PERNIKAHAN BERUJUNG LUKA.

PERNIKAHAN BERUJUNG LUKA.
Pertemuan Dua Wanita Yang Terluka.


__ADS_3

"Sebelum menulis barang kali ada memberi Vote🤣🤣🤣.


Adit menemui istrinya di Rose shop menceritakan masalah ibunya.


"Oh, jadi ibu tinggal di kampung Mas?" Mawar merasa lega, setidaknya mertua perempuan nya tidak terkatung-katung di pinggir jalan.


"Iya sih Maw, tapi masalahnya ibu mengincar warisan keluarga Bapak," jawab Adit kesal.


"Nggak semudah itu Mas, pasti Tante Wagini akan hati-hati menyimpan sertifikat, lagi pula kan rumah Bapak terpisah."


"Iya juga sih Maw, sekarang sudah sore, kita pulang yuk"


"Iya Mas" Adit membantu istrinya berkemas-kemas kemudian mereka pulang.


"Dit, Bapak mau bicara" kata pak Renggono ketika Adit masuk ke dalam mendapati bapaknya yang sedang duduk di kursi sofa.


"Baik Pak" Adit dan juga Mawar duduk di depan bapak.


"Dit, sebaiknya Bapak pulang ke kampung saja" lirih pak Renggono.


"Jangan" cegah Adit dan Mawar bersamaan.


"Ibumu kan sudah pulang, sebaiknya Bapak menyusul Ibumu saja,"


"Bapak tahu darimana?" Adit tidak tahu, saat Adit berbicara di telepon dengan Wagini tadi mendengarkan.


"Tantemu tadi telepon kamu kan? Bapak khawatir ibumu membuat ulah di sana."


"Jangan khawatir Pak, jika ibu berbuat macam-macam, saya sudah pesan Tante Gini, agar melaporkan kepada saya"


"Adit tidak akan mengizinkan Bapak kemana-mana, masalah ibu, beliau sudah tidak mau mendengarkan anak-anaknya termasuk Diah"


"Sebenarnya kita sebagai anak ingin ibu di masa tuanya mendapatkan kebahagiaan, tapi ibu mengambil keputusan sendiri"


"Pak, biarkan ibu berpikir, dan merenungi kesalahannya. Mudah-mudahan ibu bisa kembali kepada kita dalam keadaan sudah bertaubat" Adit mengakhiri pembicaraan.


Bapak hanya mengiyakan, beliau berpikir. Saat ini lebih baik menuruti saran kedua anaknya. Hanya mereka yang menyayanginya dengan tulus.


******


Seminggu kemudian, setelah perceraiannya dengan Alfred, tiap malam setelah shalat maghrib, Diah selalu mengaji, berzikir, hingga insya. Dan banyak mengisi waktu luangnya dengan ibadah shalat sunnah dan lain-lain.

__ADS_1


Tok tok tok.


Saat melipat mukena, mendengar pintu diketuk. Diah mengenakan kerudung bergo, dan sandal rumah kemudian keluar dari kamar berniat membuka pintu.


Sebelum membuka pintu, Diah membuka gorden sedikit melihat dulu dari dalam siapa tamunya. Jika yang datang Alfred tentu Diah tidak akan membukakan pintu. Namun Diah tidak bisa melihat wajah tamunya, hanya terlihat seorang wanita berhijab yang terlihat dari belakang.


Ceklak.


Pintu terbuka Diah menatap siapa tamunya terperangah. Lalu menjatuhkan tasbih yang masih ia pegang. Dia adalah wanita anggun berhijab yang pernah ia lihat bersama Alfred saat itu.


Keduanya saling diam saling tatap. Jika Diah menatap sendu wajah Gita. Sebaliknya Gita menatap tajam Diah.


"Ka- Kak..." Diah terbata-bata.


Plak. Plak.


Dua tamparan Gita mendarat di pipi Diah kiri dan kanan. Diah menjatuhkan dirinya di tengah pintu bertopang lutut, tidak berani menatap maupun bersuara.


"Dasar! kamu wanita nggak punya otak, nggak punya perasaan!" Gita berapi-api. Namun Diah bergeming di tengah pintu. Air matanya bercucuran. Diah pasrah jika Gita membunuhnya sekalipun tidak akan melawan. Diah sadar jika dia di posisi Gita, pasti akan melakukan hal yang sama.


"Mana suami saya?! kamu sembunyikan dimana?! hah?!" Gita menoyor jidat Diah. Diah menggeleng lemah, tidak bisa berkata-kata. Tangisnya pecah.


"Heh?! jangan pura-pura sedih! kemana Alfred?!" bentak Gita. Gita sebenarnya wanita lembut. Namun jika rumah tangganya ada yang mengusik, lebih-lebih suaminya kini direbut orang, tentu wanita manapun akan merasakan hal yang sama.


"Bohong!" sergah Gita. Gita tahu saat terakhir suaminya pergi mendatangi kontrakan ini. Dan sebelumnya Gita juga menyuruh orang menyelidiki siapa yang sudah berani merebut suaminya. Gita tahu Diah lah orangnya dari orang suruhan nya.


"Sa- saya... be- benar-benar nggak tahu Mbak," jawab Diah terbata-bata sambil menangis


"Jika kamu tidak mau menunjukkan dimana Alfred, saya terpaksa akan menggledah rumahmu!"


Diah tidak menjawab, ia menggeser posisi tubuhnya ke samping agar Gita lewat. Diah berniat menjelaskan kepada Gita, tetapi Diah tidak punya keberanian entah ingin memulai darimana.


"Alfred! keluar kamu!" Gita memanggil suaminya tetapi di dalam kontrakan Diah tampak sepi. Gita pikir suaminya bersembunyi di kamar Diah.


Namun, Gita tentu tidak ingin bersikap keterlaluan lancang membuka kamar orang.


"Panggil suami saya di kamar!" ketus Gita. Diah menggeleng, maksud Diah tidak ada Alfred di dalam. Tetapi Gita mengartikan lain, bahwa Diah tidak mau membuka pintu kamar karena Afred ada di dalam.


"Baiklah... saya tunggu sampai besok pagi! jika Alfred tidak pulang saya akan membawa bodyguard kemari!" ancam Gita melewati Diah kembali ke luar.


"Mbak, kita bicarakan baik-baik, saya akan jelaskan semuanya," kata Diah setelah Gita keluar sepertinya tumbuh keberanian.

__ADS_1


"Saya tidak butuh penjelasan kamu! yang saya cari Ayah anakku," pungkas Gita kemudian berjalan cepat menuju mobilnya.


"Mbak..." Diah berlari keluar mengejar Gita. Namun Gita segera masuk ke dalam mobil. Diah mengetuk-ketuk kaca mobil. Namun Gita segera berlalu.


Diah menangis sesegukan menatap mobil Gita hingga menghilang. Di sekitar kontrakan sangat sepi, sebab semua sedang menonton dangdut yang di gelar tidak jauh, dari tempat itu.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya pria bertubuh kekar berdiri di depan nya. Diah mendongak menatap pria itu berkedip-kedip karena matanya berkabut. Setelah paham siapa pria itu Diah mlengos kesal, lantas kembali masuk ke dalam kontrakan kemudian menguncinya.


******


Pagi yang cerah di pusat gudang beras milik salah satu saudagar kaya tampak ratusan pegawainya sedang menurunkan beras dari lima mobil truk entah berapa ton.


Ada pula yang sedang memuat beras ke atas mobil pick up. Ada lima mobil pick up yang siap mengantar ke agen-agen pedagang beras.


Tumpukan beras yang tinggi tersusun rapi hampir memenuhi gudang yang berkisar lima ratus meter persegi dengan berbagai macam merk, dari beras yang paling murah, hingga yang paling mahal.


Di ruangan tersebut tampak pria setengah baya walaupun sudah usia 55 tahun. Namun masih tampak garis ketampanannya.


Pria itu sedang duduk bersandar di kursi goyang sambil berputar, tampak sedang memikirkan sesuatu.


Tok tok tok.


"Masuk" titahnya lalu membetulkan posisi duduknya menggulung kemejanya sampai siku.


"Selamat pagi Tuan" ucap pria tampan yang berjalan mendekati meja kerja pria tersebut.


"Ini laporan kemarin Tuan" pria tampan itu menyerahkan map.


"Duduklah Mer" titah pria setengah baya kepada Amir, pemuda kepercayaannya yang berusia 28 tahun.


"Terimakasih Tuan" Amir duduk di depan pria setengah baya yang sedang menyelipkan kaca mata minus yang bertengger di hidungnya, lalu memeriksa laporan beras yang masuk maupun yang keluar.


"Kamu boleh kembali Mer"


"Baik Tuan" Amir pun keluar dari ruangan tersebut.


Tok tok tok.


Amir baru saja masuk ke ruang sendiri. Sudah ada pria yang masuk berikutnya.


"Bagaimana hasil penyelidikan kamu?" tanya pria bertubuh bugar tersebut kepada bodyguard yang bertubuh kekar dan gempal.

__ADS_1


"Ini Tuan" bodyguard menyerahkan laporan.


.


__ADS_2