PERNIKAHAN BERUJUNG LUKA.

PERNIKAHAN BERUJUNG LUKA.
Pria Bertubuh Besar.


__ADS_3

"Jika kalian tidak sabar menunggu hingga akhir bulan, datangi saja rumah anak saya, minta kepadanya, uang saya ada pada dia," bohong bu Reny.


"Jangan mau! kenapa tidak dia sendiri yang minta" jawab anggota arisan.


"Tolonglah... kalau saya yang minta, tidak dikasih, sebab belum akhir bulan," dengan pintarnya bu Reny menjawab.


"Ayo, kita kesana Bu, kalau sampai wanita ini berbohong, kita pinta paksa kalungnya," tegas anggota arisan yang lain.


Mereka pun keluar meninggalkan bu Reny mendatangi rumah Adit.


"Ada apa ya?" tanya bi Sarintem yang sedang menyapu halaman. Mendekati ibu-ibu yang sedang berkerumun di depan pagar ke diaman Mawar.


"Apa benar, ini rumah anaknya, Bu Reny?" tanya ketua arisan santun.


"Betul, ada apa ya?" bi Sarintem merasa aneh, maka tidak langsung membukakan pagar.


"Ada apa Mbok?" tanya Diah yang kebetulan keluar sudah membawa tas ingin pulang ke kontrakan.


"Saya tidak tahu" simbok menggeleng.


"Saya utusan dari Mbak Reny, boleh saya masuk?" ketua arisan balik bertanya.


Diah dan simbok saling pandang.


"Tolong Mbak, ada yang ingin saya sampaikan," ketua arisan memohon, karena Diah tampak ragu menerima tamu.


Diah diam tentu tidak mau seenaknya mengajak masuk orang suruhan ibunya masuk kerumah Mawar. Dilihat dari gelagat ibu-ibu ini pasti ibunya punya masalah.


"Saya anaknya Bu, mari kita kerumah ibu saya saja, kita bicarakan disana," Diah memberi usul.


Ibu-ibu arisan mengiyakan, mereka akhirnya kembali ke rumah bu Reny bersama Diah. Diah mempersilahkan tamunya masuk, kali ini mereka duduk tenang tidak marah-marah seperti tadi.


"Bu" Diah mencari ibunya ke kamar namun kosong. Ia lantas bergegas ke dapur tidak nampak ibunya di sana. Ke kamar mandi pun nihil. Diah kembali keluar membawakan air mineral untuk tamunya.


"Diminum dulu Bu, sebenarnya ada apa ya?" Diah duduk memangku nampan menatap para ibu-ibu tampak semua wajah mereka menegang.


"Ibu Anda kemana?" ketua arisan balik bertanya.


"Sepertinya sedang keluar Bu."


"Begini Mbak, Ibu Anda sudah tiga bulan ini tidak mau membayar arisan, Ibu Anda menyarankan, agar kami minta uang arisan kepada Anda" terang ketua arisan.


Deg


Diah terasa lemas ada masalah apa lagi ini? satu masalah belum selesai timbul masalah lain.


"Memang arisanya berapa Bu?" suara Diah lirih.

__ADS_1


"Satu bulan tiga juta Mbak, total 10 juta plus uang kas, belum lagi, masih ada tiga bulan kedepanya 10 juta lagi, sebab Ibu Anda sudah menarik uang tersebut," ketua arisan berbicara hati-hati.


"Astagfirlullah..." Diah menunduk memijit pelipisnya.


"Bagaimana Mbak, saya butuh uang itu cepat, sebab uang untuk biaya pendidikan anak saya, saya pinjam untuk menalangi arisan, saya sampai dimarahi suami saya," jujur ketua arisan.


"Baiklah Bu" Diah lalu menarik kalung di lehernya pemberian Alfred.


"Ini, kalau dijual bisa laku 10 juta bahkan lebih Bu," dengan tangan bergetar Diah menyerahkan kalung tersebut meletakkan di atas meja.


Ketua arisan memeriksa kalung tersebut.


"Iya Mbak, kalung ini mas asli, saya terima," ketua arisan tampak lebih tenang. "Nanti kalau saya jual laku lebih 10 juta untuk mencicil bulan depan ya Mbak,"


"Baik Bu, untuk tiga bulan kedepan saya yang bayar," kata Diah.


Ketua arisan menyanggupi, mereka kembali pulang. Sementara Diah masuk kedalam memeriksa kamar ibunya, lemari nya kosong, rupanya bu Reny kabur.


Diah menjatuhkan bokongnya di ranjang. Memikirkan kemana ibunya pergi? ia tahu tidak ada kerabat dekat di kota ini.


Diah kemudian keluar menuju Rose shop menemui Mawar. Ia tidak mau cerita kepada pak Renggono, khawatir pak Renggono malah berpikir keras. Diah tidak tega menambah beban pikiran bapaknya yang baru saja pulang dari rumah sakit.


"Diah... kamu mau kemana?" tanya Mawar ketika mereka berpapasan di depan Rose shop.


"Diah mau pamit pulang Kak" jawab Diah.


"Ngak bisa Kak, kalau saya tinggal di sini jauh dari tempat kerja," memang benar yang dikatakan Diah.


"Kalau begitu... kamu kerja sama Melati saja Diah, Bombom butuh teman untuk mengelola gerai ice cream milik Melati," saran Mawar.


"Lain kali kak, untuk saat ini aku belum bisa," jawab Diah. Diah sebenarnya senang tinggal di sini bisa dekat dengan anaknya, bisa merawat pak Renggono. Tetapi Diah masih harus menyelesaikan masalahnya dengan Alfred. Diah tidak ingin masalah rumah tangganya diketahui keluarganya terutama bapak.


"Ya sudah, kakak nggak bisa memaksa" Mawar mengalah.


"Kak, ada yang ingin aku bicarakan sebentar, tapi jangan sampai Bapak tahu,"


"Baiklah... kalau begitu, kita ngobrol di kios ibu saja,"


Mereka berjalan ke kios bu Riska, kios bu Riska selalu ramai setiap saat.


"Kita ngobrol di dapur saja," kata Mawar agar tidak didengar orang lain.


"Iya Kak" mereka masuk ke dapur tampak pak Sutisna dan bu Riska sedang membantu pelayan.


"Assalamualaikum..." Diah mengucap salam. Diah benar-benar sudah berubah.


"Waalaikumsalam" bu Riska menghampiri Diah.

__ADS_1


"Diah... kamu apa kabar Nak?" tanya bu Riska saat Diah mencium punggung tanganya.


"Alhamdulillah... baik Bu" jawab Diah kemudian beralih bersalaman kepada pak Sutisna.


"Suami kamu tidak ikut Nak? sekali-kali diajak kemari agar kami bisa berkenalan," titah pak Sutisna.


Diah tersenyum kecut. "Baik Pak" sahutnya singkat.


Bu Riska dan pak Sutisna berbincang sebentar dengan Diah kemudian melanjutkan pekerjaannya.


Diah kemudian ngobrol dengan Mawar mencerikan perihal ibunya.


"Jadi ibu kabur Diah? terus kemana dong?" Mawar terlihat panik.


"Diah nggak tahu kak," jawabnya sambil geleng kepala.


"Tapi apa masalahnya? kalau sampai ibu kabur berarti ada masalah berat," tebak Mawar.


Namun Diah tidak ingin menceritakan bahwa ibunya mempunyai hutang arisan. Diah malu, ibu-nya sudah selalu merepotkan kakak iparnya. Diah berpikir hanya dirinya saat ini yang harus bertanggungjawab kepada ibu kandungnya.


"Biar saja kak, mudah-mudahan ibu baik-baik saja, paling ibu nanti kembali lagi," Diah masih berpikir positif. Pasti ibunya segera kembali mau kemana lagi? disini beliau tidak ada saudara.


"Sekarang kakak, harus bagaimana Diah?" tanya Mawar panik


"Seperti yang Diah bilang kak, biarkan saja, yang penting bapak jangan sampai tahu, aku khawatir penyakit bapak kambuh," tutur Diah panjang lebar.


Waktu sudah sore Diah pun lantas pulang ia menunggu ojek didepan Rose shop.


Pria bertubuh besar berotot, pria itu tukang ojek yang menjemput Diah.


"Anda yang bernama Diah?" tanya tukang ojek.


"Betul Bang" Diah tertegun takut ketika ingin naik motor tukang ojek. Sebab penampilannya berbeda bukan seperti tukang ojek pada umumnya.


Pria itu berpakaian hitam lengkap dengan masker, dan kaca mata hitam, ditambah lagi tidak mamakai jaket gojek.


"Ayo, naik Mbak Diah" tukang ojek membuyarkan lamunan Diah.


"Baik Bang" Diah mau tidak mau naik ojek tersebut, setelah tukang ojek memberikan helm kepadanya.


Motor ojek itupun tampak motor mahal, sepanjang jalan Diah was-was.


Hingga motor itu sampai di depan kontrakan, Diah turun kemudian cepat membayar ojek. Ia bergegas menuju pintu tidak menoleh lagi. Diah masuk kedalam kontrakan setelah mengunci pintu, ia penasaran, membuka gorden sedikit. Pria bertubuh besar itu masih mengamati kontrakannya hingga sekitar 10 menit pria yang posturnya kira-kira 180 cm itu pergi.


*****


Siapa lagi ini???

__ADS_1


.


__ADS_2