
Ice cream memang camilan favorit untuk segala usia, baik anak-anak maupun orang tua dan muda.
Seperti ice cream milik Melati, rasanya yang manis, tekstur lembut, menjadi laris manis.
Jam sepuluh pagi para kurir sudah siap mengantar produk ice cream dengan mobil box, kusus untuk mengantar produk tersebut ketoko-toko.
Bagian seles pun sudah berangkat menawarkan kepada para customer.
Melati kini sudah mempunya 10 karyawan. Yakni, bagian salesman dua orang, kurir dua orang, bagian produksi, administrasi, tentu bagian angkat-angkat barang, ditambah cleaning service dan bagian memasak.
"Mel, beneran nggak sih, orang yang namanya Abimanyu itu kakak kamu?" tanya Alex sudah sejak lama ingin menanyakan hal ini.
"Sejujurnya kakak angkat sih Lex, memang kenapa?" dua remaja ini sedang ngobrol sambil kerja.
"Pantas" satu kata dari Alex.
"Kok pantas?" Melati melempar pandang kepada pria bermata sipit itu.
"Dia itu mencintai kamu, Mel" kata Alex melempar tatapan penuh tanya.
Alex selama ini belum berani mengutarakan perasaannya. Sebab Alex tahu, dilihat dari tatapan Melati, Melati tidak mencintainya tanpa harus berbicara.
Belum lagi ada masalah lain yang membuat Alex menciut. Yakni Melati sudah punya usaha sendiri, sedangkan dirinya siapa? Alex menyadari itu.
"Non, makan siang sudah siap" kata bibi yang bagian memasak, menghentikan obrolan mereka. Karena membuka lapangan pekerjaan dirumah Melati selalu menyediakan makan siang untuk para karyawan.
"Baik Bi" Melati menjawab, kemudian beranjak meninggalkan Alex, kekamar mandi dulu, sebelum makan.
Alex menatap Melati dari belakang, ternyata berat baginya, padahal sepele hanya berucap satu kata Cinta.
Plek.
Risda menepuk pundak Alex. "Kalau cinta itu cepat tembak Lex, nanti keburu disambar orang," ujarnya.
"Sok tahu!" Alex segera mengalihkan pandanganya.
"Memang gw nggak tahu, loe itu mencintai Melati kan." tebak Risda.
"Jangan ngobrol terus... Melati suruh kita makan noh!" Bombom menghampiri.
Obrolan mereka berhenti, lalu menghampiri Melati yang sedang duduk di karpet.
"Kok kalian lama sekali, kita makan dulu" kata Melati.
**********
Hari berganti seminggu kemudian, sore hari saatnya pulang kerja motor besar tampak masuk kehalaman rumah Mawar.
"Baru pulang Bim?" tanya Mawar yang sedang menggendong Syifa berdiri di teras rumah.
"Iya kak, kangen sama Syifa, sudah seminggu tidak bertemu," jawab Abim, sambil standar motor.
Abim biasanya setiap sore selalu singgah sekedar menengok Syifa, tetapi selama seminggu ini belum sempat karena keluar kota, bersama pak Johan.
__ADS_1
"Numpang kamar mandi dulu ya, kak" ucap Abim seperti biasa sebelum menggendong Syifa membersihkan tangan dulu.
"Silahkan Bim" Abim membasuh wajah ambil air wudhu kemudian shalat ashar.
"Duuh... anak Papa... gendok yuk" selesai shalat, Abim segera menggendong Syifa.
"Saya mandi dulu ya Bim" Mawar beranjak kekamar mandi, setelah diangguki Abim.
"Uaum... uaum..." Bayi mungil itu mengoceh, seolah mengajak Abim bicara, sambil menggigit jempolnya yang belum tumbuh gigi.
"Apa? mau ngomong apa..." kata Abim gemas lantas mencium pipi Syifa.
"Om... jangan cium-cium adik aku..." protes Bhanu, yang baru pulang bermain bersama teman-temanya tetangga komplek, berlari menghampiri Abim.
"Ini adik aku..." Bhanu cemberut, memegangi Syifa tampak memanyutkan bibirnya, membuat Abim terkekeh.
"Iya, ini adik Bhanu, Om cuma ingin menggendong sebentar, Bunda Bhanu kan sedang mandi." Abim menjelaskan.
"Oh Bunda, mandi" Bhanu akhirnya mengalah.
"Ciiiuuuuk baaa..." Bhanu mengajak main Syifa, setelah Abim menidurkan Syifa di stroller.
"Ka ka ka ka..." bayi yang sudah bisa tengkurap berusia hampir empat bulan itu tertawa kegirangan, setiap Bhanu menggodanya.
"Bhanu..." Mawar memanggil dari dalam.
"Iya... Unda..." Bhanu bergegas menghampiri bundanya disuruh mandi. Setelah menemani Bhanu mandi. Mawar segera memandikan Syifa.
"Aku mandikan dulu ya, Bim" Mawar mengangkat Syifa dari stroller.
"Bentar lagi mungkin, biasa Bim, kalau sore gini kan suka macet," belum berhenti bicara derung mobil masuk pelataran rumah Mawar dia adalah Adit.
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam"
Mawar menyambut kedatangan suaminya, setelah mencium punggung tangan, kemudian membawa tas kerja milik Adit.
"Sudah lama Bim?" tanya Adit seraya membuka sepatu, lantas menyimpanya dalam rak.
"Sudah dari jam empat, Kak," Abim mendorong stroller yang sudah kosong meletakkan disudut ruangan, setelah Mawar mengangkat Syifa akan segera dimandikan sebab sekarang sudah jama lima sore.
"Aku mandi dulu ya, Bim, mau mengantar bapak berobat ke dokter soalnya," kata Adit.
"Bapak siapa yang sakit?" yang dimaksud Abim, pak Renggono, atau pak Sutisna.
"Mantan mertuamu," Adit terkekeh.
"Pak Renggono sakit apa kak?" cecar Abim.
"Kecapean kali Bim, maksud saya tuh, sudah saya suruh istirahat nggak usah jualan, tapi ngeyel," tutur Adit geleng-geleng kepala sudah melarang bapaknya untuk tidak berjualan sayur tetapi nekat.
"Saya ikut kak" Abim bersemangat ia merasa bersalah setelah bercerai belum menengok mantan mertuanya.
__ADS_1
"Boleh" Adit segera mandi.
Abim juga ikut mandi dikamar mandi tamu. Abim mengenakan kaos milik Adit yang belum pernah Adit pakai.
"Bunda, aku berangkat ya," pamit Adit kepada Mawar.
"Iya Yah, hati-hati" sahut Mawar sambil memberi susu Syifa.
Adit mengajak Abim, ketempat tinggal pak Renggono yang hanya beberapa langkah dari rumahnya.
"Dasar orang tua, menyusahkan saja! sudah tidak bisa mencari duwit! nyusahin!" suara bu Reny yang sedang memarahi suaminya terdengar dari luar.
Abim dan Adit saling pandang, Adit kemudian menghela nafas panjang. Ia malu dengan Abim, sudah usia tua orang tuanya masih juga bertengkar.
"Bu, aku kan cuma minta teh hangat kalau nggak mau bikin, nggak apa-apa kok, kenapa malah marah-marah," terdengar pak Renggono menjawab sambil batuk-batuk.
Ceklek
Adit masuk kedalam tanpa mengetuk pintu, lantas menghampiri pak Renggono. Abim mengikuti.
"Bapak mau teh? Adit buatkan ya," Adit menatap pak Renggono yang berbaring lemah ditempat tidur, hatinya benar-benar sedih.
Pak Renggono kembang kempis bernapas agak sesak, tampak raut kesedihan di wajah beliau.
Adit sakit hatinya saat usia tuanya harusnya pak Renggono sudah bahagia. Namun, masih juga dibentak-bentak bu Reny, terlebih saat ini beliau sedang sakit.
Adit lantas melewati bu Reny yang sedang duduk di sofa mengumpat dalam hati. Ingin ditegur orang tua, tetapi jika tidak diperingatkan keterlaluan.
"Nggak usah bikin teh Dit, biar saja, Bapakmu itu cuma manja!" ketus bu Reny. Adit tidak menjawab lantas kedapur.
Sementara dikamar. "Bim, kamu kemari nak? uhuk... uhuk" pak Renggono bicara dengan Abim sambil batuk-batuk.
"Iya Pak, maaf, saya belum sempat mengunjungi Bapak" Abim duduk berjongkok disamping ranjang sambil memijit betis mantan mertuanya.
"Tidak apa-apa Nak, uhuk... uhuk," bapak kembali batuk.
Abim lantas memegang dahi bapak dengan punggung tangan.
"Astagfirlullah... bapak panas" Abim terkejut, menatap wajah pak Renggono tampak kurus dan pucat.
"Bapak nggak apa-apa kok Bim, bapak hanya memikirkan bagaimana nasib Diah diluar sana, pasti kehujanan, kepanasan." pak Renggono menitikan air mata walaupun Diah hanya anak tiri pak Renggono tetap menyayangi.
"Apakah Diah, selama ini tidak memberi kabar Bapak?" tanya Abim menatap pak Renggono yang sedang menangis lalu memberikan tissue dari saku celana.
"Tidak Bim" jawabnya singkat.
"Untuk apa sih... Bapak masih memikirkan anak yang nggak tahu balas budi?"
Ujar Adit yang masuk kekamar membawa segelas teh.
"Jangan begitu lee... Bapak minta tolong... kalau kamu ada waktu sambil cari adikmu ya," lirih pak Renggono.
"Bapak jangan memikirkan apa-apa, sekarang minum tehnya, setelah ini kita ke dokter." Adik membangunkan pak Renggono memang badanya terasa panas.
__ADS_1
.
.