
Rapat selesai sesuai janjinya Marsel berniat menjemput putrinya. Ia berjalan tergesa-gesa, menyibak kemeja yang menutup jam tangan.
"Kenapa terburu-terburu Pak?" tanya Siska, berjalan terengah-engah tidak bisa menyejajarkan langkah kakinya untuk mengejar Marsel.
"Ada urusan" jawabnya singkat kemudian masuk ke dalam ruangan.
Ceklak.
"Honey..." ucapnya menangkap sosok istri barunya bosan menonton televisi Diah memainkan ponsel.
"Sudah selesai Tuan?" tanya Diah segera beranjak dari duduknya.
"Sudah..." ucapnya seraya mengusap kepala Diah. Lalu meletakan berkas di atas meja. "Aku ke kamar mandi sebentar" sambungnya. Setelah di iyakan oleh Diah, ia bergegas melakukan panggilan alam.
"Let's go" tangannya melingkar ke pinggang Diah setelah selesai dari toilet. Mereka hendak keluar. Namun, ketika hendak membuka pintu Diah berhenti ingin memakai masker kembali.
"NO! Marsel menarik masker dari tangan Diah lalu membuangnya ke tempat sampah.
"Ya... kok di buang?" Diah cemberut.
"Kamu ini sekarang istriku, jadi tidak usah di tutup-tutupi, kecuali kamu memang tidak suka, aku menjadi suamimu," tegas Marsel.
"Bukan begitu, tapi..." Diah menunduk.
"Don't make excuses" Marsel menekan bibir Diah dengan jari. Diah mengalah lalu membuka pintu.
"Sis, kosongkan jadwal meeting hari ini" ucap Marsel, berdiri di depan meja kerja Siska.
Siska ternganga belum hilang pikiranya, tentang adegan tadi pagi kini sudah di dikejutkan lagi oleh tangan Marsel yang melingkar di perut Diah.
"Siska" Marsel mengulangi.
"Baik Pak" bibir Siska kontan terkatup, menatap langkah Diah, dan Marsel tampak romantis, ia mengepalkan tangan.
********
Marsel bersama Diah sampai parkiran lalu masuk ke dalam mobil setelah di bukakan pintu oleh mamang.
Di dalam mobil tangan Marsel tidak mau diam, selalu menjahili Diah. Mamang menatap mereka dari kaca spion senyum-senyum sendiri.
Mobil berhenti di halaman gedung menjulang tinggi terdiri dari 60 lantai.
__ADS_1
"Loh, kok kita turun di sini Tuan?" tanya Diah keheranan, membaca tulisan hotel bintang lima.
"Ayo kita masuk" Lagi-lagi Marsel memeluk pundak Diah mengajaknya masuk lobby, kemudian menuju resepsionis.
"Tuan! jawab dulu? kenapa kita kesini, terus... Lita bagaimana?" Diah membalikkan telapak tangannya.
"Don't worry, honey" Marsel menggengam tangan Diah yang masih bingung apa yang ingin dilakukan suaminya.
"Biar Lita di jemput Mamang, malam ini kita menginap di sini, okay..."
Diah Susanti PoV.
Aku tidak menyangka bahwa Marsel akan mengajak aku menginap di hotel ini.
Aku di gandeng Marsel, masuk ke dalam lorong-lorong menuju kamar hotel. Ia tersenyum menatapku. Ah pria ini selalu memberi aku kejutan, sudah berkali-kali.
Sampailah kami di kamar suites, dengan jendela berukuran besar hampir menyentuh lantai.
Ku buka gorden tampak langit-langit, dan pemandangan kota yang menakjubkan.
Lalu aku ke kamar mandi, setelah Marsel keluar, lantai marmer mewah, di lengkapi dengan shower, dan bathtub. Sebenarnya tanpa harus ke hotel, kamar Marsel pun seperti ini.
"Come here" Ia menepuk ranjang di sebelahnya, rupanya ia sudah membuka kemeja, dan jas, bahkan kaos dalam. Hingga tampak dada bidang nya.
"Tuan" ia tidak lagi menjawab langsung menyergap bibir ku.
Aku larut dalam cumbuan mesranya, dan tibalah saatnya aku serahkan tubuhku kepada suamiku.
Aku seraya berdoa, semoga pernikahanku kali ini tidak akan ada lagi saling melukai, hatiku maupun hatinya, seperti pernikahanku yang terdahulu.
"I love you" bisiknya di telingaku. Kami sama-sama merasakan nikmatnya surga dunia. Hingga akhirnya aku tidur dalam pelukanya.
Sore hari aku terbangun dari tidur, terasa dingin menyusup kulit, ternyata selimut yang kami pakai berdua jatuh ke lantai.
Aku menoleh Marsel, tanpa sehelai kain pun di tubuhnya tampak pulas dalam tidurnya.
Segera aku ambil selimut untuk menutup tubuhnya. Satu tangan yang menjuntai ke pinggir ranjang lalu aku betul kan.
Namun, mataku tertuju kepada jari manisnya, terselip cincin kawin tapi bukan yang kami beli berdua sebelum kami menikah.
Aku pegang jemarinya membaca lebih dekat nama yang tertera di cincin. ARABELLA?
__ADS_1
Deg.
Dadaku terasa tersayat sembilu, lalu kembali ku tatap wajah, dan tubuhnya yang masih belum berubah posisinya.
Ini lah yang aku takutkan, siapa Arabella? atau ini istri nya yang terdahulu, mungkinkah Marsel masih mencintainya? jika tidak, mengapa ia masih memakai cincin itu.
Air mataku tidak bisa aku tahan, aku duduk di lantai bersandar ranjang, mendogak ke atas menyesali. Mengapa aku tidak menanyakan kemana istri nya yang dulu sebelum kami menikah.
Karena aku pikir, ia pun tidak mau mempersalahkan siapa aku, dan kehidupanku dimasalalu. Maka, aku pun percaya kepadanya.
Aku menarik napas panjang, ku hembuskan dengan kasar. Apakah aku memang sudah ditakdirkan untuk menjadi seorang pelakor? jika ternyata Marsel masih mempunyai istri?
Membayangkan itu, napasku semakin sesak. Akankah mama Calista suatu saat akan kembali? dan pada akhirnya aku akan berpisah lagi.
Segera aku masuk ke kamar mandi, mengguyur tubuhku. Air mataku mengalir semakin deras.
Selesai mandi aku ambil air wudhu, shalat ashar, mengadukan semua kepada Allah.
Ya Allah... aku akui, terlalu banyak dosa yang aku perbuat di masa lalu, tetapi belum cukupkah karma yang aku terima?
Ya Allah... ijinkan aku membina rumah tangga hingga akhir hayat. Jika memang Marsel adalah jodohku.
Cukup Abim, dan Alfredo yang menjadi masalalu. Dan Marsel tetap menjadi masa depanku.
Ah! ingat nama Alfred susah payah aku berusaha untuk melupakan agar di hilangkan cinta di hatiku, dan akhirnya aku menemukan Marsel aku pikir akan mengobati luka hatiku. Tetapi aku salah, justeru luka hatiku yang sudah mulai mengering kini tergores kembali.
Aku pikir tak akan lagi ada sakit di hatiku, setelah aku terima Marsel, tidak hanya sekali ia membuju berniat menikahiku. Tetapi aku salah, ternyata nama Arabella masih terukir di hatinya.
Ya Allah... betapa bodohnya aku, mengapa tidak ku jadikan pelajaran pernikahanku yang terdahulu.
"Hiks hiks hiks" aku bersujud, menumpahkan segala rasa sakit di hatiku.
"Honey..." rupanya tangisku membangunkan Marsel ia turun duduk di sampingku.
Aku bangun dari sujud, mengusap air mataku.
"Honey, kenapa kamu menangis?" Ia merengkuh tubuhku yang masih mengenakan mukena.
"Tidak, mungkin karena aku berdoa terlalu khusyu" jawabku berbohong, aku tidak ingin menanyakan masalah ini sekarang, karena aku belum sanggup menerima kenyataan jika rumah tangga yang baru beberapa hari akan berakhir menyakitkan.
"Oh ya sudah... aku mandi dulu" aku tatap tubuhnya dari belakang, tidak percaya, bahwa pria sebaik dia pun, tega membohongi aku seperti Alfred dulu. Lalu untuk apa dia menikahiku? ternyata aku tidak lebih hanya sebagi baby sitter.
__ADS_1
Kak Abim... apakah kamu belum bisa memaafkan aku? hingga aku selalu mengalami nasip seperti ini? Kebohongan-kebohongan yang dulu aku lalukan kepada Abim, kini berbalik menyerangku.
.