
Membangun bahtera rumah tangga tidak cukup hanya dengan kata cinta di bibir semata. Namun harus bisa membuktikan cinta itu apakah tulus atau tidak.
Harus menjunjung teguh kata saling.
Saling menyayangi, saling terbuka, saling jujur, dan saling menjalin komunikasi. Itulah pondasi yang kokoh.
Tidak seperti yang dilalui Gita saat ini. Karena ketidak adanya kejujuran pasangannya, menimbulkan kecewakan yang mendalam.
Menorehkan luka yang cukup dalam di hatinya. Walaupun tinggal satu rumah dengan Alfred nyatanya hanya untuk menutupi luka yang dirasakan sang buah hati.
"Mommy... jangan marahan terus... sama Daddy" protes Freddy, rupanya bocah kecil itu peka terhadap apa yang terjadi dengan kedua orangtua nya.
"Mommy, nggak marah kok... kata siapa Mom marah?" Gita mengusap kepala putranya. Gita sudah menggunakan mukena hendak shalat ashar.
"Mommy marah ya, karena Daddy sering menemani Freddy bobo" kata Freddy polos.
"Nanti malam Freddy bobo sendiri saja, biar Daddy bisa temani Mom, bobo" imbuhnya.
"Nggak kok sayang... sekarang sudah sore, sebaiknya kamu mandi sama suster ya, Mom shalat dulu" titah Gita mengalihkan.
"Ya Mom, tapi Mommy sama Daddy baikan dulu, okay..." Fredy melingkarkan antara jempol dan telunjuk.
"Okay... nanti Mommy sama Daddy baikan" Gita pun melakukan seperti apa yang Fredy lakukan melingkarkan jempol dan telunjuk.
Freddy berlari keluar, sepuluh menit kemudian, ia kembali menggandeng tangan Daddy nya. Ketika sampai di depan pintu Alfred berhenti.
"Kok kesini, nanti Mom marah sama Daddy" bisik Alfred gentar, rupanya bocah itu menjemput Daddy nya. Freddy tidak menjawab justeru mendorong Alfred dari belakang.
Alfred berdiri di depan pintu, menatap Gita yang sedang melepas mukena, bingung apa yang harus ia lakukan. Sebenarnya Alfred ingin sekali sekedar berbincang-bincang dengan istrinya. Namun rupanya Gita masih betah mendiamkan dirinya.
"Mommy... baikan sama Daddy ya" Freddy menyembulkan kepala tersenyum, sambil mengacungkan jempol.
Gita yang sedang melipat mukena menoleh cepat. Menatap Alfred dan Freddy bergantian.
"Mom, pernah bercerita sama aku loh, marahan selama tiga hari, tidak halal bagi orang muslim" pungkas Freddy lalu mengunci pintu dari luar. Bocah kecil itu senyum-senyum sambil berjalan menemui baby sitter.
"Kikiki...." ketika Freddy menginjak tangga paling bawah bertemu baby sitter.
"Freddy kenapa?" tanya baby sitter yang sudah membawa handuk, mendapati Freddy cekikikan sendiri.
"Seeettt... diam Sus, Freddy ngunciin Daddy sama Mommy" ucapnya menunjukan kunci di tangan.
"Eeehh... kok dikuncuin..." Suster mengerutkan dahi.
__ADS_1
"Seeettt... suster diam saja, ayo" Freddy menarik tangan baby sitter ke kamar mandi setelah meletakkan kunci di atas bupet.
*****
"Spesial hari ini... Abang yang memasak" kata Abim, setelah belanja rupanya ia memasak sendiri.
"Memang Abang mau masak apa? aku bantuin" Melati menatap Abim yang sedang menumis bumbu, aromanya wangi.
"Menurut mu masak apa?" tanya Abim menoleh ke samping sekilas lalu menuang air ke dalam bumbu.
Melati menatap piring lebar yang sudah di susun daging rebus, soun, kol, taoge, dan santan instant.
"Abang mau buat soto betawi? kok pake taoge?" Melati sering memasak soto tetapi tidak memakai taoge.
"Iya, supaya cepat jadi dedek di perut istriku" spontan Abim berjongkok menyingkap kaos lalu mencium perut ramping istrinya.
Melati terlonjak kaget lalu mundur. "Abang... geli ih!"
Abim tersenyum lalu melanjutkan memasak.
"Bang"
"Heemm..."
"Kalau aku nanti benar cepat hamil bagaimana?" Melati bertanya serius.
"Iya sih... terus... bagaimana kelanjutan kuliah aku, sudah pasti akan tertunda, padahal aku ingin kuliah sampai selesai jangan sampai gagal" Melati ingin mencapai apa yang sudah ia rencanakan.
Ceklak.
Abim mematikan kompor lalu menggandeng Melati mengajaknya duduk di sofa.
"Mel, apa pun yang kita rencanakan dan kita jalani tidak selalu lurus, kadang ada hambatan. Memang tujuan awal kita kesini ingin meraih gelar. Tetapi tidak hanya itu yang kita pikirkan saat ini."
Setelah menikah tentu Abim punya pemikiran yang berbeda, tidak seperti waktu ingin berangkat, sebelum menikah.
"Jika memang kita cepat diberi momongan harus kita syukuri, karena Tuhan sudah mempunyai skenario hidup kita, pasti yang Tuhan berikan adalah yang terbaik untuk kita,"
"Contohnya, hanya dengan hitungan jam kita bisa menjadi pasangan halal, padahal sebelum berangkat, kita tidak ada kan, pemikiran sama sekali? Makanya serahkan semua kepada Allah. Abang selalu berdoa, semoga kita bisa menyelesaikan kuliah dengan lancar, dan ketika pulang nanti kita bisa mendapatkan gelar dan juga anak yang lucu." Abim tersenyum membayangkan bayi yang lucu dalam gendongan nya.
"Aamiin..." Melati meraup wajahnya.
*******
__ADS_1
Tiga hari kemudian, setelah Diah masuk rumah sakit. Jika tidak kabur, seharusnya hari ini jadwal nya pulang.
Pria tampan gagah berwibawa sebelum ke kantor menyempatkan diri datang kerumah sakit. Tampak ia berjalan cepat, setelah turun dari mobil masuk kedalam lift.
DI dalam lift, yang isinya rata-rata perawat wanita menatapnya terkesima. Namun, ia tidak menghiraukan. Netranya fokus dengan benda pipih di tangannya.
Keluar dari lift, melangkahkan kaki terdengar nyaring suara sepatu pantopel yang ia kenakan. Menuju dimana Diah dirawat. Ia mendorong pintu ruang inap, menuju kamar pasien yang sudah tiga hari ini baru ia kunjungi kembali. Di ruang itu pun tetap menjadi pusat perhatian.
Ia terkejut saat membuka pembatas ruang inap, yang ada di dalam bukan Diah. Namun seorang nenek tua.
"Mbak, saya mau tanya, pasien yang di ujung itu, kapan pindahnya?" tanya Marselo walaupun tadi cuek toh akhirnya bertanya juga kepada gadis yang ia lewati tadi.
"Oh... sudah pulang dua hari yang lalu, Om" jawab gadis belia, tampak senang disapa.
"Terimakasih" ucapnya lalu pergi meninggalkan rumah sakit.
"Mang, langsung ke kantor saja," titahnya kepada supir.
"Baik Tuan" supir menjalankan mobil, pria berbeda generasi itu saling diam, perjalanan lambat kerana terjebak macet. Namun akhirnya sampai tujuan juga.
Pria tampan itu masuk ke dalam kantor yang pertama ia tuju adalah; Tempat produksi. Ia mengedarkan pandangan tentu tidak akan bisa mengenali salah satu orang yang dicari, karena wajah karyawan bagian produksi rapat dengan penutup wajah dan kepala, hanya mata yang terlihat.
"Pak, pekerja yang bernama Rindy masuk tidak?" tanya nya kepada pengawas.
"Rindy Tuan? ada apa denganya?" pengawas tampak kaget sebab bos menanyakan pegawai rendahan.
"Jawab saja!" tegasnya. "jika ada suruh dia masuk keruangan saya," sambung Marselo, kemudian meninggalkan pengawas yang masih bengong.
"Apa nggak salah" gumam pengawas. Lalu menuju dimana para wanita duduk berjajar dengan seragam putih kuning di lengan maupun di kerah. Tidak membuang waktu pengawas mendatangi Rindy. Lalu tampak mengatakan sesuatu.
Tok tok tok.
"Masuk"
Rindy masuk ke dalam ruangan yang baru sekali ini ia pijak. Tampak Marselo sedang berbincang-bincang dengan seorang pria, tetapi entah siapa orangnya Rindy tidak tahu.
"Tuan mencari saya?" tanya Rindy setelah tamu bosnya keluar ruangan.
"Duduk lah" ucapanya tanpa menatap.
"Teman kamu yang dirawat kemarin sudah dibawa pulang, kenapa tidak memberitahu saya?" Marselo pun mengangkat kepala menatap Rindy.
"Diah kabur Tuan" sahut Rindy lalu menggigit bibir bawahnya.
__ADS_1
"Kabur? maksudnya?" Marselo menatap Rindy dengan dahi berkerut.
"Diah kabur dari rumah sakit Tuan, dan sudah dua hari ini saya belum menemukan, saya cari di kontrakan juga tidak ada," tutur Rindy panjang lebar.