PERNIKAHAN BERUJUNG LUKA.

PERNIKAHAN BERUJUNG LUKA.
Perjuangan.


__ADS_3

Tiga bulan berlalu. Setelah perceraian tentu bukan hal yang mudah bagi Abim. Namun terlepas dari itu ada setitik kebahagian baginya daripada saat menjadi suami Diah dahulu.


Namun perasaan dikhianati, terluka, dan belum bisa menerima kenyataan masih selalu menghinggapi perasaan Abim.


Hingga akhirnya Abim menyadari, ia harus menjalani hidup, dan pikiran, tidak akan lagi menyia-nyiakan. Melepaskan emosi dan membuka lembaran baru, yang belum pernah Abim lalui.


*******


"Mel, tolong beri aku kesempatan, aku mencintaimu, dan akan melakukan apapun demi menebus rasa bersalah aku," itulah selama sebulan ini yang selalu Abim ucap didepan Melati.


"Sudah aku bilang kak, akan lebih indah kita menjadi kakak, adik," tegas Melati yang berdiri membelakangi Abim. Saat ini mereka sedang berada di taman rumah Melati.


"Aku ini wanita yang punya perasaan kak, bukan seperti aluminium yang akan kakak jadikan tambal sulam ketika panci yang biasa kakak pakai tidak layak lagi untuk digunakan," kata Melati.


Tanpa Abim tahu air mata Melati mengalir.


"Mel" hati Abim mencelos, mendengar jawaban wanita yang kini dicintainya sepenuh hati.


Melati tidak menjawab, penolakan Abim dahulu telah melukai perasaanya hingga kini. Bukan berarti merasa dendam, namun rasa sakit hati Melati masih belum terobati.


"Mela please... aku memang salah, tetapi... apakah sudah tidak ada maaf lagi untuk aku? karena aku, sudah berjanji kepada diriku sendiri, dan tidak akan mengulangi kesalahan yang kedua kali." kukuh Abim kini ia berdiri disebelah Melati.


"Maaf kak, sebaiknya kakak pulang," pungkas Melati, lalu masuk kedalam rumah, tidak menyuruh Abim masuk.


Melati masuk kedalam kamar. Ibu Riska yang sedang menyapu lantai melihat anaknya menangis lantas menyusul.


Tok tok tok.


"Masuk" jawab Melati dari dalam dengan suara serak.


Ceklek.


"Mel, kamu menagis lagi?" Ibu duduk diranjang menatap punggung Melati yang tidur miring sambil terisak. Ibu Riska mengusap pungung anak keduanya.


"Mel, kamu sudah besar, Nak, ambilah keputusan yang menurutmu baik, untuk dirimu sendiri,"


Kali ini, bu Riska tidak mau ikut campur urusan percintaan anaknya. Beliau masih merasa bersalah, karena dulu sudah menjodohkan Mela. Namun bukan kebahagiaan yang ia dapat, justeru melukai hati anak keduanya.


"Melati nggak apa-apa kok, Bu," Melati kemudian duduk memeluk lutut.


"Ya sudah... kalau nggak apa-apa jangan menangis." titah bu Riska. "Sebaiknya temui Abim gih, nggak sopan loh... masa, ada tamu di tinggal masuk," imbuh bu Riska bijak.


"Nggak mau, ibu saja yang temui dia" jawab Melati cemberut.


"Tapi kan bukan tamu ibu Mel" maksud bu Riska agar anaknya bisa menyelesaikan masalah tanpa harus saling menyakiti.


"Ibu... jangan Melati" Rengeknya.

__ADS_1


"Iya dech... demi anak Ibu," Ibu pun keluar dari kamar berjalan kedepan menemui Abim yang masih merenung di kursi taman.


Abim masih berharap Melati akan kembali keluar menemuinya.


"Nak Abim," sapa bu Riska kemudian.


Abim menoleh cepat, melihat siapa yang datang lantas berdiri. "Ibu" Abim menyambut tangan Bu Riska lalu menciumnya.


"Bim, maafkan anak Ibu ya Nak, sepertinya... Melati masih belum mau menemui kamu, biarkan dia tenang dulu ya, Nak" kata ibu lembut.


"Baik bu, saya pulang dulu ya" dengan perasaan yang masih mengganjal Abim pamit pulang. Abim bertekat akan berusaha meyakinkan Melati, jika tidak hari ini, esok, atau mungkin lusa.


*******


"Alfred... marry me fast." (Alfred cepat nikahi aku) Diah duduk dipangkuan kekasih gelapnya.


"Ok soon I well marry you." ( Ok dalam waktu dekat aku akan menikahimu.) jawab Alfred mengusap bibir Diah setelah bercinta.


Ini lah flashback, saat satu bulan yang lalu, setelah Diah resmi bercerai dengan Abim. Diah kemudian kabur dari rumah, meninggalkan keluarganya.


Diah saat itu benar-benar menjadi wanita lupa akan keluarganya. Kemana lagi jika bukan menemui Alfred.


Usut punya usut, ternyata Alfred membuktikan ucapanya. Yakni menikahi Diah dengan cara siri, tanpa satu orang pun keluarga Diah yang tahu.


Mereka saat ini tinggal dikontrakan rumah, tipe 60.


( Pakai bahasa Indonesia saja, budhe menyerah 😁😁😁)


Sejahat-jahatnya ibu, ternyata Diah merindukan anaknya juga.


"Sudah aku bilang, Diah! jangan sekarang!" Alfred membentak, membuat Diah terjingkat kaget. Betapa tidak? selama ini Alfred tidak pernah membentaknya.


Saat ini mereka sedang makan pagi sebelum Diah berangkat bekerja.


"Kok kamu marah sih Freed?" Diah cemberut, jika dengan Abim dulu Diah yang selalu membentak, kini ketika dengan Alfred Diah mlempem.


"Shorry" Alfred yang awalnya berdiri lantas duduk melanjutkan makan paginya. Pria foto kopian Syifa itu, makan dengan lahap.


"Bukanya aku nggak mau, kamu membawa anak kita kerumah ini sekarang, tetapi... kamu kan kerja, terus siapa yang mau menjaga anak kita?" Alfred mengangkat kedua telapak tanganya.


"Yaaah... aku pikir kan, kamu sering dirumah fred, lalu apa salahnya jika kamu yang menjaga anak kita," Diah kesal.


"Iya... tapi kan, aku nggak selalu dirumah. Kalau aku dirumah terus mengurus anak kita, bagaimana dengan bisnisku," tutur Alfred selayaknya pembisnis sukses.


"Sudah... ayo, kamu aku antar nanti terlambat loh." pungkas Alfred. Lalu ambil kunci motor.


Diah tidak menyahut lalu kekamar ambil tas, dan jaket, kemudian menghampiri Alfred yang sudah menunggu diatas motor dalam keadaan menyala.

__ADS_1


Tidak banyak bicara Alfred, melajukan motornya, hanya waktu 10 menit mereka sampai tujuan.


Diah turun dari motor di halaman gedung berlantai tujuh. Ia berpegangan pundak Alfred, sebelum menginjak konblok.


"Uangnya mana?" Alfred menyodorkan telapak tangan kearah Diah.


"Kemarin sore, kan sudah minta Fred? memang sudah habis?" tanya Diah sembari membuka resleting tas, lalu merogoh uang 20 ribu memberikan kepada suaminya.


"Yeah... mana bisa begitu Diah... ongkos ojek kesini itu, 25 ribu, kalau kamu kasih 20 ribu kepadaku itu artinya... kamu hemat lima ribu." Alfred menyeringai.


"Sudah ya aku pulang,"


"Cup" Alfred mencium bibir Diah, sebelum pergi. Kemudian, melambaikan tangan lalu menjalankan motornya kembali, melesat pergi.


Diah menatap nyalang kepergian Alfred hingga tidak terlihat.


Diah melangkah ingin masuk kedalam kantor namun baru beberapa langkah, terdengar suara melengking memanggilnya.


"Diah...tunggu!" rekan kerja Diah memanggilnya, dari kejauhan.


Diah lantas berhenti menunggu temanya.


"Itu tadi, laki loe, Diah?" tanya Ririn.


"Iya Rin, kenapa?" Diah melirik Ririn yang berjalan bersebelahan.


"Nggak apa-apa, hebat loe ya, bisa menggait bule, hihihi... kenalin dong, kalau ada satu lagi gue mau," Ririn menggoda.


"Mendingan nggak usah dech, loe itu cocok nya produk lokal." Diah tersenyum yang sulit diartikan.


Mereka pun masuk kedalam gedung naik litf menuju lantai tiga.


*******


Sepuluh menit kemudian, Alfred sampai dirumah, ia merogoh kunci lalu membuka pintu, setelah masuk kedalam, lalu menguncinya kembali.


Alfred bersiul-siul bersenandung lirih. "Dududuuuu... lalalaaaa..."


Prek.


Alfred melempar kunci diatas meja. Setelah membuka jaket, menyangkutkan dipaku pintu kamar, Alfred lantas loncat ke tempat tidur.


Alfred ambil handphone, chat seseorang sambil senyum-senyum. Entah siapa gerangan orang itu.


Lelah chating, Alfred menarik selimut yang belum dibereskan, beberapa menit kemudian ia mendengkur.


.

__ADS_1


.


__ADS_2