PERNIKAHAN BERUJUNG LUKA.

PERNIKAHAN BERUJUNG LUKA.
Kini Aku Hanya Sendiri.


__ADS_3

Memang tidak ada cara yang mudah untuk memaafkan ketika hati sudah terlanjur sakit untuk bisa memahami, dan menerima kenyataan masalah yang cukup kompleksitas seperti yang dialami Diah.


Diah meraung-raung saat sedang sedih begini hanya sosok ibu yang bisa memahami dan mengerti. Namun berbeda dengan yang dialami Diah.


Ibunya seolah tidak mengharap kehadiranya karena tanpa membawa uang. Ironis memang ada seorang ibu yang seperti itu.


"Kamu kenapa Diah... kemana suamimu?" tanya bu Reny kesal, hanya tinggal Diah yang menjadi harapkan untuk menopang hidupnya. Namun Diah pulang dengan keadaan yang menyedihkan.


Diah sesegukan sesekali mengusap air matanya. "Diah mau ketemu anak Diah, Bu, dan kangen Ibu juga" ucapnya menatap bu Reny, yang sedang menatapnya dengan ekspresi wajah yang sulit diartikan.


"Untuk apa? anakmu sudah bahagia sama Mawar dia nggak akan kekurangan," bu Reny berdiri di depan Diah yang masih bersimpuh di kakinya. Namun ibunya belum juga berniat menyentuh tubuh Diah.


"Bu... dia itu anak Diah. Diah sudah salah, karena menyia-nyiakan nya" Diah ingat bayangan anaknya ketika tidak mengakuinya dulu semakin menyesal.


"Sudahlah Diah... jawab pertanyaan Ibu, kemana suamimu? bukankah kamu pernah mengabari ibu kalau kamu menikah dengan bule kaya?" bu Reny akhirnya duduk di kursi sofa dengan kasar.


"Ibu mau minta uang sama kamu, ibu dililit hutang!" ketus bu Reny di situasi yang tidak tepat.


Diah menatap ibu kandungnya tidak percaya, lima bulan tidak bertemu ia pikir ibunya akan senang dengan kehadiranya, ternyata Diah salah datang kesini.


Diah bangun dari duduknya. Ia lantas keluar meninggalkan ibu kandungnya tidak berbicara apapun.


Ia berjalan gontai menuju rumah Mawar yang hanya beberapa langkah.


Tok tok tok


"Sebentar..." terdengar seorang wanita dari dalam.


Ceklak


Pintu dibuka ternyata Melati yang membuka. Melati kebetulan ada disini, karena sedang mengambil sesuatu yang tertinggal.


"Diah..." Melati mundur dua langkah, ia terkejut melihat keadaan Diah saat ini. Tubuh idealnya yang berisi menjadi kurus kering. Jangankan riasan wajah seperti dulu, bibir merah yang biasa mempesona kini terlihat pucat, pipi tirus, yang menonjol hanya mata sembab.


"Kak Mawar ada Mel?" tanya Diah lirih. Kemudian menunduk meremas baju bawahnya rasanya malu dengan Melati yang dulu ia hina-hina kini justeru memetik buah manis akan kesabarannya.


Diah mendengar cerita ibunya membandingkan dirinya dengan keberhasilan Melati walaupun benar adanya, namun membuat hati Diah semakin terluka.

__ADS_1


"Masuk Diah, aku panggilkan kak Mawar, dia ada di Rose shop," jawab Melati, seraya melebarkan pintu.


"Siapa Non?" tanya mbok Sarintem yang baru keluar dari dapur.


"Diah Mbok, mau ketemu kak Mawar, katanya." Melati hendak keluar memanggil Mawar.


"Nggak usah Mel, boleh... saya bertemu anak saya sebentar?" kata Diah tersendat-sendat khawatir tidak perbolehkan.


"Nggak boleh!" ketus mbok Sarintem pasang badan. Mbok tahu, siapa Diah. Jelas Mbok Sarintem khawatir jika Syifa dekat Diah takut di apa-apakan.


"Mbok" Melati memperingatkan melihat Diah sekarang seperti bukan Diah yang dulu.


"Tolong Mel, sebentar saja, setelah ini aku tidak akan datang lagi." ucapnya memelas.


"Oh, silahkan" Melati menatap wajah Diah yang tampak jujur akhirnya mengizinkan.


"Mbok... tolong panggilkan, baby sitter suruh mengajak Syifa kemari" titah Melati.


"Baik Non" simbok segera kedalam memanggil baby sitter yang sedang menepuk-nepuk pelan pantat Syifa agar bobok.


"Sus, ajak Syifa kedepan, ada yang ingin bertemu, tapi kita harus hati-hati jangan lengah." kata Simbok khawar Diah membawa kabur Syifa.


Beby sitter menidurkan Syifa di stroller kemudian mendorongnya kedepan. Simbok siaga mengedipkan mata kearah Melati, memberi isyarat agar Melati hati-hati.


Diah duduk di dekat stroller, menatap Syifa lekat. Melati, simbok, baby sitter berdiri melingkari.


"Maafkan Mama sayang..." ucapnya air matanya kembali bercucuran ia merutuki dirinya sendiri, mengapa ia tega menyia-nyiakan malaikat kecilnya.


Diah mengangkat tubuh Syifa berniat menggendonya sebentar.


"Oeek...oeeekk..." Syifa seolah tahu siapa yang menggendongnya, tangisnya kencang, meronta-ronta tidak ingin di sentuh ibu kandungnya.


"Mbak... biar sama saya, Syifa rupanya belum mengenal Mbak" baby sitter mengambil alih Syifa, dari gendongan Diah. Baby sitter tidak tahu siapa Diah sebenarnya.


"Cup-cup..." Syifa langsung membenamkan wajahnya didada baby sitter, tangisnya pun berhenti. Baby sitter lantas membawa Syifa kekamar.


Diah menatap Syifa dalam gendongan baby sitter seperti hilang separuh nyawanya. Ia baru sadar, ternyata begini menjadi seorang ibu. Ia merasa sendiri, semua orang yang dikasihi menjauhi dirinya, Abim menceraikan dirinya, Alfred ternyata selama ini hanya membutuhkan tubuhnya saja, nyatanya dia punya wanita pujaan lain. Anak kandungnya menganggapnya monster, bahkan ibu kandunganya pun tidak mengharapkan kehadiranya.

__ADS_1


Diah kembali duduk dilantai memeluk lutut tangisnya pecah.


"Diah... yang sabar, ya" Melati duduk bertumpu lutut didepan Diah.


"Mel maafkan aku... maafkan akuuu..." Diah merengkuh tubuh Melati. Ia tidak percaya ternyata hanya Melati yang tulus kepadanya. (Termasuk reader) 🤣🤣🤣.


"Sudahlah Diah... aku sudah memaaf kamu, perjalanan hidup kamu masih panjang, bertaubat lah, memohon ampunan Nya" nasehat Melati mengusap bahu Diah yang memeluknya kencang. Melati kasihan melihat keadaan Diah, apa yang terjadi denganya hingga melihat Diah seperti sekarang.


"Terimakasih Mel" Diah melepas pelukanya, kemudian mengusap air matanya.


"Aku pulang Mel" ucapnya lalu berdiri melangkah kedepan sambil meremas kedua telapak tangannya.


"Diah" panggil Melati menghentikan langkahnya. Lalu kembali menoleh ke belakang.


"Pak Renggono dirawat, kamu sudah tahu?" tanya Melati lalu berjalan kedepan mendekati Diah.


Diah mengangguk, tadi sudah diberi tahu bu Reny.


"Jika ada waktu, tengok Pak Renggono, beliau terus menanyakan kamu," kata Melati, pak Renggono memang selalu mengigau dalam tidurnya, menyebut nama Diah.


"Iya Mel," Diah kemudian keluar, tidak kembali kerumah ibunya, rasanya sudah tidak ada gunanya, ia tidak dibutuhkan lagi. Diah berjalan, kali ini menunggu angkutan umum akan lebih hemat daripada naik ojek.


*******


Malam hari rumah kosong yang gelap diterangi lilin, 4 pria telah berpesta merayakan kemenangan.


"Ahahaha... Kerja kalian bagus" tawa seorang pria menggema, ia pikir Abim sudah meninggal.


"Untuk merayakan kemenangan, kalian bebas minum sepuasnya," ucap ketua geng.


Di atas meja bulat diterangi lilin, ada tiga macam merk minuman memabukkan yang sudah terkenal. Salah satu anak buah geng menelentangkan cangkir kecil lalu menuangkan minuman untuk ketua geng, baru untuk dirinya sendiri. Ketika ingin meneguk, ketua geng menahan tanganya


"Ada apa bos?" ucapnya lalu meletakan cangkir kembali.


"Tunggu dulu, setelah ini ada target berikutnya," ketua geng menyerahkan kertas lalu menunjuk titik-titik strategi.


.

__ADS_1


.


__ADS_2