
Selepas magrib mamang sudah kembali bersama Diah. Awalnya Diah menolak diajak ke rumah Marsel. Wajar jika Diah menolak, pasalnya, ia belum mengenal keluarga Marsel. Tetapi, mamang berhasil membujuknya.
"Ayo masuk Mbak" kata Mamang ketika Diah masih berdiri berpegangan pagar.
"Saya malu, Mang" tolaknya.
"Tanteeee..." seru Lita dari teras, bocah berwajah blasteran Indonesia, Belanda itu kegirangan.
Membuat Diah wanita tinggi 160 cm, dan berat badan 43 kg itu, tampak kurus tidak seperti dulu ketika kerjaanya hanya olah raga, dan merawat diri.
Diah menyunggingkan bibirnya kepada Calista lalu melepas tanganya dari pagar.
Assalamualaikum"
Waalaikumsalam"
Diah akhirnya menghampiri Lita. Tampak terlihat matanya masih merah habis menangis, tapi sudah memakai bedak, cirikas selesai mandi, dan bau wangi.
Diah lantas mengusap kepala Lita.
"Yeee... yeee... Tante datang..." Lita kegirangan, sambil lompat-lompat memegangi tangan Diah. Rupanya Lita sudah jatuh hati kepada Diah.
Membuat Marselo yang hendak menyusul putrinya mengamati di balik gorden mengulas senyum.
Diah bukan wanita ideal di ukur dari tinggi, dan berat badan, wajahnya pun pas-pasan karena mirip dengan bu Reny.
Tidak sedikitpun ambil dari wajah tampan papi nya, hidungnya seperti keinjak kaki kuda, wajahnya tampak galak tampang antagonis. Namun, entahlah, banyak pria yang menyukaianya. Dulu Abim, dan Alfred hingga dibuat tergila-gila, akankah Marsel bisa tergila-gila juga?
"Tante... kok tadi pulang, nggak bilang-bilang" protes Lita mendongak ke atas menatap Diah, masih betah memegangi tangannya.
"Lita kan tadi bobo" Diah menyentuh pipi cubby Lita.
"Nangis terus tuh Diah... pengen ketemu kamu," adu Marselo akhirnya keluar dari persembunyiannya menghampiri mereka.
"Oh gitu Tuan" sahut Diah.
"Ngobrolnya di dalam saja" Marsel mendahului mereka, lalu masuk ke kamarnya yang berada di lantai dua.
"Tante masuk yuk" Lita menarik tangan Diah.
"Oma... kenalin... ini Tante Diah" Lita menghampri Oma yang sedang duduk di meja makan.
Oma menoleh menatap Diah lalu beralih ke tangan Lita yang memeluk tangan Diah seperti takut ditinggalkan.
"Kamu yang bernama Diah?" tanya oma.
"Betul Nyonya" sahut Diah gentar.
__ADS_1
"Kamu tinggal dimana, asli mana, nama keluargamu siapa?" cecar oma.
"Nenek ini, mau kenalan? apa mau sensus penduduk sih... hadew...
"Kenapa kamu diam?" tanya oma kemudian, menatap wajah Diah yang sedang melamun.
"Keluarga saya dari Jawa tengah Nyonya, Bapak dan Ibu saya pedagang sayur, saya di sini kontrak rumah," tutur Diah panjang lebar.
"Oma... Tante jangan diajak ngobrol, terus... Tante kan mau temani aku main" protes Lita mencairkan ketegangan.
"Ya sudah, Oma mau ke kamar" ucapnya sambil berlalu.
"Sini Tan, aku mau ada lomba mewarnai, ajari ya" Lita menarik tangan Diah mengajaknya duduk di karpet.
"Lita sudah sekolah?" tanya Diah setelah mereka duduk bersila.
"Sudah TK nol kecil" sahutnya, lalu mengeluarkan buku mewarnai dari tas.
"Yah... krayon nya ketinggalan di kamar, aku ambil dulu ya Tan, tapi Tante jangan pergi" Lita rupanya benar-benar khawatir ditinggal.
"Hehehe kamu ini..." Diah menangkup pipi Lita gemes. Lita kemudian bergegas ke lantai dua di sebelah kamar Marsel.
"Minumnya Mbak Diah" Marni menyediakan minuman.
"Terimakasih... tidak usah repot" jawab Diah.
"Hebat deh Mbak Diah, bisa membuat Lita luluh, Lita biasanya anti beradaptasi dengan siapapun" tutur Marni tanpa ditanya.
"Saya nggak tahu, Mbak Diah... selama dua tahun bekerja di sini belum pernah melihatnya," tutur Marni.
Tidak lama kemudian Lita kembali membawa krayon, mereka mewarnai sambil tertawa-tawa. Mereka tidak tahu bahwa Marsel di atas sedang memperhatikan mereka.
********
Pagi hari yang cerah, di depan kampus. Melati dan Abim berjalan sambil ngobrol. Tangan mereka saling bertaut, mengayun-ayun sejajar dengan langkah kaki mereka. Mereka berpisah di lobby masuk ke kelas masing-masing.
"Hai Abim..." Nora menyambut Abim ketika sampai di depan pintu kelas. Gadis cantik itu tersenyum senang tanganya terulur hendak menyentuh tangan pria yang membuatnya tidak bisa tidur karena memikirkan wajah tampan Abim.
Namun, Abim menepisnya kasar. "Sudah berapa kali saya bilang! jangan pernah telepon saya!" geram Abim.
"Kenapa sih Bim, kamu selalu menjauh, malah nomor aku kamu blokir" Nora kesal, perasaan masih lebih cantik dirinya daripada istri Abim. Tapi Abim menolaknya mentah-mentah.
"Sekali lagi saya peringatkan! jangan pernah ganggu saya!" ancam Abim.
"Ada apa ini... kalian tegang amat?" Faisal terengah-engah tiba-tiba menepuk pundak Abim.
Abim lantas masuk ke dalam melewati Nora diikuti Faisal menuju bangku yang biasa mereka duduki.
__ADS_1
Sementara Nora justeru tersenyum, semakin Abim menolaknya, membuat Nora semakin penasaran.
********
Siang hari saat beristirahat, Melati sedang duduk di Cafe Restoran samping kampus bersama Dinda dan Uiby.
"Mel, aku pesanin sekalian ya, kamu mau makan apa?" tanya Dinda.
"Kalian pesan duluan saja, aku menunggu suami" Melati sudah janjian dengan Abim ingin makan siang bersama.
"Ceee" ucap Uiby. "enak ya Din, kalau sudah punya pasangan" sindir Uiby. Memutar bola matanya menatap Dinda yang sedang mencatat pesanan.
"Iya kali, aku kan belum pernah" sahut Dinda polos.
"Makanya... kalian jadian dong, kalian itu cocok" Melati menggoda Dinda. Dinda memang menyukai Uiby. Namun Uiby masih belum bisa melupakan Melati.
"Hais! masih belum waktunya, target menikah umur 22 tahun," Dinda menimpali.
"Target aku 28 tahun" kata Uiby, mereka pun berbincang-bincang sambil menuggu Abim datang.
"Hai... Melati, pasti kamu menunggu Abim kan?" tanya Nora dengan bahasa inggris, datang bersama kedua temanya tiba-tiba menggeser kursi di sebelah Melati.
"Iya, kamu tahu nama aku darimana?" Melati merasa tidak mengenal Nora secara dekat.
"Aku kan sering buka handphone Abim, terus ada foto kamu," bohong Nora padahal dia hanya pernah mengangkat telepon Melati sekali. Lalu di wallpaper ada foto mesra Melati dengan Abim.
"Oh" Melati terlihat santai, tidak terpengaruh.
"Kamu yakin? kalau Abim mencintai kamu!" cibir Nora. Nora mulai tersulut emosi setiap menghubungi Abim, selalu di rijek apa lagi Abim tadi menolaknya.
Uiby dan Dinda saling pandang.
"Jelas yakin, kenapa gitu? ada masalah?" cecar Melati. Melati tahu selama ini wanita itu sering telepon Abim, tetapi Abim tidak mau mengangkat.
"Maaf sayang... kelamaan menunggu ya?" Abim datang di ikuti Faisal. Lalu menghampiri istrinya.
"Lumayan" jawab Melati singkat.
"Laki loe tuh! ke toilet lama banget Mel, jadinya kelamaan!" adu Faisal. Melati hanya tersenyum.
"Sudah pesan yang?" Abim menarik tangan Melati mengajaknya pindah.
"Belum... Abang mau pesan apa?" Melati merasa senang Abim memanggilnya sayang, walaupun sebenarnya risi dengan Dinda dan Uiby. Tetapi ia melirik wajah Nora yang bersungut kesal, rasanya puas.
"Terserah kamu saja" Abim sama sekali tidak melirik Nora justeru ambil nota kecil yang disediakan pelayan kemudian memesan makanan kesukaan mereka.
"Loe duduk disana Sal" titah Abim ketika Faisal mendekatinya agar bergabung dengan Dinda dan Uiby. Abim ingin duduk berdua saja.
__ADS_1
"Ah loe! nasib-nasib" kata Faisal Melati dan Dinda terkikik mendengar keluhan Faisal yang tampak lucu.
.