
Alex menunduk tidak sepatah kata pun menjawab, walaupun Bombom membombardir dengan sumpah serapah.
Pria berwajah sipit itu sudah bebas sejak satu bulan yang lalu.
"Mel, tujuan gw kemari hanya ingin minta maaf sama loe, syukur loe terima, jika tidak, tidak apa-apa, karena kesalahan gw, memang tidak semudah itu untuk dimaafkan" Alex kemudian pergi meninggalkan pesta.
"Astagfirlullah..." Melati mengusap dadanya sendiri, bernapas lega karena Alex sudah menjauh. Melati kemudian, balik ke posisi semula.
"Sudah... dia sudah pergi" Abim merangkul pundak istrinya.
"Tenang Mel, kalau Dia berani macam-macam, gw hajar Dia!" Bombom meninju telapak tangan.
"Tapi, sepertinya dia minta maaf tadi tulus Bom, lihat nggak tadi matanya." Melati walaupun takut sebenarnya memperhatikan Alex, terlihat kejujuran di matanya.
"Mudah-mudahan Mel, gw mau makan yang banyak, habisnya nggak bisa meninju wajah Alex, jadi makanan yang akan gw jadikan pelampiasan," kelakar Bombom.
"Hahaha..." Abim tertawa.
"Alaaah... loe Bom, dari tadi mulut loe tuh nggak berhenti mengunyah, masih belum kenyang juga, pakai alasan pelampiaskan! memang dasar saja loe! rakus," Risda mencibir.
Memang benar kata Risda, Bombom mencicipi menu ini itu, seolah tidak ada kenyangnya.
"Ahaha... jangan buka kartu dong Ris, gw kan malu sama Melati," Bombom mentertawakan ucapanya sendiri.
"Hehehe... nggak apa-apa, makan sepuasnya, silahkan-silahkan." kata Melati.
******
Jam 4 sore, acara resepse sudah selesai. Supir menjalankan mobil milik Abim. Tampak Melati tidur di pangkuan suaminya, mungkin karena kelelahan.
Abim tak ada bosanya menatap wajah istrinya yang sedang terlelap.
"Terimakasih ya Allah... engkau telah memberi aku istri, tidak hanya cantik di wajahnya tetapi hatinya jauh lebih cantik"
Abim merapikan rambut Melati yang keluar dari kerudung. Tidak terasa mobil sampai di depan rumah papa Wahid.
Abim langsung membopong tubuh langsing istrinya membawanya masuk ke dalam kamar. Melewati papa dan mama yang sudah duduk santai di ruang keluarga.
"Alhamdulillah... Pa, akhirnya anak-anak kita sudah menemukan kebahagiaan masing-masing." mama menangis bahagia, menatap langkah Abim yang sedang menaiki tangga.
"Betul Ma, sudah saat nya Papa pensiun, Papa akan serahkan usaha kita kepada mereka."
"Iya Pa" mama menyusut air matanya dengan jari.
Tak tak tak.
__ADS_1
Abim menuruni tangga. "Intan belum sampai Ma?" tanya Abim. Kemudian bergabung dengan mama dan papa.
"Sudah, mungkin mereka sedang istirahat, capek banget kali" jawab Mama.
"Bim, Papa, sudah siapkan tiket ke Bali, untuk kalian berempat, ajak istrimu kesana, sebelum kalian kembali ke Swiss" tutur papa.
"Bali?" tanya Abim.
"Iya, kamu nggak suka?" tanya mama.
"Bukan nggak suka Pa, hasil dari garmen kan sudah Papa transfer ke rekening Abim, terus Papa mendapat dana darimana? bisa menyiapkan ini semua?" tanya Abim heran, semenjak Abim menikah dengan Melati semua acet dari garmen sudah di berikan kepadanya, tapi papa masih bisa membuatkan rumah, mengadakan pesta, dan saat ini jalan-jalan ke Bali saja, harus papa Wahid juga yang membiayai.
"Kamu meremeh papa? Papa, mengelola garmen, sejak umur kamu masih tiga tahun loh, masa tidak punya tabungan," papa melipat tanganya di depan dada.
Mama hanya tersenyum, mendengar perbincangan suami, dan anaknya.
*******
Sementara di kamar Intan. "Besok, kita akan tinggal di rumah aku Tan" Kata Rony baru selesai shalat membuka sarung, tampak mengenakan kaos dan celana jins selutut.
Sampai di rumah, mereka langsung tidur, hingga terdengar adzan maghrib kemudian bangun mandi, lalu shalat maghrib.
"Pindah Mas?" Intan yang sedang membalas chat teman-temannya terkejut, langsung meletakan handphone di ranjang.
"Kenapa kita harus tinggal di rumah Ibu sih, Mas? sebaikanya...kita tinggal di sini saja," Intan sedikit resah membayangkan tinggal bersama mertua. Ya, kalau mertuanya baik. Namun, jika mertuanya jahat, suka mengatur ini itu akan menjadi neraka dunia, Intan ngeri membayangkan itu.
"Tan" Rony mengangkat dagu istrinya. "Kamu sekarang istri aku, tanggung jawab aku, dan kita akan memuali dari nol"
"Memang sih... suami kamu ini belum bisa memberi rumah yang mewah, hanya cinta yang bisa aku berikan, tapi... aku akan berusaha membahagiakan kamu Intan," kata Rony tulus.
"Bukan masalah itu Mas, tapi... aku... aku..." Intan Ingin berucap khawatir menyinggung perasaan suami nya.
"Aku apa?" Rony gemas lalu memencet hidung wanita yang baru sah menjadi istrinya itu, pasalnya Intan bicara takut-takut.
"Tapi... Ibu galak naggak?" tanya Intan cepat.
"Oh... jadi itu maksud kamu? ibu aku galak, dan sudah pasti, hoouummm..." Rony bergaya seperti macan. "Ibu pasti akan mengigit kamu seperti ini" Rony lalu merengkuh tengkuk Intan kemudian bermain di bibir istrinya untuk yang pertama kali.
"Eeeppmm... eeppmm..." Intan mendorong-dorong dada suaminya. Ia masih terasa takut melakukan adegan dewasa yang sama sekali belum pernah ia lakukan. Tetapi, ia merasakan sensasi yang berbeda, seperti ada seribu kupu-kupu yang menari di depan nya.
Rony melepas pagutan. "Jangan pernah bilang Ibu aku galak, tak kenal maka tak sayang," kata Rony. Rony memajukan bibirnya Ingin mengulangi pagutanya.
"Mas..." Intan mundur menggeser duduknya masih ngos-ngosan, sambil menutup mulutnya. "Iya, iya... besok aku ikut" ucapnya.
"Nah gitu dong, lagian kamu kenapa? takut begitu, nanti kita akan melakukan lebih dari itu," Rony mengukir senyum, kedua alisnya naik turun.
__ADS_1
"Mas, memang kenapa kalau kita tetap tinggal di sini?" Intan mengalihkan.
"Tan, coba kamu tanya sama Mama. Mama kan orang jawa, pasti tahu. Tidak boleh, jika kita tinggal satu rumah dengan orang, yang masing-masing punya pasangan, kalau bahasa Mak-Mak, pamali." tutur Rony.
"Masa sih Mas, takhayul itu," Intan tidak percaya hal semacam itu.
Rony menarik napas panjang, menatap istrinya lekat, rupanya istrinya ini belum mengeri maksudnya.
"Tan, aku ini laki-laki, masa iya, aku harus nebeng sama mertua" Bagi Rony, melewati momen susah senang berdua bersama istri adalah impian. Untuk menghindari konflik apa bila terjadi dalam rumah tangga mereka.
Memang benar Rony membawa ibu ikut tinggal bersama. Hanya ibunya yang ia punya, lagi pula Rony tahu. Ibunya wanita baik, tidak pernah usil dengan kehidupan orang lain terlebih itu adalah menantunya sendiri.
"Walaupun kecil, aku sudah punya rumah sendiri Tan, memang aku mengajak ibu tinggal bersama, kasihan ibu, di kampung hanya tinggal sendiri, aku tidak tega." tutur Rony.
Intan mengulum senyum menatap suaminya, ada rasa bangga, pria yang menyayangi ibu nya sudah pasti akan menyangi istrinya.
"Oh Mas punya kampung halaman juga ya?" tanya Intan.
"Aku punya BABE" kelakar Rony.
"Apa tuh Babe?" Dahi Intan berkerut.
"Almarhum Ayah dari Betawi, terus Ibu dari Batak, jadi BABE kan?" Rony terkekeh.
"Oh Papa aku Betawi, terus Mama Jawa, berarti; BEJAW, dong" Intan terkikik menutup mulutnya.
"Ah nggak nyambung yang benar BEJO." ujar Rony.
"Apa itu Bejo?" Intan kembali berkerut.
"Bejo itu, kalau dari bahasa Jawa beruntung, dan aku beruntung mendapatkan istri seperti kamu," Rony kembali menyosor bibir istrinya.
"Mas... iihh..." Intan kembali mendorong tubuh kekar Rony.
"Seeetttt... sekarang... kita saat nya, prduksi, Jaja" Rony memegang pundak istrinya.
"Apa lagi sih Mas segala Jaja?"
"Aku lahir di Jakarta, kamu juga, berarti kita satu produksi. Nah, saat nya kita bismillah, jika anak kita nanti lahir laki-laki kita beri nama. JAJA"
"Hihihi..." Intan tertawa kali ini membiarkan giginya terekspos. Membuat Rony menelan saliva.
Rony merebahkan tubuh istrinya kemudian, tanganya berpetualang menjelajah tempat-tempat yang paling indah. Intan merasa berjalan melayang di udara, terbang bersama sang pangeran membawanya ke tempat yang belum pernah mereka singgahi sebelumnya.
.
__ADS_1