
Deerrrtt... deeerrrtt.
Handphone Intan bergetar saat ia hendak tidur sebab waktu sudah jam 11 malam. Intan ambil benda tersebut di atas nakas lalu menatap nomor yang tertera.
"Rony" gumamnya senyum merekah dibibir Intan. "Rony telepon aku? monolognya.
Ternyata saat pertemuan dipesta Rony dan Intan sempat berkenalan kemudian tukar nomor handphone.
Dengan semangat Intan mengangkatnya.
"Assalamualaikum" jawab Intan dengan jantung deg degan.
"Waalaikumsalam..."
Mel, saya mau memberi kabar, kakak kamu kecelakan, dirawat di rumah sakit xxx," suara Rony, tanpa jeda. Ternyata yang menolong Abim tadi Rony.
Prok.
Handphone Intan terlepas dari tangan napasnya terasa sesak. Namun, Intan segera memulihkan kesadarannya, kemudian berjalan cepat menuruni tangga.
Tok tok tok
Ceklak.
"Ada apa Tan?" mama mengerjapkan mata rupanya beliau sudah tidur. Intan kemudian menceritakan seperti apa yang dikatakan Rony di telepon tadi.
"Apa?! kakakmu kecelakaan? kecelakaan apa Tan?" cecar mama, matanya sudah ingin menangis.
Papa Wahid yang sudah tidur pun cepat bangun bergegas mendekati mama yang masih berdiri didepan pintu.
"Intan nggak tahu, Ma" Intan pun lantas menangis.
"Sudah-sudah... kalian yang tenang, kita segera berangkat kerumah sakit" papa sebenarnya tidak kalah syok, namun berusaha tegar.
Mereka pun bersiap memakai baju ala kadarnya, yang mudah dijangkau termasuk Intan ia hanya memakai piama dan ambil jilbab instan besar.
Mereka berangkat diantar supir, setelah tanya Intan dimana rumah sakit yang merawat Abim.
********
Disalah satu rumah sakit swasta ternama. Rony tampak mondar mandir seorang diri. Ia menunggu kabar dokter yang sedang operasi pengambilan peluru dilengan Abim.
Tak tak tak.
Derap langkah kaki menuju kearahnya. Rony lantas menoleh cepat.
__ADS_1
"Pak Rektor?" sapa Rony terkejut ternyata yang datang Rektor universitas salah satu kampus tempat Rony mengajar.
"Kamu, dosen Rony?" papa balik bertanya.
"Betul, Pak"
"Pak Rony, bagaimana keadaan kakak saya?" todong Intan.
"Iya Ron bagaimana keadaan anak saya?" papa lupa tujuan utama justeru banyak basa basi dengan Rony.
Sementara mama Ina nyaris tidak bisa bicara sepanjang jalan ketika dimobil tadi menangis terus.
"Saya masih belum tahu Pak, Abim sedang di operasi" jawab Rony.
"Memang apa yang terjadi, Ron? Abim kecelakaan apa?" tanya papa.
Rony menceritakan kepada papa Wahid apa yang terjadi. "Saat itu kebetulan saya sedang melewati jalan itu Pak, melihat Abim diserang, saya cepat membantu," imbuh Rony.
Mereka kemudian duduk dikursi tunggu. Mama bersandar di pundak papa.
Rony masih menatap keluarga pak Wahit, satu persatu, ia masih bingung mengapa bisa secara kebetulan sekali Abim putra sang Rektor dan yang lebih mengejutkan mengapa penyerangan Abim bisa kebetulan dia sedang lewat.
Rony sadar Jika Tuhan berhendak ternyata apapun bisa terjadi. Tuhan menolong umatnya yang baik. Melalui orang-orang baik dengan cara yang di kehendaki Nya.
"Keluarga Tuan Abimanyu" suster memanggil dari pintu,
"Siahkan masuk, Bu" papa dan mama mengikuti suster lalu masuk keruangan dokter.
"Bagaimana keadaan anak saya dok?" kali ini papa yang bertanya.
"Alhamdulillah... Pak, lukanya tidak terlalu serius... hanya saat ini masih belum sadarkan diri." terang dokter. "Syukurlah... putra Bapak segera dibawa kerumah sakit, dan sudah diberi pertolongan pertama," imbuh dokter.
"Terimakasih dok" mama dan papa terasa lega.
Abim lantas dibawa keruang rawat, malam ini mama menginap dirumah sakit, setelah tahu keadaan Abim mama minta agar papa dan Intan beristirahat di rumah. Tampak lengan kiri Abim dibebat dengan perban.
Keesokan harinya Abim bangun, tanganya terasa nyut nyutan. Ia mengingat-ingat apa yang terjadi. Abim memutar bola matanya yang pertama kali ia lihat adalah mama sedang meringkuk di sofa.
"Mama..." panggilnya pelan. Mama yang hanya tidur ayam segera bangun setelah mendengar putra kesayangannya. Berjalan cepat melihat kondisi anaknya.
"Abim... kamu sudah sadar Nak?" mama berjongkok disisi ranjang pasien, mengusap keningnya hingga kepala.
"Abim haus Ma" ucapnya, mama tidak menjawab lantas ambil botol air mineral yang berada disamping ranjang pasien.
"Siapa yang membawa Abim kesini Ma?" tanya Abim setelah minum.
__ADS_1
"Nak Rony" jawab mama singkat.
"Rony, temanya Intan Ma?" tanya Abim seketika ingat saat dipesta.
"Mama belum kenalan" mama memang belum sempat kenalan, hanya mendengar obrolan papa.
*******
Jam enam pagi Diah bangun dari tidurnya, kepalanya terasa sakit, dan mual. Ia memaksakan diri untuk turun dari ranjang.
Setelah melakukan ritual di kamar mandi ia harus beres-beres jika ia kerjakan pulang kerja yang ada tidak ia kerjakan sebab biasanya capek dan ngantuk.
Ia ambil sapu kemudian merogoh kolong tempat tidur yang banyak debu seketika Flashbach Abim.
"Kalau menyapu itu... yang ada kolong disapu yang bersih Diah! bukan malah sampah kamu masukan kedalam begitu," Omel Abim.
Diah baru sadar, Abim menyuruh ini itu, ternyata banyak manfaat nya. "Abim... aku kangen..." gumamnya. Ia baru berpikir mungkin ini karma untuk dirinya dulu tidak mengerjakan tugas seorang istri. Namun sekarang ia merangkap sebagai istri maupun suami.
Andai saja masih bersama nya, walaupun galak tidak akan sampai kelaparan seperti sekarang. Ingat lapar, dia hanya makan nasi padang yang dia beli kemarin siang, tadi malam tidak makan apa-apa wajar kalau sekarang lapar.
Diah segera menyelesaikan tugasnya kemudian mandi dan ingin segera berangkat.
Sebelum berangkat Diah berniat membeli nasi uduk dulu, ia membuka dompet. Uang 80 ribu harus ia irit-irit.
Diah kesal dengan Alfred dia datang hanya membelikan pulsa listrik dan pulsa handphone saja. Jika tahu akan begini pasti ia akan kuras saja isi dompetnya hingga ludes.
"Pok, nasi uduknya masih ada nggak?" tanya Diah, sebelum berangkat kerja ia berniat serapan dulu. Tetapi tukang nasi uduk nya dikerubungi para mak-mak berdaster.
Mak-mak berdaster menoleh semua. "Oh ini! manusianya?! kalau ribut mengganggu orang-orang sekitar?!" ketus salah satu mak.
"Mumpung ada sambal, kalau gitu kita sambelin saja mulutnya, biar kapok!" sambar mak yang satu lagi.
Diah beringsut mundur, ngeri melihat tatapan mereka seolah-olah ingin menelanya hidup-hidup.
"Pok, saya nggak jadi membeli nasi uduk deh..." Diah pun ngibrit pulang ambil tas memesan ojek kemudian berangkat.
Sepanjang jalan Diah ingat tatapan tetangganya tadi merasa ngeri.
Motor ojek yang ia tumpangi berjalan pelan sebab jalanan padat merayap. Ditambah lagi ada lampu merah.
Tidak sengaja mata Diah menangkap sosok yang dikenal, berjalan santai didepan komplek kawasan elite, hanya orang-orang berkantong tebal yang tinggal dikomplek itu. Ia berjalan bergandengan dengan wanita berhijab, dan seorang anak kecil berjalan ditengah bergelayut dilenganya. Mereka mengenakan pakaian olah raga lengkap.
Pagi ini Diah bertubi-tubi mendapatkan kejutan. Serangan mak-mak berdaster belum hilang, kini sudah dikejutkan dengan masalah lain.
.
__ADS_1
.