan makanan oleh Diah apa lagi sampai memasak. Padahal Diah katanya mencari uang sendiri.
Untuk makan setiap hari Abim rela lembur, terkadang menerima tawaran kerja prilen yang penting bisa cukup. Belum lagi harus mengumpulkan biaya lahiran yang tinggal menghitung hari.
Namun, Abim selalu bersyukur, karena ini hasil jerih payahnya.
Saat ini usia kandungan Diah sudah sembilan bulan. Ia sudah ambil cuti dari pekerjaanya.
Kring... kring...
Handphone Abimanyu berbunyi, Abim meletakkan mouse, mengangkat telepon sejenak.
"Mas Abim... perut aku sakit!" kata Diah di seberang telepon.
"Kamu mau melahirkan?" tanya Abim.
"Nggak tahu Mas, makanya cepat pulang, aku nggak tahan," rengek Diah.
"Ya, sabar dulu,"
Tut. Abim memutuskan sambungan telepon. Lantas, membenahi meja kerja.
"Fan, gw pulang duluan ya," Abim terlihat panik walaupun ditelepon tadi terkesan cuek.
"Ada apa loe? tumben?" tanya Refan. Refan tahu biasanya Abim selalu pulang larut.
"Bini gw sakit perut katanya," jawab Abim seraya memasukkan lap top kedalam tas.
"Waah... sudah mau menjadi ayah loe" Refan menepuk bahu sahabatnya itu.
"Mungkin... jika benar, doakan lancar ya Fan," kata Abim.
"Aamiin..." Refan menjawab.
Abim kemudian mengajukan cuti tahunan setelah disetujui bergegas pulang.
Abim segera keparkiran menjalankan motornya, di tengah perjalan singgah dulu di minimarket, guna menggesek rupiah. Ia chake saldo tabungan ada 10 juta untuk biaya lahiran. Abim ambil setengahnya.
"Mudah-mudahan... lahir normal, jika caesar tentu uang tidak akan cukup" Abim komat kamit berdoa kemudian lanjut menjalankan motornya.
******
"Budhe tunggu marah-marah nya" ❤❤❤.
__ADS_1