PERNIKAHAN BERUJUNG LUKA.

PERNIKAHAN BERUJUNG LUKA.
Suami Siaga.


__ADS_3

Ditempat yang berbeda peserta wisuda sedang mendapat giliran satu persatu maju kedepan.


Saat ini giliran Melati rektor memindahkan tali topi toga dari kiri ke kanan, merupakan simbol, yang menyatakan bahwa mahasiswa telah lulus dan siap terjun ke masyarakat.


Ya, karena ketekunannya Melati berhasil menyelesaikan pendidikan S1 dan mendapat gelar SE.


Dua pemuda yang satu bujang lapuk berusia 32 tahun, dan yang satu lagi seumuran dengan Melati yaitu 25 tahun.


Mereka saling berbincang-bincang memandangi gadis cantik yang sedang menatap foto grafer tersenyum manis, sambil mengangkat gulungan hitam didepan dada. Lengkap dengan baju toga membuatnya semakin dewasa.


"Pak Rony, saya boleh bertanya?" tanya Alex tanpa menoleh Rony tetap menatap Melati dari tadi hampir tidak berkedip.


"Mau tanya apa?" tanya Rony menoleh Alex yang sudah mendapat giliran wisuda sebelum Melati tadi.


"Bapak, mencintai Melati?" tanya Alex kemudian. Hal ini sudah sejak lama ingin Alex tanyakan.


"Tidak" jawab Rony tegas.


Alex menoleh cepat melempar pandang ke wajah Rony, bibirnya tersenyum lega. Pasalnya Rony selalu menggoda Melati Alex pikir Rony mencintai Melati.


"Bukanya kamu, yang mencintai Melati" Rony tersenyum menepuk pundak Alex, tidak jarang Rony memergoki Alex menatap Melati penuh cinta.


"Eemm... kira-kira... mau tidak ya Pak? saya tidak punya keberanian Pak." Alex tampak pesimis.


"Jangan menyerah, jika kamu mencintai Melati, cepat utarakan" titah Rony.


"Cukup saya saja yang gagal memiliki seseorang karena terlambat mengutarakan cinta saya," kata Rony menatap kursi paling depan.


"Ketika itu, saya mencintai seseorang, tetapi cinta saya tidak terbalas," Rony tersenyum getir lalu mengalihkan pandanganya.


"Siapa wanita yang sudah menolak pria seperti Bapak?" Alex sudah tidak memperhatikan kawan-kawan di panggung fokus mendengar cerita Rony.


"Mawar" jawab Rony lantas menunduk hingga kini nama Mawar masih bertahta di dalam hatinya maka dari itu, Rony belum bisa membuka hati untuk orang lain.


"Mawar? siapa itu Pak" Alex belum mengenal nama Mawar.


"Kamu lihat dua wanita yang memakai kebaya paling depan nomer satu dan dua dari kanan," Rony menatap Mawar dan bu Riska. Ternyata mereka yang menghadiri undangan wali Melati.


"Oh tidak kelihatan wajahnya Pak," kata Alex memang benar, karena Mawar duduk paling depan deretan para undangan. Sedangkan Alex disebelah kiri deretan para wisudawan duduk paling belakang.

__ADS_1


"Dia itu kakak kandung Melati Lex, suami istri menjadi pengusaha, istri Wahyu Adya" terang Rony. Kemudian menceritakan hingga detail sejak pertemuanya dengan Mawar hingga terakhir berpisah.


"Astagfirlullah... Pak, istighfar, masa bapak jatuh cinta sama istri orang," Alex geleng-geleng.


"Kamu ini! kamu pikir saya mau terjebak dalam cinta ini? saya sudah mencoba membuka hati dengan teman satu kantor, tetapi... saya justreu merasa mengkhianati cintanya." tutur Rony saat mencoba mencintai orang lain tetapi justeru merasakan menipu diri sendiri dan juga calonya. Itulah mengapa, hingga kini Rony masih betah membujang.


"Makanya Lex, jika kamu mencintai Melati, dan pada akhirnya dia tidak membalas cintamu, relakan dia, jangan seperti saya," pungkas Rony. Rony ternyata, gagal move on dengan Mawar hingga kini.


"Jadi Melati itu punya kakak yang bernama Mawar ya Pak?" tanya Alex semakin penasaran.


"Iya, mereka sama-sama lembut, tetapi Melati lebih tabah menghadapi, setiap mempunyai masalah," Rony menjelaskan.


********


"Diah... apa yang kamu rasakan?" tanya Abim panik. Padahal sudah pasti perut yang ia rasakan namanya juga mau melahirkan.


Abim kebingungan melihat Diah meringis kesakitan.


"Saya pesan taksi dulu" kata Abim lantas memesan taksi.


"Apa yang perlu dibawa?" Abim ambil tas lantas memasukkan perlengkapan bayi tanpa menunggu jawaban Diah. Sudah pasti Diah tidak bakalan tahu, selama ini yang membeli perlengkapan bayi pun Abim sendiri bertanya kepada mama Ina apa yang dibutuhkan.


"Ayo berangakat," Abim ingin menuntun Diah.


"Tiap wanita yang sudah mau melahirkan normal itu, dianjurkan dokter harus banyak jalan Diah, bukan digendong, ayo," Abim mengulangi.


"Aahh sakit... kamu tega Mas, masa sudah sakit begini disuruh jalan," protes Diah.


"Sudah... jangan banyak drama!" tegas Abim. Abim menenteng tas sambil menuntun istrinya keluar rumah.


"Ah, punya suami nggak perhatian, kalau suami yang lain mah istrinya mau melahirkan disayang-sayang," Diah terus ngomel-ngomel. Namun Abim tidak menjawab biar bagaimana Diah sedang berjuang bertaruh nyawa.


"Pak Abim ya?" tanya supir taksi ketika Abim sudah menunggu di depan komplek.


"Betul, Pak" jawab Abim.


Tidak membuang waktu lagi Abim membantu Diah masuk kedalam taksi.


Abim duduk disamping Diah di jok tengah. Kali ini Abim membiarkan Diah berbuat sesuka hati. Kepala Diah ia sandarkan dipundak Abim. Sungguh Abim merasa risi, tetapi ya sudah lah, sepertinya Diah memang perlu dukungan.

__ADS_1


"Bang! cepetan nyerirnya, lama banget sih... keburu sakit nih!" gerutu Diah.


"Ini juga sudah jalan, Mbak, masa kita mau ngebut, kan didepan banyak mobil yang lain," jawab supir.


"Jawab melulu sih Bang!" bentak Diah.


"Diah... jangan malu-maluin dong, berdoa Diah, biar dilancarkan semuanya jangan marah-marah terus," Abim menasehati.


Perjalanan penuh drama pun sampai didepan rumah sakit bersalin yang dituju.


"Maafkan istri saya ya Pak" kata Abim, merasa tidak enak dengan sang supir, saat ini sedang membayar taksi.


"Tidak apa-apa Pak, saya mengerti" jawab supir.


Abim segera menuntun Diah melewati lorong-lorong rumah sakit. Diah terus mengomel, karena disuruh berjalan. Maksud Diah jika tidak digendong setidaknya pakai kursi roda.


Abim membiarkan saja, akhirnya sampai juga didepan ruang dokter. "Kamu duduk disini dulu, saya mau mendaftar." kata Abim


"Tapi sakit Mas" keluh Diah.


"Diah... lihat, berapa banyak orang yang mau melahirkan disini mereka berjalan mondar mandir, mereka nggak ada yang mengeluh kan," kata Abim. Memang benar, bersamaan dengan Diah banyak ibu yang sedang berjalan-jalan, agar mempercepat pembukaan.


Abim segera mengurus ini itu tidak lama kemudian, Diah lalu diperiksa.


"Mbak, saat ini... baru pembukaan tiga, sebaiknya jalan-jalan diluar dulu ya" titah dokter.


"Baik dok" Abim yang menjawab segera kembali keluar menuntun, Diah.


Abim lantas, memberi kabar mama, bahwa Diah akan melahirkan.


Dengan telaten Abim mengajak Diah jalan-jalan, satu jam kemudian,


sakitnya semakin ngebet Abim lantas membawa Diah kembali keruang dokter.


Abimanyu benar-benar menjadi suami idaman disaat rumah tangganya yang sudah diujung tanduk pun menjadi suami siaga.


"Sekarang kita keruang bersalin ya" kata dokter wanita yang akan membatu proses kelahiran Diah.


"Aahh... sakiiit..." Diah menjerit-jerit.

__ADS_1


"Bu Diah... banyak berdoa ya, mohon dilancarkan. Jangan menjerit-jerit" titah dokter merasa tidak nyaman mendengar suara Diah, yang memekakkan .


.


__ADS_2