PERNIKAHAN BERUJUNG LUKA.

PERNIKAHAN BERUJUNG LUKA.
Daddy vs Mommy.


__ADS_3

"Mel, kenapa kakak angkat kamu itu selalu ada di rumah kak Mawar?" cecar Alex, setelah sampai di depan rumah Melati, ketika mereka baru turun dari motor.


"Nengok anaknya," jawab Melati singkat sambil berlalu kedalam.


"Anak, Mel?" Alex mengejar Melati.


"Iya" satu kata dari Melati.


Alex kemudian menghentikan langkahnya, ia mengulas senyum menatap Melati dari belakang sambil manggut-manggut terasa lega, ternyata Abim sudah punya anak. Pikirnya.


"Kamu sudah sampai, Bom?" tanya Melati melihat Bombom sudah sibuk didepan lap top.


"Iya dong... karyawan teladan gitu loh," Bombom menepuk dadanya sendiri.


"Huh! dasar Bobom! cari muka didepan bos," kelakar Alex.


"Iya, kalau gitu kerjain juga punya gw Bom, loe kan rajin" Risda yang baru menurunkan tas, menimpali.


"Ogah! nanti loe makan gaji buta, kecuali loe mau jadi bini gw, hahaha," kelakar Bombom.


Melati yang baru mulai bekerja ikut tersenyum.


"Jangan banyak bicara, cepat kerja" Alex mengakhiri obrolan yang tidak berfaedah itu. Mereka pun bekerja saling diam.


*******


Sementara ditempat lain, motor besar sudah sampai di kantor. Setelah parkir Abim masuk lobby derap sepatu pantopel terdengar nyaring.


Seperti biasa wajah tampan itu menjadi perhatian para karyawan salah satunya Rere.


"Lihat, laki gw sudah sampai" ucapanya kepada salah satu karyawan.


"Laki loe?" teman Rere mengerutkan kening.


"Calon, maksudnya," Rere kedip-kedip.


"Kita ikuti yuk" Rere yang awalnya duduk menunggu jam masuk, langsung beranjak menyusul Abim ketika berdiri didepan lift.


"Hai kak," dengan percaya diri Rere berdiri disebelah Abim.


"Haii" Abim menoleh melihat Rere hampir setiap hari menggodanya merasa heran.


Lift terbuka yang antri berdesakan masuk.


Rere senang bisa berdiri begitu dekat dengan Abim terlebih sampai bisa ambil kesempatan memegangi lengan Abim.


Bau parfum wangi membuat Rene dan juga karyawan lain rasanya ingin berlama-lama ditempat itu.


Abim yang menyadari tanganya dipegang, langsung menoleh. "Mbak, tolong tangannya" ucapnya sambil menggoyang-goyang lengan Rere agar lepas.


"Maaf" Rere tampak malu-malu. Keluar dari lift, Abim segera menuju kubikelnya. Namun berhenti dulu di pantri membuat kopi.

__ADS_1


Semalam menunggui orang sakit tentu akan mengantuk jika tidak minum kopi dulu.


"Loe nggak setia kawan broo, bikin kopi cuma satu," sambar Refan ketika Abim sampai kubikel sambil membawa secangkir kopi.


"Ini saja, buat berdua," dengan santai Abim menyahut, lantas meletakkan kopi diatas meja.


"Ogah, minum segelas berdua sama loe. Loe pikir gw pacar loe," omel Refan padahal mereka sering minum segelas berdua.


"Jangan sok loe" ujar Abim mlengos kesal sambil duduk lalu menyalakan komputer.


*******


Diwaktu yang bersamaan. "Fred jujur sama aku, kamu sebenarnya kerja nggak sih?" tanya Diah sudah mulai curiga.


Alfred menarik napas panjang. "Jujur Diah, bisnisku saat ini sedang bangkrut, aku pusing, makanya kemarin itu aku sempat mabuk," jawabnya, lalu minum teh pahit sambil nyengir karena tidak ada gula.


"Kok pahit sih, Diah..." protesnya. Padahal tidak ada menu sarapan pagi hanya minum teh saja rasanya pahit.


"Nggak ada gula Fred, boro-boro gula, garam saja habis, kulkas nggak ada isinya, aku pusing Fred, makanya bantu aku mencari uang," Diah benar-benar tidak punya uang saat ini.


"Gantian lah Diah... dulu kan aku yang selalu memberi kamu uang, masa giliran aku susah kamu nggak mau gantian." Alfred lalu menatap leher istrinya menyeringai.


"Masalahnya... gajian masih lama Fred, terus bagaimana ini aku sama sekali nggak punya pegangan," Diah memijit pelipisnya.


"Jual saja kalung itu, toh kalung itu, dulu aku yang membelikan," ungkit Alfred.


"Kalung Fred?" Diah memegangi kalung lima gram, dengan lion itu seolah berkata. Jangan.


"Fred, kalung ini untuk cadangan, jika suatu saat nanti... kita nggak punya uang untuk membayar kontrakan." Diah kali ini ada benarnya.


"Misalnya, kita nggak bisa bayar kontrakan terus... kita diusir dari kontrakan ini, lalu kita mau tinggal dimana? dikolong jembatan!" Diah mrengut kesal.


"Aaahh... nggak tahu lah Diah, jangan bikin aku pusing," ucapnya kesal.


"Ayo, sekarang berangkat" Alfred menarik tangan Diah.


"Fred... aku lapar, dari tadi malam kan aku nggak makan," rengek Diah memang benar-benar lapar.


"Kamu pikir aku nggak lapar," jawab Alfred sambil mengenakan helm.


Tidak menjawab lagi lantas Diah naik keatas motor berangkat kerja dengan keadaan perut lapar.


Sampai didepan pabrik, Diah cepat turun setelah Alfred menghentikan motornya.


"Aku masuk dulu" kata Diah sambil memberikan helm kepada Alfred.


"Tunggu Diah" Alfred menarik tas slempang Diah.


"Apa lagi Fred?" Diah membalikkan badan menatap Alfred jengkel.


Alfred kemudian membuka tas Diah mengorek-ngorek.

__ADS_1


"Fred! mau apa kamu?!" Diah ingin merebut tas.


"Aku nggak ada bensin, Diah... terus bagaimana aku pulang? suruh jalan kaki" kilah Alfred, ambil uang dekil sepuluh ribu yang hanya selembar-lembarnya.


"Fred... jangan diambil... hanya itu untuk tunggu dompet! Aaahhh..." Diah menghentak-hentakan kakinya di konblok bagusnya suasana pabrik masih sepi, hanya ada tukang parkir dan cleaning service sibuk dengan pekerjaannya, tidak memperhatikan mereka .


"Sudah... selamat bekerja" Alfred melambaikan tangan meninggalkan Diah yang masih menggerutu kesal. Pasalnya, hanya uang segitu-gitunya buat beli garam dan gula saja sayang, malah diambil.


Sementara Alfred melajukan motornya tetapi bukan pulang kerumah, tetapi menuju tempat lain.


*******


"Daddy..." sapa anak laki-laki tampan blasteran Asing dan Idonesia, ketika sang ayah turun dari motor berlari kearahnya.


"Iya sayang..." pria yang disapa Daddy itu langsung menggendong anaknya yang kira-kira berumur empat tahun.


"Daddy kemana saja? kok nggak pulang-pulang" protes anak itu.


"Daddy kan cari uang sayang" ucapnya sambil menggendong anaknya masuk kedalam.


"Mommy... Daddy pulang," seru anak itu memanggil ibunya. Wanita anggun keluar dari kamar kira-kira berumur 30 tahun, menghampiri anak dan suaminya


"Kamu main sama Mbak, dulu ya sayang... Mommy mau bicara dengan Daddy," kata wanita itu mengusap kepala anaknya.


"Baik Mommy..." anak yang wajah bule nya tidak terlalu kentara karena wajahnya dominan ambil wajah mommy itu berlari menghampiri baby sitter.


"Kemana saja kamu Fred?!" cecar istrinya, menatap suaminya kesal.


"Aku mencari kerja sayang... jika terus diam dirumah, bagaimana aku bisa mencari uang" kilah Alfred.


Ya pria itu adalah Alfred.


"Kamu cari uang, atau cari selingkuhan diluar sana Fred?!" ketus wanita itu memiringkan badan bersedekap dada, bibirnya tersenyum meledek.


"Cari uang lah... kamu kan tahu. Ayahmu sudah mencabut semua fasilitas yang diberikan kepadaku," jawab Alfred seperti korban.


"Jika aku tidak mencari uang darimana aku bisa bertahan, sedangakan Ayahmu, memberhentikan aku dari jabatan direktur, secara sepihak" kilah Alfred lalu mendekati istrinya merangkulnya dari belakang.


"Singkirkan tanganmu Fred, aku jijik disentuh kamu, karena tanganmu sudah banyak menyentuh wanita lain." Angita menitikan air mata lalu menjauh dari suaminya, rumah tangga yang sudah dibangun selama lima tahun terancam roboh, karena adanya perselingkuhan.


"Sudah berapa banyak wanita yang kamu tiduri diluar sana Fred?!" Anggita menangis kencang.


"Sayang... please... percaya padaku, itu kan karena kamu hanya mendengar kata-kata Ayahmu, kamu tidak tahu sendiri kan? sumpah aku hanya mencintaimu," Alfred mengangkat kedua jarinya.


"Hiks hiks hiks..." Wanita yang bernama Anggita itu menangis sesegukan lalu duduk disofa.


Entah ingin percaya dengan suaminya ini, atau dengan ayahnya. Gita tahu, selama ini ayahnya tidak pernah berbohong kepada nya. Tetapi... Gita tidak ingin berpisah dengan suaminya yang dicintainya ini, terlebih sang anak selalu menanyakan ayahnya.


"Gita... aku sayang sama kamu, mana mungkin aku berselingkuh," Alfred merengkuh Gita mereka berpelukan. Alfred tersenyum tanpa Gita tahu.


.

__ADS_1


.


__ADS_2