
Hari berganti, tiba saatnya pernikahan Diah, dan sesuai permintaannya hanya di hadiri kerabat dekat. Pernikahan di adakan di rumah Mawar yang di tinggali pak Renggono.
"Assalamualaikum" pria setengah baya berwajah tampan masuk ke dalam rumah di gandeng oleh wanita cantik berpakaian gamis, di ikuti remaja putri. Beliau adalah tuan Efendi dan keluarganya yang akan menjadi wali Diah.
"Waalaikumsalam" jawab keluarga besar pak Renggono, semua sudah hadir menunggu calon mempelai pria.
Andi? Mata bu Reny hampir copot dari sarangnya, menatap pria yang seharusnya dulu menjadi suaminya.
Mas Andi, ternyata masih tampan seperti dulu, andai saja dulu kamu bisa membahagiakan aku kita pasti hidup bersama. Bu Reny masih belum bisa berpaling memandangi wajah tampan tuan Efendi.
Wanita yang bersama Andi itu mungkin istrinya, oh cantik juga ternyata. Tapi bukan itu yang membuat aku heran. Apakah Andi saat ini sudah menjadi orang kaya? jika dilihat dari penampilanya, mas Andi saat ini memang sudah kaya.
Pak Renggono yang duduk di sampingnya tahu, bahwa Reny sedang terkesima menatap Efendi. Tetapi tidak ada iri, di hatinya.
"Silahkan duduk Om, Tante" Adit mempersilahkan.
"Terimakasih" jawab Efendi.
Nyonya Desty mengamati gerak-gerik wanita yang mirip dengan Diah memperhatikan suaminya terus, sudah bisa menebak, pasti itu ibu kadung Diah.
Dua wanita yang tak lagi muda itu saling pandang, ada ketegangan di mata masing-masing. Remasan telapak tangan tuan Efendi membuat Desty tersadar lalu beralih menatap pasangan bu Riska dan Pak Sutisnya. Beliau saling senyum.
"Jeung... perkenalkan saya ibu sambung Diah" Desty menghampiri bu Riska menggandeng tuan Efendi.
"Oh iya, saya ibu kandung Mawar dan Melati, lalu ini suami saya," mereka berempat berbincang sebentar lalu mencari tempat duduk yang sudah di sediakan oleh panitia.
*******
"Diah... jangan tegang, santai saja..." kata Melati saat ini menemani Diah di kamarnya yang sedang di rias MUA.
"Siapa yang nggak gugup Mel... hanya waktu seminggu loh, kami persiapan," jawab Diah.
"Masih mending Diah... kamu persiapan selama seminggu, sedangkan aku?" Melati pun ingat pernikahanya 6 bulan yang lalu.
"Kamu waktu menikah dengan kak Abim, gugup juga Mel?" tanya Diah kemudian.
"Wow! jangan ditanya, apa lagi aku, sudah pasti guguplah Diah, kami nggak ada pembicaraan apapun, tiba-tiba langsung di suruh menikah di Bandara pula," Melati geleng-geleng kepala mengingat pernikahannya.
"Di Bandara Mbak?" wanita yang sedang merias Diah, terkejut spontan menoleh Melati.
"Hehehe iya" Melati tersenyum kikuk.
"Saat itu... aku seperti bermimpi, hanya dengan hitungan jam, kami akhirnya bisa melaksanakan ijab kabul, tapi alhamdulillah... semua lancar" tutur Melati terukhir senyum merekah.
"Iya Mel, doakan ya, semoga pernikahanku kali ini bisa bahagia seperti kamu, dan langgeng sampai maud memisahkan," kata Diah.
__ADS_1
"Aamiin..."
"Sudah selesai belum? penghulu sudah menunggu," tante Gini tiba-tiba masuk ke dalam kamar.
"Sudah" jawab MUA.
"Ayo" Tante berniat menggandeng Diah.
"Biar saya saja, Tante" Melati menuntun Diah keluar dari kamar setelah sampai di tempat Marsel yang akan mengucap ikrar. Melati meninggalkan mereka.
Sementara Diah menatap calon suaminya dari belakang yang sudah duduk di depan penghulu, dadanya berdebar-debar. Apa lagi ia harus duduk bersebelahan sungguh rasanya seperti mimpi.
Walaupun sudah tinggal bersama selama empat bulan. Tentu berbeda, karena Diah menganggap kedekatannya dengan Marsel hanya sebatas bos dan bawahan.
"Bisa di mulai?" tanya penghulu.
"Bisa" jawab Marsel, bersemangat membuat semua tertawa.
Melati lalu bergabung dengan keluarganya duduk di sebelah Abim. "Bang, yang menjadi wali Diah itu, Bapak kandung Diah ya?" tanya Melati kepada Abim sebelum akad nikah dimulai.
"Katanya sih iya, tadi aku dengar cerita Kak Adit" jawab Abim pelan.
"Oh" Melati manggut-manggut.
"Muhammad Marcello. Saya nikahkan, dan kawinkan engkau, dengan ananda Diah Susanti, dengan mas kawin seperangkat perhiasan emas, di bayar tunai.
"Sah, sah, sah.
"Oma, kok nama Papa sama, seperti Om berkumis itu?" tanya Calista.
"Sama nama depannya saja, tapi belakangnya kan berbeda," jawab oma.
"Terus di rapot aku, nama Papa kan, Marcello. Tapi kok orang panggil papa Marselo?" Calista memang rasa ingin tahunya cukup tinggi, kadang membuat oma bingung menjawabnya.
"Oma nggak tahu sayang, yang memanggil gitu dulu, teman-teman sekolah Papa." jawab oma.
"Nah, sekarang... Tante Diah, sudah menjadi Mama kamu, jadi... kamu jangan memanggilnya Tante,"
"Tante Diah jadi Mama aku Oma? kok bisa?" Lita menoleh oma yang duduk berderet dengan dua pasang orang tua Diah.
"Bisa, kan Papa sama Tante Diah sekarang sudah selesai menikah," tutur oma pelan.
"Oh" Lita lantas tersenyum senang melihat papanya mencium kening mama barunya, setelah Diah mencium punggung tangan papa.
Lita semakin senang, ketika Diah mendekatinya.Ternyata ingin sungkeman dengan Oma.
__ADS_1
Diah lantas sungkeman kepada pak Renggono, bu Reny, dan yang terakhir papi Efendi.
Tangis Diah pecah, tangis bahagia, ia bersyukur Allah telah menghadiahkan orang tua baru, suami baru, dan juga anak sambung yang baru.
"Semoga kamu bahagia ya Nak" tuan Efendi mengusap kepala anaknya yang masih menangis tersedu-sedu telungkup di pangkuan nya.
Semua yang hadir turut menangis khususnya para wanita, termasuk Mawar, Melati, Intan, dan Juliana.
Acara telah selesai, para tamu menyicipi hidangan. Tampak nyonya Desty dan bu Riska ngobrol akrab.
"Mi, aku ke toilet dulu ya" kata tuan Efendi kepada istrinya.
"Iya Pi" mami Desty melanjutkan obrolannya.
Sementara bu Reny, melihat sekilas, sang pemilik suami. Yaitu Desty sedang lengah. Bu Reny tidak membuang kesempatan itu. Ia bergegas mengejar Efendi yang masuk ke rumah Mawar, di sebelah.
Namun, Efendi sudah terlanjur masuk ke toilet. Terpaksa bu Reny bersembunyi menunggu Andi keluar. Khawatir jika ada orang yang memergoki.
Mata bu Reny menatap tajam kamar mandi, seperti kucing ingin menyergap mangsanya, yaitu tikus.
Ceklak.
"Wuuuss..." bu Reny langsung melesat benar-benar seperti kucing betina.
"Mas Andy?" ia menghadang langkah tuan Efendi.
"Mau apa kamu?!" tuan Efendi beringsut mundur.
"Andi, bagaimana kabar kamu?" suara bu Reny dibuat selembut mungkin, rupanya kucing betina itu, terkesima menatap kucing jantan.
"Tidak usah basa basi! jika tidak ada keperluan! saya akan menemui istri saya." tegas Andi.
"Tunggu" bu Reny menangkap lengan Efendi bau parfum membuat para wanita betah berlama-lama di dekatnya, termasuk bu Reny.
"Lepas!" Andi menghempas tangan Reny.
"Mas Andi, kenapa kamu jahat! selama ini membiarkan aku dan anakmu terlunta-lunta."
"Kamu sudah kaya kan?! tapi kamu lupa kalau kamu punya anak, justeru kamu malah menikahi wanita lain," cerocos bu Reny.
"Hoho! apa urusan kamu Reny? saya mau menikah dengan siapa pun bukan urusan kamu!" Andi menatap geram wajah Reny.
"Jika kamu menganggap saya orang kaya, itu salah besar! perlu kamu tahu! pekerjaan saya sebagai kuli panggul beras, tetapi istri saya menerima saya apa adanya, dia selalu mendukung saya senang maupun susah,"
Prok prok prok.
__ADS_1
Suara sepatu mendekat. Andi dan Reny menoleh.