PERNIKAHAN BERUJUNG LUKA.

PERNIKAHAN BERUJUNG LUKA.
Melati Telah Kupetik.


__ADS_3

"Abimanyu Wahid Subandono, saya nikahkan dan kawinkan engkau, dengan ananda Melati Putih, dengan mas kawin 100 juta rupiah dibayar tunai."


"Saya terima nikah dan kawinya, Melati Putih binti Sutisna dengan maskawin tersebut, tunai."


"Bagaimana, saksi?"


Sah


Sah


Sah


Di Masjid Bandara internasional xxx Abim dan Melati telah sah menjadi suami istri.


Abim menoleh Melati yang kini sudah menjadi istrinya tersenyum, begitu juga sebaliknya iris mata mereka saling bertemu. Dada mereka berdebar kencang.


"Eheem..." penghulu berdehem menggoda membuat pasutri menunduk malu.


Penghulu lantas memberi nasehat perkawinan.


"Selamat... kalian sudah menjadi suami istri, salah satu kunci pasangan yang suses adalah; komunikasi"


"Jangan menyembunyikan dari pasangan apapun masalahnya, karena ini bisa memicu pertengkaran dan bibit ketidakpercayaan, dalam berumah tangga," nasehat penghulu.


"Selamat ya Mel" Mawar mencium pipi adiknya.


"Terimakasih kak"


Melati dan Abim kemudian sungkem kepada mertua dan kedua orang tuanya.


Melati menangis haru dipangkuan ibu. "Nduk... sekarang kamu sudah menjadi istri... harus nurut apa yang dikatakan suami kamu," nasehat bu Riska.


"Iya Bu"


Flashback on.


"Bim, Melati datang Nak, dan rencananya ingin ikut kamu ke Swiss" kata papa Wahid menemui Abim yang sedang duduk di lobby.


"Benarkah?" Abim berbinar kemudian berdiri menghampiri papa dan mama.


"Benar... kamu segera temui dia" saran papa.


"Baik Pa, Ma?" Abimanyu bersemangat lalu memegang telapak tangan mama.


"Tunggu Bim" mama menahan tangan Abim ketika ingin beranjak. "Mama, sama Papa... ada rencana yang lain" sambung mama.


"Apa Ma?" Abim menatap mama lekat.


"Kamu kan tadi bilang... pesawat yang akan kamu tumpangi Delay. Sampai jam 12, itu artinya kamu masih menunggu tiga jam, sebaiknya kamu segera menikahi Melati, agar kami tenang melepas kalian," tutur papa.


"Menikah?" Abim terkejut.


"Papa ini, menikah kok dadakan," Abim geleng-geleng kepala. Sudah menjadi impian Abim jika menikah dengan Melati ingin mengadakan resepsi meriah dan diadakan di hotel.


"Jawab saja, kamu mau nggak, menikah dengan Melati?" cecar papa.


"Jelas mau Pa, tapi bagaimana caranya? ini di Bandara loh, terus... apa Melati juga mau?" Abim pesimis.

__ADS_1


"Masalah pernikahan serahkan kepada Papa, sekarang tugas kamu meyakinkan Melati" kata papa.


Papa Wahid menemui pak Sutisna saat ini beliu sedang berada di masjid. Mengutarakan niatnya, agar anak-anak mereka segera menikah, walaupun bagaimana namanya orang tua anaknya pergi jauh tidak ada pengawasan meskipun sudah dewasa pasti khwatir.


"Saya setuju In, tapi... bagaimana kita mengurusnya, dalam waktu satu jam," kata bu Riska kepada mama Ina.


"Masalah itu saya yang urus Bu," jawab papa, jika semua setuju papa akan menghubungi penghulu yang tak lain teman sesama dosen panggilan dikampus yang sama.


"Masalah resepsi pernikahan... kita adakan setelah anak-anak kita kembali ke kesini, bagaimana?" papa memberi penawaran.


"Kami setuju, Pak Wahid" pak Sutisna menjawab.


"Saya yang akan menumui pengurus masjid ini, minta izin menikahkan mereka," Adit menimpali.


"Baiklah..." tanpa buang waktu papa lantas menghubungi penghulu.


Semua dimudahkan, penghulu sahabat papa kebetulan tidak ada jadwal.


Sementara Abim menemui Melati yang sedang ditemani kak Mawar.


"Mel" Abim menghampiri Melati yang sedang duduk di lobby.


"Mel, kakak menemui kak Adit, dulu" Mawar sengaja meninggalkan mereka berdua kemudian menyusul keluarga ke masjid.


"Kak Mawar" Melati memanggil kakaknya tapi sudah pergi. Entah mengapa kali ini Melati bertemu Abim menjadi gugup.


"Mel, kamu beneran mau ikut aku ke Swiss?" Abim menatap Melati yang sedang menunduk.


"Kalau nggak keberatan," Melati tentu ingin tau apa Abim sungguh-sungguh mengajaknya.


Abim menggenggam telapak tangan Melati terasa dingin berkeringat. Melati lantas melepas tangan Abim.


Menikah?" Melati terkejut mengangkat kepalanya cepat menatap mata pria yang dicintai selama lima tahun itu, ada keseriusan dimata nya.


Abim berjongkok didepan Melati.


"Aku melamarmu, menikahlah denganku, sekarang juga,"


"Sekarang?" Melati beberapa kali dibuat Abim terkejut.


"Iya sekarang," Abim meyakinkan.


"Kak" Melati tidak bisa berkata apa-apa, matanya melihat orang-orang yang sedang memperhatikan dirinya.


"Mel, kamu mau menjadi istri aku?" Abim mengulangi.


Melati mengangguk.


"Cincin nya menyusul ya, sekarang kita temui orang tua kita," Abim menarik tangan Melati menuju Masjid, tidak menunggu jawaban lagi.


Melati menurut tapi masih bingung dan belum mengerti akan menikah dimana.


Flashback off.


Pernikahan dilakukan dengan lancar, walaupun tanpa riasan, hidangan hanya beberapa kue, yang Adit dan Mawar beli dari Bandara tersebut.


"Bim, saya serahkan anak Bapak kepadamu, jaga baik-baik ya" Pak Sutisna berkaca-kaca saat ini sudah jam 11 Abim dan Melati akan segera check in.

__ADS_1


"InsyaAllah Pak" Abim menjabat tangan mertuanya.


"Bim... kamu sekarang sudah menjadi suami, harus bisa melindungi istrimu, jadikan kegagalan pernikahanmu yang dulu menjadi pelajaran berharga Nak," pesan mama dan papa.


"Baik Pa, Ma"


"Nak... hati-hati disana ya," ibu pun memeluk Melati berderai air mata.


"Ibu jangan menangis... kalau ibu menangis, sebaiknya Melati nggak usah ikut," Melati ingin berangkat tentu harus dengan restu.


"Ibu, bukan nggak iklas nak, pergilah" bu Riska mencium ubun-ubun anaknya yang tertutup hijap. Bapak juga mengusap ubun-ubun Melati.


"Kami berangkat Ma, Pa" Abim berpamitan kepada kedua orang tuanya dan juga kepada mertua.


Abim menggandeng tangan Melati ingin check in.


Melati menoleh keluarganya yang masih berbaris didepan masjid semua melambaikan tangan kepadanya begitu juga Melati hingga Melati dan Abim masuk kedalam.


Setelah check in dan mendapatkan boarding pass. Melati dan Abim duduk berdua menunggu pesawat datang.


Keduanya saling diam masing-masing masih belum percaya bahwa mereka kini menjadi suami istri.


"Kak"


"Mel"


Mereka memulai pembicaraan serentak keduanya pun terkekeh saling pandang, Melati tersipu malu.


"Mau ngomong apa?" tanya Abim.


"Kakak dulu"


"Kamu dulu"


"Nggak jadi ahh..." ucap Melati.


Abim tersenyum, tangan kekarnya lastas melingkar di pundak gadis cantik yang kini sudah menjadi istrinya, terasa hangat menjalar diseluruh tubuhnya.


Berbanding berbalik dengan Melati merasa masih asing dengan pria yang sedang memeluk pundaknya keringatnya kembali bercucuran padahal diruangan ber ac.


"Kamu kenapa gugup? bukankah waktu itu sudah memeluk aku ya" Abim menggoda.


"Kapan?" Melati tidak merasa memeluk maka memutar duduknya menatap Abim.


"Ya sudah, kalau kamu lupa," Abim mengangkat tangan Melati lantas menciumnya.


"Mel, kamu dulu ibarat Melati indah yang tumbuh diatas tebing tinggi, susah payah aku ingin memetik Melati itu, dan ternyata bunga Melati yang indah telah aku genggam, aku senang ternyata banyak yang membantuku." Abim rupanya mulai menggombal.


Melati mencebik. "Melati jangan di genggam yang ada hancur," Melati berkelakar keduanya pun kembali tertawa.


"Sungguh Mel, aku bahagia bisa memiliki kamu," Abim kembali memeluk pundak istrinya.


Wajah Melati memerah.


"Air Lines AG sekian-sekian, sekian, jurusan Zurich, akan segera diberangkatan."


Pasutri yang masih tampak kaku itu pun bergandengan menuju pesawat yang sebentar lagi akan lepas landas.

__ADS_1


.


__ADS_2