
Melati turun dari taksi langsung masuk halaman rumah mama Ina ia tampak terburu-buru.
"Non Mela, mau ketemu Non Intan?" tanya bibi yang sedang menyapu halaman.
"Iya Bi, kok sepi?" Melati kecewa pasti Abim sudah berangkat.
"Kak Abim sudah berangkat ya?" tanya Melati harap-harap cemas.
"Yah... terlambat Non, sudah 15 belas menit yang lalu," bibi mengira Melati ingin bertemu Intan.
"Oh gitu ya Bi" Melati Lantas memesan ojek online jika naik taksi pasti akan lama. Tidak lama kemudian ojek datang, Melati lantas berangkat ke Bandara setelah pamit bibi.
Jalanan macet Melati resah sepanjang jalan. "Bang, bisa lewat pinggir nggak?" Melati greget sebab ojek tidak nyelip-nyelip malah menunggu mobil didepanya.
"Iya Mbak" Ojek pun mengikuti kata Melati dan akhirnya sampai tujuan.
Dengan langkah cepat, Melati sampai didepan Bandara suasana ramai tampak orang-orang berlalu lalang.
Bola matanya mengerling ke semua arah tampak mencari sosok Abim, namun tidak nampak. Justru pandanganya tertuju kepada bu Riska, pak Sutisna, Adit dan kak Mawar sedang berdiri di depan pintu masuk lobby Bandara.
"Ibu" gumamnya.
Melati terkejut, bukankah tadi ketika ia berangkat kakaknya masih dirumah, tapi mengapa beliau sudah sampai disini? Pertanyaan-pertanyaan itu muncul dibenaknya dan yang lebih mengejutkan ibu dan bapak juga berada disini.
Melati berlari menghampiri mereka. "Bapak, sama Ibu, kenapa berada disini?" Melati memegang lengan bu Riska yang sedang menatapnya sambil menangis.
"Ibu kenapa menangis?" Melati semakin terkejut. Bu Riska bukanya menjawab justeru memeluknya erat. Tangan Melati mengusap punggung ibu kandungnya yang sedang bergetar.
Melati menatap pak Sutisna dan kak Mawar minta penjelasan.
"Mel... kamu mau kan? ikut berangkat ke Swiss?" pertanyaan kak Mawar justeru membuatnya semakin bingung.
"Bu... apa maksudnya?" Melati menatap ibu yang sedang memegang kedua tangannya.
"Kakakmu benar Nak, ikutlah Nak Abim, kejarlah cita-cita kalian, ibu akan selalu mendukungmu."
Flashback on.
"Bim kamu yakin? mau meninggalkan Melati?" tanya Mawar dan Adit ketika Abim mengunjungi Syifa.
"Itu salah satunya saya datang kesini kak, kalau boleh... saya mau mengajak Melati ikut serta," kata Abim mantap.
"Apa?" Mawar dan Adit terkejut. "Ngacok! kamu Bim, mana bisa begitu... Ibu dan Bapak tidak akan mengizinkan kalian pergi berdua kalian belum menikah." Mawar melotot kesal.
"Kak... Melati dalam bahaya" Abim menunduk lemas. "Disana itu kami menyewa apartemen yang berbeda, aku akan menjaga Melati, kakak nggak percaya sama aku?" Abim tampak kecewa.
__ADS_1
"Dalam bahaya? maksudnya?" cecar Adit.
Abim menceritakan saat kejadian di pesta.
"Jadi... yang menyelamatkan Melati dipesta itu kamu?" Mawar sedikit tenang.
"Iya kak, setelah itu saya mencari orang agar menyelidiki siapa yang mengincar Melati. Tapi... saya justeru mau dibunuh untung ada Rony yang menolong," Abim menceritakan dan menunjukan lukanya.
"Sekarang ini Melati target selanjutnya, saya ingin membawa Melati menjauh kak" Abim memohon ternyata setelah Abim dari rumah sakit menemui Mawar dan Adit.
"Memang Melati mau ikut sama kamu Bim?" Mawar heran Melati tidak pernah bercerita kepadanya, jika ia ingin pergi.
"Nggak tahu... ini tugas kak Mawar untuk menyampaikan, saya nggak berani kak," Abim menatap Mawar memohon.
"Masalah ini, bicarakan kepada Ibu dan Bapak Bim, kami tidak bisa memutuskan," pungkas Adit.
Dengan semangat Abim menemui kedua orang tua Melati, lalu mengutarakan niatnya.
Mendengar anaknya dalam bahaya ibu dan bapak mengizinkan, walaupun sebenarnya berat ditinggal anak gadisnya terutama ibu.Tapi pak Sutisna meyakinkan istrinya, sebab Melati pun mempunyai cita-cita melanjutkan kuliah S2.
"Tapi... kamu bisa dipercaya kan Nak? kalian belum menikah loh?" pak Sutisna gusar, sebagai orang tua tentu beliau khawatir Abim dan Melati berbuat yang tidak-tidak.
"Saya tahu maksud Bapak dan Ibu, saya akan menjaga Melati," tegas Abim. Abim tipikal orang yang menganut agama dengan kuat tentu tidak akan merusak seorang wanita, terlebih orang yang dicintainya.
Bapak dan bu Riska menyetujui Abim mengajak anaknya serta, beliau percaya dengan Abim. Lagi pula, beliau takut jika Melati memang ada yang berniat mencelakai.
Mawar dan Adit segera mengurus pasport, ingin memberi kejutan kepada Melati.
Namun, belum sempat memberi tahu Melati, kejadian penyanderaan terjadi.
Semua akhirnya tidak menyinggung masalah kepergian Melati, pasalnya, Alex sudah ditangkap keadaan menjadi tenang. Mawar akhirnya menemui Abim membatalkan keberangkatan Melati.
Abim tidak bisa memaksa, lagi pula Melati sudah aman Abim bisa berangkat dengan tenang. Namun Mawar melihat Melati sering melamun bahkan ketika sedang tidur, Melati memanggil nama Abim.
Mawar dan Adit menemui kedua orang tuanya ingin memberi kejutan kepada Melati. Bahkan Adit melarang untuk memberi tahu Abim. Adit kemudian memesan tiket pesawat untuk adik Iparnya.
********
"Bu... Pak... Melati menyusul Abim ke bandara," Mawar berlari memberitahu ibunya yang sedang bersiap-siap di kiosnya.
"Ya Allah... naik apa dia?" ibu meletakan sawi yang beliau pegang.
"Naik taksi, ayo kita susul dia Bu," Mawar ngos ngosan kemudian meneguk air.
"Ya sudah ayo" ibu lantas minta anak buahnya untuk menjaga bakso. Kemudian beliau berkumpul dirumah Mawar.
__ADS_1
"Pak... Bu... menurut Adit kita lanjutkan rencana kita kemarin biar Melati ikut Abim kesana," kata Adit.
Ibu diam tampak merenung.
"Terus bagaimana? kita kan belum memberitahu Melati Dit" bapak yang menjawab.
"Kita membawa pakaian Melati saja, toh semua sudah siap... itu juga kalau bapak dan ibu setuju," imbuh Adit.
"Yang dikatakan Adit benar Bu, biar mereka mengejar cita-citanya" bapak tampak sudah rela. Lain bapak lain ibu, beliau masih diam.
"Maw, siapkan pakaian Melati," titah Adit. Mawar menatap ibunya ia tidak akan melaksanakan perintah suaminya jika ibu tidak rela.
"Siapkan Nak," jawab bu Riska pada akhirnya.
"Tapi... nanti kalau Melati menolak, bagaimana?" Mawar tampak ragu-ragu.
"Jika dia menolak... kita bawa pulang lagi Maw" pikir Adit yang penting sudah berniat baik jika Melati menolak tidak masalah.
"Ibu yakin?" Mawar tidak ingin ibunya sedih.
"Kita siapakan Nak, kalau kita ngobrol terus... bisa-bisa terlambat," ibu memeluk pundak Mawar.
Adit menyalakan mobil melaju ke rumah Melati setelah Mawar, bapak dan Ibu naik.
Mereka bergerak cepat, menyiapkan barang-barang milik Melati. Mawar juga menemui Bombom dan Risda agar mengurus gerai ice cream milik adiknya.
Setelah menitipkan Bhanu dan Syifa kepada bibi dan baby sitter mereka ingin langsung Bandara.
"Yah... sudah jam delapan Mas," kata Mawar setelah semua masuk kedalam mobil.
"Kita mencari jalan alternatif" Adit menjawab santai.
Benar saja Adit tahu jalan Alternatif tanpa harus terkena macet hingga sampai jalan tol.
Jarak tempuh yang biasanya dilalui dua jam kini tidak sampai satu jam sudah sampai bandara. Sampai bandara ternyata Melati belum sampai sebab ia mampir kerumah mama Ina dulu.
"Bim" Adit menyapa Abim yang sedang menata koper kedalam troli.
"Eh Kak Adit... Melati mana?" Abim menatap satu persatu yang turun dari mobil tetapi tidak ada Melati ia tampak kecewa.
Flashback off.
"Pergilah Nak, kejar cita-citamu, tapi pesan ibu... kamu harus jaga diri," semua menatap Melati yang masih diam membisu.
.
__ADS_1