
"Dit, Bapak nggak apa-apa... nggak usah dibawa ke dokter," tolak pak Renggono, napasnya tersendat menahan batuk.
"Bapak harus nurut, biar cepat sembuh," Adit memakaikan jaket ditubuh bapaknya.
"Benar kata kak Adit, Pak," Abim menimpali.
Adit menggendong pak Renggono, ketika sampai diruang tamu berhenti sejenak, melirik bu Reny yang sedang mengorek-orek sudut kuku jempol. "Dasar nenek genit," batin Adit.
Abim berjalan lebih dulu, membuka pintu mobil untuk Adit bersama pak Renggono.
"Pelan-pelan Kak" ujar Abim membantu Adit merebahkan mantan mertuanya di jok tengah kemudian menidurkan dipangkuan Adit.
Tidak banyak bicara Abim mengendarai mobil Adit, menuju rumah sakit.
Adit segera mengurus pendaftaran dan lain sebagainya, sementara Abim menemani mertuanya hingga masuk ke ruang dokter.
"Keluarga Pak Renggono" panggil suster. Setelah beberapa menit Abim dan Adit menunggu antrian.
"Saya, Sus" Abim dan Adit maju bersamaan.
"Masuk Mas" titah suster.
Abim dan Adit masuk keruangan dokter, seperti arahan suster.
"Kalian siapa nya, Pak Renggono?" tanya dokter setelah selesai memeriksa.
"Kami anaknya, Dok" jawab mereka.
"Pak Renggono, mengidap penyakit Pneumonia," terang dokter.
"Apa itu Dok?" tanya Abim.
"Penyakit yang menyerang paru-paru, disebabkan karena infeksi, sehingga mengakibatkan paru-paru meradang dan membengkak, atau disebut juga paru-paru basah," dokter menjelaskan panjang lebar.
"Paru-paru basah, Dok?" Adit terkejut, selama ini pak Renggono jarang sakit, terlebih sejak muda pak Renggono tidak pernah merokok.
"Betul, Pak Renggono harus dirawat, karena napasnya sesak, kami akan memberikan obat-obatan, dan terapi oksigen," dokter menjelaskan.
"Lakukan yang terbaik Dok," jawab Adit.
Pak Renggono segera ditangani dokter, Adit kemudian mengurus segala sesuatunya dibantu Abimanyu. Kedua pria itu tidak merasa lelah meskipun pulang kerja.
"Saya pulang dulu Kak Adit, nanti malam InsyaAllah kemari lagi," kata Abim.
"Terimakasih ya, Bim" Adit mendekati Abim ketika hendak keluar dari ruang rawat pak Renggono.
"Sama-sama, Kak Adit" Abim lantas keluar mengenakan sepatu, karena aturan di rumah sakit ini harus melepas alas kaki ketika masuk ruang rawat.
Adit tidak bisa berkata apa-apa lagi, selain kata terimakasih. Adit terharu mantan adik iparnya tetap baik dengan keluarganya, meskipun ibu dan adiknya sudah menyakiti hatinya. "Tolong sekalian, kasih kabar Mawar Bim" imbuh Adit.
"Baik Kak, nanti aku sampaikan" jawab Abim kemudian keluar dari rumah sakit memesan taksi berniat ambil motor kerumah Mawar.
Kruk... kruuk..."
Perut Abim berbunyi setelah sampai didepan Rose shop. Abim turun dari taksi, menuju kios bakso bu Riska. Badannya terasa dingin makan baso pasti enak. Pikirnya.
"Assalamualaikum..." Abim mengucap salam, saat ini sudah jam delapan malam kios bu Riska sangat ramai.
__ADS_1
"Waalaikumsalam..." semua orang yang sedang menyantap bakso menoleh.
"Ganteng, nyaaa..." ada tiga gadis, kagum menatap Abim.
"Sini Mas, masih ada tempat loh" Ketiga gadis itu, masing-masing memawarkan tempat didekat mereka.
"Terimakasih... saya disini saja" tolak Abim lalu duduk dipinggir tembok perbatasan dapur.
Tanpa Abim tahu, seorang gadis didalam memperhatikannya.
"Heemm..." pak Sutisna dehem lalu terkekeh melihat Melati yang sedang memandangi Abim.
"Bapak..." Melati tersenyum malu, kepergok bapaknya.
"Sudah... temui sana," titah Bapak kemudian ambil kopi sachet lalu menyeduh untuk pelangganya.
"Benar kata bapak Mel, tanya Abim sana gih, mau pesan apa, atau... mau pesan kamu?" bu Riska juga menggoda sambil tersenyum.
"Ibu... aku tuh masih sebel, ibu saja yang tanya." Melati cemberut.
"Sebeeel... itu artinya, Senang Betul, iya nggak Pak," Abim tiba-tiba masuk kedapur mendekati Melati sambil tersenyum.
"Ngapain kesini?!" ketus Melati.
"Ya jelas ingin makan baso lah" jawab Abim.
"Mau makan bakso kok kedapur,"
Kruuk kruuk.
Perut Abim kembali berbunyi didepan Melati pula, langsung menyembunyikan rasa malu.
Melati menatap Abim dari belakang ingat perut Abim yang berbunyi tadi, ia lantas meracik bakso untuknya.
"Mbak, tolong bakso ini berikan kepada Mas-Mas, yang sedang membawa nampan itu ya" titah Melati kepada salah satu pelayan.
"Baik Non"
Pelayan memberikan bakso kepada Abim. Abim tampak clingukan mencari Melati.
*******
Diwaktu yang sama, Diah baru pulang kerja, rasa lelah, letih, lesu menjadi satu.
"Alfred..." panggilnya, saat baru membuka pintu dengan kunci cadangan. Namun keadaan rumah sangat sepi. Diah lalu membuka pintu kamar.
"Ya ampuun... gumamnya. Melihat keadaan kamar yang berantakan.
Ia kembali keluar menuju meja makan, membuka tudung nasi tampak kosong.
Diah menghela napas berat, menjatuhkan bokongnya di kursi dengan kasar.
Ia membuka handphone menghubungi Alfred namun tidak diangkat. Maksud hati Diah, jika pulang nanti, ingin pesan agar dibawakan makanan, perutnya sudah terasa lapar.
Diah pun menulis pesan lagi-lagi centang satu. Satu menit, dua menit Diah menunggu. Namun, boro-boro Alfred menghubungi, pesanya pun tidak dibuka.
Diah beranjak dari kursi, melihat kulkas hanya ada telur, ia ambil satu butir, ambil mie instan didalam lemari kemudian merebusnya.
__ADS_1
Sambil menunggu dingin, Diah mandi, salin baju, setelah rapi, kemudian kembali ke dapur, ambil mie dalam mangkok, menyantapnya didepan televisi.
Perut terasa kenyang, Diah ketiduran, di depan televisi karena kelelahan seharian bekerja.
Wajar, dia bekerja di pabrik bagian produksi makanan kemasan walaupun sambil duduk tanganya tidak pernah berhenti.
Diah dan teman-teman bekerja harus mencapai target yang sudah ditentukan oleh perusahaan. Jika tidak tentu gajinya tidak akan cukup untuk makan, bayar kontrakan, listrik, dan lain-lain.
Apa boleh buat Diah hanya bisa bekerja seperti itu, jika ingin mendapat pekerjaan yang lebih enak tentu harus kuliah.
"Brak! brak! brak!
"Diaaaaahh... buka pintu..."
Diah tidak mendengar teriakan Alfred diluar, sangking pulsanya.
"Brak! Brak! brak.
Kalau tadi Alfred menggebrak gebrak pintu, saat ini Alfred menggedor-gedor jendela yang tepat disamping dimana Diah tidur.
"Iyaa... bentar" Diah berjalan sambil mengucek mata mendekati pintu.
Ceklek.
Diah membuka pintu, bersamaan dengan itu Alfred masuk tampak sempoyongan, bau alkohol menyengat.
"Fred... kamu mabuk?" tanya Diah, sambil menguci pintu kembali. Ia terkejut baru kali ini melihat Alfred mabuk.
"Ahahaha... siapa bilang aku mabuk, hah?!" Alfred menunjuk Diah. "hueeek"
Corot" Alfred muntah didepan Diah. Alfred kemudian mendekati Diah yang masih bengong melihat apa yang terjadi.
Diah mundur ketakutan, menatap wajah Alfred, tampak mata merah, menyeringai terus mendesak dirinya.
"Diah... kamu cinta mati padaku kan... ayo layani aku, Diah..."
"Hoeeekk... Alfred nungging-nungging mengeluarkan isi perutnya.
Alfred kembali bangun, mendekati Diah.
"Fred... please... jangan..." Diah tidak bisa kemana-mana lagi, tangan Alfred mengunci tubuh Diah yang sudah mentok di tembok.
"I love you..."
Alfred menjatuhkan tubuh Diah dengan kasar hingga jatuh kelantai. Alfred memegangi dagu Diah ia tampak bernafsu mencium Aroma wangi Diah.
Sebaliknya Diah rasanya ingin muntah bau mulut Alfred.
"Fred... jangan..." Diah menjerit ketakutan.
Alfred menindih tubuh Diah dan memaksa untuk melayani.
Selesai melepas hasrat, Alfred terkulai di karpet langsung tidur.
Sementara Diah jalan tertatih-tatih menuju kamar mandi. Diah mengguyur tubuhnya sambil menangis, tidak menyangka Alfred pria yang dicintai akan berbuat seperti ini.
.
__ADS_1
.