PERNIKAHAN BERUJUNG LUKA.

PERNIKAHAN BERUJUNG LUKA.
Ada Dinding yang Sulit Ditembus.


__ADS_3

Jika malam ini Alfred sedang menikmati meriahnya pesta yang gemerlap bersama anak dan Gita istri tuanya.


Kini Diah sedang meratapi nasib. Betapa tidak? ia rela gelap-gelapan, pasalnya ia tidak bisa membeli pulsa listrik.


Diah keluar dari kontrakan membeli lilin dua ribu, dan satu bungkus mie instan.


Ia tampak kelelahan setelah pulang kerja sore tadi harus mencuci pakaian yang sudah ia rendam selama tiga hari bau busuk pun menyengat.


Sebenarnya setiap hari sabtu di pabrik libur, tetapi jika ada lembur, kenapa tidak ia ambil? toh lumayan bisa menambah pendapatan akhir bulan nanti.


"Bu, boleh saya minta daun singkong sedikit?" tanya Diah, basa basi, padahal sudah sering ia minta daun singkong tersebut.


"Silahkan, Mbak" jawab sang pemilik.


Diah kemudian menyalakan lilin setelah menyulutnya diatas kompor.


Satu mangkok mie instan dicampur dengan daun singkong yang ia petik dari pagar sang pemilik kontrakan sudah tersaji di meja makan. Walapun memasak dengan penerangan lilin.


Itulah menu makan malam Diah selama tiga hari, selama Alfred tidak pernah ada kabar.


Ya memang sudah nasip Diah, dulu setiap malam minggu begini menikmati hidangan walaupun tidak mahal setidaknya makan malam dengan ayam goreng atau ikan bakar.


Tetapi saat ini makan mie instan saja tidak mampu untuk menambahkan telur maupun sawi.


Diah menyuap mie instan, setiap suapan ingat, saat ini masih bisa makan. Namun, bagaimana dengan besok?


Uang yang ia pinjam dari Ririn, hanya untuk ongkos ojek selama tiga hari sudah habis 60 ribu.


Lastas jika uang ini habis, apakah ia harus bekerja dengan berjalan kaki? Diah hanya bisa menerima kenyataan ini.


Ditambah lagi listrik saat ini mati, terus bagaimana besok jika ia mandi? air hanya sisa satu ember sisa mencuti tadi.


Inilah mungkin karma bagi Diah, sudah harus menerima konsekuensinya, ia rela meninggalkan orang tuanya, dan lebih parah lagi, ia sudah tega meninggalkan buah hatinya sendiri.


Saat ini Diah telah memanen buah yang ia tanam dahulu.


Sambil merenung Diah menghabiskan mie.


******


Masih ditempat pesta, Alfred mencoba chat Diah, sudah tiga hari tidak bertemu rasanya kangen juga. Namun lagi-lagi centrang satu. Dia belum bisa pulang, namun setidaknya dia akan mengabari Diah, agar tidak mencarinya.


Lagi pula dia juga masih kangen dengan Gita, yang sudah satu bulan tidak ia kunjungi.


"Kenapa sih Fred? kamu gelisah banget?" tanya gita. Memperhatikan suaminya sebentar-sebentar buka handphone.

__ADS_1


"Nggak apa-apa... sudah, habiskan makananya terus kita pulang kasihan tuh anak kita sudah ngantuk," jawab Alfred lantas mengantongi handphone.


******


"Mel, aku mau tanya, jawab dengan jujur?" tanya Abim suaranya terdengar lirih, agar tidak didengar orang lain, saat ini Intan sedang ke toilet.


"Apa?" Melati balik bertanya tanpa menatap lawan bicara.


"Apa... sudah tidak ada, sedikitpun, rasa cinta yang tersisa di hatimu, untuk aku Mel" Abim berkata serius.


"Nggak!" satu kata dari mulut Melati. Membuat Abim tersentak kaget, hatinya tertohok. Mungkin sudah saatnya ia mundur membiarkan Melati berbahagia dengan pria lain.


"Baik lah, aku sadar kok Mel, aku memang tidak pantas untuk memiliki wanita sebaik kamu" jawab Abim lastas diam.


"Bukan begitu kak, tapi...," Melati kali ini bicara lembut, merasa bersalah akhir-akhir ini jika diajak bicara Abim selalu ketus.


"Stop, Mel, aku sudah tahu jawabanmu, pasti kamu akan bicara kita lebih baik menjadi saudara, gitukan?" Memang benar yang di bilang Abim. Seolah tahu apa yang Melati pikirkan.


"Semoga kamu bahagia, Mel," pungkas Abim. Abim tahu jawaban Melati sebagai saudara hanya alasan. Mana ada seorang saudara jika berbicara selalu membentak.


Keduanya terdiam Abim ingin menjauh dari Melati saat ini mungkin yang terbaik.


"Kalian sudah habis makanya ya?" tanya Alex memecah ketegangan.


"Kasihan deh loe, Lex, makan paling belakangan," ledek Intan yang baru kembali dari toilet.


"Biarin! nggak bakalan di tinggal ini." Alex menyahut" ya jelas nggak di tinggalin, sebab Melati dibonceng Alex.


"Mendingan loe pulang bareng gue Mel, terus nginep dirumah, besok kan hari minggu,"


Intan ingin sahabatnya menginap dirumahnya, dulu sebelum Abim menikah hampir setiap minggu Melati kerumah masak bareng, makan bareng.


Saat Abim sudah menikah pun, Melati masih suka berkunjung. Tetapi setelah perceraiannya dengan Diah Melati justeru semakin menjauh.


"Lain kali dech Tan" jawab Melati pendek. Intan tidak tahu bahwa baru saja terjadi ketegangan.


Dulu memang Melati bebas bermain, kerumah Intan tetapi saat ini rasanya ada skat dinding, dan sebenarnya Melati sendiri yang membuat dinding tebal itu hingga sulit di tembus.


"Sebaiknya kita pulang Tan" Abim lantas berdiri berjalan lebih dulu, tanpa pamit Melati maupun menoleh.


"Mel, gue duluan ya" Intan segera menyusul kakanya.


"Iya, hati-hati Tan"


Melati menatap sendu kepergian Abim dengan langkah gontainya. Melati sadar mengapa dia harus menghakimi Abim? toh apa salahnya dia.

__ADS_1


Mengapa ia selalu bebicara ketus dengan Abim, Abim mau menikah dengan siapa toh tidak ada urusan dengannya. Terlebih, selama ini Abim tidak ada komitmen kepadanya, lalu apa salah jika Abim menikah dengan orang lain? cinta tidak bisa dipaksakan.


"Gue ke toilet dulu ya, Lek." Melati berdiri dari duduknya.


"Iya" jawab Alex masih belum selesai makan.


Ia mengejar Abim ingin minta maaf seharusnya dia tidak berkata kasar ketika Abim mengajaknya bicara. Melati berjalan cepat melewati orang-orang suasana pesta semakin ramai.


Sampai parkiran Melati menelisik mobil satu persatu. Namun mobil Abim seolah raib ditelan bumi. Entahlah padahal tadi dia cepat mengejarnya.


Melati kembali masuk kedalam kali ini ia benar-benar ingin ke toilet.


Melati berjalan ke toilet, setiap langkahnya teringat wajah Abim yang terlihat dari tatapan matanya menyimpan kekecewaan yang mendalam.


Sampai toilet tampak sepi, ia mendorong pintu didalam sangat gelap.


Ia lantas mencari saklar kemudian menyalakan lampu.


Lima menit Melati didalam lantas membuka pintu keluar, jika tadi hanya didalam yang gelap, kenapa saat ini diluar pun juga gelap?


Melati ambil handphone ingin menyalakan senter. Namun belum sampai menyala mulutnya dibekap dari belakang.


"Uaum... uaum..." Melati tidak bisa bersuara tidak lama kemudian ia tidak sadarkan diri.


Melati dibawa keluar oleh seorang pria menuju belakang gedung Grocery Store.


Malam ini tampak diterangi rembulan laki-laki itu, ingin berbuat tidak senonoh kepada Melati yang sedang pingsan.


Buk buk buk


Pukulan bertubi-tubi dari seorang penolong, menghajar penjahat tanpa ampun.


Penjahat itu jatuh lalu mengeluarkan darah dari bibir, lantas ia bangun membalas pukulan pria itu.


Baku hantam pun terjadi, saling pukul saling tendang. Dibawah temaram rembulan, penjahat itu mengeluar pisau dari saku celana.


Ketika ingin menghujam, pria itu dengan cepat berkelit, seketika ambil kayu lalu memukul penjahat tersebut.


Pisau terpental jauh, dengan sigap pria itu mengambilnya lalu membuang pisau jauh ke kesemak-semak belukar.


Penjahat pun jatuh tersungkur, kesempatan itu tidak disia-siakan oleh pria penolong segera mengangkat tubuh Melati membawanya pergi.


.


.

__ADS_1


__ADS_2